Truyen2U.Net quay lại rồi đây! Các bạn truy cập Truyen2U.Com. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter IV

Mobil yang Junghwan bawa berhenti di depan gerbang kediaman mewah, ia membunyikan klakson tiga kali, tanda bahwa dirinya sudah sampai pada Doyoung yang memang menunggu kedatangannya.

Tangan besarnya bergerak dan menekan tombol lampu, memeriksa penampilannya dari kaca kecil yang ada di tengah. Sama sekali tidak menyadari bahwa Doyoung sudah keluar dan berjalan menuju pintu penumpang.

Junghwan terlonjak saat Doyoung mengetuk kaca jendela dari luar, dengan buru-buru ia membuka kunci pintu dengan menekan tombol yang ada di samping kiri.

Aroma manis parfum yang cukup kuat langsung menyerbak ketika Doyoung masuk ke dalam kendaraan, sangat pas dengan penampilannya yang terlihat indah, jauh lebih indah dibanding hari-hari pertemuan mereka sebelumnya.

Padahal Doyoung hanya mengenakan setelan bernuansa biru sesuai dresscode yang tertera di undangan, sama seperti dirinya. Namun entah kenapa, malam itu Junghwan merasa bahwa Doyoung nampak sangat cantik dan bersinar, ia bahkan takut mata orang-orang justru terfokus ke atasannya, bukan pada kedua pengantin yang berdiri di altar.

Saking terpesonanya, Junghwan tidak sadar bahwa Doyoung yang sudah duduk rapi di sebelah, kini menatap heran ke arahnya.

"Kenapa?" Tanya Doyoung saat melihat Junghwan diam sejak ia masuk tadi.

Yang ditanya hanya menggeleng, ia buru-buru melepas rem tangan lalu kembali melajukan kendaraan menuju tempat tujuan.

"Maaf saya ganggu kamu di weekend, harusnya kamu bisa dateng bareng pacarmu malam ini." Ucap Doyoung, berusaha memecah keheningan. Mereka beberapa kali berada dalam kendaraan yang sama, namun suasana masih secanggung hari pertama.

Junghwan terkekeh pelan, "Saya gak punya pacar. Justru saya kira, kamu bakal dateng sama Jaehyuk."

Doyoung menoleh ketika mendengar tuduhan Junghwan, "Kamu tau Jaehyuk dari mana?"

"Loh, kamu lupa? Kamu beberapa kali nyebut nama dia pas mabuk waktu itu, dia bukan pacarmu?"

Kali ini Doyoung yang menggeleng, "Bukan. Dan tolong, jangan sebut nama dia lagi, saya trauma."

Omelan Doyoung membuat Junghwan tidak lagi berani bicara, ia hanya fokus membawa kendaraan hingga tujuan.

Acara pernikahan Jihoon diadakan di sebuah gedung mewah di pusat kota, hanya butuh beberapa menit hingga mereka sampai karena jaraknya memang tidak terlalu jauh. Keduanya turun dari mobil, Junghwan menyerahkan kunci pada valet yang berjaga lalu ikut berjalan beriringan bersama Doyoung yang entah kenapa langkahnya nampak tidak bersemangat.

"Are you okay?" Tanya Junghwan ketika helaan napas berat keluar dari mulut atasannya.

Doyoung menunjuk salah satu karangan bunga, "Keluargaku pasti udah sampe."

Netra Junghwan menatap benda yang Doyoung maksud, itu bunga ucapan selamat dari keluarga besar Kim, founder perusahaan tempatnya bekerja.

"So?" Tanya Junghwan lagi, masih belum paham dengan maksudnya.

Kali ini Doyoung menggeleng, tidak menjawab pertanyaan Junghwan dan malah berjalan ke dalam ruangan.

Sepertinya benar desas-desus yang beredar di kantor, Park Jihoon menikahi anak keluarga konglomerat yang tidak kalah kaya raya dibanding Doyoung. Sebab begitu Junghwan masuk, ia disapa dengan dekorasi yang luar biasa mewah.

Entah berapa ratus juta won yang Jihoon dan pasangannya habiskan tapi yang jelas, gaji Junghwan seumur hidup pun tidak akan cukup jika dipakai untuk mengadakan pernikahan semewah ini.

