Chapter VI
Setelah diskusi panjang, akhirnya mereka setuju untuk membicarakan soal perjanjian yang akan mereka lakukan di rumah Doyoung, tempat paling privat yang dapat dijangkau dengan mudah.
Mereka tidak mungkin mengambil risiko besar, yaitu diketahui orang lain bahkan sebelum rencananya berjalan.
"Kamu udah makan?" Tanya Doyoung begitu mobil yang Junghwan bawa berhenti di garasi rumahnya.
Junghwan mengangguk, dan Doyoung meminta Junghwan untuk langsung masuk ke dalam ruang kerjanya sementara ia berjalan lurus menuju dapur, meminta pekerja di rumahnya memasak untuk makan siang.
Karena pembicaraan ini pasti akan memakan waktu lama, Doyoung tidak mungkin membiarkan tamu di rumahnya kelaparan.
"Siapa?" Tanya wanita paruh baya yang mulai menyiapkan makanan, "Pacar, ya? Tumben berani bawa ke rumah?"
Doyoung hanya mengangguk dan tersenyum canggung, dirinya lalu membawa nampan berisi minuman yang ia buat, berjalan menyusul Junghwan yang ternyata sudah duduk di sofa ruang kerjanya.
"Okay, so?"
"So, what? Kan kamu yang rekrut saya di sini, jadi kamu yang bikin kontraknya. Kalau ada yang saya gak suka, baru saya revisi."
Kalimat Junghwan benar, Doyoung buru-buru mengambil laptopnya dari meja kerja dan meletakkannya di atas meja rendah di hadapan mereka.
"Pertama saya minta maaf kalau kesannya, saya memanfaatkan kamu di sini." Ucap Doyoung sambil mulai mengetik sesuatu, Junghwan yang melihatnya langsung meraih kacamata yang ada di saku kemeja dan ikut melihat layar di depan.
KONTRAK KERJASAMA kini sudah tertulis di bagian atas surat, Doyoung menoleh untuk menatap Junghwan, dan dirinya terkejut karena jarak mereka yang terlalu dekat.
"Kamu emang lagi memanfaatkan saya." Jawab Junghwan santai, tanpa mengetahui kalau Doyoung kini sibuk memandanginya di sebelah.
Biasanya Junghwan mengenakan kemeja panjang, dilapisi jas atau blazer sebagai atasan. Namun kali ini, laki-laki yang tiga tahun lebih tua darinya itu mengenakan pakaian yang lebih kasual.
Flanel merah berlengan pendek seakan membalut tubuhnya dengan sempurna, tidak terlalu ketat namun tidak longgar juga, karena Doyoung dapat melihat jelas bentuk tubuh Junghwan yang selama ini bersembunyi dibalik baju kerjanya.
Doyoung menggeleng berulang kali ketika mengingat bagaimana ia mengusap tangan berurat Junghwan ketika ia mabuk waktu itu, bisa-bisanya pikiran liar itu masuk ke kepala di saat penting seperti ini?
"Tulis, apa syaratnya." Perintah Junghwan ketika menyadari bahwa Doyoung malah diam sejak tadi.
"Oh, iya iya." Jawab Doyoung, ia kembali memusatkan perhatian pada layar di depan, berusaha tidak terdistraksi pada sosok Junghwan. "Geseran, dong. Saya susah ngetiknya kalo gini."
"Yaudah, biar saya yang ketik."
Junghwan mengangkat laptop lalu meletakannya di atas paha, merapikan kacamata yang turun dan menatap Doyoung yang sepertinya masih belum sadar sepenuhnya dari lamunan tadi.
"Tuan Kim?" Panggil Junghwan sambil menjentikkan jari ke depan wajah atasannya, dan berhasil membuat kesadaran Doyoung akhirnya terkumpul sempurna.
Walau dalam hati terus mengutuk diri, kenapa ia tidak bisa berhenti terkesima dengan penampilan Junghwan pagi ini?
"Okay, poin pertama, semua keputusan ada di tangan saya. Which means, kamu gak bisa putusin kontrak ini seenaknya." Jelas Doyoung, keputusan egois namun di sini, ia yang merekrut Junghwan, artinya ia punya kuasa penuh atas orang yang ia sewa jasanya.
"Tapi kamu bisa?"
"Bisa apa?"
