Chapter I
"Bonjour Papa, Hola Mama, Ciao Grandpa, Hai hyung."
Suara Doyoung terdengar nyaring di rumah keluarganya, suasana yang tadinya sunyi seketika ramai begitu cucu terakhir sekaligus anak kesayangan mereka datang.
Meskipun umurnya hampir menyentuh angka tiga puluh, Doyoung akan selalu menjadi anggota paling lucu di antara keluarganya yang lain.
Ayahnya merupakan anak tunggal, yang berarti tidak lagi ada pewaris perusahaan selain Doyoung sendiri karena Kim Junkyu, malah memilih untuk menjadi Dokter seperti apa yang orang tuanya lakukan.
Berbeda dengan Doyoung yang sejak kecil sudah dituntun oleh Kakeknya untuk meneruskan perusahaan keluarga yang terancam gulung tikar sebab keturunan satu-satunya justru menekuni bidang yang jauh berbeda.
Dengan jas kerja yang ia sampirkan di tangan kiri, Doyoung menggunakan tangannya yang bebas untuk memeluk seluruh anggota keluarganya satu-persatu, berjalan menyusuri meja makan besar yang ada di tengah ruangan.
"Kalian semua nungguin aku?" Tanya Doyoung sambil duduk di kursi kosong, tepat sebelah Ayah dan Kakeknya.
"Klinik tutup hari ini." Ucap Junkyu santai, dan Doyoung hanya menanggapinya dengan anggukan pelan.
Terkadang ia iri dengan kakaknya, seakan diberi kebebasan untuk menentukan ke mana arah hidupnya, sedangkan Doyoung bagai disetir sejak kecil. Dirinya bahkan tidak diperbolehkan untuk sekadar datang ke klinik besar yang Ayahnya buat, karena Kakeknya takut Doyoung juga ikut menjadi Dokter seperti keluarganya yang lain.
"Maaf aku telat, kantor sibuk banget hari ini, maklum peak season." Jelas Doyoung, tangan kakeknya seketika terulur untuk mengusap surai kecokelatan milik cucu kesayangannya.
"Makanya kamu cari pasangan biar bisa urus kantor berdua."
Doyoung mendelik ke arah Junkyu begitu mendengar kakaknya itu menahan tawa. "Kenapa bukan suaminya Junkyu hyung aja yang disuruh jadi penerus perusahaan?"
"Haruto itu pengacara, mana paham dia soal perusahaan batu bara." Jawab Junkyu ketus, Doyoung yang kesal kini mulai menendangi kaki Kakaknya yang ada di bawah meja.
"Gimana kalau kita atur jadwal makan malam bareng keluarga Yoon secepatnya?"
Itu suara Ibunya, sekuat tenaga Doyoung berusaha menelan makanan yang terasa menyesakkan di tenggorokan sebab seluruh keluarganya malah setuju dengan ide konyol tersebut.
"Terlalu cepat kalau kita langsung makan malam sekeluarga, gimana kalau aku sama Jaehyuk ketemu dulu aja? Biar bisa kenal sedikit." Ucap Doyoung dengan nada suara yang dibuat-buat, mengeluarkan jurus andalan yaitu merengek ke semua orang yang lebih tua.
"Weekend ini?" Tanya Ayahnya, tetapi Doyoung malah menggeleng.
"Aku sibuk kalau weekend, kantor lumayan senggang tiap hari Kamis." Jawabnya, dan lagi-lagi Kim Junkyu yang duduk di kursi di hadapannya malah menahan tawa.
Ia tahu apa maksud Doyoung mengadakan kencan di kamis malam.
"Yaudah, nanti Mama kabarin Ibunya Jaehyuk."
Doyoung tidak pernah dapat membenci keluarganya. Sebab, meskipun di awal ia seolah dipaksa untuk menekuni hal yang tidak dirinya suka, lama-kelamaan ia justru mencintai pekerjaannya.
Rutinitas hidupnya seakan tertata, terjaga di pagi hari, pulang dari kantor pada sore hari, terlelap sebelum tengah malam, dan bangun di keesokan paginya untuk kembali menjalani pola yang berulang.
Dan di mana lagi ia dapat menemui orang seperti Jihoon? Umur mereka terpaut tidak terlalu jauh, Jihoon lebih tua tiga tahun darinya dan laki-laki itu sudah berperan sebagai kakaknya selama enam tahun dirinya bekerja.
