Chapter XII
"Tidur," Perintah Junghwan sambil mengusap mata Doyoung menggunakan jemari, sedangkan yang disuruh justru menggeleng sambil merengek pelan.
"Masih mau ngobrol sama kamu." Jawab Doyoung, ia menggeser tubuhnya agar lebih dekat lagi dengan Junghwan, sebelah tangannya juga bergerak untuk menyingkirkan anak rambut yang menutup kening suaminya.
Junghwan menuruti permintaan Doyoung untuk tidur bersama malam ini, di ranjang luas yang biasanya Doyoung tempati seorang diri.
Ini adalah kali pertama keduanya berada di ranjang yang sama sejak pernikahan mereka beberapa hari lalu.
Di malam pertama pernikahan, Doyoung tidur di kamarnya sementara Junghwan di ruang kerja yang sudah diubah menjadi kamar tidur kedua. Dan setelah itu, mereka sibuk hingga harus bermalam di kantor berhari-hari.
"Mau ngomongin apa? Emang gak capek seharian kerja?" Tanya Junghwan, ia ikut menatap Doyoung yang terus menatapnya di sebelah.
"Junghwan—a" Panggil Doyoung tiba-tiba.
"Mhm?"
"Boleh gak, aku tidur di lengan kamu?" Tanya Doyoung penuh harap, dan berhasil membuat Junghwan tertawa. Ia kemudian mengangguk sambil membentangkan sebelah lengannya.
"Sini."
Doyoung tersenyum lebar, ia lalu merangkak naik dan meletakkan kepalanya di atas lengan Junghwan.
Setelah mengakhiri hubungan dengan Hyunmin, Doyoung tidak berminat menjalin ikatan romantis dengan orang lain, apalagi di umur yang nyaris menyentuh angka tiga puluh.
Namun entah kenapa, sensasi mendebarkan tiap ia bersama Junghwan membuatnya seperti dibawa ke masa-masa remaja. Mudah salah tingkah, jantung berdegup kuat hanya karena sentuhan ringan di wajah, Junghwan dengan mudah membuat Doyoung kembali merasakan sensasi menggelikan seperti orang jatuh cinta.
"Kenapa?" Tanya Junghwan saat Doyoung hanya memandang wajahnya tanpa bersuara.
"Gapapa." Jawab Doyoung, sebelah tangan yang tadinya ada di wajah Junghwan kini bergerak turun ke depan dada, ia ingin berteriak saat merasakan bahwa detak jantung Junghwan juga sama kuat seperti miliknya.
"Sebelumnya, aku gak pernah mau tidur satu ranjang sama orang lain, bahkan keluargaku sendiri." Jelas Doyoung tiba-tiba, "Terakhir sama Junkyu hyung, di malam sebelum pernikahan dia."
"Sama pacar?"
"Aku cuma pernah pacaran dua kali, dan dua-duanya gak sampai sejauh itu." Jawab Doyoung lagi, "Kalau kamu?"
"Aku? Kenapa?"
"Kamu... udah pernah tidur sama orang lain sebelumnya?"
"Gak pernah, kamu tau kan aku anak satu-satunya."
"Kalau sama pacar?"
Pertanyaan Doyoung kembali membuat Junghwan tertawa, ia paham ke mana arah pembicaraan suaminya. Tangannya yang bebas kini meraih jemari Doyoung yang ada di tubuhnya, menggenggamnya erat lalu dibawa ke depan mulut, dikecupnya punggung tangan yang lebih kecil berulang kali.
"Gak pernah juga, aku cuma pernah tidur satu ranjang sama suamiku." Jelas Junghwan dengan suara pelan. "Kamu beneran gak capek?"
"Dibilang aku masih mau ngobrol sama kamu, mumpung lagi tidur berdua."
"Besok-besok kan bisa? Kamar aku cuma di sebelah."
Doyoung menggeleng dan memasang raut tidak terima, "Ini hari ulang tahunku, aku masih mau minta banyak hadiah dari kamu."
"Mau minta apa suamiku?"
"Aku mau tau soal hidup kamu dulu, pas kamu kuliah dan gimana caranya kamu bisa kerja di Kanada?" Tanya Doyoung dengan semangat, ia selalu ingin bertanya soal ini pada Junghwan.
"Ya karena aku pinter, lah." Jawab Junghwan bangga, "Cuma aku yang dikasih tawaran buat kerja di sana, padahal banyak yang coba lamar tapi cuma CV aku yang tembus."
"Terus kenapa sekarang kamu malah kerja di kantorku?"