"Putusin kontraknya."
"Kenapa? Kamu takut saya tiba-tiba gugat cerai kamu?"
"Of course, siapa yang gak takut digugat cerai suaminya sendiri?"
Junghwan seakan sengaja menekankan kata suami, membuat Doyoung diam dan memalingkan wajahnya salah tingkah.
"Saya gak akan gugat cerai kamu sebelum kontrak kita berakhir." Jawab Doyoung pada akhirnya, Junghwan mengangguk paham dan mulai mengetik poin yang barusan Doyoung sebutkan.
"Kedua, kamu harus nurut sama semua permintaan saya." Ucap Doyoung sambil mengetuk bagian atas layar laptop, memberi tanda agar Junghwan langsung menginputnya di perjanjian mereka.
"Semua?"
"Ya semuanya, emang kamu mau ngelawan saya? Inget ya, di sini saya yang bayar kamu."
"Okay." Jawab Junghwan karena enggan berdebat.
"Ketiga. Sebagai gantinya, saya akan bayar semua hutang keluarga kamu sampai lunas. Saya juga bakal kasih kamu rumah yang bisa kamu tempatin setelah kita pisah nanti."
Perjanjian ini tidak memberatkan salah satu pihak, Doyoung juga tidak segila itu untuk tidak memberi bayaran yang setimpal pada orang yang sudah merelakan waktu dan tenaga hanya untuk menjadi suaminya.
"Kamu harus tinggal di rumah saya setelah nikah. Ruangan ini bakal saya ubah jadi kamar kedua, karena terhubung langsung sama kamar utama. So, kita akan masuk ke pintu yang sama, tapi tidurnya tetep misah."
"Excellent." Komentar Junghwan, otak Doyoung benar-benar berguna di situasi apapun. Ia bahkan memikirkan hal-hal kecil yang berpotensi dicurigai orang lain.
"Dan untuk skinship, we should act like a real lovers in front of people. Termasuk orang-orang yang ada di rumah ini."
Jemari Junghwan berhenti bergerak, ia lalu mengalihkan perhatian dari monitor untuk menatap Doyoung yang duduk di sebelahnya.
"What kind of skinship?"
"Like... hugs and kisses? Kamu gak mungkin kan belum pernah pacaran?"
"Of course saya udah pernah pacaran, tapi saya belum pernah nikah."
"Kamu pikir saya udah pernah nikah sebelumnya?!" Protes Doyoung yang tanpa sadar malah meninggikan nada bicara, dan membuat Junghwan tertawa. "Kok ketawa? Emang ada yang lucu?" Omelnya lagi.
Junghwan menggeleng, namun bibir Doyoung makin merengut maju.
"Pokoknya semua orang di sekitar kita harus percaya kalau kita nikah karena cinta, saya gak mau ambil risiko yang berpotensi bikin rencana kita berantakan."
"Mr. Kim, can I ask you something?"
"Sure."
"Kenapa anda gak coba cari pasangan? I mean, it's not that hard to find someone who match your criteria, right?"
Doyoung menghela napas, ia lalu bersandar pada bagian punggung sofa sambil memandang langit-langit ruang kerjanya. Satu lagi yang baru Junghwan sadari, ini adalah kebiasaan unik Doyoung ketika ia sedang memikirkan hal serius.
"It's that hard. Keluarga saya sempurna, kakek nenek saya hampir gak pernah bertengkar, begitu pula orang tua saya. Kakak dan kakak ipar saya juga, mereka seakan langsung ketemu sama belahan jiwanya. Sedangkan saya..."
"You...?"
"Saya kasih tau nanti." Jawab Doyoung dengan suara pelan.
"Why? Trapped in toxic relationship before?"
Kepala Doyoung langsung menoleh begitu Junghwan selesai bicara, namun kejadian tadi malam malah terulang lagi. Memar di kepala Doyoung belum sembuh sempurna dan ia malah kembali menimbulkan luka di tempat yang sama.
"Aduh!" Keluh Doyoung ketika keningnya beradu dengan ujung kacamata Junghwan. Untungnya kacamata Junghwan baik-baik saja, membuat kening Doyoung menjadi korban satu-satunya.
Doyoung hampir menangis kalau saja ia tidak memikirkan wibawa yang harus ia jaga di depan Junghwan.