Junghwan berjalan menuju stand minuman sementara Doyoung menghampiri keluarganya yang sedang duduk di salah satu meja paling depan. Doyoung berharap semoga ketakutannya tidak menjadi kenyataan, moodnya tidak terlalu baik akhri-akhir ini, ia takut salah bicara dan malah menyakiti hati orang tua serta kakeknya.

Acara dimulai tidak lama kemudian, Doyoung duduk bersama anggota keluarganya yang lain di barisan depan, sementara Junghwan bersama beberapa karyawan kantor yang dekat dengan Jihoon.

Semuanya berjalan lancar, Doyoung bahkan sempat menitikkan air mata ketika Jihoon, orang yang sudah anggap seperti kakaknya sendiri itu mengucap janji sehidup semati. Padahal Doyoung tidak sesedih ini saat Junkyu menikah dulu.

Acara inti berlangsung cepat, kini Jihoon turun dari altar dan menyapa sebagian besar orang yang datang, tidak terkecuali Doyoung serta keluarga besarnya.

Ia berterima kasih atas kedatangan mereka, tidak menyangka bahwa semuanya turut hadir ke acara pernikahannya. Jihoon juga sempat meledek Doyoung perihal tangisan yang sempat tertangkap sudut matanya.

"Aku cuma sedih karena kehilangan sekertaris sebaik kamu." Sanggah Doyoung, yang malah mendapat jawaban menyimpang dari Ibunya.

"Makanya kamu harus cepet cari pasangan."

Tidak ada korelasinya sama sekali, tetapi Doyoung juga tidak mengelak karena tidak ingin membuat suasana menjadi canggung.

Obrolan keluarganya terus berlanjut bahkan hingga Jihoon beralih menyapa tamu undangan lain, rasanya Doyoung muak dan ingin kabur, namun ia tidak ingin dimarahi oleh kakek serta orang tuanya yang tidak berhenti bicara soal pernikahan.

"Gimana kelanjutan hubungan kamu sama Jaehyuk?" Tanya Kim Junkyu.

"Gagal total." Jawab Doyoung singkat sambil menenggak minuman keras yang disediakan, ia sengaja mengambil gelas demi gelas yang pelayan suguhkan, sengaja mabuk agar memiliki keberanian untuk melawan semua orang di meja ini.

"Kenapa? Gak cocok?" Kali ini kakeknya yang bertanya, dan Doyoung menggeleng.

"Dia udah punya pacar." Jawabnya lagi, matanya memandang ke sekitar dan ketika sudut netranya menemukan sosok yang sejak tadi mereka bicarakan, ia justru tertawa.

"Tuh, dia dateng sama pacarnya, Asahi hyung."

Dunia begitu sempit karena yang Jaehyuk kencani ternyata adalah Asahi, orang yang Doyoung kenal melalui Hyunsuk, pengantin yang menikahi Jihoon malam ini.

Doyoung menggebrak meja dengan kedua tangan, bangkit dari kursinya lalu berjalan menjauh dari keluarganya yang diam sejak mereka melihat Jaehyuk bersama kekasihnya.

Junghwan yang terus memerhatikan geraknya sejak tadi ikut bangkit, tentu setelah berpamitan dengan para kolega yang masih betah berbincang. Ia mengikuti langkah Doyoung di belakang, dalam posisi waspada karena takut atasannya itu jatuh tiba-tiba.

Langkah Doyoung berhenti ketika ia sampai di halaman belakang gedung, meskipun mengonsumsi cukup banyak alkohol, tetapi kesadarannya masih tersisa walau sedikit. Dirinya berbalik, memandang Junghwan yang juga menatapnya.

"Ngapain kamu ke sini?" Tanya Doyoung.

"Cari udara segar." Jawab Junghwan asal.

Dan Doyoung nampak percaya dengan alasan bohong itu, ia kembali berjalan lalu duduk di salah satu kursi panjang sambil menyandarkan kepala yang mulai terasa berat. Membiarkan Junghwan ikut duduk di sebelahnya.

"Junghwan-ssi..." Panggil Doyoung sembari menatap langit bertabur bintang di atasnya, Jihoon memilih tanggal yang sempurna karena semesta seolah ikut merayakan pernikahannya.

Hanya ia yang suasana hatinya buruk di sini.

"Ya?"

"Umurmu berapa tahun ini?"

"Tiga puluh satu." Jawab Junghwan yang sebenarnya bingung dengan pertanyaan Doyoung yang begitu tiba-tiba.