"Karena gajinya gede." Jawab Junghwan cepat, "Cuma kantormu yang kasih gaji lumayan buat pekerja kontrak, dan aku kan butuh uang banget waktu itu." Lanjutnya, sebisa mungkin bicara jujur tanpa dibuat-buat.
Doyoung mengangguk paham, perusahaannya memang tidak terlalu membedakan antara pegawai kontrak dan karyawan tetap karena yang paling penting adalah kinerja mereka.
"Aku boleh tanya sesuatu?" Junghwan balik bertanya, dan Doyoung mengangguk sambil terus menatap wajahnya.
"Soal mantan pacarmu yang tadi dateng ke kantor, kenapa kamu gak cerita ke keluargamu? Haruto hyung pasti bakal berpihak sama kamu, aku juga yakin mereka pasti gak terima kalau tau hal buruk apa yang dia lakuin ke kamu."
Bukannya menjawab, Doyoung malah bergerak maju dan membenamkan wajahnya di atas dada Junghwan.
"Aku gak mau bahas dia, aku gak mau inget-inget apapun lagi soal dia." Ucap Doyoung, masih sambil menyembunyikan wajahnya, "That was the most painful thing I've ever felt."
Junghwan yang terkejut hanya dapat memeluk tubuh Doyoung, mengusap punggungnya berulang kali sambil membisikkan permintaan maaf karena telah mengorek luka lama yang berusaha Doyoung tutup rapat-rapat.
"Junghwan—a," Panggil Doyoung tiba-tiba, ia menarik kepalanya untuk menatap Junghwan dari bawah.
"Ya?"
"Can I make another wish?"
"Sure,"
"I want to burn our agreement."
"Mr. Kim, did you forget? Peraturan pertama di perjanjian kita, semua keputusan ada di tangan kamu." Jawab Junghwan, ibu jarinya bergerak di atas wajah Doyoung, membelainya lembut hingga akhirnya berhenti tepat di depan bibirnya.
"So?" Tanya Doyoung bingung.
"Doyoungie, can I ask you something instead?"
"What?"
"Can I kiss you?"
Doyoung belum sempat menjawab karena Junghwan yang sudah lebih dulu menarik tubuhnya hingga posisi mereka sejajar, netranya terpejam kala bibir tebal Junghwan mengecup seluruh sudut bibirnya, seolah tidak ingin ada sisi yang terlewat.
"Junghwan..." Ucap Doyoung ketika suaminya mulai menghisap bagian atas dan bawah bibirnya bergantian.
Seakan belum cukup, lidah Junghwan juga ikut melesak masuk, menyapa seluruh isinya lalu membelai milik Doyoung di sana, saling membelit di dalam hingga menimbulkan suara berisik yang menggema di ruangan.
Sekuat tenaga Junghwan menahan diri untuk tidak menyentuh Doyoung lebih jauh lagi, tangan yang tadinya ingin menjamah tubuh suaminya kini ia pakai untuk menggenggam sebelah tangan Doyoung kuat-kuat.
Suara napas mereka saling beradu ketika Junghwan akhirnya menarik diri, menatap wajah Doyoung yang netranya masih terpejam dengan bibir mengkilap entah karena saliva milik siapa.
"Doyoungie..." Panggil Junghwan sambil mengusap bibir suaminya.
"Mhm?" Jawab Doyoung yang mulai membuka mata, ikut menatap Junghwan yang masih berbaring di sebelah.
"Do you like me?"
"Bukannya harusnya aku yang tanya gitu?"
"I already did, aku gak mungkin mau kamu ajak nikah kalau aku gak suka sama kamu, tapi—"
Ucapan Junghwan berhenti karena Doyoung yang tiba-tiba kembali mengecup bibirnya berulang kali. "Gak ada tapi tapi, the fact that we had feeling for each other is enough, let's take this thing slowly, Junghwan—a." Jelas Doyoung sambil menyandarkan kepalanya ke atas dada Junghwan, memeluk erat tubuhnya lalu kembali memejamkan mata.
Junghwan mengangguk setuju, ikut memeluk tubuh Doyoung dan berujar pelan.
"Let's take it slowly."
Malam itu, meskipun keinginan Doyoung untuk membakar surat perjanjian mereka belum berhasil dijalankan, namun setidaknya ia tahu bahwa mereka memiliki perasaan yang sama. Entah perasaan siapa yang lebih besar Doyoung tidak terlalu peduli, karena selama ada Junghwan di sisinya, ia yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja.
***
"Sore ini aku mau pergi sama Jihoon, kamu pulang sendiri aja, ya?" Ucap Doyoung sambil menyampirkan tasnya ke bahu, "Mau jalan-jalan sebentar, gak akan larut kok pulangnya."
