Truyen2U.Net quay lại rồi đây! Các bạn truy cập Truyen2U.Com. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Last Chapter

Suara air mengalir dari dalam kamar mandi membuat Junghwan terjaga dari tidurnya, ia menoleh ke sisi lain kasur dan dengan cepat beranjak dari sana saat tidak menemukan sosok suaminya.

"Doyoungie," Panggil Junghwan yang kini berdiri sambil bersandar pada kusen pintu, Doyoung yang tengah mencuci tangan langsung menoleh, ikut menatapnya.

"Kenapa gak bangunin aku?" Protes Junghwan saat Doyoung berjalan ke arahnya, "Kalau kamu jatuh dan aku gak tau, gimana?" Lanjutnya sambil mengangkat tubuh yang lebih kecil untuk kembali ke kamar tidur.

"Aku cuma hamil, Junghwan. Lagian muka kamu keliatan capek banget, aku mana tega bangunin buat nemenin ke kamar mandi?"

Junghwan berdecak lalu menurunkan tubuh Doyoung ke atas ranjang, ikut duduk di sampingnya dan sebelah tangannya bergerak untuk mengusap perut yang makin membesar tiap harinya.

Kehamilan Doyoung sudah lebih dari delapan bulan, yang artinya tinggal menunggu hari di mana ia akan melahirkan.

Awalnya keduanya tidak ingin tahu apa jenis kelamin anak mereka, tetapi keluarga Doyoung memaksa dan tangis bahagia pecah saat mengetahui bahwa bungsu keluarga Kim tengah mengandung anak perempuan.

Sepertinya semua orang di sekitarnya juga sudah tahu mengenai kabar ini karena Junghwan yang selalu membicarakannya di tiap pertemuan.

Doyoung makin cantik setidaknya di mata Junghwan, membuat Junghwan yang kini hampir tiap saat berada di rumah tidak pernah ingin jauh dari sosoknya.

Kamar tidur mereka sudah pindah ke lantai satu sejak dua bulan lalu, ruangan yang tadinya dipakai sebagai ruang kerja juga sudah berubah fungsi menjadi kamar yang akan digunakan anak mereka.

Doyoung tersenyum saat Junghwan menyandarkan kepala ke atas perutnya, sebuah kegiatan yang tidak pernah ia lewatkan sejak hari pertama anak mereka menendang perut Doyoung dari dalam.

"Puding-a,  bilangin papa biar stop bandel." Bisik Junghwan pelan, seakan sedang berbicara dengan anak mereka dari luar.

"Aku gak bandel." Protes Doyoung tidak terima, namun ia juga tidak dapat menyembunyikan senyumnya karena tiap Junghwan melakukan kegiatan ini, ada perasaan bahagia yang sangat sangat sulit dijelaskan.

"Yaudah kalau gitu, bilangin papa supaya berhenti keras kepala. Ayah cuma takut kalian berdua kenapa-kenapa." Ucap Junghwan lagi, diakhiri dengan kecupan pelan di atas perut Doyoung.

"Udah yuk tidur lagi," Jawab Doyoung setelah melihat jam digital yang ada di atas meja, nyaris pukul dua pagi dan ia tidak ingin mereka terlambat bangun nanti.

Meskipun Junghwan sudah tidak lagi pergi ke kantor, tetapi ia masih harus mengerjakan beberapa pekerjaan dari rumah, sesekali juga dirinya mengadakan rapat lewat panggilan video jika ada hal mendesak yang butuh kehadirannya.

Junghwan meletakkan bantal di belakang punggung Doyoung agar dapat berbaring dengan nyaman sambil menghadap ke arahnya. Sebelah tangannya Doyoung jadikan sandaran kepala dan yang satu lagi, terus mengusap lembut surai suaminya yang akhirnya terlelap di sampingnya.

***

"Iya, kita otw rumah sakit sekarang." Ucap Junghwan dan langsung memutus panggilan, ia berlari ke arah mobil yang terpakir di depan sambil menenteng tas besar berisi keperluan yang untungnya sudah mereka siapkan dari jauh-jauh hari.

Setelahnya, ia kembali berlari ke dalam rumah dan menghampiri Doyoung yang terus meringis kesakitan di atas sofa.

"Pegangan." Perintah Junghwan, Doyoung melingkarkan kedua tangannya erat-erat ke belakang leher Junghwan saat suaminya mengangkat tubuhnya.

Dengan hati-hati mereka berjalan menuju mobil yang pintunya sudah terbuka, Junghwan membentangkan selimut di atas tubuh suaminya yang kini duduk di kursi penumpang.

"Sayang, tahan sebentar, okay?" Ucap Junghwan sambil mengusap keringat yang terus menetes di wajah Doyoung. Doyoung mengangguk, berusaha mengatur napas yang makin terengah karena tekanan di perutnya.

Doyoung menangis selama perjalanant, perutnya nyeri setengah mati, ditambah ia juga ketakutan dengan apa yang menunggunya di rumah sakit nanti.

Bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi pada anaknya? Bagaimana jika ia tidak berhasil melahirkan bayi yang sudah sembilan bulan dikandungnya?

"Junghwan..." Panggil Doyoung, ia menatap raut khawatir suaminya dengan wajah penuh air mata. "Junghwan, aku takut..."

Masih sambil berusaha fokus dengan jalanan di depan, Junghwan akhirnya menoleh. Sebelah tangannya bergerak untuk mengusap sisi wajah Doyoung yang terasa lembab.

"Gak ada yang perlu ditakutin, kamu bakal baik-baik aja. Anak kita pasti bakal baik-baik aja."

Setelah perjalanan selama hampir dua puluh menit, mobil Junghwan berhenti di depan rumah sakit. Perawat yang sudah dikabari sebelumnya juga sudah menunggu mereka dengan kursi roda yang akhirnya membawa Doyoung masuk ke dalam ruang bersalin.

Junghwan mengurus segala keperluan administrasi dengan tas besar yang ada di punggungnya, tidak lupa menghubungi keluarga Doyoung karena ia terlalu sibuk hingga lupa memberi kabar saat di rumah tadi.

Begitu mendapat ruang rawat, Junghwan langsung meletakkan semua barang-barangnya, dan kembali berjalan menuju ruang bersalin. Dirinya disambut dengan salah satu perawat yang langsung memintanya masuk ke dalam setelah memakai baju steril.

Junghwan hampir menangis saat melihat Doyoung berbaring di atas brankar dengan pakaian pasien, lengkap dengan jarum infus yang juga sudah menancap di tangan kirinya.

"Sayang..." Panggil Junghwan yang kini berdiri di samping, memegang erat sebelah tangan Doyoung yang bebas. "Kamu jangan nangis terus, nanti susah napasnya."

Telapak tangan yang lebih tinggi bergerak untuk menghapus air mata, serta keringat yang terus menerus menetes di wajah cantik suaminya.

"Aku takut." Jawab Doyoung, "Aku takut banget, Junghwan." Rengek Doyoung lagi.

Tubuh bagian bawah Doyoung sudah ditutup dengan kain pembatas hingga mereka tidak dapat melihat proses bedah yang sedang Dokter lakukan, bius lokal yang disuntikkan juga sudah bekerja dan membuat Doyoung tidak lagi dapat merasakan sakit di perutnya.

Tangis Doyoung reda karena Junghwan yang tidak berhenti menenangkannya, suaminya itu berada di sampingnya selama proses operasi, ratusan kalimat manis juga terus Junghwan ucapkan agar Doyoung tidak lagi ketakutan.

Suasana tenang di dalam ruangan seketika berubah saat suara tangis bayi menguar di dalamnya, kali ini bukan hanya Doyoung, Junghwan juga ikut menangis ketika perawat akhirnya meletakkan anak mereka ke atas tubuh Doyoung.

Anak perempuan yang biasa mereka panggil puding saat masih di dalam kandungan diberi nama Hana, So Hana.

Berulang kali Junghwan mengecup kening Doyoung, menuturkan ribuan kalimat terima kasih atas segala perjuangannya sejak mengandung hingga melahirkan anak mereka.

Junghwan rasa lengkap sudah hidupnya, ia sama sekali tidak menyangka bahwa akhirnya dapat merasakan kebahagiaan sebesar ini setelah ditinggal pergi orang tuanya.

Tangis Junghwan yang terdengar begitu menyedihkan membuat Doyoung tertawa, kali ini ia yang berusaha menghibur suaminya.

"Udah jangan nangis terus, kamu diliatin anak kita." Ledek Doyoung saat bayi yang ada di dadanya terus menatap Junghwan yang menangis di samping mereka. "Ayah cengeng, katanya." 

Akhirnya Junghwan tertawa, ia menghapus air mata di wajahnya lalu menatap suami serta anak perempuannya. "Thank you, Doyoung. Makasih juga Hana, karena udah bikin Papa sama Ayah bahagia." Jawabnya.

Tidak lama kemudian Doyoung dipindahkan ke dalam ruang rawat inap, keluarganya sudah menunggu di sana dan mereka langsung menghampiri anak bungsu kesayangannya.

Kakek, Ibu dan Ayahnya seketika berterima kasih pada Doyoung yang sudah melahirkan anggota keluarga baru, juga berterima kasih pada Junghwan yang telah menjaga keduanya.

Junkyu dan Haruto menyusul setelah pekerjaan mereka selesai, dan ketika anggota keluarga Doyoung sibuk dengan bayi yang baru lahir, Junghwan sama sekali tidak beranjak dari sisi suaminya.

Ia terus memandangi wajah pucat Doyoung yang nampak bahagia karena senyum tidak luntur dari wajahnya.

"Kenapa?" Tanya Doyoung heran.

Junghwan menggeleng, "Gapapa, aku ngerasa beruntung aja punya kamu." 

