Truyen2U.Net quay lại rồi đây! Các bạn truy cập Truyen2U.Com. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter XVII

Karena terlalu banyak menangis tadi malam, Doyoung bangun terlambat pagi ini. Nyaris pukul sepuluh ketika ia akhirnya membuka mata, dan begitu menyadari bahwa Junghwan tidak ada di sampingnya, seketika dirinya beranjak dari ranjang untuk mencari sosoknya.

Tadinya Doyoung pikir Junghwan sedang berada di kamar mandi, namun saat kesadarannya mulai terkumpul, samar telinganya dengar suara keributan dari lantai bawah.

Buru-buru Doyoung berjalan ke sumber suara, dan netranya membola ketika melihat suaminya sedang berhadapan dengan kakak serta Ibunya di ruang tengah.

Doyoung nyaris berteriak saat suara Junkyu makin tinggi di depan Junghwan, dengan cepat berlari untuk menengahi, tetapi sepertinya ia terlambat karena di pipi suaminya sudah terdapat tanda kemerahan bekas tamparan.

"Hyung ngapain?!" Omel Doyoung, ia mendorong mundur tubuh Junghwan agar menjauh dari Junkyu.

Ibunya juga berusaha menenangkan anak sulungnya, orang tua mana yang ingin melihat keributan dua anaknya di pukul sepuluh pagi?

"Kamu ditampar sama dia?" Tanya Doyoung pada Junghwan yang malah menarik tangannya.

"Nggak, Doyoung. Aku—"

"Iya, suamimu ini malah fitnah Hyunmin dengan bilang kalau dia sering pukulin kamu. Kita semua tau gimana baiknya mantan pacarmu itu dulu." Junkyu berusaha membela diri.

Emosi Doyoung kian meninggi, ia berjalan mendekat untuk berdiri di depan Junkyu, menatap wajah kakaknya yang sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah.

"Fitnah? Hyung tau apa soal aku dulu? Pas masih pacaran sama sahabatmu, aku emang sering dipukulin sama dia. Tapi aku gak pernah bilang ke orang rumah karena kalian terlalu sibuk, kalian cuma peduli sama rumah sakit dan urusan pribadi yang lain tanpa mau tau gimana kabarku yang hidup sendirian!" 

Napas Doyoung menderu, emosinya sudah tidak lagi dapat ia tahan. Tangannya bergerak mengusap wajahnya dengan kasar sekaligus menghapus air mata yang terus menumpuk di pelupuk.

"Dan apa yang hyung lakuin sekarang? Nampar suamiku? Hyung gak punya hak buat mukul Junghwan. Gimana kalau aku tampar Haruto hyung yang padahal gak punya salah apa-apa?! Hyung bakal diem aja?" 

Junkyu diam sementara Doyoung terus mengoceh di depannya, sedangkan Junghwan yang berdiri di belakang suaminya berusaha keras menenangkannya, walau nampak sia-sia sebab Doyoung terlihat belum selesai dengan semua amarahnya.

Ibu Doyoung yang tadinya berada di belakang Junkyu kini mulai melangkah maju, mendekati anak bungsunya yang baru kali ini meledak di hadapan mereka.

Tangis Doyoung pecah saat wanita paruh baya itu memeluknya, "Junghwan gak salah, Ma. Tadi malam juga Junghwan pukulin dia karena Hyunmin pukul aku duluan," 

Dapat Junkyu lihat bekas luka yang masih ada di sudut bibir adiknya, penyesalan seketika hinggap begitu ia menyadari bahwa cerita Junghwan tidak salah dan bukan fitnah belaka.

Sebelumnya ia mengira bahwa Junghwan hanya termakan rasa cemburu ketika melihat Doyoung bertemu dengan mantan kekasihnya, dan suaminya juga berpikir demikian sebab penerangan seadanya di depan toilet restoran.

"Yaudah sekarang kamu tenangin diri kamu dulu, biar hyung pulang aja, ya?" Ucap Ibunya, berusaha memberi solusi.

Tetapi Doyoung menggeleng kuat, ia kembali mengusap wajahnya lalu menatap kakaknya yang masih berdiri di depan.

"Minta maaf dulu sama suamiku." Pintanya, "Minta maaf karena udah pukul, marahin, dan fitnah dia juga tadi malam."

Junkyu mengangguk, ia meminta maaf pada Junghwan dan dengan mudahnya Junghwan memaafkan.

Kini keempatnya kembali duduk di sofa ruang tengah, Doyoung mulai tenang saat Junghwan memberinya minuman hangat dan terus mengusap tangannya yang ada di genggaman.

Hari minggu yang cerah malah diawali dengan insiden penuh emosi, baru kali ini Doyoung berteriak di depan keluarganya sendiri, ayah serta kakeknya pasti tidak akan percaya saat Junkyu atau Ibunya bercerita nanti.

