Chapter XI
Harapan untuk langsung pergi liburan setelah menikah ternyata gagal total. Keluarga Doyoung salah perhitungan, perusahaan justru makin sibuk di awal bulan Desember yang artinya, baik pemimpin maupun si sekertaris pribadi sama-sama tidak memiliki waktu untuk bersantai walau sebentar.
Memasuki hari ketiga mereka tidak pulang ke rumah, entah sudah berapa banyak kopi yang mereka habiskan, tetapi berkas demi berkas yang datang tidak kunjung selesai menunggu tinjauan.
"Istirahat dulu aja," Ucap Junghwan sambil memijat bahu Doyoung, "Nanti malem tidur di rumah, ya? Udah berapa hari kamu gak pulang."
Doyoung mengangguk, ia memasang raut sedih sebelum menoleh dan menatap Junghwan dari bawah. "Kamu juga pulang, kan?"
"Iya, kita pulang sama-sama." Jawabnya, sebelah tangannya bergerak untuk mengusap sisi wajah suaminya. "Jangan manyun terus, nanti cepet tua." Ledeknya, dan berhasil membuat Doyoung memberi pukulan pelan di lengannya.
"Gimana hari ini? Keadaan di bawah gak sechaos kemarin-kemarin kan?" Tanya Doyoung lagi sambil membaca berkas yang baru Junghwan berikan.
"Sebagian udah gak sanggup, kamu wajib kasih mereka bonus karena kerjaan yang gak ada habisnya ini."
"Iya,sekalian sama agenda gathering tahunan nanti kan." Jawab Doyoung, masih dengan netra terfokus pada kertas di tangan. "Anyway, suamiku. Bisa tolong hubungin Haruto? Ada beberapa keperluan soal legalitas usaha dan aku udah minta dia buat kirim filenya, tapi orangnya gak kasih kabar sampe sekarang."
Junghwan nyaris tersedak ketika mendengar ucapan Doyoung, bukan terkejut karena perintah yang ia berikan, melainkan panggilan yang nampaknya terlalu sering Doyoung ucap bahkan saat hanya ada mereka berdua di ruangan.
"Suamiku?" Panggil Doyoung lagi karena Junghwan tidak kunjung memberinya jawaban. Ia menoleh ke atas, menatap wajah Junghwan dari bawah, "Kamu denger kan aku ngomong apa?" Tanyanya memastikan.
Dan Junghwan mengangguk, mengecup ringan kening Doyoung sebelum berjalan ke luar ruangan. Meninggalkan Doyoung yang terus menatap sosoknya dengan hati berdebar sendirian.
Aku udah hubungin Haruto, katanya nanti ada yang anter filenya langsung ke ruangan kamu karena dia lagi sibuk sama urusan lain. Oh iya, aku keluar sebentar, kalau ada apa-apa langsung telfon aku ya. - Suamimu, Junghwan.
Doyoung tersenyum lebar saat membaca pesan yang Junghwan kirim, hampir satu minggu setelah pernikahan mereka, dan untungnya Junghwan tidak pernah menunjukkan sisi anehnya.
Dengan kata lain, Junghwan selalu mengikuti permainannya. Ia bersikap manis pada Doyoung bahkan saat tidak ada orang lain yang melihat mereka, terlalu percaya diri memang tetapi Doyoung rasa, Junghwan sepertinya memiliki perasaan yang sama.
Doyoung menyukai Junghwan, ia tahu fakta ini ketika suaminya menciumnya saat itu. Itu juga yang membuat Doyoung marah besar saat Junghwan berkata bahwa ia menciumnya karena tidak sengaja.
Ponselnya yang berada di atas meja tiba-tiba bergetar, nama Haruto terpampang di layar dan dengan cepat Doyoung menekan tombol terima.
"Kamu di kantor kan?" Tanya Haruto langsung.
"Iya, kenapa? Kamu udah mau sampe?"
"Bukan aku, temen sekantorku. Harusnya dia udah sampe sekarang, aku suruh dia buat langsung anter berkasnya ke ruanganmu, Gapapa kan?"
"Gapapa." Jawab Doyoung, ia hendak melanjutkan kalimatnya namun pintu ruangannya mendadak diketuk dari luar.
"Kayaknya temen kamu udah sampe, siapa namanya?"
"Hyunmin, Byun Hyunmin."
Rasanya jantung Doyoung nyaris berhenti berfungsi ketika Haruto menyebutkan nama orang yang amat sangat ingin ia hindari, tangannya meremas ponsel kuat-kuat saat pintu di hadapannya terbuka, menampilkan sosok manusia yang bertahun-tahun lalu sempat ia kencani.
"Halo, Kim. Kenapa kamu gak undang aku ke pernikahanmu kemarin?"
