Chapter XVI
"Tadi Junkyu ke sini katanya mau ambil berkas penting, dan dia juga titip pesan supaya langsung hubungin dia kalau kalian pulang."
Netra Doyoung membola, begitu satpam yang ada di depannya selesai bicara, ia langsung berlari menuju ruang kerja tanpa memedulikan Junghwan yang ikut menyusulnya di belakang.
"Kenapa?" Tanya Junghwan bingung, Doyoung tidak menjawab karena masih sibuk mencari sesuatu di meja kerjanya. "Kenapa sih?" Tanya Junghwan lagi.
"Kontrak kita, gimana kalau Junkyu hyung nemuin itu tadi?"
Junghwan menghela napas, ia berjalan menuju laci yang ada di bagian bawah lemari besar di sudut ruangan. "Udah aku pindahin ke sini. Untung tadi siang aku sempet masuk dan beresin meja kerjamu."
"Coba kamu periksa, posisinya beneran gak berubah?" Tanya Doyoung, berusaha memastikan.
Dan Junghwan menggeleng, "Nggak, lagian dia gak mungkin periksa sampe sini."
Doyoung hampir bernapas lega sampai tiba-tiba ponselnya berdering keras, mengalihkan perhatian mereka sekaligus membuat detak jantungnya nyaris berhenti saat melihat nama Junkyu terpampang jelas di layar.
"Junkyu hyung gak akan ngebunuh aku kan?" Ucap Doyoung dengan suara bergetar, walau masih takut, ia akhirnya menggulir layar, mengarahkan ponsel ke telinga sembari berdoa agar ketakutannya tidak menjadi kenyataan.
"Kamu di mana? Udah pulang?" Tanya Junkyu tepat setelah Doyoung mengangkat panggilan.
"Rumah, baru pulang."
"Masih jam segini, nyusul aku aja? Aku lagi sama Haruto di Incheon."
"Ngapain?"
"Date? Sekalian bonding, Haruto katanya mau ngobrol banyak sama suamimu."
Junkyu menyebutkan alamat restoran, dan setelah menjelaskan perintah kakaknya pada Junghwan dengan bahasa isyarat seadanya, mereka akhirnya setuju untuk menyusul ke sana.
"Beneran gak bilang apa-apa?" Tanya Junghwan ketika Doyoung menjauhkan ponsel dari telinga.
"Nggak, tapi aku takut. Gimana kalau panggilan tadi cuma jebakan? Gimana kalau kita bakal diomelin habis-habisan?" Jawab Doyoung sambil duduk di kursi dan menyandarkan kepalanya frustasi.
"Ya tinggal jelasin aja?"
"Gak semudah itu! Meskipun sekarang kita udah saling suka, tapi Junkyu hyung juga gak mungkin gampang percaya." Protes Doyoung, ia juga mulai mengacak rambutnya sendiri.
Memang seharusnya ia bakar surat perjanjian sialan itu sejak awal.
"Yaudah sekarang kita datengin dulu, okay? Kamu jangan panik, everything's gonna be fine dan aku bakal tanggung jawab kalau emang mereka udah tau soal kontrak itu."
Doyoung menatap Junghwan yang sedikit menunduk untuk menyamakan tinggi mereka, sekaligus terus berusaha menenangkannya. Setelah mengatur napas, ia akhirnya bangkit dari kursi dan melepas syal di lehernya lalu memakaikannya ke leher Junghwan.
"Bekasnya keliatan banget, aku baru sadar." Ucap Doyoung sambil berusaha menahan senyuman. Ia sendiri tidak menyangka bahwa moodnya bisa secepat ini berubah.
"Bekas apa?" Tanya Junghwan bingung.
"Tanda yang aku bikin tadi." Jawab Doyoung, ia sedikit berlari keluar dari ruangan karena takut Junghwan ingat dengan kegiatan yang mereka lakukan hingga ditegur satpam di parkiran.
Butuh waktu hampir setengah jam hingga mobil yang Junghwan bawa akhirnya sampai ke tujuan, restoran yang Junkyu maksud ternyata sangat dekat dengan kantor pengacara tempat Haruto bekerja.
"Kamu masuk duluan, aku mau ke toilet sebentar." Ucap Doyoung sambil sedikit mendorong tubuh Junghwan, efek terlalu banyak berpikir membuatnya sakit perut dan Doyoung tidak mau menahannya semalaman.
Begitu keluar dari bilik kamar mandi, Doyoung terkejut saat menemukan Hyunmin yang baru ingin masuk ke dalam toilet. Dibanding bergerak mundur, ia lebih memilih untuk terus berjalan, namun langkahnya berhenti saat laki-laki yang tubuhnya cukup besar itu justru menarik tangannya dengan kuat.
"Kim? Ngapain kamu di sini?"
Doyoung tidak ada niat untuk menjawab, ia berusaha melepas cengkraman Hyunmin di tangannya tetapi rasanya sia-sia.