"Aku gak pernah cerita ke siapapun termasuk ke Jihoon. Karena aku tau Hyunmin itu sahabat terbaik Haruto hyung yang bikin karirnya jadi sesukses sekarang. Aku masih inget gimana bahagianya Haruto hyung pas cerita soal dia dulu." 

"Posisi Hyunmin di firma juga lumayan tinggi, kan? Dia sering ancam aku dengan bilang kalau dia bakal dengan gampangnya bikin Haruto hyung dipecat misalnya aku cerita soal kelakuannya ke kalian."

Sebenarnya Doyoung sangat tidak ingin mengingat kembali kejadian buruk yang menimpanya beberapa tahun lalu, begitu banyak jalan yang harus ia lewatu hingga sampai ke titik sekarang ini, dan menghindari Hyunmin adalah langkah paling sulit yang dirinya tempuh.

Pekerja yang berjaga di depan rumahnya memiliki andil besar, ia terus mengusir laki-laki itu ketika datang dan berkata bahwa Doyoung sedang berada di rumah utama.

Satpam di kantornya juga bersikap demikian, mereka sampai hapal bagaimana gerak-gerik Hyunmin bahkan ketika si brengsek itu menutupi wajahnya dengan masker serta kacamata hitam.

"Maaf aku gak pernah cerita, tapi aku pikir semua masalahnya emang udah selesai karena sekarang aku udah punya Junghwan."

Junkyu dan Ibunya kembali meminta maaf, benar apa yang Doyoung bilang, mereka terlalu sibuk dengan urusan di rumah sakit sehingga tidak terlalu memerhatikan Doyoung yang sejak dewasa memilih untuk tinggal sendirian.

Ibunya bahkan mulai berpikir bahwa anak bungsunya terlalu cepat menikah, tidak seharusnya keluarganya justru memaksa agar ia cepat-cepat memiliki pasangan sementara dirinya sendiri justru masih kesulitan.

Mereka juga berterima kasih pada Junghwan karena telah menjaga Doyoung dan menjadi tempat paling nyaman, mereka tidak dapat membayangkan jika Doyoung justru menikah dengan Jaehyuk yang posisinya dijodohkan.

Kebahagiaan mungkin tidak akan datang secepat ini pada anak sekaligus cucu terakhir keluarga Kim.

"Istirahat dulu, besok gak usah ke kantor juga gapapa biar Junghwan sama Jihoon yang urus semuanya." Ucap Junkyu sambil memeluk tubuh adiknya. "Nanti hyung yang cerita ke Haruto, kamu gak perlu pikirin yang lain, maaf hyung udah salah paham ke suamimu tadi, maaf juga karena udah pukul dia." 

Doyoung mengangguk sambil membalas pelukan kakaknya, tidak lupa dirinya meminta maaf pada Ibunya karena sudah berteriak di depan semuanya tadi. Karena bagaimanapun, Doyoung adalah anak bungsu yang dibesarkan dengan baik walau tidak cukup baik juga oleh lingkungan keluarganya.

Mobil yang Junkyu bawa akhirnya keluar dari halaman rumah, Doyoung dan Junghwan kembali masuk ke dalam sambil berjalan beriringan.

Junghwan pikir Doyoung akan kembali ke kamar, tetapi suaminya itu malah duduk bersandar di sofa ruang tengah.

"Gak mau mandi? Atau mau makan dulu? Bu Yeom udah buat makanan sebelum pergi tadi, aku bawain ke sini aja ya?" 

Ucapan panjang lebar Junghwan malah Doyoung jawab dengan gelengan, ia justru memberi tanda agar Junghwan ikut duduk di sebelahnya.

"Kamu jangan diem aja kalau dimarahin sama keluargaku, atau siapapun itu." Omel Doyoung sambil mengusap pipi suaminya, "Sakit ya? Tadi merah banget tapi sekarang udah gak keliatan sih."

Junghwan tersenyum saat tangan Doyoung terus bergerak di wajahnya, dan berhasil membuat yang lebih kecil menatapnya heran.

"Kenapa?" Tanya Doyoung bingung.

"Gapapa, thank you udah bela aku depan keluargamu tadi. Aku juga gak nyangka bakal ditampar Junkyu." 

"Tuh kan! Next time kalau kamu diomelin sama keluargaku, gapapa kok kamu lawan kalau emang gak salah."

Dan Junghwan mengangguk sambil ikut memegang tangan Doyoung yang masih betah di wajahnya. "But still, thank you suamiku." Ucap Junghwan dengan nada manja.

Doyoung ikut mengangguk, menggenggam erat tangan Junghwan lalu mengecup sebelah pipinya.

"I love you, aku akan bela kamu di depan siapapun, gak akan ada yang bisa marahin atau ngeremehin kamu selama ada aku."

