ix
[REVISI]
"Jadi nanti sore lo ada tanding basket?" Retta memutar duduknya sehingga menatap Atha yang sedang bermain game di ponselnya.
"Heem, nonton ya," jawab laki-laki bercelana abu-abu itu dengan mata yang masih sibuk menatap ponsel.
Retta hanya mengangguk singkat dan kembali berkutat dengan mie ayam miliknya.
Ngomong-ngomong, kantin tidak terlalu ramai hari ini, entah karena para siswa sedang diet atau malas melangkahkan kakinya untuk sekedar mengisi perut. Mungkin, opsi kedua lebih memungkinkan, karena tak jarang siswa menjadi gagal diet saat mencium aroma sedap makanan kantin.
Terkadang makanan kantin memang tidak tergantikan.
"Ntar kalo gue menang, gue mau ngajak anak-anak ke rumah buat makan-makan."
Sebelah alis Retta terangkat heran. "Lo punya anak? Berapa?"
Seketika kepala Atha mendongak cepat. "Serah."
"Sensian amat. Anak-anak yang mana? Anak basket atau apa kek gitu," jawab Retta sanggup menyuap mienya.
Atha memasukkan ponselnya ke dalam saku. Kemudian beralih menatap Retta yang kini sedang menatapnya juga. "Bukan anak basket, tapi temen gue yang itu--tuh, tuh mereka ke sini."
Lantas mata Retta mengarah pada letak yang ditunjuk Atha, seketika perempuan itu tertawa geli saat melihat Rendi yang sedang berusaha menggandeng Nizar di hadapan seluruh pengunjung kantin.
"Eh tai, lepasin! Gue masih mau sama cewek! Astagfirullah, bantuin kek, lo pada jangan pada cengengesan aja!" seru Nizar dengan suara super sewot miliknya.
Rendi menggeleng cepat. "Lo tuh ya, masih untung gue selametin dari kejaran para fans lo yang udah kayak badut kebanyakan lipstick itu!" seru Rendi tak kalah sewot.
"Ya tapi kan gak pake acara gandeng-gandeng gini, kampret! Rusak citra gue kalo sama lo."
"Banyak bacot."
Atha hanya menggeleng-gelengkan kepalanya heran saat melihat Rendi dan Nizar yang sudah terlihat seperti homo. Sedangkan Retta malah tertawa keras melihat perdebatan tidak penting kedua manusia di depannya ini.
Terkadang, hidup memang tidak bisa diduga. Seperti Retta yang mengira dirinya akan menjadi salah satu anggota dalam geng perempuan-perempuan cantik saat SMA, ternyata kini dia malah terjebak dalam sekumpulan manusia tidak waras yang membuat Retta semakin sering tertawa daripada bergosip.
Bukankah itu lebih baik? Ya, setidaknya menurut pemikiran Retta itu lebih baik.
"Udah duduk, berisik aja lo berdua kayak kecoa baru kawin."
"Emang kecoa baru kawin itu berisik, ya?" tanya Retta dengan wajah datar.
Atha mendengus jengkel. "Ya mana gue tau, pinter. Gue aja takut sama kecoa."
"Goblok lo!" seru Rendi dan Nizar bersamaan saat keduanya sudah duduk manis di meja kantin. Meja, bukan kursi.
Retta tersenyum lebar sampai matanya terlihat sipit. Sudut matanya masih betah melihat perdebatan antara tiga laki-laki di sekitarnya ini. Tanpa rasa sungkan ataupun malu, mereka berteriak, memukul meja yang didudukinya, ataupun menyanyi-nyayi tidak jelas dengan suara aneh mereka.
Jadi, ini rasanya temenan sama cowok? Gak ada gengsi-gengsian, ngomong gak disaring sama sekali, kalo sekalinya ngelucu bikin perut sakit. Retta berkata dalam batinnya.
"Diem aja, sariawan apa gimana?"
Retta nyengir, menampilkan deretan gigi putihnya yang bersih. "Gue capek ketawa," ujar Retta dengan sisa-sisa tawa. "Oh ya, kata Atha, dia mau ngajak lo pada makan-makan kalo menang basket."
Sontak, Rendi bangkit dari duduknya di meja, berdiri di atas bangku dan menatap Atha dengan tatapan tidak percaya. "TUMBENAN BAIK SAMA KITA-KITA!" serunya nyaring.
Nizar menjitak kepala Rendi gemas. "Duduk lo, norak."
"Hadeu, susah ya kalo lagi cari gebetan, jaim mulu. Gue gandeng aja kagak mau." Rendi menaikturunkan alisnya jahil dengan cengiran.
