Chapter XV
tw cw /// jorok dikit.
Karena tidak ada lagi kegiatan yang bisa mereka lakukan di rumah, serta Doyoung yang takut Junghwan akan kembali sibuk dengan pekerjaannya jika mereka berlama-lama di sana, maka keduanya memutuskan untuk pergi berkencan.
"First date?" Tanya Doyoung sambil memiringkan kepala, menatap Junghwan yang tengah sibuk merapikan outer yang Doyoung pakai. Dan Junghwan menggeleng, ia mengusap pipi yang lebih kecil sebelum berjalan mundur dan menatap puas ke arahnya.
Pakaian hangat berkerah tinggi untuk menutup tanda yang Junghwan buat tadi sore, serta luaran bulu yang semoga berhasil membuat Doyoung tidak kedinginan saat berada di luar.
Tadinya Doyoung menolak menggunakan baju tebal karena ia hendak memakai pakaian berwarna terang miliknya yang sudah terlalu lama menumpuk di lemari, tetapi Junghwan melarang keras karena ia yakin suhu di luar pasti sangat dingin sekarang.
"Second, first date kita tuh pas aku ajak kamu ke restoran yang sering aku datengin sama keluargaku."
Seketika Doyoung menepuk keningnya sendiri, "Oh iya, aku lupa. Kok kamu masih inget?"
"Inget dong, bahkan aku masih inget pas kamu mabuk dan malah dateng ke kantor setelah kencan sama Jae—"
Ucapan Junghwan berhenti karena Doyoung yang tiba-tiba berjinjit untuk mengecup bibirnya berulang kali, berusaha membuat suaminya diam sebab tidak ingin mendengar nama yang berpotensi mengubah suasana hatinya menjadi buruk seketika.
"Udah jangan kebanyakan ngobrol, ayo jalan takutnya keburu hujan." Ujar Doyoung sambil menarik tangan yang lebih tinggi, keduanya berjalan menuju mobil yang terparkir di garasi depan, tidak lupa berpesan pada satpam jaga bahwa kemungkinan besar mereka akan pulang larut malam.
Netra Junghwan terfokus pada jalanan yang cukup ramai, sementara Doyoung malah terus menatapnya dari samping, mengagumi sosok suaminya yang ternyata jauh lebih tampan dibanding saat-saat pertama pertemuan mereka.
Sempurna, adalah kata yang tepat untuk menggambarkan Junghwan, bahkan kacamata yang menutup bagian wajahnya itu malah menjadi nilai tambah.
"Kamu tau gak, pas awal Junkyu hyung ngenalin calon suaminya ke rumah, dia bilang apa?" Doyoung memulai pembicaraan.
"Apa?" Tanya Junghwan.
"Katanya, aku gak akan bisa cari suami yang lebih ganteng dari suaminya, tapi kenyataannya aku malah nikah sama kamu sekarang."
Junghwan tertawa, ia menoleh ke arah Doyoung yang terus menatapnya di sebelah. "Jadi menurut kamu, aku lebih ganteng dari Haruto hyung?"
"Jelas dong!" Jawab Doyoung semangat, "Bahkan di penerangan seadanya kayak gini aja, ganteng kamu gak berkurang sama sekali." Puji Doyoung lagi dengan mata berbinar.
Ucapan manis suaminya berhasil membuat Junghwan salah tingkah, ia mengalihkan pegangannya dari persneling menuju sebelah tangan Doyoung, mengaitkan jemari mereka lalu mengecup punggungnya sebelum dibawa ke sisi wajah.
"Belajar di mana sampe bisa gombal gini?" Tanya Junghwan.
"Gak gombal ya, aku ngomong jujur. Aku juga yakin kalau semua karyawan di kantor kita setuju."
"Setuju apa?"
"Setuju kalau kamu itu karyawan paling ganteng."
Obrolan mereka terpaksa berhenti karena mobil yang Junghwan bawa akhirnya sampai ke tujuan, tadinya mereka hendak berkencan di sungai Han tetapi Doyoung menolak. Ia menyarankan Myeongdong sebagai alternatif karena sedang ingin membeli makanan yang dijual di sana.
Tentu Doyoung pernah menginjakkan kakinya ke salah satu tempat paling ramai yang ada di Korea, tetapi ini pertama kalinya ia membawa pasangan. Berkencan di tempat yang dipenuhi banyak orang adalah salah satu keinginan terbesarnya.
Sambil bergandengan tangan, keduanya berjalan menyusuri berbagai penjual makanan.
