Truyen2U.Net quay lại rồi đây! Các bạn truy cập Truyen2U.Com. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

xi

Sayangnya, jika aku diberi pilihan untuk memilih kamu atau perhiasan satu karung, aku lebih memilih kamu. Kamu berharga.


Di bawah sinar rembulan,
Adsila-

◀▶◀▶

Rontokan rambut dari kepalaku, membuatku mendengus pasrah. Kurang buruk apa lagi hidupku, setelah dia diambil dariku, kenapa aku harus punya penyakit kayak gini. Dasar cowok penyakitan. Aku membatin.

Aku sangat bosan dengan hidupku seperti ini, menyembunyikan segalanya dari orang-orang. Menelan semua pil-pil pahit yang aku sendiri malas untuk meminumnya. Tapi aku bertahan, aku meminumnya untuk bertahan hidup. Meskipun, tidak lama lagi aku juga mati. Sudah dua tahun aku mengetahui sendirian, aku tidak ingin semua tau penyakitku. Aku yakin mereka pasti kaget, khawatir, sedih, iba. Hei, aku bukan lelaki lemah.

Rambut botak? Itu resiko. Kenapa aku gak mau mama nyita ATM aku? Karena aku biayain pengobatan dari ATM itu. Dari awal aku tidak ada maksud sama sekali untuk menyembunyikan ini dari mereka, aku hanya tidak mau membebani mereka. Itu saja. Tapi, ya udahlah biarin aja, aku gak peduli. Aku meninggal ya udah, dimandiin, dikafanin, digotong, dikubur, ditahlilin, aku terima. Asalkan, jangan nangis buat aku.

Tapi, nanti kalo aku botak nanti gimana? Kinclong gitu, dong? Apa masih ada yang suka aku? Apa masih ada yang mau temenan sama aku? Apa mau mereka deket-deket sama anak penyakitan kayak aku?

"Rizz, makan dulu sini." Aku yang sedang meratapi nasibku hanya bergumam malas menyahuti panggilan mama. Dengan langkah berat, aku menuruni tangga dengan perasaan berkecamuk. Melihat keluargaku yang lengkap seperti ini saja aku senang. Melihat kedua saudaraku berebutan ayam goreng buatan mama pun aku senang. Melihat ama dan papa baik-baik saja di umur pernikahan mereka yang hampir menginjak dua puluh tahun pun aku senang. Aku berharap mereka akan selalu bahagia. Meski, tanpa aku.

"Hai Ma, Pa, Bang, Dek." Mereka semua mendongak menatapku. Lalu, mereka tersenyum lebar dengan mata berbinar seolah aku sudah mereka nantikan dari lima puluh abad yang lalu.

Aku hanya menanggapi pertanyaan Mama dan Papa dengan jawaban singkat, ataupun candaan Abang hanya aku hiraukan dengan senyum tipis.

Memendam rasa sakit dengan seulas senyum lebar itu rasanya seperti kau sedang memegang bunga mawar. Kau petik bunga itu, lalu kau pegang erat batangnya yang berduri. Sampai tanganmu perih dan berlumuran darah, tetapi sang bunga tetap keindahannya, tetap memancarkan senyum tidak seperti tangannya yang perih seperti terkena duri mawar.

Anggap saja tangan yang terkena duri itu hatimu. Dan bunga mawar itu bibir dengan senyum lebarmu.

Di bawah embun pagi,
Fairel-

◀▶◀▶

Aku sangat-sangat pusing sekarang. Sekelilingku terasa memburam untuk sesaat. Sebelumnya, penyakit ini tidak berefek berlebihan seperti ini. Sungguh, rasanya kepalaku seperti dihunjami beton. Akhirnya, aku hanya bisa menelungkupkan kepalaku di lipatan tangan. Pusing ini sangat menyiksa, aku menjadi tidak fokus seperti ini.

Dalam lamunan, aku merasakan sesuatu mengalir di hidungku. Tidak, kumohon jangan sekarang. Tapi, tidak ada gunanya aku membatin seperti itu, cairan kental berwarna merah ini terus merembes keluar.

"Pak, saya izin ke toilet dulu." Aku berdiri dari bangku dengan pusing yang semakin menjadi-jadi. Sampai di ambang pintu aku tidak bisa menahan bobot tubuhku.

BRUK!

"ATHA!" Sebelum semuanya benar-benar gelap. Aku mendengar suara cempreng memanggil namanku.

◀▶◀▶

Semuanya terasa mati, aku melihat sekitarku dengan bingung. Aku sedang menatap jasadku yang akan di kuburkan. Lalu, aku ini siapa? Aku mencoba menggapai Mama, Papa, Abang, Adek, dan sahabatku. Tapi tidak bisa. Oh, Tuhan, apa aku ini roh?

Aku menatap nisan yang bertuliskan namaku, tanah yang akan digunakan sebagai tempat terakhirku, bunga di keranjang, aku menatap itu semua dengan sendu, apa ini akhir hidup?

PLAAK!

"ANJING! SAKIT, BEGO." Aku membuka mataku sambil mengumpat.

"Lah lo ngapain kayak orang kesurupan, teriak-teriak gak jelas, keringetan lagi. Ini ruangan ber-AC, kampungan bener," sungut wanita itu.

"Kok gue masih idup? Tadi, kan, udah gue udah dikuburin."

Wanita itu menjitak kepalaku. "Oh, jadi lo mimpi mati? Kenapa gak mati beneran aja."

"Gue pingsan gitu aja lo jerat-jerit, gimana kalo gue mati," jawabku tak mau kalah.

"Terserah, nih, minum." Ia menyodorkan air minun kepadaku.

"Lo gak masuk?"

"Gak, gue nemenin lo aja."

