Truyen2U.Net quay lại rồi đây! Các bạn truy cập Truyen2U.Com. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Prolog

"Hari ini ada jadwal meeting bareng—"

"Meeting? Baju gantiku udah disiapin kan?"

Ucapan Jihoon terpaksa berhenti sebab Doyoung yang tiba-tiba bertanya.

"Just wear your usual clothes, yang dateng cuma beberapa perwakilan pemegang saham."

Doyoung berdecak, ia kembali mematut penampilannya yang terpantul di dinding lift. "At least aku bisa kasih kesan baik ke mereka." Ucapnya sambil merapikan dasi merah muda yang tergantung di lehernya.

"Kesanmu selalu baik di depan orang lain, Tuan Kim."

Percakapan keduanya berakhir begitu suara lift berdenting, pintu di hadapan mereka terbuka dan menampakkan satu karyawan yang cukup asing di mata pewaris utama perusahaan.

"Selamat pagi." Sapa karyawan yang kemudian masuk ke dalam lift sambil menunduk, Doyoung terkesima melihat postur tubuhnya yang tinggi menjulang, bahkan lebih tinggi dibanding ia dan Park Jihoon yang kini berdiri di belakang.

"Siapa?" Tanya Doyoung begitu laki-laki itu keluar terlebih dahulu.

"So Junghwan, pegawai kontrak yang baru aja diangkat jadi karyawan tetap." Jawab Jihoon, "Kenapa? Ganteng ya? Kamu gak ngedip sama sekali selama dia ada di lift."

"Aku?" Doyoung balik bertanya sambil menunjuk dirinya sendiri.

Dan Jihoon mengangguk, ia sedikit mendorong tubuh Doyoung kala lift yang membawa mereka akhirnya sampai ke tujuan. "Untung dia gak berani angkat kepala, jadi gak liat pantulan kamu di cermin yang terus-terusan liat ke arahnya."

Doyoung hanya mengangkat bahu, bukan salahnya jika ia sedikit terpesona dengan sosok Junghwan karena di perusahaan ini, kebanyakan dihuni oleh para orang tua yang untungnya memiliki kinerja baik.

Kakeknya berkata bahwa Doyoung tidak boleh bertindak sesuka hati dengan memecat karyawan yang sudah membantunya membesarkan perusahaan, dan Doyoung menurut karena sedikit banyak, ia setuju dengan pendapatnya.

Lagipula dirinya juga malas merekrut karyawan baru yang perlu diajarkan banyak hal dari awal.

"Nanti malam kamu disuruh pulang ke rumah."

"Ya aku kalau pulang emang ke rumah?"

"Rumah keluargamu, bukan rumahmu."

Helaan napas berat keluar dari mulut atasannya, Jihoon yang paham seketika bergerak maju untuk mengusap bahu yang lebih muda. 

"Udah ada calon, kan?" Ledeknya kemudian.

"Calon apa? Calon sekertaris baru buat gantiin kamu?"  Omel Doyoung yang malah dibalas tawa oleh sekertaris pribadinya.

"Lagian kenapa kamu gak mau dijodohin, sih? Yoon Jaehyuk gak kalah ganteng dibanding mantanmu yang orang Jepang itu, kok."

Ingin rasanya Doyoung tutup paksa mulut Jihoon menggunakan kakinya, namun ia belum mau dipidana atas tuntutan penyiksaan karyawan.

"Aku cari pasangan tuh dari kepribadiannya, bukan tampangnya." Jawab Doyoung asal, jemarinya mulai bergerak di atas kursor, melihat jadwal harian yang sudah disusun rapi oleh orang kepercayaannya.

Harinya lumayan padat dan diakhiri dengan makan malam keluarga yang sudah pasti membuatnya makin tersiksa.

"Kalau kamu emang nilai orang dari kepribadiannya, kamu gak mungkin terpesona pas liat Junghwan di lift tadi." Ledek Jihoon lagi.

Doyoung tidak menjawab dan Jihoon juga langsung keluar dari ruangan setelah meletakkan berbagai berkas di atas meja. 

Hari berjalan begitu cepat bagi Doyoung yang sangat ingin menghindari acara makan malam keluarga. Rasanya ia ingin pura-pura sakit, berbaring dengan nyaman di atas ranjang kamarnya tanpa harus memikirkan pernikahan yang terus kakeknya bicarakan.

Umurnya dua puluh delapan tahun ini, terlalu muda untuk meninggal tetapi terlampau tua untuk melajang. 

Yoon Jaehyuk yang namanya disebut oleh Jihoon tadi adalah orang yang katanya akan kakeknya jodohkan, namun Doyoung sama sekali tidak tertarik karena baginya, menikah dengan orang yang memiliki latar belakang yang sama adalah bencana.

"Langsung ke rumah atau mau ganti baju dulu?" Tanya Jihoon yang duduk di belakang kemudi.

"Langsung pulang aja, aku mendadak kangen kakek." Jawab Doyoung sambil memandang ke luar jendela.

Langit nyaris gelap, kebanyakan karyawan tengah menunggu taksi di depan gedung perkantoran dan sebagian lagi berdiri di halte yang memiliki antrean lumayan.

Doyoung tidak pernah tertarik dengan pemandangan ramai itu sampai tiba-tiba, netranya menemukan objek yang cukup mencuri perhatian.

Laki-laki yang tadi pagi ia temui kini berdiri di antara banyaknya orang, penampilannya terlalu mencolok karena postur badan yang sedikit lebih tinggi dari manusia kebanyakan.

Tanpa sadar sisi bibir Doyoung terangkat, imajinasi liarnya berkata bahwa mungkin menikahi orang seperti Junghwan akan membuat hidupnya lebih berwarna dibanding sekarang.

Namun dengan cepat ia menggeleng kuat, lagipula apa yang membuatnya dapat menikah dengan orang biasa seperti Junghwan? Keluarganya tidak mungkin mengizinkan, dan apa yang bisa Junghwan berikan? Kebahagiaan? Kebahagiaan Doyoung justru hadir dari barang-barang mewah yang harganya jutaan bahkan miliyaran.

Sebuah mindset bodoh yang hanya bertahan sesaat karena tidak lama setelahnya, ia benar-benar menikahi Junghwan.








...

kapan chapter satunya? 

gak tau... bisa minggu depan... bulan depan... atau tahun depan. tapi kalo hwanbby rilis selca, besok juga siap.

temanya apa?

romance comedy, aku akan berusaha bikin cerita tanpa air mata. oh iya, disclaimer sedikit... ini mengandung mpreg yah, jadi buat yang gak suka, gak usah dibaca okay.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com