Truyen2U.Net quay lại rồi đây! Các bạn truy cập Truyen2U.Com. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter II

Begitu sampai ke meja kerja Junghwan, Doyoung langsung duduk di kursinya, diam sebentar sambil memandang monitor yang tengah menyala.

"Kenapa kamu ngerjain ini? Ini bukan tugas pegawai yang baru diangkat jadi karyawan tetap beberapa hari lalu."

Andai Doyoung tidak terlalu sibuk mengotak-ngatik layar, ia pasti dapat menyadari bahwa Junghwan yang berdiri di belakangnya sedang berusaha keras menahan tawa.

Tingkah atasannya nampak lucu dan menggemaskan, tubuhnya ia biarkan merosot, bersandar pada meja kerja di depan. Tangan kanannya berada pada kursor, dan yang kiri ia pakai untuk menopang kepalanya sendiri.

Dibanding atasan yang berumur hampir tiga puluh, Doyoung lebih terlihat seperti anak kecil yang sedang mengerjakan tugas sekolah.

"So Junghwan-ssi?" Panggil Doyoung karena Junghwan tidak kunjung menjawab.

"Pak Lee yang suruh saya kerjain ini." Jawab Junghwan jujur.

Yang lebih tinggi menunduk, ikut menatap monitor yang sejak tadi Doyoung pandangi. Sedangkan yang tengah duduk di kursi malah menahan napas, kancing kemeja Junghwan yang terbuka membuat aroma tubuhnya langsung masuk ke indra penciuman Doyoung seketika.

Refleks Doyoung menjauh, tangan kirinya bergerak memegang dadanya yang mulai berdebar tidak karuan.

"Kenapa, Pak?" Tanya Junghwan begitu melihat tingkah aneh atasannya, dan Doyoung menggeleng seketika.

"Mending kamu pulang aja, lanjut kerjain ini besok pagi." Perintah Doyoung sambil bangkit dari kursi. "Lagian ngapain kamu lembur tapi gak dibayar?"

"Kata siapa? Pak Lee kasih bayaran ke saya tiap saya selesai kerjain tugas dia."

Jawaban Junghwan membuat Doyoung menatapnya tidak percaya, bisa-bisanya ia mendirikan ladang bisnis di tempat kerjanya sendiri?

"Lumayan, Pak. Uangnya bisa dipakai buat bayar rumah yang saya sewa."

"Emang gaji kamu kurang sampai kamu harus cari tambahan begini?"

Junghwan menggeleng, "Pengeluaran saya yang terlalu banyak." Jawabnya santai, ia merasa tidak perlu bersikap terlalu formal pada atasannya yang setengah mabuk di jam sembilan malam.

Doyoung menghela napas sementara Junghwan malah duduk di kursi yang tadinya Doyoung tempati, melanjutkan pekerjaan yang terlihat seperti tanggung jawabnya sendiri.

"Paling lambat jam sepuluh, setelah jam sepuluh kamu harus udah keluar dari sini." Perintah Doyoung pada akhirnya.

Sebelum Jihoon resign, mereka harus mengevaluasi kinerja para karyawan. Perintah kakeknya untuk tidak memecat pegawai yang berumur sepertinya tidak hanya memberi dampak positif, ada banyak hal negatif yang justru menjamur dan Doyoung enggan mengurusnya seorang diri nanti.

Junghwan mengangguk, ia menunduk sebentar sebelum Doyoung berbalik dan melangkah menuju lift yang ada di ujung lorong.

Sampai tiba-tiba dirinya dikejutkan oleh suara keras, ia menoleh dan menemukan Doyoung yang sudah jatuh menghantam lantai.

"Pak!" Panggil Junghwan panik, dirinya berlari menghampiri atasannya yang malah berbaring dengan mata tertutup di lorong meja karyawan.

"Pak! Pak Kim!" Panggil Junghwan lagi, kali ini sambil menggoncangkan tubuh yang lebih kecil agar segera sadar.

"Your room, please."

"Hah?"

Junghwan mendekatkan kepalanya dengan mulut Doyoung yang mengoceh tidak jelas, "Hah? Bapak ngomong apa?" Tanyanya lagi.

Dan laki-laki itu nyaris berteriak saat merasakan bibir Doyoung yang malah mengecup pipinya, "Your room, cutie." Bisik atasannya dengan nada manja, tengkuk Junghwan meremang seketika.

Tanpa pikir panjang, ia mengangkat tubuh Doyoung dengan kedua tangan, dan laki-laki itu langsung melingkarkan tangannya ke belakang leher Junghwan.