"Mau itu, boleh gak?" Tanya Doyoung sambil menunjuk buah yang dibalut gula cair. tokonya nampak sangat ramai dan memiliki banyak pembeli, tetapi ia merengut saat melihat suaminya menggeleng kuat.
"Nanti batuk, lagian kamu alergi stroberi."
"Gapapa kalau cuma satu, nanti kamu yang makan sisanya."
Tetapi Junghwan tetap teguh pada pendirian, ia malah berjalan menuju kedai kecil yang menjual bungeoppang. Roti hangat berisi kacang merah itu nampak menggoda, namun Doyoung tidak tertarik sama sekali.
"Gak mau." Ucapnya ketus, "Kalau kamu mau yaudah beli buat sendiri aja."
Junghwan menghela napas, ia akhirnya meminta Doyoung untuk menunggu di depan kedai penjual minuman sementara dirinya pergi membeli makanan yang suaminya inginkan.
"Jangan lama-lama." Perintah Doyoung setelah Junghwan memberikannya segelas cokelat hangat.
"Iya sayang." Jawab Junghwan sembari memasangkan muffler di leher yang lebih kecil.
Butuh waktu hampir tiga puluh menit bagi Junghwan untuk mendapatkan makanan yang Doyoung pesan, bahkan minuman Doyoung serta es krim yang diam-diam ia beli juga sudah habis begitu Junghwan kembali ke tempatnya menunggu.
"Enak?" Tanya Junghwan saat Doyoung mulai mengunyah, ia mengangguk semangat lalu menyandarkan kepala ke atas bahu lebarnya.
"Banget, makasih Junghwan." Ucap Doyoung dengan nada manja.
Setelah menghabiskan makanan, keduanya kembali berjalan menyusuri berbagai penjual makanan, namun baru beberapa menit mereka di luar, hujan deras tiba-tiba turun dan refleks Junghwan menarik tangan Doyoung untuk berteduh di salah satu toko.
"Pulang aja ya? Dingin banget gini, biar aku ambil mobil." Pinta Junghwan, tetapi Doyoung menggeleng.
"Kalau mau ke mobil bareng, aku gak mau ditinggal sendirian."
"Tapi masih hujan."
"Kita bisa beli payung dulu di... situ!" Ucap Doyoung sambil menunjuk toserba yang ada di seberang mereka.
"Yaudah kalau gitu kamu tunggu—"
"Gak mau, aku mau ikut bareng kamu."
Junghwan kembali menghela napas, rasanya seperti berjalan bersama anak kecil yang akan menangis keras jika keinginannya tidak dipenuhi.
Dengan sangat terpaksa, keduanya berlari menuju toko seberang. Setelah membeli payung yang untungnya masih tersisa satu, akhirnya mereka berjalan ke mobil yang diparkir di salah satu basement pusat perbelanjaan besar.
"Dingin kan?" Tanya Junghwan yang melihat Doyoung terus menggosokkan kedua tangan dan sesekali meniupnya.
Penghangat kendaraan padahal sudah dinyalakan tetapi rasanya masih kurang, Junghwan yang tadinya duduk di belakang kemudi kini keluar untuk membuka pintu belakang, "Sini." Ucapnya, memberi tanda agar Doyoung ikut pindah.
Sambil mendengus Doyoung masuk lalu duduk di sebelah Junghwan, dan ia nyaris berteriak saat suaminya menarik tubuhnya untuk dipeluk erat.
"Kamu jangan marahin aku terus dong." Protes Doyoung sembari ikut memeluk tubuh yang lebih tinggi, menggosok pipinya yang dingin ke atas dada bidang yang terbalut pakaian.
"Ya harusnya kamu yang jangan bandel terus." Omel Junghwan, "Nanti kalau sakit gimana? Nanti orang tuamu marah karena aku gak becus jaga anak mereka."
"Mereka gak akan berani marahin kamu."
"Kenapa gitu?"
"Kalau mereka marahin kamu, aku bakal marahin balik. Emang mereka pikir mereka siapa bisa ngomelin suamiku?" Ucap Doyoung, ia mengeratkan pegangannya pada tubuh Junghwan, tangannya juga mulai bergerak masuk ke dalam pakaian yang Junghwan kenakan lalu menggosok punggungnya.
"Hangatnya..." Ucapnya lagi sambil menempelkan wajah ke kulit leher Junghwan, menarik napas dalam-dalam di sana.
Perbuatan Doyoung membuat jantung Junghwan berdegup tidak karuan, ia menelan ludah, berusaha menahan hasrat yang mulai melonjak karena dekatnya jarak mereka.
"Doyoung..." Panggil Junghwan saat Doyoung malah menciumi lehernya.
