Truyen2U.Net quay lại rồi đây! Các bạn truy cập Truyen2U.Com. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

viii

[REVISI]

(13 Juli 2 tahun yang lalu : 21.13)

Dinginnya malam yang menusuk kulit. Bintang-bintang dan bulan menjadi saksi bisu antara aku dan dia. Kepakan sayap burung malam seakan menjadi melodi tersendiri. Suara-suara binatang malam bersahutan menjadi irama yang indah. Namun, tidak untukku, aku kehilangannya. Tubuhku lunglai, ragaku terasa seperti diambik paksa. Aku merapalkan doa, meminta agar Tuhan mengembalikannya. Dengan lembut, aku mengusap wajah cantiknya yang sudah berlumur darah.

Bagaimana bisa? Batinku berontak tidak terima. Kutatap langit dengan nyalang, berharap ada seberkas cahaya datang dan berkata wanitaku ini baik-baik saja. Namun, apa yang kudapat? Cahaya bintang meredup, bulan tertutup awan, petir menggelegar dengan dahsyatnya, pekatnya malam ini membuat hatiku mencelos. Apa aku benar-benar kehilangannya, Tuhan?

Bibir merah mudanya perlahan membiru. Aku bisa apa? Bahkan, berdiri dengan kakiku sendiri saja aku tidak sanggup, menggerakkan tanganku untuk menyentuh rambutnya saja aku tidak bisa. Sesakit inikah? Sepedih inikah? Jika rasanya seperti ini aku tak ingin kehilangan. Namun, kenapa, Tuhan? Kenapa? Aku hanya ingin melihat senyum lebarnya untukku, melihat tawanya yang indah. Namun, apa yang aku dapatkan? Kau hilangkan semuanya dalam sekejap, gaun putih bersih yang ia pakai berubah menjadi berwarna merah darah seperti ini.

Tidakkah kau mengasihani aku?

◀▶◀▶

(13 July 2tahun yang lalu : 23.13)

Dentingan lift, suara ambulan, tangisan pilu, suara nyaring elektograf, selang-selang, tabung oksigen, darah, kapas, obat-obatan dan kamu. Separuh jiwaku.

◀▶◀▶

(16 July 2tahun yang lalu : 17.13)

Deburan ombak menyentuh mata kakiku. Senja menyapa, menunjukkan keindahannya. Tiupan angin pantai menerpa wajahku yang sendu. Aku merentankan kedua tanganku, membukanya lebar-lebar. Aku berteriak kencang memanggil namanya. Berharap semua gemuruh sesak di dadaku ini menghilang.

Sedikit demi sedikit burung-burung pergi dari sarangnya, mengepakkan sayapnya ke angkasa, seakan tidak masalah dan beban. Terkadang, aku ingin menjadi burung. Melayang bebas di angkasa. Mengirup banyak udara segar, menghempaskan semua beban yang ada di diriku, membuang pikiran-pikiran kelabuku. Mengubur segala hal buruk yang berkecamuk di hatiku.

◀▶◀▶

Kau tau rasanya kehilangan? Apalagi orang yang kau sayangi.

Kau tau rasanya ditinggalkan?

Tidak ada lagi tawa. Sapaan hangat, celoteh panjang lebar. Semuanya mati, hampa, kosong. Rasanya? Seperti kau sedang berenang di lautan yang di penuhi jarum dan pisau yang sehabis diasah.

◀▶◀▶


Berkat guru-guru yang sedang mengadakan rapat mendadak, sekolah dipulangkan agak pagi hari ini. Retta sebagai murid yang sangat suka dengan hal-hal berbau jam kosong, pulang pagi, atau libur itu pun langsung memekik senang saat mengetahui fakta itu. Ia bisa tidur siang lebih lama dari biasanya.

Sesegera mungkin perempuan berkuncir kuda itu membereskan peralatan tulisnya yang berserakan di atas meja dengan semangat membara―tidak sabar untuk menikmati empuknya kasur.