Tingkah konyol Doyoung terasa masuk akal ketika Junghwan mencium bau alkohol yang menyengat dari tubuhnya, Doyoung terus mengoceh sementara Junghwan fokus melangkah masuk ke dalam lift yang akan membawa keduanya menuju lantai atas.

Dengan susah payah Junghwan membuka pintu ruangan Doyoung, meletakkan tubuhnya ke atas sofa panjang yang ada di salah satu sudut.

Junghwan tertawa melihat Doyoung yang padahal baik-baik saja sebelum ini. Ia bahkan sempat mengoreksi pekerjaannya dan mendadak mabuk karena alkohol yang dikonsumsi bermenit-menit sebelumnya.

Setelah memastikan posisi Doyoung nyaman di atas sofa, Junghwan bergegas hendak kembali ke meja kerjanya, namun langkahnya berhenti sebab Doyoung yang malah menarik kain celananya.

"Mau kemana?" Tanya Doyoung sambil merengek.

"Mau pulang, kan tadi Bapak yang suruh saya pulang."

"Bapak? Kenapa kamu manggil saya— Oh? So Junghwan?" Ucap Doyoung sambil mengusap matanya berulang kali, memastikan ia tidak salah lihat. "Ngapain kamu di sini?"

Doyoung berusaha bangkit dari tempatnya namun dengan cepat Junghwan menahan, "Gapapa, ini bukan Junghwan, bapak lagi mimpi sekarang." Jelas Junghwan.

Tangan besarnya bergerak, mengusap-usap wajah Doyoung dengan telapaknya. "Tidur... tidur..." Bisik Junghwan pelan, seakan tengah mengucap mantra pada objek yang hendak diubahnya.

Dan berhasil, caranya berhasil membuat Doyoung diam. Mungkin disebabkan oleh alkohol yang masih tinggi pada tubuhnya, karena laki-laki itu dengan mudah menurut, berbaring di atas sofa sambil menutup mata yang berulang kali ditiup oleh yang lebih tinggi.

Junghwan terkekeh pelan, ia menyempatkan diri mengusap sisi wajah atasannya sebelum kembali bangkit, berjalan tanpa suara menuju pintu keluar, meninggalkan Doyoung yang akhirnya terlelap di ruangan.

Ia hanya tidak ingin Doyoung malu ketika dirinya bangun nanti, biarlah ia menganggap semua yang terjadi malam ini adalah mimpi sebab Junghwan juga enggan berurusan langsung dengan atasannya sendiri.

***

Doyoung mengerang begitu lampu ruang kerjanya menyala, ia menutup wajah dengan lengan lalu membalikkan badan ke punggung sofa.

"Aduh!" Protes Doyoung begitu kepalanya dipukul dengan tumpukan kertas.

"Bangun! Aku butuh tanda tangan kamu."

Itu suara Jihoon.

Netra yang tadinya hendak kembali terpejam seketika terbuka, Doyoung terkesiap begitu menyadari bahwa saat ini ia berada di ruang kerjanya sendiri.

"Ngapain kamu tidur di sini? Aku kira, hari ini kamu gak akan kerja karena kencan sama Jaehyuk kemarin berjalan lancar."

Doyoung tidak menjawab. Masih dengan kesadaran seadanya, ia meraih tisu basah yang ada di atas meja untuk mengusap wajah. Ia melihat botol air mineral kosong di sudut meja dan tenggorokannya mendadak terasa kering.

"Mau air, dong." Ucapnya sambil mendorong paha Jihoon agar ia mengambilkan air minum yang ada di mesin pendingin.

"Air apa? Air satu ember buat siram badan kamu? Stop mabuk dan malah tidur di kantor, kamu punya rumah." Omel Jihoon sambil meraih jas Doyoung yang berceceran.

Dan ia heran karena dirinya justru menemukan dua jas di lantai ruangan.

Doyoung menghela napas, kepalanya nyeri karena terlalu mabuk semalam dan pagi ini, sekertarisnya malah bersikap kurang ajar dengan mengomel tanpa henti.

"Kamu bawa orang lain ke sini?" Tanya Jihoon, Doyoung yang masih enggan berpikir itu langsung menggeleng.

"Aku sendirian."

"Terus, ini punya siapa? Punya kamu dua-duanya."

"Mungkin."

Setelah menjawab, Doyoung akhirnya bangkit dan berjalan menuju sisi ruangan lainnya, berjongkok di depan kulkas kecil dan meraih air mineral dingin dari dalamnya.