"Lepas." Perintah Doyoung, netranya menguar dan ia nyaris menangis saat tidak melihat sosok familiar di sekitar.
"Jawab dulu pertanyaanku, dan kenapa kamu sendirian? Gak sama suamimu?"
"Lepas atau aku teriak." Ancam Doyoung, tetapi Hyunmin justru tertawa.
"Teriak dan berakhir dituduh gila?" Jawabnya sambil sedikit mendorong tubuh Doyoung ke tembok yang ada di belakang.
Sebelah tangan Doyoung yang bebas merogoh kantong outer dan ia berdecak ketika tidak dapat menemukan ponselnya di sana. Suasana di lantai satu restoran terbilang sepi karena pengunjung lebih banyak memilih untuk duduk di lantai dua, ia bahkan tidak dapat meminta tolong pada pegawai yang lewat karena kebanyakan adalah wanita.
"Ada suamiku di atas, kakak sama iparku juga." Ucap Doyoung lagi, masih berusaha mengancam Hyunmin agar ia melepasnya.
"Loh bagus dong, kita jadi bisa ngobrol kayak pas pacaran dulu?"
Tangan Hyunmin yang bebas bergerak, hendak menyentuh wajah Doyoung, namun dengan cepat ia menghindar dan malah memukul pipi orang di depannya kuat-kuat.
Tetapi kekuatannya ternyata tidak sebesar itu, setelah sadar dengan apa yang Doyoung lakukan, Hyunmin ikut menampar keras sisi wajahnya. Doyoung jatuh tersungkur, telinganya berdenging kuat dan sensasi panas langsung menjalar di kepala.
Hyunmin hendak melayangkan pukulan lainnya, namun ia malah terjatuh ke depan karena tendangan keras dari belakang.
"Junghwan!"
Suara teriakan Junkyu membuat Doyoung sadar, ia menoleh ke samping dan menemukan suaminya yang kini sibuk memukuli Hyunmin yang tergeletak di bawah kakinya.
Semua terjadi begitu cepat, Haruto menarik tubuh Junghwan dengan susah payah, melerai pertengkaran yang jelas dimenangkan olehnya karena wajah Hyunmin sudah babak belur karena ulahnya.
"What the fuck are you doing!" Omel Haruto pada iparnya, tetapi Junghwan tidak menjawab, fokusnya beralih pada Doyoung yang berusaha berdiri sambil terus memegang sisi wajahnya.
"Does it hurt a lot? I'm sorry." Ucap Junghwan dengan suara bergetar, tangannya yang penuh luka kini bergerak untuk mengusap sudut bibir Doyoung yang terdapat darah di sana.
Junghwan menatap Doyoung dengan penuh rasa bersalah, seharusnya ia tidak meninggalkan suaminya sendirian, seharusnya ia datang lebih cepat, seharusnya Junghwan bisa melindungi Doyoung lebih baik dari ini.
Doyoung menggeleng sambil meraih tangan Junghwan untuk dibawa ke dalam genggaman. "Aku mau pulang." Pintanya dengan suara pelan, Junghwan mengangguk dan langsung menariknya untuk berjalan menuju pintu keluar.
"Mau ke mana kalian? Minta maaf dulu sama Hyunmin."
Itu suara Junkyu, tetapi Doyoung sama sekali tidak memiliki tenaga untuk menjelaskan dan fokus Junghwan hanya untuk membuat suaminya tenang.
"Kita bahas nanti." Ucap Junghwan tanpa menoleh sama sekali, dan si brengsek Hyunmin justru berkata bahwa ia baik-baik saja sambil menenangkan sahabatnya.
***
Tidak ada obrolan selama perjalanan menuju rumah, tiap Junghwan melempar pertanyaan, ia selalu dijawab dengan gelengan pelan orang yang duduk di sebelah.
Nyaris tengah malam saat kendaraan yang Junghwan bawa akhirnya sampai ke tujuan, Doyoung langsung turun dari mobil sementara Junghwan terus mengikutinya di belakang.
Junghwan berdecak saat Doyoung mengunci pintu kamar utama dari dalam, mungkin suaminya butuh waktu sendirian tetapi itu justru membuat Junghwan makin tidak tenang.
Samar ia dengar suara tangisan dari dalam kamar, kebiasaan yang sempat hilang kini kembali lagi. Dibanding mengeluh pada orang lain dan menceritakan semua kesulitan, Doyoung selalu memilih untuk memendamnya sendirian.
"Doyoung..." Panggil Junghwan setelah mengetuk pintu. "Doyoungie, please buka pintunya." Ucapnya dengan nada memohon. Tetapi tangisan Doyoung justru makin keras, dari suaranya Junghwan yakin bahwa posisi Doyoung berada tidak jauh dari pintu.
"Sayang, please let me in." Mohon Junghwan lagi, "Aku gak bisa diem aja denger kamu nangis gini."
Junghwan sedikit mundur saat mendengar suara kunci yang diputar dari dalam, dan hatinya berdenyut ketika melihat sosok Doyoung yang berdiri di hadapan dengan wajah memar serta dipenuhi air mata.
