Chapter XVIII
cw / tw ; jorok beud, making <3
Doyoung sedikit mendongak ketika Junghwan menaikkan resleting jaket yang ia kenakan hingga menutupi bagian lehernya.
"Dingin, nanti malah sakit padahal liburannya baru mulai." Ucap Junghwan sambil mengusap sisi wajah suaminya.
Mereka sudah sampai Jeju beberapa saat lalu, saat ini keduanya berjalan menuju tempat penyewaan kendaraan yang sudah dipesan oleh Junkyu agar adik serta iparnya tidak kesulitan selama satu minggu berada di sana.
"Pasang yang bener dong seatbeltnya." Perintah Junghwan sambil mengeratkan sabuk pengaman yang Doyoung gunakan.
"Kamu tuh sekarang bawel banget tau gak." Keluh Doyoung, ia sedikit muak dinasehati berkali-kali oleh Junghwan. "Dari berangkat tadi pagi, sampai barusan tuh aku diomelin terus." Lanjutnya.
Dibanding protes, Junghwan malah tertawa. Netranya berusaha fokus dengan jalanan yang tidak terasa familiar di depan, berusaha menghafal rambu-rambu yang menuntunnya menuju penginapan yang Junkyu siapkan.
"Aku cuma gak mau kamu sakit, sayang." Jawab Junghwan dengan suara lembutnya, tetapi tidak cukup untuk membuat perasaan kesal Doyoung berkurang.
"Pokoknya pas sampai, aku mau langsung ke pantai." Ucap Doyoung, ia menoleh ke jendela di samping kanan, memandang hamparan lautan yang terlihat jelas dari jalan raya.
"Iya, agenda hari ini kan emang cuma ke pantai belakang hotel."
Kendaraan yang Junghwan bawa akhirnya berbelok ke salah satu bangunan paling mewah di sana, menginap di hotel bintang lima dengan fasilitas lengkap tentu bukan hal kecil bagi Junkyu yang memiliki banyak uang.
Tidak lebih banyak dari Doyoung tentunya, tetapi siapa yang tidak menyukai barang gratis di sini?
Ruangan paling luas dengan kamar tidur terpisah, bathtub besar yang ada di pojok kamar mandi, ruang tengah dengan tv berukuran besar di depan sofa. Tempat ini bahkan jauh lebih besar dibanding apartemen yang sebelumnya Junghwan sewa.
"Wah..." Puja Doyoung tanpa sadar begitu netranya menangkap pemandangan dari balkon kamar, hamparan laut yang ia lihat di jalan tadi sangat tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan ini.
Doyoung terkejut saat tangan besar Junghwan melingkar di perutnya, suaminya memeluk tubuhnya dari belakang, sedikit menunduk untuk menyandarkan dagunya ke atas bahu.
"Mau istirahat dulu atau langsung ke bawah?" Tanya Junghwan dengan suara pelan, napasnya terasa jelas di leher Doyoung dan berhasil membuat tengkuknya meremang.
"Jam berapa sekarang?"
"Hampir jam tiga, atau makan dulu aja ya? Biar agak sorean sekalian liat sunset."
Untungnya Doyoung setuju hingga Junghwan tidak perlu mengomelinya lagi, mereka memilih untuk makan siang di restoran hotel, karena terlalu malas mencari restoran terpisah yang belum tentu rasanya sesuai dengan selera.
Setelah makan, keduanya berganti pakaian yang lebih santai juga mengenakan sandal yang mudah dilepas agar tidak menyulitkan ketika berjalan di atas pasir.
Cuaca akhir bulan Januari masih terasa dingin di Jeju meski tidak lagi turun salju, membuat Doyoung tidak berani berada terlalu dekat dengan air.
Namun bukan Junghwan namanya kalau tidak memiliki akal untuk menjahili suaminya, ia yang berjalan di sisi paling dekat dengan laut sesekali mencipratkan air ke arah Doyoung dengan kakinya.
