BAB 4
Di hari minggu yang tidak begitu cerah. Sebagian awan-awan hitam menutupi sang mentari pada pagi ini. Via memakai hoodie hitam dan celana levis abu-abu. Via melangkah menuju mini market di dekat rumah untuk membeli beberapa alat pembersih.
Via melirik ke kanan dan ke kiri sebelum menyebrang. Sesudah ia yakin motor ataupun mobil tak melewati jalan raya Via pun menyebrang.
Via mendorong pintu kaca tersebut dengan perlahan lalu berjalan menuju pada rak pembersih lantai. Via memilih pembersih lantai dengan sedikit lambat.
Setelah memilihnya dengan sedikit lama, Via akhirnya mendapatkan pembersih lantai yang dia inginkan, Via mengulurkan tangannya untuk mengambil pembersih tersebut di rak yang sedikit lebih tinggi darinya.
Sedikit lagi untuk Via meraihnya, ada seseorang di belakang Via yang mengambil pembersih tersebut dengan sedikit cepat.
Via berbalik menghadap si pelaku yang mengambil pembersih tersebut. Dengan sedikit mendongak Via melihat wajah cantik dari sang pelaku tersebut, kulit putih dan bersih darinya membuat Via berdecih samar.
Via melirik lagi ke arah wanita tersebut yang telah mengambil barang yang di inginkan oleh Via tadi. Dengan wajah sinis Via melirik sang wanita tersebut. Tetapi wanita tersebut seakan acuh tak acuh dengan ekspresi Via. Dengan wajah gembira yang di pancarkannya, wanita tersebut berbalik dan langsung merangkul seorang lelaki yang baru saja memasuki mini market.
Via melihat sepasang sejoli itu dengan sedikit kesal, dan ada rasa iri yang dia rasakan melihat pemandangan romanc yang di pancarkan oleh mereka.
Via melangkah kedepan bertujuan untuk menghindar. Tetapi Via tak sengaja melihat wajah sang lelaki nya. Betapa terkejutnya Via melihatnya. Dengan gerakkan cepat Via langsung menutupi kepalanya dengan topi hoodie-nya.
Dengan cepat Via berjalan ke rak yang lain.
'apakah dia melihat ku?', batin Via ketakutan.
Via dengan cepat mengambil barang-barang yang ia perlukan tanpa berpikir sedikit lama seperti tadi.
Lalu membayarnya pada kasir dengan tergesa-gesa. Sang kasir melihat Via yang tergesa-gesa tersebut hanya bisa menggelengkan kepalanya dan menaiki bahunya.
Via mengambil plastik merah tersebut dengan sedikit kasar lalu berlari keluar tanpa melihat ke kanan dan kiri untuk menyebrang.
Piiiiip!!
Suara klakson mobil yang sangat besar membuat Via kaget. Tanpa di sadari oleh Via, dia sudah berada di tengah-tengah jalan raya.
Seorang pria keluar dari mobil tersebut dengan wajah kesal lalu mendekati Via.
"Dasar biadab, apakah kamu tahu mobil ku ini berapa? Jika saja mobilku lecet sedikit saja karena kamu apakah kamu bisa membayarnya?, dan lihat ini" ucapnya sambil memperlihatkan jam tangan mahalnya. "aku sudah terlambat pergi ke kantor karena dirimu" lanjutnya.
Via hanya menatap pria di depannya dengan datar. Lalu membungkuk ke arah pria tersebut.
"aku minta maaf" ucap Via dengan air muka yang tak berubah.
"apakah hanya maaf saja kamu bisa membayar waktu ku yang berharga ini? "
"sekali lagi aku minta maaf"
"aiiih bicara dengan gadis aneh seperti dirimu tak ada untungnya" ucapnya lalu pergi menuju mobil merahnya.
Via melangkah maju ke arah trotoar. Meminggirkan tubuhnya agar mobil merah tersebut dapat pergi.
.
.
.
.
.
Sesampainya Via di rumah, Via di sungguhkan dengan kedatangan keluarga konglomerat yang sudah duduk manis di ruang tamu.
Via akhirnya masuk pada pintu belakang, tak ingin mengganggu suasana mereka.
Via melangkah menuju dapur. Tapi langkahnya terhenti karena Amelia menariknya.
"kenapa?" tanya Via.
"sssssttt, pelankan suaramu" ucapnya yang langsung menutupi mulut Via dengan tangannya.
"hm, ada apa?" ucap Via tak ingin basa-basi.
"tolong dong pasangkan penjepit sutra ini di kepala ku, malam ini aku harus tampil cantik" ujarnya dengan girang.
Via melihat penjepit rambut tersebut. Lalu menggegamnya dengan sedikit erat.
Syukur saja kelakuan Via tadi tidak di lihat oleh Amelia, jika tidak pasti Amelia akan berteriak dan memukulnya.
Via memakaikan penjepit sutra dengan sedikit kasar sampai Amelia menjerit karena kesakitan.
'Brak!'
Amelia menggeprak meja riasnya lalu berbalik ke arah Via.
Tanpa aba-aba Amelia lalu menjambak rambut Via yang di ikat.
Via tak menunjukkan rasa sakit di wajahnya, tetapi menunjukkan wajah menantang untuk Amelia.
Amelia yang melihat wajah Via yang seperti tak takut dengannya tersebut langsung mencakar lagi wajah Via dengan kukunya.
Darah segar keluar di pipi kiri Via, tapi ekspresinya tak berubah sedikit pun.
Rina, ibunya Amelia yang mendengar suara gaduh pada kamar putrinya pun berdiri, dan memohon undur diri.
Rina berjalan dengan cepat menuju kamar putrinya.
"Ada apa ini?" tanya Rina sesampainya ia di kamar Amelia.
Amelia dan Via sudah tergeletak di lantai, dengan posisi Via sedang menjambak rambut Amelia.
Rina yang melihatnya pun emosi, lalu ia meraih pergelangan tangan Via denga meremasnya dengan keras.
"apa yang kamu lakukan Hah!?"
Via diam, tak menjawab. Via hanya melihat Amelia dengan wajah menantang dan mata menyala.
Rina tak tahan dengan Via yang membangkang seperti ini, apalagi sekarang dia dan suaminya kedatangan tamu penting.
Dengan kasar Rina mendorong tubuh kurus Via keluar. Lalu melihat Via dengan tatapan tajam.
"tunggu aku di kamar mu nanti, kamu harus di hukum atas perbuatan mu ini" ucap Rina lalu menutup pintu.
Via tersenyum licik, dengan riangnya ia pergi kekamarnya. Seakan ancaman Rina tadi seperti angin lalu di pendengarannya.
Rencana yang ia susun pasti akan berhasil. Ia yakin sekali.
Sesampainya ia di kamarnya, Via menjentikkan jarinya.
"satu hama telah di basmi, tinggal empat orang lainnya, tinggal tunggu waktu mainnya saja"
Kira-kira rencana apa yang di buat oleh Via?, mau tahu? Kalau gitu ikuti kelanjutan ceritanya ya.
Oh ya tinggal kan jejak kalian dengan mengklik bintang yang ada di bawah, tapi kalau kalian tidak ingin juga tak apa aku tidak maksa kok ↖(^ω^)↗.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com