"Santai, bos," celetukan Atha yang berada persis di sebelah Retta lantas membuat perempuan itu senyum-senyum sendiri.

"Lah, lo pikir kita bakal langsung pulang? Kagak ya, kita ke kafe dulu."

Retta tidak terima dengan perkataan Atha, ia segera menggeleng dan menjawab, "Kafe aja sendiri! Gue mau tidur aja."

Dengan tegas Atha menyuruh Retta naik menuju sepeda motornya dan menuruti keinginannya. Atha sudah sangat ingin memakan cheesecake yang ada di kafe sebelah sekolah. Sepertinya, Atha ngidam. Namun, tidak mungkin juga, sih bila Atha hamil. Secara kan dia tidak memiliki rahim untuk menampung janin.

Oke, cukup.

Setelah dipaksa berkali-kali oleh Atha, akhirnya Retta menyetujui permintaan Atha untuk menemani laki-laki itu menuntaskan ngidamnya, asal tidak terlalu lama. Keinginan Retta untuk tidur siang lebih lama tidak akan sirna begitu saja.

"Kencengan dikit bisa kali bawa sepedanya, lelet banget, sih."

Retta mengoceh, seperti biasa. Kalau Atha mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan tinggi, perempuan itu akan protes. Kalau kecepatan yang Atha bawa biasa saja atau sering disebut Retta lelet, perempuan itu akan protes juga.

Maunya apa? Untung Atha sudah kebal dengan perilaku Retta yang satu ini.

Lantas, selama perjalanan mereka menuju kafe, keduanya saling mengoceh satu sama lain. Membicarakan hal-hal tidak penting agar suasana tidak canggung dan membosankan. Baik Atha maupun Retta tidak menyukai kondisi seperti itu.

"Cepet pesen kuenya abis itu langsung balik, gue tunggu di sini aja," Retta berujar tanpa berpindah tempat dari boncengan Atha.

Sedangkan Atha hanya menggeleng-gelengkan kepalanya heran seraya berjalan menjauh, mulai berinteraksi denga penjaga etalase kue di sana.

Retta, perempuan satu ini memang benar-benar selalu mager alias malas gerak. Entah darimana asalnya, Retta selalu saja malas untuk melakukan hal-hal kecil. Misalnya, beranjak dari tempat duduk atau mencatat, itu sangat susah untuk dilakukan apalagi saat tempat pw sudah ditemukan.

Atha sendiri pun sudah tahu tentang kemalasan Retta satu itu. Jadi, mau tidak mau, Atha-lah yang harus menjadi bandar catatan Retta untuk ke depanya karena kemalasan perempuan tersebut.

Saat sudah selesai membeli cheesecake yang sangat Atha idamkan, laki-laki itu segera keluar dari kafe dan mengantar Retta pulang agar tidak mendengar perempuan itu mengoceh lebih lama lagi.

Padahal, sejujurnya Atha tidak keberatan mendengarkan Retta mengoceh.

"Makasih tebengannya." Retta melepaskan helm yang ia pakai.

"Gak pake kiss bye, nih?" tanya Atha usil sambil mengamati wajah Retta yang terlihat lucu dengan kunciran berantakan miliknya.

"Kenapa lo jadi najisin banget, sih."

Tawa Atha berderai. "Udah, masuk sana. Kepo amat."

Retta mendengus, segera melangkahkan kakinya setelah mengembalikan helm pada Atha. Tangan perempuan itu merogoh tas ransel miliknya untuk mengambil kunci yang selalu ia bawa sekolah dan memasukkannya ke dalam lubang kunci.

Klek. Terbuka.

"ASSALAMUALAIKUM PARA MANUSIA YANG BERBAHAGIA! RETTA PULANG!" teriak Retta lantang.

Hening.

Hanya suara jam dinding yang menyahut salam Retta. "Sepi amat. Ini rumah apa kuburan," gumam Retta pelan sambil melepas kaus kaki putihnya yang masih terpasang apik.