"Basah, ih!" Protes Doyoung sambil berlari menjauh dari Junghwan, ia bahkan melepas sandal yang dirinya kenakan karena Junghwan seolah enggan berhenti bertingkah.
"Loh ngapain ke pantai kalau gak mau basah?"
Celana pendek yang Doyoung gunakan nyaris basah sepenuhnya, ia yang kesal dengan jawaban Junghwan seketika mencari cara untuk membalas perbuatannya.
Masih dengan kaki yang tidak menggunakan sandal, ia berjalan mengendap ke belakang Junghwan yang tengah berdiri menghadap lautan. Posisinya hampir sampai namun tiba-tiba, kakinya terasa perih karena menginjak benda tajam yang tidak terlihat di antara tumpukan pasir.
Tadinya Doyoung pikir, kakinya tidak akan terluka. Tetapi sensasi perih makin menjadi ketika ombak kecil datang dan membasahi kaki.
Suara desis kesakitan akhirnya sampai ke telinga Junghwan, ia berbalik dan menghampiri suaminya yang kini duduk di atas pasir.
"Kenapa?" Tanyanya dengan nada panik.
"Kayaknya nginjek sesuatu deh." Jelas Doyoung sambil melihat kakinya yang berdarah.
"Tuh kan, lagian kenapa dilepas sih sendalnya?"
Omelan Junghwan terdengar jauh lebih menyakitkan dibanding luka di kakinya, Doyoung tidak menjawab dan malah menunduk sambil berusaha menahan perih tanpa menatap Junghwan sama sekali.
"Kita balik ke hotel aja." Ucap Junghwan, ia berjongkok di depan Doyoung, memberi tanda agar suaminya naik ke atas punggung.
Tetapi Doyoung tidak menurut dan malah menendang tubuh Junghwan dengan kaki satunya. "Gak mau, kamu ngomelin aku terus seharian ini. Sana kamu pergi."
Junghwan menghela napas, ia akhirnya bangkit dan memilih untuk langsung mengangkat tubuh Doyoung dengan kedua tangan.
Refleks Doyoung melingkarkan tangannya ke belakang leher Junghwan saat Junghwan mulai berjalan kembali ke hotel yang mereka sewa, padahal ia sangat ingin meronta tetapi dirinya juga tidak ingin terjatuh dan malah menimbulkan luka baru.
Tidak ada yang bicara selama perjalanan menuju kamar, Doyoung yang masih merajuk, dan Junghwan yang berusaha merangkai kata di kepala untuk meminta maaf pada suaminya.
Junghwan meminta Doyoung duduk di sofa sementara ia mencari perlengkapan p3k yang untungnya ada di dalam lemari, juga meraih wadah yang diisi dengan air bersih sebelum akhirnya kembali ke ruang tengah.
Doyoung masih enggan bicara selama Junghwan membersihkan kaki dan mengobati lukanya di sana, menatap dalam diam ujung kepala suaminya yang terus menunduk di hadapan.
Dan ia terkejut saat Junghwan mencium luka kakinya yang sudah tertutup plester.
"Kok dicium sih, kotor?!" Protes Doyoung, tetapi Junghwan malah menggeleng.
"Biar lukanya cepet sembuh." Jawab Junghwan sambil memasang senyum bodoh di wajahnya.
Sepertinya Doyoung memang tidak bisa terlalu lama marah pada Junghwan, karena suaminya itu kini kembali mengangkat tubuhnya dengan kedua tangan, berjalan menuju balkon kamar lalu duduk di sofa yang menghadap langsung ke lautan.
"Liat sunsetnya dari sini aja." Ucap Junghwan sambil memeluk tubuh Doyoung yang duduk menyamping di pangkuan.
Padahal keduanya belum berganti pakaian, tetapi kehangatan yang Junghwan salurkan jauh lebih terasa dibanding dingin yang perlahan menyerang.
