Chapter X
Sejak kejadian malam itu, Doyoung merasa sikap Junghwan berubah. Mereka memang masih berbincang di kantor, bertingkah mesra di depan keluarga, namun jika hanya berdua, Junghwan nampak menjaga jarak darinya.
Hari ini adalah hari terakhir pertemuan keluarga, semua orang berkumpul di aula yang akan dijadikan tempat pernikahan Doyoung dan Junghwan keesokan harinya. Memastikan tidak ada satupun hal yang terlewat sebelum acara benar-benar dilaksanakan.
Setelah berbincang panjang, semua orang akhirnya pulang dengan kendaraan masing-masing, begitu pula dengan kedua calon pengantin.
"Kenapa, sih? Aku bau?" Tanya Doyoung saat Junghwan melepas pegangan Doyoung di tangannya.
Junghwan menggeleng, "Nggak, cuma takut ribet aja kan mau ambil mobil."
Sungguh alasan yang tidak masuk akal, Doyoung yang muak pun melangkah cepat menuju pintu keluar, sama sekali tidak mengindahkan Junghwan yang berlari menyusulnya di belakang.
"Doyoung!" Panggil Junghwan saat Doyoung malah berjalan ke arah yang berlawanan dari tempat parkir. "Kim Doyoung!"
Tetapi Doyoung tidak peduli, ia berlari sampai halte bus depan gedung. Tangannya bergerak, memanggil taksi yang akhirnya berhenti di hadapan.
Untungnya Doyoung belum sempat masuk ke dalam mobil saat Junghwan akhirnya berhasil menyusul langkahnya, ia menarik tubuh yang lebih kecil, mendekapnya erat lalu meminta maaf pada supir taksi yang kemudian bergerak menjauh.
"Kamu kenapa sih? Bahaya pulang sendirian jam segini." Ucap Junghwan sambil memegang bahu Doyoung dengan kedua tangan.
"Aku gak mau pulang sama kamu."
"Yaudah, kamu bawa mobilnya biar aku yang naik taksi." Junghwan lalu merogoh kantong jas, mencari kunci mobil yang selalu ia letakkan di sana.
Namun suara isakan yang tiba-tiba membuat fokusnya teralihkan, ia mengangkat kepala dan menemukan Doyoung yang ternyata tengah menangis di hadapan.
"Kok nangis? Kenapa?" Tanya Junghwan panik, ia kembali merangkul tubuh Doyoung, menariknya agar lebih dekat lalu mendekapnya erat. "Aku ada salah, ya?" Tanya Junghwan lagi, hanya memastikan karena sebenarnya ia tahu alasan dibalik tangisan calon suaminya.
"Kamu benci ya sama aku?" Doyoung balik bertanya, dan Junghwan jelas menggeleng kuat. "Terus kenapa kamu malah jauhin aku? Besok kita nikah, tapi sikapmu malah begini." Protes Doyoung, masih sambil menangis karena air matanya nampak enggan berhenti.
"Nggak, Doyoung." Jawab Junghwan, tangannya bergerak mengusap punggung yang lebih kecil. "Maaf, maaf kalau kamu ngerasa gitu. Aku cuma merasa bersalah karena—"
"Karena apa? Karena udah cium aku malam itu?" Tanya Doyoung di sela tangisannya, "Kenapa harus ngerasa bersalah kalau aku sendiri udah kasih izin."
Suara tangisan Doyoung makin keras, nampaknya ia tengah meluapkan semua kesedihan yang selama ini dirinya rasakan. Membuat Junghwan akhirnya menggiring tubuh yang lebih kecil untuk duduk di halte bus yang ada di belakang mereka.
Doyoung duduk di kursi panjang, sementara Junghwan berjongkok di depannya sambil terus mengusap tangan serta pipinya yang memerah.
"Maaf, maafin aku ya?" Ucap Junghwan dengan suara pelan. "Udahan dong nangisnya, nanti bengkak lagi mukanya kalau nangis terus."
Akhirnya Doyoung mengangguk, ia mengusap wajah lalu menatap Junghwan dengan matanya yang basah. "Jangan gitu lagi, jangan tolak aku, jangan jauhin aku lagi, Junghwan." Pinta Doyoung.
"Aku benci tiap kamu dorong aku, it feels like I'm just a burden to you."
"Nggak ada yang ngomong gitu?"