"Mhm?"
"Ngapain?"
"Mau bikin tanda di leher kamu juga."
Dapat Doyoung rasakan tangan Junghwan yang mencengkram pakaiannya saat lidahnya bergerak untuk menjilat kulitnya, menghisapnya kuat hingga menimbulkan tanda serupa dengan yang ada di lehernya juga.
"Hyung, Junghwanie hyung." Panggil Doyoung dengan suara pelan ketika ia selesai membuat beberapa tanda merah di leher Junghwan.
Junghwan menoleh ke bawah, menatap Doyoung yang terus memeluk erat tubuhnya.
"I love you," Bisik Doyoung sebelum sedikit naik untuk mencium bibir penuh suaminya.
Dan kali ini Junghwan tidak dapat menahan, ia membalas ciuman Doyoung, sebelah tangannya juga bergerak untuk meraba leher orang yang masih ada di rengkuhannya, menghantarkan sensasi aneh pada tubuh mereka.
Lenguhan pelan keluar dari mulut yang lebih kecil kala lidah Junghwan bergerak masuk, menyapa seluruh isi mulut sebelum membelai miliknya yang kemudian ikut menari di sana.
Suaranya makin keras ketika Junghwan menghisap lidahnya dengan cukup kuat, menimbulkan bunyi kecipak basah yang menggema di mobil kecil tersebut.
Doyoung terkesiap saat Junghwan mengangkat tubuhnya untuk duduk di atas pangkuan tanpa melepas pagutan, kedua tangannya kini melingkar di belakang leher suaminya, mencengkram rambutnya begitu Junghwan kembali menghisap bibir atas dan bawahnya bergantian.
Cuaca dingin kini dikalahkan dengan panas yang terus menguar dari sela tubuh mereka, Junghwan dapat merasakan keringat mulai keluar di kedua sisi wajahnya.
Tangan Junghwan mulai melepas luaran yang Doyoung kenakan, menyisakan turtle neck ketat yang membalut tubuh bagian atasnya.
"Can I ripped this off?" Tanya Junghwan sambil menatap Doyoung dengan raut penuh nafsunya dari bawah.
"Here? No." Tolak Doyoung, kedua tangannya beralih untuk menangkup wajah Junghwan. "Control yourself, Mr. So. Kita masih di parkiran mal."
"Should we checked in at the nearest hotel from here?" Tanya Junghwan lagi, dan kali ini berhasil membuat Doyoung tertawa.
"Let's just go home, okay? And please calm your little brother first." Ledek Doyoung sambil menggerakkan pinggul, sengaja menyenggol sesuatu di bagian bawah tubuh Junghwan yang mengeras sejak ia naik ke pangkuannya.
"Can you help me?" Tanya Junghwan tepat di telinganya, dan berhasil membuat Doyoung meneguk ludah.
Ia tidak pernah bertindak sejauh itu pada siapapun termasuk mantan kekasihnya, tetapi Doyoung juga tidak tega untuk menolak permintaan Junghwan.
Ketukan keras di jendela membuat fokus mereka teralihkan, Doyoung bernapas lega saat melihat penjaga yang sepertinya curiga atas tindakan mereka.
Junghwan keluar, menjelaskan bahwa mereka adalah pasangan yang sudah menikah sebelum meminta maaf dan langsung membawa mobil keluar dari parkiran.
"Kamu sih." Omel Doyoung sambil mendorong bahu yang lebih tinggi.
"Kok aku? Kamu yang harusnya disalahin."
"Loh emang aku ngapain? Kamu yang peluk aku duluan!" Protes Doyoung tidak terima.
Mobil berhenti di belakang lampu merah, membuat Junghwan akhirnya menatap suaminya yang memasang raut polos di sebelah.
"Jangan panggil aku pakai sebutan itu lagi."
"Sebutan apa? Suamiku?"
"Bukan, yang di parkiran tadi."
"Oh, Junghwanie hyung?" Tanya Doyoung memastikan, dan Junghwan mengangguk.
"Why? Kan kamu emang lebih tua dari aku?"
"Pokoknya jangan."
"But why? Don't tell me that you get horny when I call you with that name?"
Junghwan diam, kembali fokus dengan kendaraan dan tidak berniat menanggapi ledekan Doyoung.
"Junghwanie hyung?" Ucap Doyoung dengan nada manja, sengaja memancing suaminya.
"Be quiet before I bring you to the nearest hotel and ripped your shirt off, So Doyoung."
...
kalo kalian kira besok mereka bakal bikin bayi maka tebakan kalian salah, ada badai kecil yang menunggu muehehehe
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com