Chapter VII
Semua berjalan sesuai rencana, bahkan di kantor mulai beredar kabar bahwa Doyoung kini mengencani sekertarisnya sendiri yaitu So Junghwan.
Bagaimana karyawan lain tidak curiga? Tidak jarang mereka bertindak mesra, di kafetaria ketika jam makan siang, saat meeting antar divisi, berangkat dan pulang bersama, bahkan beberapa kali keduanya tidak sengaja menggunakan bahasa informal di depan publik ketika sedang berbincang.
"자기야!" Panggil Doyoung pada Junghwan yang berdiri di depan lift, karyawan yang berada di tempat yang sama seketika terdiam saat Junghwan membalasnya dengan senyum lebar di wajah, yang lebih kecil sedikit berlari menuju sekertaris yang telah menunggunya.
"Mobilnya?" Tanya Doyoung sambil memeluk sebelah lengan Junghwan.
"Udah di depan." Jawab Junghwan, ia mengusap sisi wajah Doyoung menggunakan tangannya yang bebas. "What a cutie." Ucapnya tanpa sadar.
"Let's go home, aku laper." Balas Doyoung kemudian, sedikit menarik Junghwan agar berjalan lebih cepat menuju pintu keluar.
Penampakan penuh cinta menggelikan itu bukan kali pertama untuk sebagian orang, namun bagi Haruto yang kebetulan sedang berada di kantor, hal tersebut adalah pertunjukan besar yang sangat tidak sabar untuk ia ceritakan pada suaminya, Kim Junkyu.
Begitu sampai di mobil, baik Junghwan maupun Doyoung malah menyibukkan diri agar tidak lagi teringat dengan apa yang mereka lakukan barusan; Doyoung memilih untuk memandang ke luar jendela, sedangkan Junghwan fokus berkendara tanpa berniat mengucap kata.
Hampir dua minggu sandiwara ini berjalan, namun sensasinya masih semendebarkan hari pertama.
Jantung Doyoung bekerja keras tiap Junghwan menyebut namanya dengan suara berat yang khas, sementara Junghwan terus menahan diri untuk tidak menyentuh atasannya di luar batas perjanjian.
"Beneran mau makan di rumah saya?" Tanya Doyoung pada akhirnya, memberanikan diri membahas obrolan mereka sebelumnya.
"Katanya Bu Yeom lagi gak di rumah?" Junghwan balik bertanya, karena seingatnya pekerja di kediaman Doyoung itu sedang pergi mengunjungi keluarga di luar kota.
"Ya kita bisa makan apa aja, ramen?" Tawar Doyoung.
"Kamu ngajak saya makan ramen di rumahmu?" Ledek Junghwan dengan nada tidak percaya yang dibuat-buat.
Doyoung yang kesal pun memukul lengannya, "Jelek." Umpatnya.
Junghwan tertawa, "Jangan ramen, gak baik jam segini makan makanan instant. Kita masih punya waktu buat makan di luar. Kamu mau makan apa, sayang?"
Agenda meledek Doyoung sepertinya sudah menjadi hal biasa, tentu karena reaksi yang ia buat selalu lucu di mata Junghwan.
"Gak mau makan, saya mau pulang aja." Jawab Doyoung, ia melipat kedua tangan di depan dada lalu bersandar ke bagian dalam pintu mobil.
"Marah? Gak mau dipanggil sayang? Padahal tadi kamu yang manggil saya sayang duluan." Protes Junghwan.
"Ya itu kan supaya orang lain percaya kalau kita ada hubungan!" Doyoung balik mengomel, "Kamu tuh sekarang jadi makin sering ngeledek aku tau gak."
"Aku?"
"Ya aku! Emang siapa lagi? Emang ada yang tiap hari kamu ledek di kantor selain aku? Gak ada kan? Kita seharian selalu bareng, kamu selalu ada di tiap jadwalku, ya cuma aku lah korbannya!"
Junghwan tidak menjawab, ia malah mengulum senyum sambil terus mendengarkan ocehan orang di sebelahnya. Sementara Doyoung mulai berpikir, apa yang salah dari kalimatnya.
"Saya, saya!" Doyoung mengoreksi dirinya sendiri.
