Truyen2U.Net quay lại rồi đây! Các bạn truy cập Truyen2U.Com. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter XXVIII

Dengan langkah cepat Junghwan berjalan di koridor rumah sakit, jantungnya hampir lepas begitu Junkyu menghubungi beberapa saat sebelum ini, berkata bahwa suaminya dilarikan ke sana sebab Yoo Dongjun datang dan membuat onar di rumahnya.

Ia disambut dengan suasana ramai di depan ruang rawat, ayah mertua serta kakak iparnya sedang berdiskusi dengan gerombolan laki-laki berpakaian gelap yang sesekali mencatat sesuatu dengan buku kecil di tangan.

"Junghwan!" Panggil Haruto, ia lalu memintanya masuk ke dalam salah satu ruangan yang keadaannya juga tidak kalah ramai dibanding di depan.

Ibu mertua, kakak ipar, serta kakek dari suaminya berdiri mengelilingi brankar yang di atasnya terdapat sosok yang sangat ia cari, Doyoung duduk di sana sambil sesekali membalas pertanyaan keluarganya.

"Doyoung..." Panggil Junghwan, napasnya tertahan saat melihat kondisi suaminya yang tidak lebih baik dibanding perkiraan. "Sayang, are you okay?" Tanya Junghwan, ia sedikit menunduk untuk menatap jelas wajah pucat Doyoung.

Doyoung mengangguk, "Gapapa, aku mau pulang." Ucapnya sambil ikut memegang pergelangan tangan Junghwan yang berada di wajahnya.

"Nanti, tunggu urusan sama polisi selesai." Suara Junkyu terdengar dari sisi lain brankar, Junghwan mengangguk setuju dan berusaha memasang raut baik-baik saja di depan Doyoung, walau dalam hati ia takut setengah mati.

Pintu ruangan kembali dibuka, kali ini salah satu perawat masuk lalu memberi obat yang harus Doyoung konsumsi selama ia di rumah.

Perawat itu juga menjelaskan bahwa Doyoung tidak perlu menginap di rumah sakit, ia hanya mendapat beberapa jahitan di belakang kepala dan kandungannya baik-baik saja. Untungnya Junkyu langsung sigap membawa adiknya ke rumah sakit terdekat serta tidak lupa melaporkan kelakuan brengsek pamannya ke polisi saat itu juga.

Beberapa saat kemudian, keluarga Doyoung yang tadi berada di depan juga ikut masuk ke dalam, membuat ruangan makin sempit dan Doyoung makin muak jika harus lama-lama berada di sana.

"Yoo Dongjun gak akan bebas walau dia sewa pengacara paling mahal, Papa jamin dia akan lama di penjara." Ucap Ayah Doyoung, ia memastikan siapapun tidak akan memberi keringanan atas apa yang dilakukan pada anak bungsu kesayangannya.

Semua orang akhirnya bernapas lega, Doyoung yang nampak kelelahan kembali menarik tangan Junghwan, berusaha mendapat atensi suaminya yang ikut berdiskusi dengan anggota keluarganya yang lain.

"Mau pulang..." Rengeknya lagi, "Aku pusing, aku mau istirahat di rumah."

Permintaannya dituruti, Junghwan mendorong kursi roda lalu mengangkat tubuh suaminya untuk duduk di atasnya. Termasuk Junghwan, anggota keluarga Doyoung yang lain juga ikut berjalan menuju pintu keluar rumah sakit.

Mereka berpisah di tempat parkir, tadinya orang tua Doyoung berniat menginap di rumah anaknya namun Doyoung tidak mengizinkan. Ia tidak ingin merepotkan Ibu dan Ayahnya yang sudah pasti lelah karena seharian bekerja.

Doyoung tidak banyak bicara selama perjalanan pulang, membuat Junghwan ikut diam dan hanya dapat memandang khawatir ke kursi penumpang.

"Gak mau beli sesuatu dulu?" Tanya Junghwan sebelum mobil yang ia bawa memasuki kompleks perumahan, dan Doyoung hanya menggeleng pelan.

Begitu sampai di rumah, Doyoung langsung membuka seatbelt dan berjalan masuk ke kediamannya bahkan sebelum mesin mobil dimatikan. 

Menghabiskan waktu di rumah sakit membuat tenaganya terkuras, belum lagi ia harus menanggapi semua pertanyaan keluarganya yang terkesan menyalahkan Junghwan sebab laki-laki itu malah pergi kerja dan meninggalkannya sendirian.

Langkah Doyoung berhenti di bawah tangga, sepertinya ia harus memasang lift di rumah agar tidak perlu menaiki puluhan anak tangga hanya untuk masuk ke kamar tidurnya. Kakinya mulai bengkak dan bolak-balik ke lantai dua jelas membuatnya kesulitan.

Dan ia terkesiap saat Junghwan justru mengangkat tubuhnya dengan kedua tangan, tanpa bicara suaminya itu membawanya naik dan dengan hati-hati menurunkannya untuk duduk di pinggir ranjang.

Doyoung masih diam ketika Junghwan berjongkok di depannya, menatap wajahnya dari bawah sambil memegang erat kedua tangannya.

"Maaf," Ucap Junghwan tiba-tiba, dan berhasil membuat emosi yang Doyoung tahan akhirnya naik ke permukaan.

"Aku bilang juga apa, aku gak mau ditinggal sendirian di rumah, apalagi posisinya rumah hampir kosong tadi pagi. Coba kalau gak ada satpam jaga, kondisiku pasti lebih parah dari ini." Omel Doyoung panjang lebar, napasnya menderu karena emosi juga nyeri di ulu hati.

Doyoung meletakkan sebelah tangannya ke belakang, duduk bersandar sambil berusaha mengatur napas. Perutnya sakit, kepalanya apalagi, lengkap sudah penderitaannya.