Matahari terbenam di Jeju adalah pemandangan paling cantik yang pernah mereka lihat, tentu karena ditemani oleh orang paling berharga yang ada di hidup keduanya.
"I love you, dan aku minta maaf karena udah ngomelin kamu terus hari ini." Ucap Junghwan sambil mengeratkan pegangan di tubuh suaminya.
Doyoung akhirnya tersenyum, ia mengangguk lalu mengecup sebelah pipi Junghwan. "I love you too, maaf juga karena aku ngambekan."
"Gapapa, kan kamu masih kecil." Jawab Junghwan dengan suara yang dibuat-buat, kepalanya mendekat untuk bersandar di atas bahu sempit orang di pangkuan, dan berhasil membuat Doyoung terkekeh geli karena wajah Junghwan yang makin dekat dengan lehernya.
"Mandi, yuk?"
Ajakan yang begitu tiba-tiba membuat Doyoung terpaku seketika, apa Junghwan baru saja memintanya untuk mandi bersama?
"Kan kaki kamu lagi sakit, biar aku bantu mandiin, gimana?"
"Kenapa harus dibantuin?"
"Biar kakinya gak makin sakit. Nanti kalau berdiri lama-lama, lukanya malah kebuka."
Jawaban tidak masuk akal tetapi Doyoung malah mengangguk setuju karena, bukankah ini tujuan utama bulan madu mereka?
***
Di dalam bathtub yang dipenuhi buih sabun, Doyoung duduk dengan hati berdegup kencang, menunggu kedatangan Junghwan yang sebelumnya berkata bahwa ia hendak mengambil beberapa keperluan.
Jantungnya nyaris lepas saat suara pintu kamar mandi dibuka dari luar, ia mengangkat kepala dan menemukan suaminya yang berjalan mendekat sambil mengenakan bathrobe juga membawa sesuatu di tangan.
Doyoung mengumpat dalam hati ketika menyadari bahwa benda itu adalah gel yang biasa digunakan untuk kalian tahu apa fungsinya.
"Gak terlalu dingin kan airnya?" Tanya Junghwan, dan Doyoung mengangguk pelan.
Bahkan luka di kakinya sudah tidak terasa sakit sama sekali karena perasaan gugup yang terus datang tanpa henti.
Kepala Doyoung kembali menunduk saat Junghwan melepas bathrobe yang menutupi tubuh telanjangnya, ini bahkan jauh lebih mendebarkan dibanding saat pertama kali ia ditugaskan untuk memimpin perusahaan.
Junghwan duduk di belakang Doyoung, membuka kakinya lebar-lebar lalu menarik tubuh suaminya agar lebih dekat hingga punggungnya menempel sempurna dengan dada bidangnya.
"Kok nunduk terus?" Tanya Junghwan, tangannya bergerak untuk mengusap perut Doyoung dari belakang. Tengkuk Doyoung seketika meremang, ditambah Junghwan juga mulai membubuhkan kecupan ringan di belakang lehernya.
"Doyoungie..." Panggil Junghwan, Doyoung meneguk ludah sebelum menjawab.
"Mhm?" Jawabnya sambil menoleh ke samping, dan netranya tertutup kala Junghwan menyatukan bibir mereka.
Ciuman lembut mulai memanas saat Junghwan menghisap bibir bawah dan atas Doyoung bergantian, menimbulkan suara basah yang memenuhi seluruh sudut kamar mandi.
Doyoung pasrah saat tangan Junghwan menuntun tubuhnya agar berbalik, menghadap ke arahnya. Masih dengan ciuman yang enggan terlepas, Doyoung kini duduk di atas paha telanjang suaminya.
Suara desahan pelan keluar dari mulut mereka saat sesuatu di bawah sana mulai mengeras, saling bersentuhan dan menimbulkan sensasi yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.
Lidah Junghwan bergerak di dalam mulut Doyoung, membelit milik suaminya yang berusaha mengimbangi permainan, tanpa sadar pinggul Doyoung bergerak maju mundur saat Junghwan menghisap lidahnya dengan cukup kuat.