Ia sedikit berjinjit untuk mengecup bibir Junghwan, "Kalau mau makan malam duluan juga gapapa, aku bakal makan di luar, okay?"
Junghwan mengangguk, "Hati-hati, kalau ada apa-apa langsung hubungin aku." Jawabnya sambil menatap figur suaminya yang akhirnya menghilang di balik pintu.
Dibanding langsung pulang dan menghabiskan waktu sendirian, Junghwan memilih untuk melanjutkan pekerjaannya di kantor.
Sama sekali tidak menyangka bahwa ketika ia pulang ke rumah, dirinya disambut dengan belasan tas belanja suaminya yang berjejer di atas meja ruang tengah.
"Surprise!" Ucap Doyoung bangga sambil menunjukkan hasil belanja singkatnya sore tadi. "Tas baru, kemeja baru, sepatu baru, dan aku juga beli ponsel baru! Semuanya masing-masing satu pasang."
Junghwan berjalan ke arah Doyoung, duduk di sampingnya yang kini sibuk membongkar hasil buang-buang uang bersama mantan sekertaris pribadinya.
"Kurang banyak sih ini karena Jihoon keburu disuruh pulang sama Hyunsuk hyung, aku bakal belanja lagi kapan-kapan."
Netra Junghwan memindai barang-barang yang Doyoung beli, semua merupakan brand ternama yang artinya, Doyoung pasti menghabiskan uang ratusan juta won hanya dalam waktu empat jam di luar pengawasannya.
"Kamu harus pakai ini buat rapat kamis nanti." Ucap Doyoung semangat sambil memakaikan dasi biru bermotif polkadot pada leher Junghwan. "Kan cocok banget! Aku tau kamu pasti bakal makin keliatan keren kalau pakai dasi dari brand ini."
Mata Junghwan tidak sengaja menangkap bill dari dasi yang kini bertengger di lehernya, nyaris sepuluh juta won hanya untuk barang yang bahkan tidak dilapisi emas ini?
Bahkan jika keluarganya tidak terkena musibah, Junghwan yakin ia tidak akan mampu membeli barang-barang yang kini berceceran di hadapan mereka.
"Kamu kenapa sih kok diem aja?" Tanya Doyoung heran, dan Junghwan hanya menggeleng pelan lalu beranjak dari duduknya.
"Aku mau mandi." Jawabnya singkat dan berjalan lurus menuju tangga yang membawanya menuju lantai dua.
Sementara Doyoung mengira bahwa Junghwan hanya kelelahan, ia kembali melanjutkan agendanya membongkar semua belanjaan yang tadi ia beli bersama Jihoon di pusat perbelanjaan.
Tanpa tahu bahwa Junghwan kini mulai berpikir kalau kesenjangan yang ada di antara mereka adalah salah satu hal yang membuat keduanya tidak bisa bersatu tanpa kontrak kerjasama.
Sumber kebahagiaan Doyoung adalah hal yang tidak bisa Junghwan berikan, ia bahkan masih digaji oleh perusahaan suaminya sendiri, dari mana Junghwan mendapat uang ratusan juta won untuk dihamburkan hanya demi barang yang bisa ia beli dengan harga jauh lebih murah di tempat lain?
"Katanya mau mandi?" Tanya Doyoung sambil berjalan ke arah Junghwan yang tengah duduk di kursi balkon kamar, "Kok malah duduk di sini?"
"Kenapa sih? Di kantor ada masalah?" Tanya Doyoung lagi karena Junghwan tidak menjawab pertanyaannya.
Dan suaminya hanya menggeleng lalu kembali masuk ke dalam kamar, meninggalkan Doyoung yang hanya dapat menatap punggungnya sendirian.
"Junghwan—a," Panggil Doyoung sambil sedikit berlari, menyusul langkah suaminya. "Kenapa sih? Aku buat salah?"
"Gapapa, Doyoung." Jawab Junghwan, berusaha menghindari Doyoung yang terus memaksanya untuk bicara.
Doyoung yang ikut kesal karena tingkah Junghwan akhirnya pergi ke kamarnya sendiri, membanting pintu penghubung kuat-kuat lalu melempar tubuhnya ke atas ranjang.
Jika Junghwan tidak ingin bicara, maka ia juga enggan memaksa. Mari kita lihat, siapa yang paling kuat.
...
konfliknya ringan, penyelesaiannya yang berat wkwkwk. btw bener juga, kalo buru buru bikin bayi nanti cepet tamat, jadi diundur yah sorry
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com