"Ini doang?" Tanya Doyoung sambil membaca berkas yang Jihoon sodorkan.

Jihoon mengangguk, "Ini doang, sama surat resignku." Jawabnya yang kemudian menyodorkan amplop berisi surat pengunduran dirinya.

Doyoung menghela napas, mengonsumsi minuman keras semalaman ternyata tidak menyelesaikan masalahnya.

"Gimana kalau kamu tetep jadi sekertarisku, tapi dikurangin sedikit jadwalnya." Pinta Doyoung yang kini duduk bersandar di atas sofa.

Kali ini Jihoon menggeleng, "Aku bakal ambil cuti setelah nikah, kamu gak akan sanggup handle semuanya sendirian."

Sebenarnya Jihoon juga enggan meninggalkan pekerjaannya dan Doyoung yang sudah ia anggap sebagai adiknya, namun pernikahan sudah ada di daftar teratas keinginannya tahun ini, ia tidak mungkin menundanya lagi.

Doyoung kembali menghela napas, kepalanya makin sakit mendengar berbagai masalah yang datang bertubi-tubi.

"Kamu udah list nama karyawan yang bisa jadi pengganti?" Tanya Doyoung pada akhirnya, menyerah membujuk Jihoon untuk tetap tinggal di sisinya.

"Menurutku Junghwan paling cocok buat isi posisi ini." Jelas Jihoon sambil menyodorkan kertas yang sejak tadi ia pegang.

Dan Jihoon melonjak kaget saat melihat Doyoung yang malah berteriak keras sambil melempar kertas di tangan.

"Kenapa?" Tanyanya heran, apa Doyoung segila itu hanya karena ia mengundurkan diri?

Yang ditanya hanya diam, netranya menatap dua jas yang Jihoon sampirkan ke atas meja.

"Junghwan..."

"Iya Junghwan."

"So Junghwan..."

"Iya So Junghwan, emang ada berapa Junghwan di kantor ini?"

"Jadi, itu bukan mimpi?"

"Mimpi apa? Kamu kenapa sih?" Tanya Jihoon, gemas melihat tingkah aneh atasannya. Ia berjalan mendekat dan menyentuh kening Doyoung dengan punggung tangan.

"Demam sedikit tapi omongannya ngelantur gini? Mending kamu pulang aja, aku panggilin taksi, ya?"

Doyoung mengangguk, tubuhnya bersandar lemas di atas sofa sementara netranya masih terpaku pada jas miliknya dan Junghwan yang sengaja ia tinggalkan.

Setelah membereskan seluruh barang bawaan, Jihoon mengantar Doyoung menuju lantai dasar. Hari masih terlalu dini, bahkan tidak semua karyawan sudah datang ke kantor pagi ini.

Dan Jihoon terus menatap khawatir Doyoung yang diam sejak tadi.

"Kalau gak enak badan beneran, jangan lupa hubungin dokter Jeon." Pesan Jihoon, dan Doyoung mengangguk pelan.

Ia tidak sakit, tubuhnya baik-baik saja meski kepalanya sedikit nyeri karena belum mendapat waktu tidur yang cukup.

Dirinya hanya sedang berpikir, bagaimana cara menghadapi Junghwan setelah ini.

Karyawannya itu tidak bodoh, ia bahkan terlalu pintar karena bisa memanfaatkan situasi dengan mengambil keuntungan dari rekan kerja yang kurang ajar.

Bagaimana jika Junghwan menuntutnya? Apa kejadian semalam terekam cctv? Atau, Junghwan malah sudah melaporkan tindakannya ke polisi?

Tangannya bergerak menuju bibirnya sendiri, bisa-bisanya ia mencium karyawannya tepat di pipi?

Doyoung sibuk merutuki dirinya sendiri hingga tidak menyadari bahwa lift yang tengah ia naiki berhenti sebelum sampai ke tujuan. Kepalanya sedikit terangkat, dan tubuhnya hampir merosot begitu melihat sosok Junghwan yang berdiri di hadapan.

Laki-laki itu tersenyum ramah, menunduk pada dua orang yang jabatannya lebih tinggi lalu ikut masuk ke dalam lift.

"Kamu udah dateng? Padahal baru jam segini." Tanya Jihoon basa-basi.

Tetapi Junghwan malah menggeleng, "Saya baru mau pulang, Pak."




















...

semoga kalian suka sama karakter hwanbby di sini yang aku bikin lumayan beda dari biasanya yaaa

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com