"Undangan apa? Makan malam sama klien?" Tanya Doyoung saat melihat amplop putih di atas meja kerja, nampak kontras dengan puluhan berkas berwarna cokelat di sana.
"Undangan pernikahanku, lah."
Netra Doyoung membola, dengan cepat ia membuka amplop tersebut dan dirinya nyaris berteriak saat melihat nama sekertarisnya juga satu nama yang cukup familiar di atas kertas.
"Cepet banget?" Ucap Doyoung tidak percaya.
"Persiapannya hampir enam bulan, kamu yang terlalu sibuk kerja sampai gak tau kalau aku juga punya pekerjaan sampingan."
Jihoon melempar raut jijik saat Doyoung justru berekspresi sedih, "Kamu, jadi resign dong?" Tanya Doyoung, setengah merengek.
"Bukan resign, cuma pindah divisi. Aku udah gak bisa ngikutin kamu kemanapun lagi kayak dulu."
Doyoung masih terus merajuk sampai tiba-tiba, pintu ruangannya diketuk dari luar. Dan ketika pintu dibuka, sosok yang kemarin Doyoung temui kembali hadir di hadapan. So Junghwan kini tengah berdiri canggung di depan ruang kerja pribadinya.
"Berkas yang diminta Sekertaris Park udah selesai. Di depan gak ada orang jadi saya cari ke sini."
Jihoon memukul keningnya sendiri lalu berjalan mendekat ke arah Junghwan, "Thank you." Ucapnya sambil meraih kertas yang Junghwan sodorkan, dan Junghwan hanya mengangguk sebelum kembali keluar dari ruangan.
"Buruan tanda tangan surat pengunduran diri aku." Perintah Jihoon setelah mencari surat yang sudah ia serahkan pada Doyoung sejak satu bulan lalu lalu meletakannya di atas papan ketik.
"Gak. Kamu harus cari dulu penggantinya sebelum bener-bener pindah." Protes Doyoung sambil melempar kertasnya ke sembarang arah.
"Kenapa gak rekrut dari karyawan yang udah ada aja, sih?" Kali ini Jihoon yang protes, tidak terima dengan kelakuan buruk atasannya.
"Kamu mau aku punya sekertaris bapak-bapak kolot, botak, kayak yang ada di ruangan depan itu?"
"Gak semua, ada beberapa yang masih muda."
"Siapa?"
"Yang barusan masuk. Kerja ditemenin dia tuh, sekalian cuci mata."
Sebelah sisi bibir Doyoung terangkat, ia tidak percaya dengan kalimat menjijikan yang baru keluar dari mulut sekertarisnya. "Terserah, kamu atur aja lah. Oh iya, jangan lupa kosongin jadwalku kamis sore ini."
"Mau ngapain?"
"Kencan sama Jaehyuk."
"Di hari kamis?" Tanya Jihoon tidak percaya, ia bahkan merendahkan tubuhnya untuk menatap Doyoung yang malah sibuk mengetik sesuatu di komputer miliknya.
"Biar ada alasan buat kabur duluan."
***
Dengan pemandangan langit yang bermandikan cahaya dari lampu gedung-gedung tinggi tengah kota, Doyoung duduk di salah satu kursi yang ada di sudut restoran, berhadapan dengan Yoon Jaehyuk yang datang beberapa menit sebelum dirinya.
"Sebenernya saya udah punya pacar."
Tidak bisakah laki-laki bodoh ini menunggu hingga makanan di mulutnya habis tertelan sepenuhnya? Karena Doyoung nyaris tersedak begitu mendengar ucapannya.
"Hah?" Tanya Doyoung, memastikan bahwa telinganya tidak salah dengar.
"Saya udah punya pacar, dan saya menentang keras perjodohan ini."
Doyoung melepas alat makan di tangan dan menjatuhkannya keras-keras ke atas piring yang ada di meja. Membuat perhatian semua orang di restoran kini tertuju ke arahnya.
Dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada, ia sedikit mundur untuk menatap Jaehyuk yang juga memandang lurus ke arahnya.
"So? Kenapa gak kamu tolak aja permintaan orang tua saya buat kencan kita malam ini?" Tanyanya dengan nada angkuh.