Doyoung buru-buru memutus panggilannya dengan Haruto, jarinya bergerak cepat di atas layar untuk menghubungi ponsel Junghwan.
Angkat. Angkat. Angkat. Ucap Doyoung dalam hati.
"Halo?" Suara berat Junghwan menyapa telinga tepat di deringan kedua. "Halo? Kenapa Doyoungie?" Panggil Junghwan lagi karena Doyoung yang tidak kunjung menjawab.
"Junghwan..."
"Iya? Kenapa? Aku udah di bawah, tunggu ya bentar lagi aku naik."
Napas Doyoung tercekat saat laki-laki yang ada di hadapannya berjalan mendekat, Doyoung bergerak mundur, berusaha melawan ketakutan dengan mencengkram ujung jas yang ia kenakan.
"Kok mundur? Kamu gak kangen? Udah berapa lama kita gak ketemu?" Ucap laki-laki berambut legam di depannya lagi.
Doyoung menggeleng kuat, "Kita gak ada urusan apa-apa sekarang." Jawabnya dengan suara gemetar.
"Kata siapa? Ipar kamu sendiri yang nyuruh aku buat anter berkas ini." Hyunmin lalu meletakkan amplop cokelat ke atas meja, "Sekalian dia minta aku supaya ngobrol sama kamu, tapi kayaknya kamu gak mau ya ketemu aku?"
Punggung Doyoung menyentuh tembok, ia tersudut sementara Hyunmin masih berusaha mendekat. Perlahan namun pasti, pria itu kini berdiri tepat di hadapannya.
Sebelah tangannya juga terulur, hendak menyentuh wajah Doyoung yang pucat pasi. Namun geraknya berhenti karena suara pintu yang dibuka keras-keras dari luar.
Junghwan nyaris menjambak rambut orang asing itu, namun niatnya urung karena ia tidak ingin membuat keributan di perusahaan keluarganya sendiri. Dirinya memilih untuk berdiri di depan Doyoung, berusaha melindungi suaminya.
"Ada perlu apa sama suami saya?"
Hyunmin tersenyum miring, tangan yang tadinya hendak digunakan untuk menyentuh Doyoung, kini berubah fungsi karena Junghwan yang malah menjabatnya.
"Saya So Junghwan, suami Kim Doyoung." Junghwan memperkenalkan diri.
"Saya Hyunmin, teman Doyoung pas kuliah."
Tinju Junghwan nyaris melayang ke wajah Hyunmin begitu tahu bahwa lelaki di depannya adalah mantan kekasih Doyoung yang sempat ia ceritakan, tetapi Doyoung dengan cepat menahannya, "Suruh dia keluar, aku gak mau ada keributan di sini." Ucapnya sambil menggenggam tangan Junghwan. "Please..." Lanjutnya dengan suara lemah.
Sambil menghela napas, Junghwan berbalik, sedikit menunduk untuk menyamakan tinggi dengan suaminya. "Are you okay?" Tanyanya sembari mengusap keringat yang ada di kening Doyoung.
"I'm fine, tolong suruh dia keluar, aku mau pulang." Jawab Doyoung dengan nada memohon.
Untungnya Hyunmin tidak bertingkah, ia akhirnya keluar dari ruangan setelah Junghwan berterima kasih atas berkas yang sudah ia antarkan, berkata bahwa kondisi Doyoung sedang tidak baik untuk menerima tamu asing yang tiba-tiba datang ke perusahaan.
***
"Aku bakal kasih tau Haruto nanti." Ucap Junghwan yang kini duduk di belakang kemudi, tanpa menatap Doyoung yang ada di sebelahnya.
"Kasih tau apa?" Tanya Doyoung bingung.
"Soal masalahmu sama Hyunmin."
"Nggak perlu Junghwan, lagian masalah kita udah selesai—"
"Apa yang selesai? Kamu masih takut pas liat dia, dan aku juga gak bisa salahin kakak iparmu karena dia gak tau apa-apa."
Doyoung terkejut saat mendengar intonasi Junghwan yang cukup tinggi, karena selama mereka berkencan, laki-laki itu tidak pernah membentaknya sama sekali.
Dan ia tidak menjawab, Doyoung malah mengalihkan pandangan ke jendela yang ada di samping, sambil sesekali mengusap air mata yang keluar tanpa dapat dirinya hindari.
Sebenarnya ia ingin menangis sejak di kantor tadi, tetapi dirinya takut Junghwan lepas kendali lalu memukuli Hyunmin dan berujung dituntut karena mantan kekasihnya merupakan pengacara yang dengan mudah memutar balikan fakta.