"Aku juga gapapa, kamu lucu kalau pakai kata itu."
Doyoung memalingkan wajah, dengan sengaja membenturkan kepala ke jendela berulang kali, merutuki kebodohannya sendiri.
"Jadi, mau makan apa?"
"Terserah."
Mobil yang Junghwan bawa berhenti di sebuah kedai yang tidak terlalu ramai, Junghwan keluar terlebih dulu untuk membukakan pintu Doyoung yang ada di sebelah, sebuah kebiasaan yang sangat sulit ia tinggalkan meskipun sedang tidak berada di area kantor.
"Jaketnya mana?" Tanya Junghwan saat melihat Doyoung yang hanya mengejakan kemeja biru sebagai atasan.
"Emang gak ada penghangat di dalam?"
"Takutnya gak cukup."
Junghwan membuka pintu belakang, meraih jaket tebal Doyoung yang sengaja ditinggalkan di sana. Doyoung berdecak namun tetap menuruti Junghwan yang kini sibuk membantunya memakai pakaian hangat itu.
"Mau apa?"
"Jjajangmyeon." Jawab Doyoung tanpa membaca menu.
"Sup aja." Sanggah Junghwan yang langsung memanggil pelayan untuk memesan makanan.
"Kenapa nanya? Padahal gak diturutin." Sungut Doyoung sambil bersandar pada bagian belakang kursi.
Netranya memendar ke sekitar, restoran yang Junghwan pilih terbilang sepi di jam makan malam, ia akan memarahi sekertarisnya jika makanan yang disuguhkan tidak sesuai selera.
"Kamu biasa makan di sini?" Tanya Doyoung, berusaha memulai obrolan.
"Dulu, saya sama keluarga saya sering makan di sini."
Kepala Doyoung mengangguk paham, ia tidak berniat bertanya lebih jauh karena Junghwan tidak pernah membicarakan perihal keluarganya, Doyoung juga enggan membuatnya tidak nyaman dengan pertanyaan yang terlalu personal.
Makanan datang tidak lama kemudian, Doyoung yang hendak mencicipi sup yang Junghwan pesan mendadak dikejutkan dengan getaran ponsel yang ada di saku celana.
Itu panggilan masuk dari Kakeknya.
"Siapa?" Tanya Junghwan tanpa suara.
"Kakek."
Doyoung mengangkat telepon, berbicara sebentar dengan kakeknya selama beberapa menit lalu kembali pada Junghwan yang menunggunya.
"Surprise, kabar kita pacaran akhirnya sampai ke telinga keluargaku." Jelas Doyoung sambil tersenyum puas.
"Secepat itu?"
Doyoung mengangguk, "Haruto hyung yang laporin, aku juga gak tau kapan dia ada di kantor."
"Terus? Dimarahin? Mereka gak terima kita pacaran?"
Kali ini Doyoung menggeleng, "Keluargaku gak sejahat itu. Sabtu ini aku disuruh ajak kamu buat makan malam sama mereka."
Biasanya Junghwan selalu menghabiskan makanan yang ia pesan, namun malam itu rasanya tenggorokannya seakan sulit dipakai menelan.
Dirinya sudah mendapat bayaran dari Doyoung, hutang di bank sudah ia lunasi dan kini ia dapat menikmati hasil jerih payahnya sendiri.
Yang artinya Junghwan tidak boleh mundur, ia harus tetap menuruti kontrak kerjasama yang mereka buat dua minggu sebelum ini.
Tetapi ada rasa takut yang sangat sulit ia hindari, bagaimana jika keluarga Doyoung tidak menerima kehadirannya? Bagaimana jika mereka dipaksa berpisah karena Doyoung harus menikah dengan orang yang setara?
"Kenapa?" Tanya Doyoung saat melihat Junghwan diam dan mengabaikan makanan di depannya. "Gak dimakan? Supnya enak kok."
Junghwan menggeleng, ia melempar senyum tipis sebelum kembali melanjutkan makan malamnya.
"Suka?" Junghwan balik bertanya, Doyoung mengangguk semangat dengan mulut dipenuhi makanan.
"Enak, gak kalah enak dari sup yang sering aku makan di rumah."