"God," Ucap Junghwan frustasi, ia menarik tubuh yang lebih kecil untuk masuk ke dalam dekapan, membiarkan Doyoung menangis keras sambil memeluknya erat-erat.
"I'm sorry... I'm sorry." Ujar Junghwan berulang kali, tanpa sadar air mata ikut turun membasahi wajahnya saat tangis Doyoung makin kuat.
Doyoung menggeleng, ia berusaha mengatur napas sebelum menarik kepalanya dari dada Junghwan, menatap wajah suaminya dengan pandangan buram karena air mata yang masih menggenang di tiap sudutnya.
"Bukan salah kamu, aku yang gak bisa jaga diri." Ucap Doyoung dengan suara samar, pipinya masih sakit dan luka di sudut bibirnya membuatnya sulit untuk bicara.
Sebelah tangan Junghwan bergerak menuju dagu Doyoung, sedikit mengangkatnya untuk melihat lebih jelas luka yang ada di wajahnya.
"Sakit ya?" Tanyanya, dan Doyoung mengangguk. "Aku bantu obatin ya?" Tanya Junghwan lagi, dan Doyoung kembali mengangguk setuju.
Junghwan mengecup lembut kening Doyoung dan menuntun suaminya agar duduk di pinggir ranjang kamar utama, berlari ke bawah untuk mengambil semua keperluan lalu kembali berlari ke kamar dan duduk di sebelahnya.
Ia menggunakan cotton bud yang sudah dibasahi oleh obat merah untuk dioleskan di sekitar luka bibir Doyoung, menatapnya ngeri walau Doyoung tidak bereaksi sama sekali.
"Nggak perih?" Tanya Junghwan, dan Doyoung menggeleng pelan.
Setelah memastikan lukanya tertutup, Junghwan meraih kompres dingin yang juga ia ambil dari bawah, menempelkannya dengan hati-hati ke pipi suaminya.
"Biar memarnya cepat hilang." Ucap Junghwan, ia tersenyum saat Doyoung ikut memegang tangannya, mengusap luka di sekitar punggungnya yang tidak terasa sakit sama sekali karena sudah dibersihkan tadi.
"Aku ngantuk," Ucap Doyoung tiba-tiba sambil mengusap mata.
Doyoung terlalu banyak menangis hingga matanya lelah, Junghwan mengangguk dan memintanya untuk berganti pakaian sebelum naik ke ranjang, sementara dirinya mengembalikan semua alat yang ia bawa ke bawah serta mengganti pakaiannya di sana.
Begitu kembali ke kamar, Junghwan menemukan Doyoung yang sudah berbaring di atas ranjang kamar utama. Ia duduk di sisi kosong sebelahnya, mengusap lembut kening suaminya yang terus diam seakan enggan bicara.
"Mau tidur sendirian?" Tanya Junghwan dengan suara pelan, dan Doyoung menggeleng.
"Mau sama kamu," Jawabnya, Junghwan tersenyum sebelum ikut berbaring tepat di sampingnya.
Doyoung menyandarkan pipinya yang tidak terdapat luka di atas dada Junghwan, mendengar debar jantung suaminya yang cukup kuat tanpa bicara apa-apa.
Sementara Junghwan mengusap kepalanya dengan lembut, berusaha menyalurkan kasih sayang melalui sentuhan pelan.
"Maaf," Ucap Doyoung tiba-tiba.
"Kenapa minta maaf? Emang kamu buat salah?" Tanya Junghwan heran.
"Aku gak bisa jaga diri, padahal aku laki-laki tapi aku masih diem aja pas dipukul sama dia." Ucap Doyoung lagi dengan penuh penyesalan.
Rasanya ia ingin menangis lagi, tetapi netranya panas karena terlalu banyak mengeluarkan air mata, dan dirinya juga tidak ingin membuat Junghwan makin merasa bersalah.
"Gimana kalau kita tuntut—"
"Nggak, aku gak mau berurusan lagi sama dia." Tolak Doyoung sambil mendongak untuk menatap wajah Junghwan. "Ditambah kamu juga udah pukul dia tadi, jadi anggap aja semuanya impas."
Junghwan mengangguk karena tidak ingin mendebat suaminya, "Yaudah kalau gitu sekarang tidur, katanya ngantuk?"
Doyoung kembali menyandarkan kepala di atas dada Junghwan, memeluk erat tubuhnya dan mulai memejamkan mata. Sementara Junghwan meraih ponsel miliknya yang ada di atas meja, membaca rentetan pesan penuh amarah yang iparnya kirim lalu membalasnya dengan janji pertemuan tanpa Doyoung ikut serta.
Karena jika Doyoung tidak ingin melaporkan kelakuan brengsek mantan kekasihnya, maka Junghwan yang akan membeberkan semuanya.
...
ih ternyata gak bisa bikin konflik internal wkwkwk biarlah pasangan ini jadi bucin sampe akhir cerita
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com