"Gue gak apa, ngapain ditemenin?"

Dia memutar bola matanya. "Gak apa tapi mimisan."

Aku menyentuh hidungku. "Tapi, kan, sekarang udah enggak."

"Fine, gue pergi."

"Jangan dong Rett, ih." Aku mencekal kedua tangannya.

Retta membalikkan tubuhnya. "Ck, ngeselin banget." Aku menggaruk tengkukku.

"Mau ke kantin?" Retta bertanya.

Aku hanya mengangguk lemah, ia membantuku bangun seakan-akan aku ini sakit parah. Eh, emang, sih.

Dalam perjalanan ke kantin aku tidak bicara, dia pun tidak. Oh, Tuhan, aku harus apa. Mulutku sangat gatal untuk mengejeknya seperti biasa, tapi lagi-lagi rasanya ada sesuatu yang mengganjal.

"Are you ok?" Aku hanya mengangguk sambil tersenyum.

"Tadi, gak sarapan sampe pingsan sama mimisan gitu?"

Aku mengggeleng. "Sarapan, kok, cuma kecapean aja." Suaraku serak seperti kodok.

◀▶◀▶

Di sinilah aku, di ruang penuh obat-obatan yang sangat memuakkan. Jarum suntik berjejer rapi, anatomi manusia terpampampang, gambar-gambar akibat merokok, serta seorang berbaju putih yang sedang menatapku. Itu bukan setan, tapi dokter. Dia membaca laporan mengenai keadaanku sekarang.

"Sepertinya, penyakit itu semakin parah." Ia berkata setelah lama diam.

Aku mendengus. "Apa saya masih bisa sembuh?"

Dokter itu mengangguk pelan lalu tersenyum. "Bisa dengan kemo."

"Apa tidak ada cara lain?"

"Itu cara paling bisa, Atha."

"Baiklah Dok, terima kasih. Saya permisi." Aku keluar dari ruangan itu dengan perasaan kalut. Apa bisa aku bertahan? Apa bisa? Bantu aku, Tuhan. Aku ingin lebih lama di dunia ini. Aku masih ingin melihat mama dan papaku bangga dengan kerja kerasku. Aku masih ingin memakan masakan mama, aku masih ingin menikmati masa remajaku seperti remaja lain. Aku masih ingin melihat wajah sahabatku, terutama Retta.

Aku harus ke taman. Taman yang mempertemukan aku dengannya. Sampai di taman aku melihat banyak anak bermain, meloncat ke sana ke mari, tertawa, menangis. Aku duduk di bangku itu. Lalu aku tak sengaja melihat seorang anak kecil berhijab sedang bermain ayunan. Bocah kecil itu sangat cantik dengan baju terusan panjang berwarna biru pucat serta rompi jeans panjang, lalu hijab berwarna biru pucat senada dengan bajunya. Dan flatshoes biru pucat.

Dia sadar ketika aku menatapnya. Ia tersenyum cerah. Lalu, berlari menghampiriku.

"Halo, Om!" sapanya dengan senyuman.

"Panggil. Kakak, aja." Dikiranya gue Om-Om.

"Om―eh Kak, kok sedih?"

"Gak apa. Oh, ya, kamu cantik." Aku bukan penyuka anak kecil, aku hanya berkata jujur.

"Iya dong, Kak!" ucapnya bangga.

"Kamu masih kecil pake hijab, gak kepanasan?"

Dia menyentuh kepalanya. "Ya, enakan pake hijab Kak, daripada aku diejekin mulu." Ia mengerucutkan bibirnya. Oh, dia sangat menggemaskan.

"Kenapa kamu diejekin? Kamu kan cantik."

Dia duduk di sampingku. "Tapi, aku botak, Kak." Ia bekata lirih lalu mentapku. "Kakak, gak takut sama aku?"

"Kenapa harus takut?"

"Temen-temen aku takut, Kak. Mereka bilang, aku jelek gak kayak temen aku yang punya rambut. Aku juga pengen, kali, Kak, punya rambut. Terus, aku sisir tiap hari. Dikuncir sama Mama kalo sekolah, kayak temen-temen gitu. Kan, lucu, tuh. Terus, dikepang sama Oma kayak saudara perempuan aku yang lain. Tapi, aku enggak Kak, aku beda." Ia tertunduk lesu.

Oh Tuhan, betapa tangguh dan malangnya bocah ini.

"Kenapa bisa botak?" tanyaku spontan.

"Kata Mama, gara-gara abis dike―ke apa gitu."

"Kemo?"

Matanya berbinar. "Seratus buat, Kakak!"

"Mereka tiap hari ngejek kamu kayak gitu?"

"Iya, kata mereka aku mirip biksu. Biksu itu apa sih, Kak?"

Aku hampir menyemburkan tawaku. "Biksu?"

Dia mengangguk polos. Lalu aku mengeluarkan ponselku dan googling gambar biksu. Aku menunujukkan gambar di ponselku kepadanya.

"Nih, biksu."

Dia melongo lebar. "AKU GAK KAYAK BIKSU! AKU LEBIH CANTIK!" teriaknya histeris.

Aku tertawa kencang melihat ekspresi cengonya.

"Ehem! Maaf, sebelumnya. Saya mau membawa anak saya pulang." Perkataan itu membuatku mendongak lalu mengangguk. Seorang wanita dengan tatapan lembutnya menggendong bocah kecil itu. Lalu, membawanya pulang.

Jagan menganggap hidupmu paling menderita, di luar sana masih ada yang lebih menderita darimu.

Jangan berputus asa, karena keputusasaan hanya membuat hidupmu semakin menderita.


Ditemani rintikan hujan,
Fairel-

◀▶◀▶

An//

Sebenernya bikin qoute itu terinspirasi dari Ibe.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com