Senyum Junghwan makin lebar, melihat Doyoung makan dengan lahap adalah salah satu sumber kebahagiaan terbesarnya akhir-akhir ini.
Tangan besarnya terulur untuk meraih tisu, mengusapnya perlahan pada sisi bibir Doyoung yang terdapat noda makanan. "Makan yang banyak sayangku Doyoungie."
***
"Harus banget pakai ini?" Tanya Junghwan saat melihat satu set pakaian yang sudah Doyoung siapkan.
"Couple!" Jawab Doyoung dengan nada ceria sambil memamerkan pakaiannya yang senada dengan pakaian Junghwan.
Junghwan akhirnya mengganti pakaian, kini ia dan Doyoung nampak seperti pasangan yang sudah lama menjalin hubungan.
Hari ini mereka hendak pergi ke acara makan malam yang diadakan di rumah utama keluarga Kim. Doyoung bilang hanya makan malam biasa, namun Junghwan tahu bahwa di sinilah perannya sangat dibutuhkan.
"Jangan nervous, jangan sampai ketauan keluargaku kalau kita cuma pura-pura pacaran, okay?" Ucap Doyoung, ia berjalan mendekat ke arah Junghwan, sedikit berjinjit untuk merapikan kerah kemeja yang Junghwan gunakan.
"Bagusan dikancing semua, atau dibuka, ya?" Doyoung bermonolog, mencoba membuka satu kancing kemeja teratas dan meneguk ludah saat melihat leher putih Junghwan di hadapan.
"Kayaknya lebih baik ditutup aja." Lanjutnya sambil kembali mengancingkan pakaian Junghwan, "Perfect." Ucap Doyoung lagi, tangannya kini merapikan poni rambut Junghwan yang sengaja dinaikkan, membuat kening sempitnya nampak sempurna membingkai wajah.
"Gantengnya pacarku." Puji Doyoung tanpa sadar.
Sementara Junghwan dengan sengaja meletakkan kedua tangannya di belakang punggung, menahan diri mati-matian untuk tidak menyentuh Doyoung yang berada terlalu dekat di hadapan.
"Kalau aku, gimana? Cocok gak bajunya?" Tanya Doyoung sambil berjalan mundur agar Junghwan dapat melihat jelas pakaiannya.
Netra Junghwan memindai sosok Doyoung, dengan kemeja biru yang dibalut rompi bulu berwarna senada, Doyoung terlihat hangat. Sangat pas dengan kepribadiannya yang ceria khas anak termuda di keluarga.
"Pretty, as always." Ucap Junghwan pelan, padahal hatinya meledak-ledak dan sangat ingin merengkuh tubuh yang lebih kecil yang terus tersenyum ke arahnya.
"Okay, let's go! Inget ya, jangan nervous."
Doyoung memeluk erat sebelah lengan Junghwan bagai sebuah kebiasaan, menarik tubuhnya untuk berjalan menuju mobil yang terparkir di garasi depan.
"Jangan nervous." Ucap Doyoung lagi setelah mereka menggunakan seatbelt masing-masing.
Sebelum mobil bergerak, Junghwan menoleh dan menemukan Doyoung yang tengah memegang sabuk pengaman kuat-kuat.
"Malah kamu yang nervous di sini." Tebak Junghwan, ia menyalakan lampu tengah lalu menatap Doyoung yang ikut menatapnya sambil menggigit bibir bawah.
"Ini kali pertama aku bawa pacar ke rumah." Ucap Doyoung jujur.
Tangan besar Junghwan bergerak untuk meraih sebelah tangan Doyoung, menggenggamnya lembut sambil mengusap bagian punggungnya dengan ibu jari.
"Kamu percaya sama aku, kan?" Tanya Junghwan, Doyoung jawab dengan anggukan.
"Dua minggu ini, aku pernah buat kesalahan?" Tanya Junghwan lagi, dan kali ini Doyoung menggeleng.
"Aku gak akan bikin kamu kecewa, aku jamin keluarga kamu percaya sama sandiwara kita. So take a breath because everything's gonna be okay."