Kendaraan yang Junghwan bawa akhirnya sampai di garasi rumah, Doyoung turun dengan terburu-buru, sedikit berlari menuju kamar yang ada di lantai dua meninggalkan Junghwan yang hanya dapat menatap punggungnya dari belakang.
Nyaris pukul sembilan malam saat Junghwan akhirnya berani mengetuk penghubung pintu kamar Doyoung dari luar, "Doyoung, makan dulu." Perintahnya dengan suara pelan.
"Atau kalau kamu gak mau makan, at least buka pintunya, aku mau ngomong." Lanjutnya, namun lagi-lagi Doyoung tidak memberinya jawaban.
"Doyoung, aku minta maaf. Aku cuma khawatir sama kamu, aku gak mungkin bisa liat kamu di situasi yang sama kayak tadi lagi, please buka pintunya." Mohon Junghwan lagi, dan kali ini berhasil karena ia melihat kenop yang akhirnya diputar dari dalam.
Pintu kamar terbuka, menampilkan sosok pemilik rumah yang berdiri masih dengan pakaian yang sama, namun matanya merah dan wajahnya bengkak karena terlalu banyak menangis.
"Kamu bentak aku tadi." Protes Doyoung sambil merengut, Junghwan menggeleng, ia lalu menarik tubuh yang lebih kecil untuk masuk ke dalam pelukan.
"I didn't meant it, I'm sorry..." Ucap Junghwan dengan penuh penyesalan, tangannya mengusap punggung Doyoung sedangkan yang satu lagi ia gunakan untuk membelai surai gelapnya.
"Maaf, aku cuma kebawa emosi, aku gak bermaksud bentak kamu sama sekali."
Walau bibirnya masih merengut maju, Doyoung akhirnya membalas pelukan Junghwan. Ia melingkarkan tangan ke belakang pinggang yang lebih tinggi, sekaligus menyandarkan kepala ke dada bidang suaminya.
"Maaf, maafin aku." Ulang Junghwan lagi, dan Doyoung akhirnya mengangguk.
"Aku aduin kakek kalau kamu bentak aku lagi." Ancamnya sambil menggosok sebelah pipi ke atas kaos tidur yang Junghwan kenakan.
Junghwan terkekeh pelan, ia melepas pelukan untuk menatap wajah suaminya agar lebih jelas. "Iya, kamu boleh aduin siapapun kalau aku bikin kamu nangis lagi. Sekarang makan dulu ya?" Bujuknya sambil mengusap sisi wajah yang lebih muda, membuat Doyoung kembali mengangguk sebagai jawaban.
Keduanya berjalan menuju dapur, dan Doyoung terkejut saat melihat kue ulang tahun yang ada di antara berbagai macam makanan di atas meja.
Empat Desember, hari ini adalah hari ulang tahunnya.
"Aku pergi karena mau beli kue buat kamu, untung kuenya gak hancur di jalan karena pas kamu telfon, aku baru aja keluar dari tokonya." Jelas Junghwan sambil sibuk menyalakan lilin.
Doyoung yang duduk di salah satu kursi kini kembali menatapnya dengan mata berkaca-kaca, padahal ia sendiri lupa bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya, namun Junghwan malah menyiapkan semuanya di tengah kesibukan mereka.
"Tiup lilinnya, tapi buat permohonan dulu." Perintah Junghwan sembari menggeser posisi kue agar lebih dekat dengan Doyoung.
Dengan kedua tangan yang terkepal di depan wajah, Doyoung memejamkan mata dan mulai membuat permohonan. Cukup lama karena ternyata, ada banyak hal yang ia harapkan. Begitu selesai, ia langsung meniup lilin di depan dan disambut dengan tepuk tangan meriah dari Junghwan.
"Happy birthday, suamiku." Ucap Junghwan dengan nada ceria, netra Doyoung kembali terpejam saat Junghwan mengecup lembut keningnya.
"Thank you." Jawab Doyoung dengan suara serak karena ia terlalu banyak menangis hari ini.
"Aku bingung mau beli hadiah apa karena kamu pasti udah punya segalanya, tapi untuk hari ini dan satu minggu ke depan, aku bakal turutin semua mau kamu."
"Semuanya?"
Junghwan mengangguk, "Semuanya."
"Kalau gitu, aku boleh tidur sama kamu malam ini?"
Padahal selama bermalam di kantor, mereka juga selalu tidur bersama. Doyoung tidur saat Junghwan menyelesaikan laporannya, dan Junghwan tertidur ketika Doyoung mengurus pekerjaannya.
Tetapi Junghwan juga tidak mungkin menolak permintaan suaminya, ia kembali mengangguk, membuat Doyoung berteriak girang lalu memeluk tubuhnya erat-erat. "Thank you, Junghwan."
...
kecepetan gak sih kalo besok bikin bayi?
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com