"Let me see." Bisik Junghwan sambil melihat kening yang memerah, tidak berdarah namun Junghwan yakin rasanya perih karena kulit Doyoung sedikit terkelupas.
"I'm sorry, we haven't married yet I already hurt you twice."
Kalimat Junghwan malah membuat Doyoung tertawa, "Freak." Umpatnya sambil berdesis kesakitan.
"Mau diobatin dulu? Ada kotak obat kan di sini?"
"Gak usah, gak perlu. Saya gapapa kok."
Junghwan terus meniup sambil mengusap sisi luka di kening Doyoung, "Makanya kamu jangan deket-deket."
"Loh, kamu yang deket-deket saya?" Protes Doyoung tidak terima.
"Ya gapapa, belajar buat skinship di depan orang-orang nantinya."
Doyoung berjengit, ia lalu mendorong tubuh Junghwan agar menjauh. "Obrolan kita belum selesai, ayo ketik lagi."
Kali ini Junghwan mengangguk, ia kembali meraih laptop yang sebelumnya diletakkan di atas meja, juga kacamata yang ia lepas.
"Gak usah pake kacamata!" Omel Doyoung kemudian.
"Kenapa?" Tanya Junghwan bingung.
Kenapa... haruskah Doyoung mengatakan hal yang sebenarnya? Junghwan terlihat ratusan kali lebih tampan, memiliki figur bagaikan hot nerd yang sering ia lihat di komik yang dirinya baca.
"Jelek."
"Kamu orang pertama yang bilang saya jelek." Jawab Junghwan, tetapi ia tetap menurut dengan tidak mengenakan kacamatanya seperti rencana awal.
"Tulis tulis, poin terakhir." Doyoung berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
"Apa?"
"Kontrak berakhir kalau kamu udah siap buat berdiri sendiri. Because once we get divorce, kamu gak mungkin kerja di perusahaan saya lagi."
Tepat setelah Doyoung selesai bicara, suara papan ketik tidak lagi terdengar sebab Junghwan seakan enggan menulis apa yang atasannya ucap barusan.
"Kok diem? Tulis!" Perintah Doyoung, dan ia makin bingung saat Junghwan malah menggeleng.
"Kebanyakan perjanjiannya, saya rasa lima juga udah cukup."
Doyoung hendak menanggapi namun pintu ruang kerjanya tiba-tiba diketuk dari luar, suara pekerja rumahnya terdengar, ia berkata bahwa makanan sudah siap karena waktu juga sudah memasuki jam makan siang.
"Yaudah. Setelah print dan tanda tangan ini kamu boleh pulang, tapi makan dulu." Ucap Doyoung pada akhirnya, walau masih bingung dengan alasan tidak masuk akal yang Junghwan bilang barusan.
***
Berangkat ke tempat kerja tidak pernah semenegangkan ini sebelumnya.
Bagaimana bisa Doyoung santai ketika hari ini adalah hari pertama hubungannya dengan Junghwan dimulai? Semoga tidak ada yang membuat kesalahan, semoga tidak ada orang yang curiga, dan semoga semuanya berjalan lancar.
Doyoung terus berdoa bahkan hingga mobil miliknya yang Junghwan bawa akhirnya sampai di depan rumah, dan ia terkejut saat melihat Junghwan keluar lalu berlari dan membukakan pintu penumpang untuknya.
"Gak ada orang di sini." Ucap Doyoung, namun ia tetap mengikuti permainan Junghwan.
"Ada cctv." Bisik Junghwan sambil menatap kamera pengawas yang ada di atas mereka.
Kini keduanya duduk di dalam mobil, Doyoung memasang seatbelt begitu pula Junghwan yang berada di belakang kemudi.
"Anyway, good morning cutie." Sapa Junghwan sambil mengedipkan sebelah mata, refleks Doyoung memukul sebelah pahanya.
"Apa sih? Sandiwara kita belum dimulai dan gak ada orang di sini!" Protesnya, walau sebenarnya ia senang dengan tingkah lucu Junghwan namun Doyoung tidak mungkin mengakuinya.
"Latihan, biar gak kaget pas di kantor nanti." Jawab Junghwan santai, ia lalu kembali melajukan kendaraan menuju tempat kerja.
"Udah sarapan?" Kali ini Doyoung yang bertanya.