"Oh, kamu takut keluarga saya marah dan putus hubungan kerja sama perusahaan kita?" Lanjutnya.
Tadinya Doyoung enggan bersikap kurang ajar di depan orang yang baru ia temui beberapa kali. Namun, harga dirinya seolah sedang diinjak begitu Jaehyuk bicara tadi.
Jaehyuk tidak menjawab sebab tuduhan Doyoung memang benar adanya, ia tidak ingin membuat hubungan yang sudah orang tuanya bangun justru berakhir buruk hanya karena egonya.
Dirinya hanya dapat memandang Doyoung yang kemudian bangkit dari kursinya, berjalan menjauh setelah melempar uang ratusan ribu won di atas meja yang masih dipenuhi makanan.
Doyoung bersyukur karena makan malam paling buruk di hidupnya itu tidak diadakan di restoran yang biasa ia kunjungi, membuatnya tidak perlu datang ke tempat yang kini menjadi salah satu sumber trauma terbesarnya.
Ditolak mentah-mentah di kencan pertama? Dibanding malu, Doyoung justru ingin marah. Memangnya Jaehyuk pikir, ia dengan suka rela datang ke acara yang bahkan tidak dirinya harapkan?
Tidak ada yang pernah menolaknya, dirinya justru berulang kali menyakiti hati orang lain karena dirinya tidak ingin menjalani hubungan dengan siapapun juga.
Ia nyaris berteriak kalau saja dirinya tidak menyadari bahwa kini ia sedang mabuk seorang diri di salah satu kedai makanan kaki lima yang letaknya tidak jauh dari kantornya.
Doyoung sengaja memilih rumah makan yang dekat dari perusahaan karena ia berniat begadang semalaman di ruang kerjanya. Setidaknya itu lebih baik daripada harus merenungi nasib di rumah besarnya sendirian.
Setelah membayar makanan dan empat botol soju yang ia habiskan, Doyoung berjalan terseok-seok menuju basemen gedung perkantoran. Dengan kesadaran yang tersisa, ia menyapa satpam yang berjaga, berjalan lurus menuju lift dan menekan tombol tujuan.
Lift mendadak berhenti di lantai dasar, dan dirinya terkejut saat bertemu Junghwan yang tengah menunggu lift. Karyawannya itu nampak berantakan, jas kerjanya entah berada di mana, menyisakan kemeja putih yang bagian tangannya digulung hingga lengan.
Doyoung nyaris gagal fokus ketika melihat urat yang terpampang jelas di kulit tangan Junghwan. Dan jangan lupakan dasi yang ia biarkan berantakan karena dua lubang teratas kancing kemejanya sengaja ia biarkan terbuka.
"Kamu... ngapain kamu di sini?"
Dengan canggung Junghwan menunduk, memberi sapaan hormat pada atasannya. "Saya lembur, Pak."
Doyoung melihat jam yang ada di tangan kanan, "Sampai jam segini? Siapa yang nyuruh? Emang ada deadline apa?"
Junghwan tidak menjawab, membuat Doyoung yang setengah mabuk menarik tubuh laki-laki itu untuk masuk ke dalam lift.
"Kasih tau saya, apa yang lagi kamu kerjain malam ini." Omelnya, lalu menekan tombol lantai tempat para karyawan.
"Kamu tau kan kalau mostly partner kerja kamu itu bapak-bapak tua yang dengan gampang bisa kamu lawan? Seharusnya kamu dorong aja tubuh mereka, jambak ujung kumisnya kalau mereka bersikap kurang ajar." Omel Doyoung, sebelah tangannya berusaha mengatur rambut yang malah makin berantakan.
Laki-laki manis itu sibuk mengomel, bahkan hingga mereka sampai ke tujuan. Begitu pintu lift terbuka, ia berjalan keluar, berdecak kesal saat melihat beberapa lampu memang masih dinyalakan, dan yang paling terang adalah lampu meja kerja Junghwan.
Sedangkan Junghwan malah diam, sibuk memandang tangan kanannya yang terus didekap erat dan sesekali diusap oleh atasannya.
...
seperti biasa yah chapter awal perkenalan dulu.
kalo respon kalian baik kayak di prolog kemarin, aku bakal rajin update hihi.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com