"Tapi aku ngerasanya gitu!" Protes Doyoung sambil memukul tangan Junghwan yang terus mengusap wajahnya.
Junghwan tertawa, ia lalu duduk di sebelah Doyoung, masih sambil menggenggam sebelah tangan yang lebih kecil.
"Aku justru takut kamu yang gak nyaman karena sikap kurang ajarku kemarin." Jawab Junghwan jujur, "Aku gak mau dianggap sebagai orang yang manfaatin kesempatan dengan cium atasannya sendiri."
"Aku calon suamimu, bukan atasan." Koreksi Doyoung.
Lagi-lagi Doyoung bicara seakan tidak ada kontrak yang tengah mengikat mereka.
"Tapi berdasarkan kontrak—"
"Stop bahas soal kontrak kontrak itu, aku jadi ngerasa bersalah karena udah bohongin keluarga besarku. Pokoknya mulai sekarang, dilarang bahas soal kontrak."
"Kenapa?"
"Pokoknya gak boleh!" Protes Doyoung lagi sambil mendengus.
Junghwan merogoh kantong kemeja, meraih sapu tangan lalu meletakan benda itu di depan wajah Doyoung. "Bersihin hidungnya." Perintahnya.
Dan Doyoung menurut, namun dibanding menggunakan tangannya sendiri, ia memilih untuk menggunakan tangan Junghwan yang untungnya tidak lepas dari wajahnya.
"Jorok." Ledek Junghwan sambil membersihkan hidung calon suaminya. "Udah kan nangisnya? Pulang sekarang ya?"
Doyoung mengangguk setuju, keduanya lalu berjalan menuju kendaraan yang Junghwan parkir di depan gedung, dan mobil tersebut bergerak menuju kediaman Doyoung yang akan menjadi tempat istirahat Junghwan juga malam ini.
Soal obrolan mereka yang belum selesai tadi, biarlah itu menjadi masalah yang akan mereka bicarakan nanti karena untuk saat ini, keduanya harus fokus dengan pernikahan yang akan dilangsungkan esok hari.
Keluarga Doyoung akan menjemput mereka pagi-pagi sekali, berangkat menuju tempat acara bersama-sama.
Tadinya keluarga Doyoung meminta mereka untuk tidur di rumah utama, namun Doyoung sendiri yang menolak karena ia tidak ingin diajak bicara banyak oleh orang tua serta kakeknya.
Selain itu, Doyoung juga takut Junghwan merasa tidak nyaman. Karena yang paling penting baginya adalah cara bagaimana mempertahankan Junghwan selama yang ia bisa.
***
"...Kim Doyoung apakah anda bersedia untuk menghabiskan sisa hidup bersama So Junghwan, dalam susah maupun senang, saat sehat ataupun sakit, untuk saling mengasihi dan menyayangi sampai maut memisahkan."
Doyoung menunduk, jemarinya bergetar mencengkram pengeras suara yang ada di tangannya, ia menarik napas dalam-dalam sebelum menjawabnya dengan kalimat yang paling dinantikan semua orang.
"Saya bersedia."
Suara tepuk tangan bergemuruh di seluruh sudut ruangan, samar ia dengar teriakan serta siulan dari Jihoon dan sahabatnya yang turut hadir.
Sambil tersenyum Doyoung mengangkat kepala, dan ia disambut dengan Junghwan yang ternyata sudah menatapnya sambil berlinang air mata.
Junghwan menangis, ini kali pertama Doyoung melihat air mata di wajah laki-laki yang sudah berbulan-bulan mengisi tempat di sisinya.
"I guess he loves his groom too much." Ledek pembawa acara.
Mereka maju satu langkah, setelah menyerahkan mic yang sejak tadi dipegangnya, Doyoung menyambut uluran tangan Junghwan yang ada di hadapan.
"I love you." Bisik Junghwan pelan, sangat pelan hingga rasanya Doyoung ingin Junghwan mengulangi kalimat itu ribuan kali dengan suara yang jauh lebih keras lagi.
Netra Doyoung terpejam kala Junghwan bergerak maju untuk mengikis jarak, mencium bibirnya di hadapan semua orang termasuk keluarganya.
Ciuman ini tentu berbeda dari ciuman Junghwan sebelumnya, selain kebahagiaan, Doyoung juga dapat merasakan kesedihan yang tersalurkan dari tiap gerakan Junghwan.