"Cuma beda satu tahun sama kakakku tapi kamu pasti belum dipaksa nikah, kan?"

Junghwan mengangguk, "Kenapa? Kamu udah disuruh nikah sama keluargamu makanya sengaja mabuk dan berakhir kabur ke sini?"

Tawa pelan keluar dari mulut yang lebih kecil, "You read me like a book."

"Because you're too easy to read, Doyoung-ssi." Jawab Junghwan, ia lalu ikut menyandarkan kepalanya ke belakang, persis seperti apa yang Doyoung lakukan.

"Of course, saya harus transparan di depan sekertaris yang bakal ngikutin saya terus sampai resign nanti. Tapi, kamu jangan resign dulu, saya gak siap rekrut orang baru." Jelas Doyoung panjang lebar. "Kamu gak mau nikah? Orang tuamu gak nyuruh nikah?" Tanyanya kemudian.

"Orang tua saya udah meninggal dan malah ninggalin banyak hutang."

Jawaban Junghwan membuat Doyoung menoleh dengan cepat, namun sialnya ia tidak tahu bahwa posisi Junghwan berada terlalu dekat hingga keningnya langsung membentur sisi kepala yang lebih tinggi.

Doyoung berdesis kesakitan, ia mengusap keningnya yang pasti akan memar. Sementara Junghwan ikut panik, walau kepalanya juga terbentur, namun rasanya tidak sesakit itu.

"Lepas dulu, biar saya liat."

Tangan besar Junghwan menarik telapak tangan Doyoung yang menutupi keningnya, dengan penerangan seadanya, ia dapat melihat bekas kemerahan di sana.

"Sakit banget?" Tanyanya, dan Doyoung mengangguk.

Kepala Junghwan bergerak maju, meniup kening Doyoung sambil mengusapnya pelan dengan ibu jari. "Mau saya ambilin es di dalam? Buat kompres kening kamu, kayaknya bakal biru kalau gak buru-buru dikasih ice pack."

"Nggak, gak usah." Tolak Doyoung, ia enggan merepotkan Junghwan.

Kalau boleh jujur, ia sangat tidak ingin sendirian.

Dan kalau boleh jujur lagi, dirinya senang dengan apa yang Junghwan lakukan sekarang.

Junghwan masih sibuk meniup memar di keningnya, sementara Doyoung mulai memandangnya dari bawah.

Pemikiran gila tiba-tiba masuk ke kepalanya, sepertinya efek dari benturan barusan, juga ditambah dengan alkohol yang masih menguasai separuh kesadarannya.

"Junghwan-ssi." Panggil Doyoung.

"Mhm? Kenapa? Sakit banget ya kepalanya?" Tanya Junghwan karena kening Doyoung memang sudah lebam.

Doyoung menggeleng, kedua tangannya kini berada di bahu Junghwan, sedikit mendorong yang lebih tinggi agar dapat menatap wajahnya lebih jelas. "Kamu mau gak nikah sama saya?"

"Hah?"

"Kamu mau gak nikah sama saya?"

Junghwan diam beberapa saat, ketika kesadarannya terkumpul sempurna ia langsung bangkit dan menarik tangan Doyoung agar ikut berdiri.

"Kenapa? Kamu mau ke mana?" Tanya Doyoung heran.

"Ke rumah sakit, ada yang salah sama otakmu yang kebentur tadi." Jawab Junghwan dengan nada panik. "Atau mau saya gendong?" Tawarnya kemudian.

Doyoung kambali menggeleng, walau sebenarnya ia juga ingin digendong namun ini bukan saat yang tepat.

"Saya baik-baik aja." Jawabnya sambil menarik Junghwan untuk kembali duduk di sampingnya, "But I'm serious, ayo nikah. Nikah di atas kertas biar keluarga saya stop nyuruh saya cari pasangan, dan saya bakal bantu buat lunasin semua hutang mendiang orang tua kamu."

Dua kali Junghwan melihat Doyoung mabuk dalam bulan ini, dua kali juga Junghwan dikejutkan dengan tingkahnya yang sedikit gila.

Tetapi sepertinya Junghwan juga sama gilanya karena ia rasa, ide Doyoung tidak terlalu buruk dan tidak merugikan siapapun di sini. Maka laki-laki itu mengangguk, membuat Doyoung menatapnya dengan mata penuh harap.

"Sure, let's make a deal."


























...

orgil dua duanya

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com