Bagi Retta, Atha merupakan seorang penengah bagi Rendi dan Nizar. Laki-laki yang paling bisa membuat mereka berdua berhenti berdebat karena perkataan atau makanan. Retta sendiri menyukai perilaku Atha yang humoris, tapi tetap tidak berlebihan.
Bagi Retta, Rendi merupakan seorang yang memiliki humor rendah atau biasa disebut receh. Namun, Rendi dengan kerecehan selalu membuat suasana mencair dengan ocehannya yang sering tidak jelas dan berakhir membuat orang di sekitarnya tertawa.
Bagi Retta, Nizar merupakan seorang yang sebenarnya lebih receh dari Rendi, tapi laki-laki satu itu masih ingin mempunyai sikap 'normal', tidak seperti Rendi yang sudah tidak peduli dengan perkataan orang luar tentang dirinya. Nizar masih memiliki malu meski hanya satu persen.
Mungkin, banyak dari siswa di sini sudah terbiasa dengan keberisikan mereka saat di kantin. Hanya membutuhkan beberapa bulan saja, ketiga laki-laki itu terkenal karena gila, berisik, dan tentu saja tampang lumayan mereka.
Retta tidak mau membohongi dirinya sendiri, ia cukup bangga bergaul dengan para laki-laki berwajah lumayan ini.
"Eh iya, lo ngajak kita berdua doang?"
Rendi menepuk dahinya saat mendengar pertanyaan Nizar. "Ya kagaklah, pasti dia ngajak Retta, sompret!"
"Kamsud gue bukan gitu, panci! Selain yang ada di meja ini gitu," jawab Nizar sambil menoyor Rendi.
Atha menaikkan alis, lalu berkata, "Ntar gue ngajak orang pacaran malah sewot."
Dijawab seperti itu, Rendi hanya cengengesan saat mendengar jawaban Atha yang sangat berfaedah. "Ih, peka banget, sih! Jadi gemay."
"Gue ajak Keisha, Tista, Azriel, sama Feeyla aja deh," celetuk Nizar pada akhirnya.
Lantas setelahnya, Rendi melotot tidak terima atas keputusan sepihak itu. Dia tidak akan membiarkan jatah makanannya berkurang. "GAK BOLEH!" Layaknya seorang banci, Rendi berteriak lantang yang berhasil menyita seluruh perhatian penghuni kantin dengan suara bass cemprengnya.
Menyadari hal itu, Atha menepuk jidat malu. "Bukan pren gue!"
"Gue juga!" sahut Nizar dengan wajah super geli.
"Kemunafikan yang hakiki." Rendi cemberut. "Ya udah deh, boleh. Ajak sana ajak, biar gue makin terasa kesendiriannya."
Atha menepuk bahu Rendi prihatin sambil berkedip-kedip sok mengerti. "Kejombloan yang hakiki."
Perdebatan mereka terhenti karena bel tanda istirahat berakhir sudah berbunyi dengan nyaring. Beberapa siswa sudah beranjak dari tempat duduk mereka untuk kembali ke kelas. Sedangkan Rendi dan Nizar yang baru menyadari dirinya belum makan selama istirahat berlangsung hanya berpandangan dengan jengah.
"Makan tai," ucap mereka bersamaan sebelum melangkahkan kakinya keluar kantin. Meninggalkan Retta dan Atha yang tertawa kecil di belakang.
◀▶◀▶
"Keisha!"
Dipanggil seperti itu, Keisha celingukan mencari asal suara cempreng yang baru saja meneriakkan namanya. "Retta? Mau nonton basket juga? Eh, lo mau cari cogan basket, ya?!"
Retta menepuk jidat saat mendengar rentetan pertanyaan Keisha yang sangat menyebalkan di telinganya. "Lo gak liat gue abis lari-lari gini, hah? Masih capek juga udah nanya kayak kereta!" balas Retta dengan melotot.
"Yaudah, iya." Keisha menepuk-nepuk tempat duduk kosong di sebelahnya, menyuruh Retta duduk daripada berdiri dengan napas ngos-ngosan seperti itu.
"Udah daritadi maennya?" tanya Retta sambil mengatur napas.
Yang ditanya hanya mengangguk. "Udah setengah jalan lebih. Lo darimana, sih?"
