Truyen2U.Net quay lại rồi đây! Các bạn truy cập Truyen2U.Com. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

x


Sesuai janji kita semua. Jam tiga kita udah pada ngumpul di depan rumahnya Atha. Kita pulang dulu tadi abis pulang sekolah, terus berangkat sendiri-sendiri dari rumah. Dan sampailah kita.

"ATHA! KITA NYAMPE!" teriak kita serempak.

"Bentar! Atha ganteng otw bukain pintu," balas Atha dengan percaya diri.

Klek.

"Masuk!" suruh Atha dengan senyum pepsodent.

Rendi menjingkat jijik. "Itu di gigi lo kenapa banyak cokelat nyangsang gitu? Bolunya lo abisin? Itu, kan, kesukaan gue. Gimana, sih."

Atha menyentuh giginya, dan nyengir. "Gak gue abisin, kok. Serius." Tangan Atha membentuk tanda peace.

"Serah, deh. Tapi, nanti gue pinjem ps, ya?" tanya Rendi.

"Gue juga," jawab anak laki-laki serempak.

"Siap-siap aja dianggurin," rengut Keisha kesal, dan mendapat anggukan dari Feeyla.

"Tenang, Rett, gue gak bakalan nganggurin lo," ucap Atha.

"Udah, ah, mau masuk. Males gue liat adegan menusuk hati," balas Rendi alay.

"ASSALAMUALAIKUM, TANTE RITA CANTIK! RENDI DATANG," teriak Rendi semangat.

"Rendi, rumah gue bukan hutan," sergah Atha sebal.

"RENDI SINI! TANTE UDAH BUATIN BOLU COKELAT LOH." Fyi, Tante Rita itu sayang banget sama Rendi. Katanya, Rendi itu sopan, ganteng, babyface. Gak sableng kaya Atha. Tapi, kalo menurut aku, sih, lebih sableng Rendi.

Lo ngomong apa sih, Rett.

"Makasih udah belain gue," bisik Atha dengan senyum miringnya yang menyebalkan.

Ugh lupa gue Atha bisa denger.

"Lain kali jangan lupa," balas Atha.

Aku menatapnya tajam dan menonyor kepalanya keras. "Rasain! Bye," ucapku meninggalkan Atha yang bersungut-sungut kesal.

"Hai, Nte," sapaku riang kepada Tante Rita.

"Halo, Sayang. Apa, kabar?" tanyanya dengan suara keibuan.

"Baik, Nte."

"Kamu mau macaron, cupcake, cheesecake atau bolu?" tanyanya lagi sambil menatapku meminta jawaban.

Aku yang ditanya hanya cengengesan. "Mau semuanya, Nte."

Tante Rita tersenyum geli. "Masih sama aja kayak dulu."

Ucapan Tante Rita membuatku mengernyit. "Kan aku belom pernah nyoba kuenya Tante. Kalo ke sini, kan, biasanya dibuatin makanan berat," jelasku.

Jawabanku membuat Tante Rita linglung. "Ayo bantuin Tante bawa kuenya ke temen-temen kamu." Ah tante Rita mengalihkan pembicaraan.

"Iya, Nte."

Aku mengikuti Tante Rita dari belakang sambil mencomoti kue yang aku pegang. "Retta jangan dicomoti dulu, atuh," larang Tante Rita.

"Eh, iya, Nte. Abis kuenya enak banget." Wajahku memerah malu.

"CIE CALON MENANTU YANG BAIK CIE," celetuk Rendi.

"CIE CIE RETTA CIE." Paling males kalo dijadiin ceng-cengan gini nih.

Atha mennyeringai jahil. "Iya, dong, calon istri gue mah gitu."

Wajahku memerah, lagi mendengar ucapan Atha yang kelewat frontal itu.

"Iya dong, menantu Tante, mah, gitu," celetukan Tante Rita membuat semuanya terbahak.

Sableng emang. Gak anak gak emaknya sama-sama gak jelas banget.

"Nte, Retta ke toilet dulu," pamitku untuk menghindari ceng-cengan lebih lanjut.