Pernikahan yang diawali dengan kontrak kerjasama atas persetujuan mereka, justru membawa keduanya ke tahap paling serius yang bahkan tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Junghwan kira hidupnya berhenti saat orang tuanya meninggal dunia, dan Doyoung pikir ia tidak akan bisa menjalin hubungan dengan siapapun lagi setelah lepas dari mantan kekasih brengseknya.

Namun di sinilah mereka sekarang, saling mengusahakan kebahagiaan paling besar untuk pasangan. Junghwan tidak segan untuk memukul siapapun yang menyakiti Doyoungnya, dan Doyoung yang tidak akan kehabisan akal untuk membela suaminya.

***

"Kiriman dari Junkyu, flightnya dua hari lagi jadi kalian punya waktu buat siap-siap." 

Di tangan Doyoung terdapat dua tiket pesawat pulang pergi, serta bukti pembayaran pemesanan hotel paling mewah yang ada di Jeju.

"Dia tau kalau kamu gak akan mau disuruh bulan madu ke luar negeri, makanya aku kasih saran buat ke Jeju aja, satu minggu cukup kan?"

"Cukup... buat apa?" Tanya Doyoung bingung, ia bahkan masih belum selesai memproses semua kejutan yang mantan sekertarisnya bilang.

Kakak serta iparnya mengirim tiket pesawat serta akomodasi lengkap untuk bulan madu, dan ia harus berangkat lusa? Urusan kantor memang sudah tidak sebanyak sebelumnya, tetapi apa Jihoon sanggup menanganinya sendirian tanpa ia dan Junghwan?

"Buat bikin bayi, lah! Udah sebulan kalian nikah masa belum keliatan juga sih? Biar calon anakku ada temennya."

Doyoung nyaris memukul mulut Jihoon dengan papan ketik yang ada di atas meja kalau saja Junghwan tidak masuk ke dalam ruang kerjanya.

"Yeobo, Junkyu barusan telfon, katanya kamu udah terima belum hadiahnya?" Tanya Junghwan yang tidak menyadari bahwa Jihoon tengah berdiri di samping meja suaminya.

"Udah, baru aku terima. Kok dia malah telfon kamu sih?" Protes Doyoung sambil memeriksa ponselnya yang tidak mendapat panggilan dari kakaknya.

"Entah, tapi Junkyu jadi lebih sering hubungin aku buat tanya kabarmu." Jelas Junghwan, ia memeriksa beberapa berkas yang ada di meja Doyoung dan baru menyadari bahwa ada orang lain juga di sana. "Loh, Pak Park?" 

Jihoon melambaikan tangan pada suami sekaligus sekertaris pribadi atasannya, ia pun pamit setelah memastikan Doyoung paham dengan apa yang Junkyu titipkan padanya.

"Dua hari lagi kita ke Jeju."

"Ngapain? Kantor cabang sana ada masalah lagi?"

Doyoung menggeleng sambil mendorong amplop berisi hadiah dari kakaknya. 

"Hadiah sekaligus tanda permintaan maaf karena udah nampar kamu dari Junkyu hyung dan suaminya, bulan madu satu minggu ke Jeju."

Seharusnya Doyoung senang, tetapi liburan tanpa rencana ini datang di waktu yang kurang tepat. Proses pemindahan nama aset dari kakeknya ke nama Doyoung masih berlangsung, ada beberapa pihak yang tentu tidak menyukai pergantian posisi pemilik meski Doyoung sudah bertahun-tahun memimpin perusahaan.

Ia takut saat dirinya dan Junghwan pergi, masalah justru hadir tanpa bisa orang lain tangani.

Tetapi perasaan itu menguap saat Doyoung melihat Junghwan menatapnya dengan mata berbinar. 

"Kita harus beli persiapannya pas pulang kantor nanti, gimana? Atau gak usah? Kita pakai barang yang udah ada aja?" 

Baru kali ini Doyoung melihat Junghwan bersemangat, sepertinya suaminya sudah terlalu lelah dengan semua pekerjaan yang mereka urus tanpa henti sejak menikah awal bulan kemarin.

Raut Doyoung seketika berubah, ia ikut menatap suaminya dengan wajah cerah. "Beli yang baru, dong! Kayaknya kita belum punya padding couple? Beli baju pantai juga! Masa ke Jeju gak main ke pantainya?"

Dan sore itu keduanya habiskan dengan membicarakan berbagai keperluan serta aktivitas yang akan mereka lakukan selama liburan. Dua hari lagi, Junghwan dan Doyoung harap agenda bulan madu mereka akan berjalan sesuai dengan rencana.









...

bulan madu artinya apa yeorobun? benar... bikin bayi!!! bahagia sebelum konflik lainnya menyusul hehehe

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com