Pengakuan yang begitu tiba-tiba membuat Doyoung tertawa, ia mengusap sisi wajah Junghwan yang masih duduk di kursi sebelahnya.

"Aku juga beruntung punya suami kayak kamu."

Mata Doyoung terpejam saat Junghwan mengecup lembut keningnya, "I love you." Bisik Junghwan setelahnya.

"I love you too." Balas Doyoung.

Rumah sakit biasanya diingat sebagai tempat menyeramkan di mana ribuan virus dan penyakit dapat ditemukan. Tetapi hari itu, di sebuah kamar paling mewah yang ada di sana, kebahagiaan tidak berhenti menguar.

Semua orang terlihat sangat bahagia, Doyoung dan Junghwan yang memiliki anak pertama mereka. Juga keluarga besar yang akhirnya mendapat satu lagi penerus serta pewaris perusahaan.

"Kalau begini, anak kedua harus laki-laki, supaya lengkap." Ucapan kakek Doyoung yang begitu tiba-tiba membuat luka jahitan Doyoung yang masih basah langsung nyeri seketika.

"Cuma punya satu anak juga udah lengkap, aku masih belum sanggup liat Doyoung kesakitan lagi selama hamil dan melahirkan."

Jawaban Junghwan mewakilkan perasaan Doyoung, ah keputusannya benar-benar tidak salah saat meminta Junghwan untuk menjadi suaminya di acara pernikahan Jihoon tahun lalu.

Doyoung sama sekali tidak dapat membayangkan, seberantakan apa ia jika tidak bertemu Junghwan di hidupnya.

Sosoknya begitu sempurna, mampu berperan sebagai pemimpin, suami, dan semoga sebagai ayah yang baik juga nantinya.

Perjalanan rumah tangga mereka tidak lantas berhenti setelah Doyoung melahirkan, ia dan Junghwan masih harus melalui berbagai fase sebagai orang tua baru begitu pulang ke rumah.

Meskipun ada pekerja di sana yang siap membantu, namun keduanya ingin mengurus Hana tanpa campur tangan orang lain.

Doyoung baru terlelap selama satu jam ketika telinganya mendengar suara tangisan bayi yang perlahan memudar, ia membuka mata dan melihat Junghwan yang sibuk menggendong anaknya sambil berjalan di area kamar.

"Ssst, kamu jangan nangis terus, kasian papa baru istirahat." Ucap Junghwan, seakan anak mereka dapat paham apa perintah orang tuanya.

Tetapi ajaibnya, Hana menurut. Anak perempuan bermata cokelat terang seperti Junghwan itu langsung diam, menatap wajah tampan ayahnya yang mulai tersenyum.

"Pinternya anak Ayah," Puji Junghwan, tidak menyadari bahwa Doyoung yang berbaring di atas ranjang juga terus memandangnya dengan penuh kekaguman.

Setelah Hana akhirnya terlelap, ia membaringkan tubuh putrinya ke atas ranjang kecil yang ada di sisi pojok ruangan. Dan begitu ia berbalik, dirinya malah disambut dengan sosok Doyoung yang masih terus menatapnya.

"Kok bangun? Mau digendong juga supaya tidur lagi?" Ledek Junghwan sambil berjalan mendekat.

Doyoung tertawa, ia membuka kedua tangannya lebar-lebar, memberi tanda agar Junghwan memeluknya.

"Thank you suamiku." Ucap Doyoung sambil memeluk tubuh Junghwan erat-erat.

"Harusnya aku yang bilang gitu, Thank you Doyoungie karena udah melahirkan anak sepinter Hana." Jawab Junghwan, "Dada kamu, masih sakit gak?" Tanyanya kemudian.

Dan Doyoung mengangguk, "Sedikit." Jawabnya.

Akhir-akhir ini dadanya memang terasa sakit, apalagi setelah menyusui anak mereka. Dokter bilang itu hal wajar karena Hana juga tidak terlalu banyak mengonsumsi asi.

"Mau aku bantuin gak?" Tanya Junghwan lagi.

"Bantuin apa?"

"Habisin susunya Hana."

"Mau?"

Junghwan mengangguk semangat, dan Doyoung hanya dapat pasrah saat Junghwan mulai melucuti pakaiannya.









...

akhirnyaaa selesai juga, ini works kedua aku yang punya chapter 30an, capek juga ngetiknya tapi seru sih karena minim konflik wkwkwk. maaf endingnya gantung nanti buat bonchap aja yah.

thank youu yang udah baca sampai habis, thank you juga yang udah komen di tiap chapter, baca komen kalian tuh seru dan lucu wkwkw bikin aku semangat juga lanjutinnya

next work aku ada omegaverse... hwanbby lagi (maaf karena terlalu hwanbby), tapi ada satu pasangan juga but bukan dari treasure, jangan expect chapternya panjang yah karena aku paling gak bisa nulis adegan basa basi which means pasti bakal singkat :(

thank you sekali lagi temen temennn karena dah baca dayfly, see you di works selanjutnya (yang masih gak tau mau diup kapan)

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com