"CIE RETTA BAPER SAMPE KEBELET PIPIS CIE," teriakan Rendi yang cukup keras membuatku malu setengah mati.

Di kamar mandi aku berusaha menormalkan detakan jantungku. Sial, kenapa deg-degan kek gini sih. Aku menghembuskan napas. Tenang, Retta, tenang. Sepuluh menit kemudian, aku keluar dari kamar mandi dengan gugup, tapi aku mencoba menutupinya. Ketika sampai di ruang tengah rahangku hampir saja jatuh ke bawah karena apa yang aku lihat.

Piring kue-kuenya pada abis semuanya.

"KOK PADA ABIS SIH KUENYA! GUE, KAN, BELOM NYOBAIN!" teriakanku yang tiba-tiba membuat semua anak menoleh ke arahku dan nyengir.

"Salah sendiri ke toilet lama banget," balas Atha.

"Bapernya kelamaan sih lo," timpal Rendi.

"Lo pipis apa kebanjiran." Azriel juga menimpali.

"Lo di kamar man-"

"Terserah, gak peduli," ucapku sebal dan berlalu. Aku mendumel kesal di setiap langkah. Gila aja baru sepuluh menit ditinggal udah abis. Aku terus mendumel sampai tak sadar sudah sampai di taman rumahnya Atha.

Tiba-tiba, ada tangan kekar yang melingkar di pinggang rampingku. "Jangan marah dong," ucapnya sambil menaruh dagunya di bahuku. "Maafin, ya, Rett," ucapnya lagi. Aku tidak tau harus merespon apa, jantungku sudah melompat-lompat seperti ingin keluar, emang si doi gak bisa diajak kompromi.

"Jangan marah, dong, Rett," pinta Atha memohon. God, aku harus apa.

"Retta cuma harus maafin Atha sama temen-temen itu doang," pintanya sekali lagi, kurasakan pelukan itu makin mengerat sampai tubuhku dan tubuhnya menempel tidak ada jarak.

"Bukan muhrim jangan peluk-peluk," celetukku asal.

Kurasakan hembusan napas berat di tengkukku. "Atha gak bakalan lepasin sebelum dimaafin."

Demi kesehatan jantungku, aku memafkannya. "Permintaan maaf diterima." Setelah mengucapkan kalimat itu, tubuhku langsung diputar dan merasakan hangat tubuhnya. Atha memelukku lagi, tapi kali ini dari depan. Aku menyembunyikan wajahku yang memerah di dadanya. "Makasih," bisiknya, lalu menggiringku kembali ke ruang tengah sambil merangkul pinggangku.

"Astaghfirullah, Atha. Cuma disuruh minta maaf doang. Malah cari-cari kesempatan," tegur Nizar sok alim. Dan aku masih memasang wajah datar sedatar-datarnya. Rendi berdiri dari duduknya langsung menghampiriku. "Maafin, ya?" pinta Rendi dengan muka polos babyface-nya. Lucu banget anjir pen cubit.

"Awas aja berani cubit, gue bakalan ngambek sebulan," ancam Atha dengan mata mendelik.

Aku terkekeh. "Emang bisa?" tanyaku tersenyum mengejek.

"Bi-"

"Dimaafin gak?" Rendi mulai jengah.

"Iya, dimaafin kok," ucapku tulus sambil merangkulnya.

"Lagian kuenya masih banyak di dapur." Feeyla menimpali dengan tenang.

Aku cengo sesaat. "Kambing, ya, lo semua."

"Udah, ah, bacot lu pada."

"Si Atha sewot banget."

"Biarin."

◀▶◀▶

Setelah movie marathon dan main ps sampai jam sepuluh malam, sekarang kita lagi man TOD di taman belakang rumahnya Atha. Kita mutusin buat nginep, kebetulan hari Minggu besok pada gak punya acara. Lagipula, Tante Rita ngizinin.

"Gue puter ya botolnya," ucapan Keisha membuat kita semua kembali duduk tegak. "Feey, T or D?" tanya Keisha.