Ingin rasanya ia tendang tubuh Junghwan yang terus memelas di hadapan, tetapi ia tidak sejahat itu karena mau bagaimanapun juga, Junghwan tetap suaminya, orang yang akan ia bela habis-habisan di depan keluarga walau tingkahnya kadang menyebalkan.

Ia diam saat Junghwan mengangkatnya untuk naik ke atas ranjang, memberi tanda agar Doyoung bersandar pada kepala kasur lalu ikut duduk di sampingnya, memijit pelan kakinya yang sudah mulai bengkak.

"Coba kamu ada di rumah, nurutin aku buat gak berangkat ke kantor. Pamanku gak mungkin berani masuk ke sini, dia juga gak mungkin berani lempar aku pakai batu sebesar itu, kepalaku juga gak harus dijahit. Gak cukup perutku yang sakit, sekarang kepalaku juga." Keluh Doyoung, suaranya bergetar menahan tangis.

Tangannya bergerak untuk menutup wajah, isakan pelan keluar dari mulutnya. Padahal Doyoung sudah menahan tangisnya selama di rumah sakit karena tidak ingin membuat keluarganya khawatir, tetapi di depan Junghwan malah dengan mudah air mata itu keluar.

Tangis Doyoung makin keras ketika Junghwan menarik tubuhnya masuk ke dalam pelukan, tangan besarnya mengusap punggung Doyoung dan permintaan maaf juga terus keluar dari mulutnya.

Begitu tangisan Doyoung mereda, Junghwan sedikit menjauh untuk menatap wajah suaminya yang memerah dan basah karena air mata. 

"Maaf, aku tau aku salah karena udah ninggalin kamu sendirian di rumah. Jangan nangis terus, sayang." Ucapnya dengan suara pelan, tetapi Doyoung tidak menjawab dan malah mendorong tubuhnya agar melepas pelukannya.

Malam itu Doyoung tidur tanpa menoleh ke arah Junghwan, sengaja menghadap ke arah berlawanan karena tidak ingin melihat wajah suaminya. Sementara Junghwan hanya dapat menatap punggung sempit Doyoung dari belakang, ia bahkan tidak berani untuk sekadar menyentuhnya seperti apa yang biasa mereka lakukan.

***

Lagi-lagi Doyoung terbangun tanpa Junghwan di sampingnya.

Sisi kosong ranjang terasa dingin saat Doyoung menyentuhnya yang artinya, Junghwan sudah pergi sejak tadi pagi.

Ia melirik ke arah jam digital yang ada di atas nakas, nyaris pukul sembilan pagi, pantas saja dirinya sudah tidak dapat menemukan jejak suaminya sama sekali.

Doyoung tidak berniat melakukan apapun hari ini, netranya hanya menatap kosong langit-langit kamar, memikirkan soal hubungannya dengan Junghwan yang malah makin renggang dari hari ke hari.

Desisan pelan keluar dari mulutnya saat merasakan nyeri di belakang kepala. Ah ia baru ingat, kemarin pamannya yang tidak waras baru saja membuat kepalanya mendapat empat jahitan. 

Doyoung pun terpaksa duduk di atas ranjang, tangannya berusaha meraih gelas berisi air minum di nakas, namun ia malah tidak sengaja menyenggol benda itu hingga jatuh dan hancur berantakan di atas lantai kamarnya.

Suara berisik langkah kaki terdengar tidak lama kemudian, Doyoung menatap pintu kamar, tangannya siap menghubungi polisi jika yang datang adalah orang jahat. Dan ia bernapas lega saat melihat sosok Junghwan yang berlari ke arahnya.

"Kenapa?" Tanyanya panik, Doyoung nyaris tertawa saat melihat suaminya yang masih mengenakan celemek sambil memegang pisau dapur.

"Jatuh." Jawab Doyoung sembari menunjuk pecahan kaca di bawah.

Junghwan menghela napas sebelum berjalan mendekat ke arahnya, duduk di sisi lain pinggir kasur lalu menatap wajah Doyoung yang masih terlihat mengantuk.

"Tapi kamu gapapa, kan?" Tanyanya setelah melepas pisau yang tanpa sadar ia bawa ke atas.

Doyoung mengangguk, "Aku kira kamu pergi." Jawabnya sambil memilin bagian ujung selimut.

"Pergi ke mana?"

"Ya ke kantor? Siapa tau kamu ngambek karena tadi malem kita berantem."

Tawa pelan menguar dari mulut Junghwan, ia menggeleng lalu mengecup lembut kening suaminya. "Kan aku yang salah, masa malah aku yang marah?"

Doyoung tidak menjawab, namun ia bergerak mendekat untuk memeluk erat tubuh Junghwan.

"Aku terima omelan kamu karena aku tau semuanya emang salahku, dan mulai sekarang aku mutusin buat berhenti ke kantor. Jihoon, Jeongwoo, sama karyawan lain udah bisa aku tinggal sendirian."

"Beneran?" Tanya Doyoung tidak percaya, pasalnya manusia gila kerja seperti Junghwan tidak mungkin melepas tanggung jawab dengan mudah begitu saja.

"Iya, aku cuma harus pantau mereka dari jauh sesekali."

"Sampai kapan?"

"Sampai kamu bisa ikut aku ke kantor juga."

Senyum lebar kini terpampang di wajah Doyoung, ia mencuri kecupan singkat di bibir Junghwan sebelum kembali memeluk erat tubuhnya. 

"I love you!"  Ucapnya dengan nada paling bahagia yang pernah keluar dari mulutnya.












...

pls jangan protes kecepetan atau chapternya kedikitan... draftku buat dayfly cuma sampe 20 chapter... ini udah dilebihin 10 :(

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com