"Kalau saya jawab belum, kamu mau makan bareng?"
Doyoung menggeleng, "Perut saya sakit kalau sarapan."
"Weird." Umpat Junghwan tanpa sadar.
"I had a very very bad stomach sampai harus makan sesuai jadwal. Take a note, kamu harus tau fakta ini."
"Noted, cutie. Tell me more about yourself, terus rekam di sini." Perintah Junghwan sambil menyerahkan ponselnya, "Sekalian regist fingerprint kamu."
"Isn't it too far? Lagian saya gak ada kepentingan apa-apa sama ponselmu."
"Almost all lovers did that, sweetheart."
"But we're too old to this kind of thing?"
"Umurmu masih dua delapan, siapa yang bilang tua?"
Ucapan Junghwan benar dan Doyoung memutuskan untuk menurut. Ia langsung membuka kamera, menjadikan potretnya sebagai latar belakang ponsel Junghwan, mengganti namanya di kontak, serta menambahkan sidik jarinya dalam daftar.
"Saya males ngomong sendiri cuma buat ceritain diri saya, kamu list pertanyaan aja, nanti saya jawab."
Mobil yang Junghwan bawa akhirnya sampai ke tujuan. Biasanya Doyoung turun di lobi sementara sekertarisnya pergi memarkirkan mobil, namun kali ini berbeda. Doyoung ikut ke tempat parkir yang untungnya ada di depan gedung, turun bersama Junghwan yang membukakan pintu untuknya, lalu berjalan berdampingan menuju tempat kerja.
"Let's do this." Doyoung bermonolog pada dirinya sendiri, membuat Junghwan yang berdiri di sampingnya tertawa.
"Kenapa?"
"Gapapa." Jawab Junghwan, berusaha menahan gemas.
Lift cukup ramai pagi ini, mereka bahkan harus berdesakan dengan karyawan yang hendak ke lantai atas. Junghwan sempat menawarkan Doyoung untuk naik lift khusus yang diperuntukkan bagi para petinggi perusahaan, namun ia menolak.
Junghwan bahkan harus melindungi tubuh atasannya agar tidak terlalu berhimpitan dengan orang lain.
"Thanks." Ucap Doyoung saat Junghwan menggenggam erat tangannya agar tetap berdiri tegak.
Junghwan mengangguk, lift berhenti di lantai tempat kerja karyawan biasa, membuat mereka akhirnya bisa bernapas lega. Namun Doyoung heran karena Junghwan tidak kunjung melepas pegangan mereka.
Pintu lift kembali terbuka di lantai tempat ruangan Doyoung berada, Junghwan memastikan Doyoung masuk dan duduk di kursi kerjanya sebelum ia pergi ke mejanya yang ada tepat di depan ruangan Doyoung.
Sambil menunggu komputer menyala, Doyoung memeriksa ponsel yang ternyata sudah dibanjiri pesan dari Jihoon. Mantan sekertarisnya itu mengirim beberapa gambar yang mereka ambil di pernikahan kemarin.
"Sejak kapan Junghwan naksir kamu?" Ketik Jihoon pada salah satu file yang ia sertakan.
Kedua alis Doyoung bertaut heran, ia lalu memperbesar gambar dan terkejut ketika melihat potret yang Jihoon maksud.
Sekilas foto itu terlihat biasa saja, namun saat semua mata orang menatap lurus ke arah kamera, netra Junghwan malah terfokus dengan Doyoung yang berdiri tepat di sampingnya.
"Kenapa senyam-senyum gitu?" Tanya Junghwan, ia berjalan ke arah Doyoung dengan segelas susu hangat di tangan. "Saya tau kamu gak sarapan, but at least perutnya harus diisi sesuatu."
Ucapan Junghwan membuat senyum Doyoung makin lebar.
"Kenapa, sih?" Tanya Junghwan lagi. "Menang tender?"
Doyoung menggeleng, "It's bigger than that."
"Why? Tell me."
"Seneng aja, akhirnya saya punya calon suami yang bisa dibawa ke depan keluarga."
...
aku suka banget ngetik ini karena gak terlalu banyak mikir dan lucu lucuan aja AAAAAAAAA aku juga seneng sama respon baik kalian hihi, maaciii udah banyak komen <3
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com