"Truth," jawab Feey.

"Kenapa lo suka sama Azriel?"

Feeyla tersenyum miring. "Gue? Suka sama dia? Kata siapa?"

Bibir Azriel mengerucut. "Jahat, ih."

Feeyla menangkupkan tangannya di wajah Azriel. "Aku emang gak suka sama kamu, tapi aku sayang sama kamu," ucap Feeyla sambil tersenyum manis, sangat-sangat manis. Hingga membuat wajah putih Azriel memerah.

"Cuih," decak Rendi sebal.

"Jomblo diem aja deh." Nizar merengut.

"Nyadar diri, woy!" balas Rendi sengit.

"Lanjut-lanjut."

Lalu, botol kembali di putar dan ujung dari botol menunjuk Nizar. "T or D?" "Dare," jawab Nizar enteng.

Dengan cepat Atha menyaut. "Deketin adek gue. Tembak adek gue, dan pacarin dia dengan baik." Semuanya menganga tak percaya mendengarnya.

"What the?" sahut Nizar tak terima.

"Coba aja dulu, siapa tau jodoh," celetuk Tista.

Nizar mengangguk pasrah. Botol itu di putar dan ujungnya menunjuk Atha. "Yes!" sorak Atha gembira.

"Goblok, malah seneng," ucapku tak percaya. Rata-rata orang kena kan gak suka, pastinya mereka sebel kehidupannya dikepoin atau dikasih tantangan yang enggak banget. Termasuk aku, sih.

"Gue milih Truth sama Dare!" ucap Atha semangat.

"Emang boleh kek gitu?" tanyaku heran, kuedarkan pandanganku lalu semuanya mengangguk. "Gak apa, kita malah seneng."

"Truth-nya, kenapa lo berhenti ngerokok waktu SMA?" tanya Tista.

Atha melirikku sekilas lalu tersenyum. "Gue tau Retta gak suka sama asap. Jadi, gue gak mau bikin orang gak nyaman sama gue. Dan juga kata Mama gue, gue gak boleh ngecewain orang yang gue sayang. Dan... " Atha menghembuskan napas. "Gue sayang sama Retta. Jadi, gue berenti ngerokok, deh." Perkataan itu familiar di ingatan Retta. Tapi, Retta tak berusaha mengingatnya, karena berusaha mengingatnya sama saja membuat kepalanya pusing.

"Dare-nya, peluk orang yang paling lo sayangi," cetus Keisha sambil tersenyum lebar.

"Oke, bentar. Kalian semua harus tutup mata," ucapnya lalu berjalan cepat menuju orang yang paling disayanginya dan memeluknya erat. Lalu, kembali ke tempat duduknya. "Udah guys."

"Lo peluk siapa, Tha? Kok gue gak ngerasain belaian kehangatan gitu sih?" ucap Rendi ngasal.

Atha yang gemas dengan pertanyaan Rendi langsung menjitak kepalanya. "Tebak, dong."

Feeyla mengerling jahil. "Retta, ya?"

"Iya, tuh, pasti Retta."

"Enggaklah, bego, banget sih kalian semua. Ya, Mama guelah siapa lagi. Mama gue sampe cengo tiba-tiba gue peluk terus abis itu gue tinggalin." Penjelasan Atha yang terkesan polos membuatku gemas.

"Lucu lo," ucapku sambil mecubit pipi mulusnya.

Atha mengerjap dan wajahnya memerah. "Ih! Sini peluk," ucap Atha sambil menarikku ke rengkuhannya. Perasaan dipeluk-peluk mulu, deh.

"Lo enak sih dipeluk kan jadi kecanduan." Eh, gue lupa Atha bisa denger.

"Masuk, deh, ya. Gue, ngantuk, pengen bogan ala Rendi."

Merasa tidak memiliki teman Nizar langsung berdiri mengikuti langkah Rendi masuk ke dalam. Dasar homoan.