"Shit," Umpat Doyoung tanpa sadar saat Junghwan melepas ciuman mereka, sementara bibir suaminya mulai turun untuk mengecup kulit leher, tulang selangka, dan berhenti tepat di depan dadanya.
Kedua tangan Junghwan yang tadinya berada di belakang kepala juga bergerak turun ke bokong Doyoung, sedikit mengangkat tubuhnya agar posisinya lebih tinggi hingga ia berhadapan langsung dengan dadanya.
"Shit, Junghwan..." Umpat Doyoung lagi saat lidah Junghwan bergerak memutar di putingnya, membasahi seluruh sudutnya sebelum menghisapnya hingga menimbulkan suara aneh.
Sisi satunya juga tidak Junghwan biarkan bebas begitu saja, ia memilin, sedikit menggaruk puncaknya dengan ujung kuku sebelum diremas pelan berulang kali.
Desahan mulai keluar dari mulut Doyoung, ia meremat rambut Junghwan yang masih sibuk di dadanya.
Dan tangan Junghwan yang satu lagi kini masuk ke dalam air, mencari milik suaminya yang sudah mengeras sepenuhnya, dibawa mendekat dengan miliknya hingga saling bersentuhan.
Suara desahan Doyoung makin kuat ketika tangan besar Junghwan yang menggenggam milik mereka bergerak naik turun, memberi kenikmatan yang baru Doyoung rasakan untuk pertama kalinya.
"Junghwan... fuck." Umpatan kembali keluar dari mulut yang lebih kecil, Junghwan menarik kepala dari dadanya untuk menatap puas wajah Doyoung yang mulutnya terus terbuka mengeluarkan desahan.
"Later, babe. I'm really going to fuck you tonight."
Junghwan meraih gel yang tadi ia bawa, menuangkan isinya ke atas jemari dan mengarahkannya ke lubang Doyoung yang sudah basah.
Tangan Doyoung mencengkram kedua pundak Junghwan saat jari tengah Junghwan terus keluar masuk di lubangnya, ia tidak tahu harus fokus ke mana karena Junghwan yang seakan hanya ingin memuaskannya.
"Sakit... pelan-pelan." Ucap Doyoung saat Junghwan memasukkan jari lain ke dalam analnya.
"Kalau gak ditambah nanti malah sakitnya pas punyaku yang masuk, sayang."
Kepala Doyoung bersandar di atas bahu Junghwan, pinggulnya masih bergerak untuk menggesekkan miliknya dan milik Junghwan yang makin mengeras di bawah sana. Sementara lubangnya sudah mulai terbiasa dengan dua jari Junghwan di dalamnya.
"Ah— Junghwan... mau keluar." Rengek Doyoung sambil memeluk leher Junghwan.
"Keluarin aja," Balas Junghwan dengan napas terengah, tangannya kini memijit milik Doyoung, membantu suaminya agar cepat selesai.
"Di sini gapapa?"
"Gapapa,"
Doyoung nyaris menangis saat ujung ibu jari Junghwan memainkan lubang kencingnya, dan ia kembali merengek ketika cairan kental mulai keluar dari sana, menyatu dengan air yang ada di dalam bathtub.
Napas Doyoung terengah, ia memeluk erat Junghwan sementara tubuhnya bergetar karena baru saja mencapai titik ternikmatnya.
"Capek ya? Mau udahan?" Tanya Junghwan sambil mengusap tulang ekor suaminya.
Doyoung menggeleng, "Mau lagi tapi gak mau di sini. Ayo ke kamar aja."
Dan disinilah mereka sekarang, Doyoung berbaring di atas ranjang setelah Junghwan mengeringkan tubuhnya, sementara suaminya mengukungnya dari atas.
Kaki Doyoung dibuka lebar-lebar, menampakkan lubang kemerahan yang barusan disiapkan oleh Junghwan dengan dua jari besarnya.