Bahkan pipi Doyoung ikut basah karena air mata Junghwan yang kembali mengalir di wajahnya.
"Cengeng." Ledek Doyoung setelah Junghwan menarik diri, ia menghapus jejak basah di pipi suaminya. "Jelek, stop crying."
Junghwan berusaha mengatur napas, ia memegang pergelangan tangan Doyoung yang masih ada di wajahnya. "I wish... I wishy my parents were here." Jawab Junghwan sambil terisak.
"And I wish I did it better than this, I'm sorry Doyoung."
Doyoung mengangguk, ia berusaha memahami perasaan Junghwan, kembali memintanya untuk berhenti menangis karena sebentar lagi pasti Jihoon akan meledeknya jika tangisan Junghwan tidak kunjung selesai.
Acara pemberkatan yang dipenuhi air mata itu akhirnya selesai, Doyoung meminta perias wajah yang untungnya masih ada di sana untuk memperbaiki riasan di wajah Junghwan sebelum mengambil gambar bersama.
Ia tidak ingin foto pernikahannya dipenuhi oleh wajah bengkak suaminya.
"Mata kamu merah banget jadinya." Ucap Doyoung sambil meniup pelan mata Junghwan dan mengusap kedua sudutnya.
"Maaf."
"Stop minta maaf!"
Doyoung tidak menyangka bahwa Junghwan akan menangis sekeras ini di pernikahan mereka, meski beberapa kali membahas soal orang tuanya, namun Junghwan tidak pernah menunjukkan sisi lemahnya di depan Doyoung sama sekali.
Begitu pula dengan anggota keluarga Doyoung yang lain, mereka tidak tahu bahwa Junghwan bisa dengan mudah menangis di hadapan semua tamu undangan.
Sesi foto bersama akhirnya diadakan, mulai dari keluarga, kerabat jauh, serta sahabat Doyoung juga beberapa teman Junghwan yang turut hadir di sana.
Beberapa meledek Junghwan karena ia memang jarang memiliki kekasih bahkan ketika kuliah, dan tiba-tiba malah langsung menikah dengan cucu bungsu keluarga kaya raya.
"Bulan madu ke mana? Eropa? Inggris? Atau Hawaii?" Tanya Jihoon sambil menenteng sampanye yang ia ambil dari pelayan.
"Kantor masih banyak urusan, kamu mau kita tinggal liburan satu bulan?"
"Jangan dong, lagian lama banget sebulan? Dua hari juga cukup, aku yakin Junghwan bisa kok handle kamu, dan pasti langsung jadi."
"Langsung jadi apanya?" Tanya Doyoung bingung.
"Bayinya."
Netra Doyoung membola, kalimat Jihoon benar, keturunan. Hal ini tidak ada di dalam kontrak perjanjian dan Doyoung yakin bahwa bukan hanya Jihoon, tetapi semua anggota keluarganya juga mengharapkan hal yang sama.
Jihoon pergi begitu Hyunsuk memanggil namanya, meninggalkan kedua pengantin yang kembali duduk di kursi pelaminan.
"Kamu kenapa?" Tanya Junghwan saat menyadari kalau Doyoung hanya diam sejak tadi.
"Kamu siap jadi Ayah?" Tanya Doyoung dengan nada serius sambil menggenggam tangan Junghwan.
"Hah?"
Doyoung menggeleng, ia memukul kepalanya sendiri dan melepas pegangannya pada Junghwan. "Nggak nggak, sorry aku salah ngomong."
Tidak mungkin Doyoung memanfaatkan Junghwan lebih banyak lagi, sudah cukup masa lajangnya yang ia renggut paksa, Doyoung tidak mungkin turut mengambil keperjakaannya juga.
"Kamu mau kita punya anak?" Junghwan balik bertanya.
"Mau."
"Yaudah."
"Hah?"
"Yaudah nanti buat,"
"Hah?"
Junghwan tertawa, ia bangkit dari duduknya saat melihat keluarga Doyoung mulai berjalan ke arah mereka. "Bangun suamiku, mertuaku dateng mau foto bareng."
...
bagaimana kelanjutan keluarga ajaib ini? kita liat minggu depan soalnya minggu ini aku gak bisa update karena mau liburan wkwkwk maaf yah.
anw happy birthday doyoungie <3 ayo cepet punya bayi <3
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com