"Azri, masuk, yuk. Banyak nyamuk," sungut Feeyla yang tangannya banyak bekas gigitan nyamuk, kulit putih pucatnya menjadi merah bekas gigitan nyamuk.

Azriel langsung khawatir. "Kenapa gak bilang daritadi, sih, Feey. Aduh, jadi bentol gini. Ayo masuk aku obatin." Azriel langsung menggeret Feeyla masuk, kini tinggal aku, Atha, Keisha, Tista.

"Sha, kita masuk." Tista berdiri dan mengamit tangan Keisha.

Dalam dinginnya malam, akumerebahkan diri ke atas rumput yang hijau, menghirup aroma malam. Tiba-tiba, aku merasakan pergerakan di sebelahku, Atha merebahkan juga dirinya. Aku tidak tau mengapa seulas senyum terbit di bibirku, aku hanya merasa nyaman dia ada di sampingku dan tidak meninggalkanku. Aku merasa aku terikat dengannya.

"Kenapa gak masuk? Di sini dingin." Atha berkata sambil menoleh ke arahku.

"Pengen aja. Lagian, bintangnya lagi banyak banget," ucapku. Lalu, aku mendongak menatap langit malam dengan bintang yang gemerlap memancarkan cahaya yang indah.

Atha langsung berdiri tegak dan berjalan dengan rahang mengeras. "Gue masuk."

Aku menatapnya heran."Atha kenapa sih?"

Atha memutar tubuhnya dan menatapku tajam, dan aku sangat takut dengan tatapannya yang seperti itu. "Gue benci bintang, bahkan gue benci malam."

"Kenapa?" tanyaku spontan.

"Karena bintang dan malam ngambil orang yang gue sayangi."

◀▶◀▶

Aku terbangun dengan teriakan melengking dari kamar di atas, yang katanya itu kamar Thaliee. Dengan mata mengantuk aku mencoba memperhatikan sekitar. Semuanya masih tidur, batinku.

"Atha udah bangun, dong." Aku menoleh ke asal suara. Lalu, aku melihat Atha dengan rambut acak-acakan dan matanya yang sayu, tersenyum tipis kepadaku. Aku meneguk ludahku sendiri. Duh, kok tambah ganteng sih.

Aku mendengar Atha terkekeh. "Gue tau Rett, gue tau. Gue tau gue ganteng. Tapi gausah ileran juga keles."

Refleks, aku menyentuh bibirku, dan tidak merasakan apa-apa. "Tai lo." Aku mendelik ke arahnya yang sedang tertawa kencang. Kembali aku menatap sekelilingku yang benar-benar seperti penampungan bencana alam. Dengkuran Rendi terdengar sangat keras, aku berusaha menahan tawaku saat Azriel menjadikan kaki Tista sebagai guling, bahkan jempol kaki Tista sudah hampir mengenai hidungnya.

"BANGSAT LO NGAPAIN KE KAMAR GUE!"

Teriakan cempreng yang melengking dari kamar Athaliee. Aku dan Atha buru-buru menuju kamar Athaliee. Sampai di depan kamarnya, Atha langsung membuka pintu kamar adeknya itu. Apa yang kita lihat? Athaliee yang sedang membawa tongkat bisbol dengan pandangan marah, dan juga Nizar yang bergelung di kasur Athaliee dengan nyamannya tanpa memikirkan tatapan iblis Athaliee. Aku melongo lebar menatap keduanya.

"Ngapain kalian berdua?" tanya Atha garang.

"Kak, tadi itu gue bangun. Dan, tiba-tiba, ini Om-Om ada di kasur gue."

"HAH!" Penjelasan Athaliee langsung membuatku Atha melongo.

"Lo apain Adek gue, bangsat! Maksud gue ngasih lo dare kayak gitu itu gak kayak gini juga! Masuk kamar adek gue seenak jidat. Brengsek lo!"

Atha hampir saja memberikam bogeman mentah kepada Nizar jika tangan Retta tidak menahannya. Atha menoleh kepadaku dengan napass memburu dan menatapku seakan-akan berkata lo-ngapain-nahan-gue. Aku menatapnya tak kalah tajam sambil menggelengkan kepalaku.