"Tadi tuh gue kan waktu mau balik ditahan dulu sama si Atha, suruh nonton. Gue iyain, kan. Atha langsung ngeloyor pergi gitu waktu gue abis ngomong iya soalanya ada briefing dulu sebelum tanding. Ya udah kan. Tiba-tiba gue dicegat Pak Saleh waktu sampe depan ruang guru, diminta bantuin masukin nilai gara-gara istrinya tiba-tiba sakit. Berhubung gue baik hati, jadi gue iyain aja, gue kira ya nilai kelas doang. Eh ternyata, nilai semua kelas yang dia ajar! Kan setan! Udah gitu ruang guru panas banget lagi, AC-nya dimatiin." Retta menekuk bibirnya sambil mencari-cari Atha yang sedang bertanding.
"ATHA SEMANGATTTT!!"
Lengkingan suara dari kanan Retta membuat perempuan itu menoleh, mendapati teman seangkatannya sedang menyoraki Atha dengan gembira. Apalagi saat melihat keringat Atha yang menetes-netes, perempuan itu semakin memekik gemas. Katanya, Atha semakin hot jika berkeringat seperti itu.
"Jijik banget dah itu badut teriak-teriak, norak banget. Kayak gak pernah liat cowok keringetan aja!" cetus Retta dengan nada judes, matanya melirik ke arah perempuan menor yang masih berteriak memanggil nama Atha.
Keisha hanya terkekeh geli mendengarnya. "Siapa suruh punya wajah ganteng kayak gitu. Kalau gue belum ada cowok juga bakal gue gebet si Atha."
"Punya gue, tuh. Asal comot aja," guman Retta pelan. Sangat pelan. Namun, karena kekuatan telinga Keisha yang sangat tajam walau di tengah kebisingan seperti ini, ia bisa mendengarnya. Meskipun pada akhirnya, Keisha berpura-pura tidak mendengar apa-apa.
Setelah beberapa menit berlalu, pertandingan ternyata dimenangkan SMA Millenium. Artinya, besok akan menjadi hari menyenangkan karena makan-makan gratis di rumah Atha.
Suasana lapangan sudah cukup sepi ketika Retta menghampiri Atha yang sedang beristirahat di pinggir lapangan sambil selonjoran. Matanya yang sedikit berkeringat menelisik sekitar dan menemukan Retta sedang berjalan ke arahnya dengan sebuah handuk kecil berwarna biru tua. Perempuan itu mempercepat langkah ketika menyadari Atha sedang menatapnya dengan senyum kecil. Setelah sampai di hadapan Atha, Retta segera duduk bersila dan menyodorkan handuk.
"Nih, cepet usapin! Capek gue denger para cewek di sebelah gue tadi teriak-teriak gak jelas karena keringet lo." Retta memutar kedua bola matanya jengah. Telinganya sudah cukup tersiksa tadi.
Atha tertawa. "Kenapa gak ngikut teriak juga, eh? Kan gue bisa lebih semangat kalo lo ikutan," balasnya seraya mengusap keringat yang terus merembes keluar.
"Alah tai, buktinya tetep menang juga!"
Laki-laki dengan seragam basketnya itu tersenyum lagi. "Tungguin sini bentar, jangan ke mana-mana."
Kening Retta tertekuk, lalu perempuan itu cemberut. "Ihhh ikut."
Alis Atha naik sebelah, tak lama cengiran jahil terbit di bibirnya. "Beneran?"
Retta mengangguk antusias, sedangkan Atha berusaha menahan tawanya melihat tingkah Retta yang kelewat semangat untuk mengikutinya.
Setelah berjalan cukup lama, Atha menghentikan langkah, otomatis perempuan yang sedang di belakangnya ikut berhenti juga. "Ayo masuk. Tadi mau ikut, kan?" tanya Atha dengan wajah super duper tengil.
Retta mengangguk, kemudian mendongak, melihat papan nama yang digantungkan di depan pintu untuk melihat ini ruangan apa. Sepersekian detik, Retta tercengang, lalu beralih menatap Atha tidak percaya. "KOK GUE PINTER?!" pekik Retta lantang.
Atha yang sudah tidak sanggup menahan tawanya, lantas tertawa kencang saat melihat wajah pias Retta karena kebodohannya sendiri. "Iku, gak? Yuk, sini, sini."
Wajah Retta merah padam melihat tawa Atha yang tak kunjung reda. "Udah sana bersih-bersih!" balas Retta dengan nada jutek bercampur malu.
Atha gemas, ia mengacak rambut Retta yang dikuncir rapi. "Kalo mau ngikut gue bilas sama ganti baju juga gak apa kok."
Sebelum Retta melayangkan geplakan mautnya, Atha segera kabur dan tertawa lagi.
Sedangkan Retta yang masih malu, merutuki kebodohannya di depan pintu toilet laki-laki. "Duh, gue kok jadi bego gini, sih?"
◀▶◀▶
an//
halow kliyann smuwaahhh 😚
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com