Doyoung kembali mengangguk, seakan tersihir dengan kalimat dan cara bicara Junghwan, membiarkan laki-laki yang beberapa hari terakhir terus berada di sampingnya itu membubuhkan kecupan lembut pada punggung tangan.
"Kita jalan, ya? Takutnya telat, keluarga kamu pasti udah nunggu di rumah."
***
Mereka disambut dengan Ibu Doyoung yang seakan sudah menunggunya di depan pintu rumah. Sambil menggenggam erat tangan Junghwan, Doyoung berjalan ke arahnya dengan senyum manis di wajah.
"Mama! Kenalin, ini pacarku." Ucap Doyoung dengan nada ceria.
Junghwan menunduk, menyapa sosok perempuan yang sangat mirip dengan kekasihnya.
"Your own secretary?" Tanya Ibunya dengan nada tidak percaya, netranya terus memindai sosok Junghwan, berusaha mencari celah yang siapa tahu bisa ia gunakan untuk menentang hubungan anaknya.
"Of course, aku gak mungkin pacaran sama orang asing yang aku temuin di klub malam." Jawab Doyoung asal.
Ketiganya berjalan masuk ke dalam rumah sembari berbincang, Doyoung yang lebih banyak bicara karena ia sangat takut Junghwan justru mengatakan hal aneh tanpa diminta.
Tanpa sadar napas Junghwan tercekat begitu melihat empat laki-laki yang menatapnya dengan pandangan yang sangat sulit dibaca.
Kakak laki-laki Doyoung nampak tidak percaya.
Ayah Doyoung juga melempar tatapan serupa.
Iparnya terlihat lebih santai karena sesekali ia sibuk dengan ponselnya.
Hanya kakek Doyoung yang tersenyum ke arahnya sambil melambaikan tangan agar cucunya duduk di sebelahnya.
Berbagai macam makanan kini terhidang di atas meja, bahkan sebelum agenda makan malam dimulai, semua orang terus melempar berbagai pertanyaan pada Junghwan.
Ayahnya bertanya kapan kali pertama pertemuan mereka.
Kakeknya bertanya apa yang membuatnya menyukai cucunya.
Sementara kakaknya bertanya bagaimana bisa Junghwan tahan dengan sikap Doyoung yang kadang kekanakan, dan berhasil mengundang tawa semua orang, juga mencairkan suasana yang tadinya tegang.
"See? Keluargaku gak sejahat itu." Bisik Doyoung pada Junghwan yang duduk di sebelah, tangan kirinya bergerak untuk mengusap paha Junghwan dan menepuknya pelan.
Junghwan tersenyum, ia mengangguk lalu meletakkan udang yang sudah dikupas ke atas piring Doyoung. "Makan yang banyak, kamu udah lama kan gak pulang ke rumah?"
Sebuah pemandangan indah yang membuat keluarga Doyoung berpikir bahwa mungkin, Junghwan adalah orang yang tepat untuk berada di sisi anggota termuda mereka.
Dan Junghwan bersyukur sebab ketakutan terbesarnya tidak menjadi kenyataan, tidak ada satupun dari anggota keluarga Doyoung yang bertanya soal latar belakang kehidupannya.
Terasa aneh namun ia juga tidak ingin pedul. Melihat Doyoung nampak bahagia di sampingnya, sangat lebih dari cukup untuk membuatnya merasakan hal serupa.
"Jadi, kapan mau nikah? Bulan depan kantor gak terlalu sibuk kan?"
"Katanya kamu udah punya pacar?"
"Kata siapa?"
"Haruto liat kamu ciuman di kantor."
"Orang gila mana yang ciuman di kantor?"
"Ya pokoknya kamu deket-deket terus sama dia."
"Iya, itu sekertarisku, Pengganti Jihoon."
"Besok bawa ke rumah."
"Besok aku masih kerja! Weekend nanti kita ke sana. Tapi kakek harus janji, bilang juga ke mama, papa sama Junkyu hyung."
"Janji apa?"
"Janji buat gak tanya apapun soal latar belakang pacarku, aku yakin kalian pasti udah cari tau semua seluk beluknya."
"Iya kita janji."
"Awas kalau ingkar, aku bakal kabur sama Junghwan ke luar negeri."
...
kaweeeennn bentar lagi
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com