Jangan tonjok dia kalo elo gak tau sebabnya. Dia mengerti kata hatiku, dengan malas dia menganggukan kepalanya.

Saat keadaan sedang tegang. Terdengar dengkuran halus dari bibir Nizar. Rambutnya yang halus membuat siapapun ingin mengelusnya dan tak lupa wajah polosnya, yang membuat siapapun tak tega membangunkan. Tapi, sarap juga nih orang lagi hawa lagi tegang-tegangnya kek gini malah ngorok.

Aku duduk di pinggiran ranjang, mencoba membangunkan Nizar dengan cara yang lebih manusiawi. Tidak dengan tongkat bisbol. "Nizar, bangun. Udah pagi, duo Atha mau ngomong sama lo," ucapku sambil menepuk pipinya pelan. Pipinya mulus banget coy.

"Alusan pipi gue, nih nih," ucap Atha tak terima sambil mengarahkan pipinya kepadaku. Aku mendelik kepadanya. "Diem, deh, iri banget. Orang cuma gitu doang." Aku membalas perkataannya.

Mata Nizar mengerjap lucu kemudian ia menguap dan mengacak rambut cokelatnya. Aku melihat di sisi kiriku Athaliee menahan napas, dan di sisi kananku Atha menatap Nizar datar.

"Ini di mana? Kalian siapa?" Nizar bertanya dengan suara serak khas bangun tidur yang membuat Athaliee menahan napas, lagi. Aku yakin Athaliee sudah jatuh dalam pesona seorang Nizar.

"Lo ngapain di sini?" Atha bertanya dengan nada datar.

"Emang gue di mana?" Nizar bertanya balik sambil menggaruk rambutnya. Mungkin rambut Nizar banyak kutunya, untung aja tadi aku gak tergoda buat ngelus rambutnya.

"Ini kamar Adek gue, paham?"

Nizar dengan tampang bloonnya melongo. "Ini kan, kamar gue."

Athaliee mendelik kesal. "Ini kamar gue Om-Om genit, hih."

"Gue bukan Om-Om ya, bocah bawang."

"Terus lo apa? Opa? Oma? Kakek buyut? Kakek cangkul? Kakek bawa bisbol? Kakek ganteng? Kakek gen―"

"DIEM LO SEMUA, TAI!" bentakan Atha yang menggelegar membuat semua terdiam.

"Atha, kalo lo mau nanya kenapa gue di sini, gue gak tau." Nizar dengan segala perkataan polosnya sukses membuatku mengacak rambutnya, dan sukses membuat Atha melotot kepadaku.

Nizar menghembuskan napasnya jengah. "Kata Mamih gue, gue punya penyakit suka jalan waktu tidur. Tapi, itu udah jarang banget sekarang, gak tau kenapa sekarang gue gitu lagi," jelas Nizar lalu menarik napas.

"Katanya Mamih penyakit itu kumatnya cuma kalo gue deket sama orang yang gue suka. Dulu, kan Mamih yang gue suka jadi ya sering banget ke kamar Mamih .... "

"Cepet lanjutin bego, gue kepo akut nih, oncom!" Atha menyuruh Nizar melanjutkan ceritanya dengan muka kepo.

"Nah, gue sering masuk kamar mamih pas waktu yang gak tepat, misalnya Mamih lagi ganti baju atau Papih yang ganti baju. Atau Mamih sama Papih lagi apalah gitu, malu gue nyebutnya." Penjelasan Nizar membuatku terkekeh.

"Nah terus gue ke sini ini kenapa? Mamih, masa Nizar suka sama bocah bawang ini sih," sungut Nizar dengan memajukan bibirnya.

"Om-om gila. Lain kali, jangan ke kamar Thaliee lagi ya, Om. Ke kamarnya Mbok Jem aja, pasti dia seneng nemu cogan kayak, Om." Athaliee berkata lalu meninggalkan kamarnya.

Mungkin ini dua hari yang cukup menguras energi.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com