Kemudian, perempuan itu mendengus saat mendapati rumahnya yang sangat sepi. Ia menaiki tangga menuju kamar, siap untuk mengistirahatkan badan.

Saat tiba di kamarnya, aroma jeruk yang segar menyambut Retta ketika memasuki kamar.

Ngomong-ngomong, kamar Retta tergolong kamar yang nyaman. Kasur sedang berseprei biru donker bergambar bintang kecil berwarna emas, dinding kamar yang bercat biru donker bergaris putih, serta langit-langit kamar yang berbintang, jika keadaan ruangan sedang gelap, bintang itu akan bersinar.

Benar-benar sangat Retta.

◀▶◀▶


Retta mengeringkan rambutnya dengan handuk biru donker. Ya, seperti yang kalian kira, Retta sangat menyukai warna yang satu itu. Menurutnya warna itu sangat cantik.

Ia menghempaskan badan rampingnya ke kasur, lalu mengambil ponselnya. Siapa tau ada yang kangen, batinnya.

"Oh, Mama ke Bandung."

"Abang pulang malem."

"Si curut kembar lagi camping."

Retta menurunkan bahunya. "Bakal sepi nih."

Sedang asik-asiknya membalas semua LINE yang dikirimkan keluarga, Atha, dan Feeyla, sahabat perempuannya selain Keisha. Retta tiba-tiba mengaduh kesakitan saat kakinya menendang sesuatu dari kolong kasur.

"Anjrit, kaki gue!" umpat Retta kesal.

Retta mengelus pelan kakinya, lalu beralih pada peti itu. Enam belas tahun gue di kamar ini, gak pernah ada peti ini. Semoga isinya bukan kodok pink mati. Retta membatin.

Kreeek. Retta membuka peti itu perlahan.

Foto?

Topi?

Jersey basket?

SLR?

Kalung?

Diary?

Album?

Kotak musik?

Ini apa?

Retta mengambil album yang bertuliskan I&S di sampulya itu. Ia membersihkan debu yang terdapat di sampulnya. Embusan napas terdengar, ia membuka album tersebut dengan sangat perlahan, seakan album itu akan hancur jika ia membukanya dengan kasar dan cepat.

Foto pertama: seorang anak kecil berbeda jenis kelamin sedang bergandengan dan tersenyum menunjukkan deretan giginya.

Foto kedua: Dua orang anak kecil seperti tadi sedang bermain hujan.

Foto ketiga: dua orang gadis kecil sedang berpelukan, dan dua orang lelaki kecil sedang berangkulan.

Retta tidak pernah tahu siapa pun yang berada dalam foto itu, yang ia tahu hanya foto masa kecilnya saja. Tiga bocah yang ada dalam foto itu sama sekali tidak Retta kenali. Mungkin saja, mereka bertiga adalah bagian dari masa kecil Retta yang tak sengaja lewat di hidupnya.

Kemudian, perempuan itu pun menutup album itu, beralih ke kalung yang berbandul unicorn itu, ia membuka ujung bandulnya. "Wih, keren banget anjir!" teriak Retta sambil berjingkrak-jingkrak girang di kasur.

Ketika Retta membukanya, kalung itu memancarkan warna pelangi yang indah.

Bibir Retta tersenyum lebar dan ia memakai kalung itu di lehernya yang jenjang dan putih. Retta membersihkan sisa debu dan mengembalikan peti itu di kolongnya.

◀▶◀▶

Jangan terus menatap masa lalu. Lihat masa depan, jangan takut menatap ke masa depan. Sebab, masa lalu hanya pelajaran. Sekarang, kamu harus mencoba melepaskan apa yang bukan milik kamu, dan memperjuangkan apa yang menjadi milik kamu. Hidup itu berputar, hidup itu mempunyai fase. Tapi, kamu harus menjalani setiap putaran itu dengan ikhlas.

◀▶◀▶

a/n

lelah, ngga ada inspirasi huaaa

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com