"This gonna be hurt as hell, just bite me kalau sakitnya gak bisa ditahan, okay?"
Doyoung mengangguk, ia memejamkan mata sambil memeluk punggung Junghwan yang berusaha menyatukan tubuh mereka.
Sensasi dingin menyapa ketika penis Junghwan yang sudah dibasahi pelumas mulai masuk, rengekan pelan kembali keluar dari mulut Doyoung ketika ia merasakan urat penis Junghwan memenuhi analnya.
"Shit." Umpat Junghwan saat penisnya baru masuk setengah.
"Pelan-pelan aja," Rengek Doyoung dengan raut memelas, karena ia berani sumpah demi apapun yang ada di dunia, rasanya tubuhnya seperti terbelah dua.
Junghwan mengangguk, ia menatap wajah Doyoung yang dipenuhi peluh, mengusap keningnya sebelum mendaratkan kecupan hangat di sana.
Ia menuruti permintaan Doyoung, diam beberapa saat hingga lubang Doyoung akhirnya terbiasa dengan miliknya.
"Coba masukin lagi, tapi pelan-pelan." Pinta Doyoung kemudian, dan Junghwan kembali mendorong pinggulnya sambil menarik pinggang Doyoung agar miliknya tertanam sepenuhnya di dalam sana.
Air mata keluar dari sudut netra yang lebih kecil, Junghwan yang tidak tega langsung memeluk tubuhnya.
"Maaf, maafin aku." Ucap Junghwan tepat di telinga Doyoung, "Kalau sakit banget kita gak usah lanjut aja."
Doyoung menggeleng tidak setuju, meski sambil terisak, ia mengusap kepala Junghwan yang terus memeluknya.
"Gapapa, Junghwan. Masa udah sampai sini malah berhenti sih." Ucap Doyoung, berusaha mengubah suasana.
"Tapi kamu kesakitan terus gini."
"Ya namanya juga pertama kali, gapapa ayo lanjut aja." Ucap Doyoung lagi, kali ini sambil menggerakkan pinggulnya sendiri.
Sakit yang sebelumnya ia rasakan mulai berubah saat Junghwan juga ikut mendorong pinggulnya berlawanan arah, ujung penisnya menyentuh titik yang berhasil membuat Doyoung menjerit keras.
"Ah— Junghwan... jangan sampai situ." Rengek Doyoung lagi, dan kali ini tidak membuat Junghwan iba, gairahnya justru naik saat mendengar suara manja suaminya.
Tubuh bagian bawah Junghwan bergerak makin liar, membuat ranjang yang mereka tempati berderit karena gerakan kuat dua orang di atasnya.
"Junghwan... gak mau, Junghwan!" Protes Doyoung saat kepala Junghwan berada di depan dadanya, kembali menghisap putingnya kuat-kuat hingga meninggalkan bekas merah di sekitar areola.
Tetapi ucapannya berbanding terbalik dengan aksi karena tangan Doyoung justru menahan kepala Junghwan agar tidak beranjak dari sana.
Analnya makin licin saat cairan pre ejakulasi keluar dari penis Junghwan, menimbulkan sensasi aneh karena miliknya yang makin mudah bergerak keluar masuk.
"Kamu mau punya anak sama aku?"
Pertanyaan Junghwan yang begitu tiba-tiba nyaris membuat Doyoung tertawa, tetapi ia menahan karena itu jelas akan mengubah suasana. Doyoung mengangguk, ia menarik tubuh Junghwan agar mendekat untuk membisikkan sesuatu tepat ke depan telinga.
"Junghwanie hyung, please fuck me hard and got me pregnant."
...
kalo abis nulis jorok suka pengen close akun, btw gak dibaca ulang jadi maaf kalau ada scene yang aneh gak jelas gak masuk AKALLLLLLL
dan maaf kalau KURANG PANAS karena hwanbi hangat sekali tadi malam🫶

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com