BAB 3
Via menyandarkan kepalanya pada balkon, matanya masih saja melirik cahaya rembulan di atas langit malam.
Dengan angin yang datang bagaikan nyanyian tidur, membuat malam itu semakin tenang. Tak ada suara selain hembusan napas Via.
Mungkin untuk malam ini, Via tidak akan di ganggu oleh Amelia dan Leo. Untuk malam ini saja, mungkin dia akan duduk dengan tenang dan merasakan semilir angin yang datang.
Via membuang napas dengan sedikit berat. Masalahnya benar-benar rumit, dia ingin sekali keluar dari lingkup keluarga ini, tetapi berapa kali pun ia mencoba, Via takkan bisa keluar.
Seperti kejadian beberapa bulan yang lalu, kejadian malam itu selalu terngiang di kepalanya, bagaikan kaset yang rusak, ingatan itu sangat mengganggu.
Via harus bagaimana?, dia bingung sekarang. Karena, berapapun rencana yang ia susun, tak akan pernah berhasil.
.
.
.
Matahari telah sejajar dengan bumi. Nana sedang mengipas dirinya dengan buku catatan Via. Sedangkan Via sedang melamun ke luar jendela. Tak ada percakapan di antara mereka berdua karena mereka sama-sama memiliki kesibukkan tersendiri, Nana dengan kipasnya dan Via dengan dunia khayalannya. Tak ada yang menyadari jika Kino si ketua kelas berjalan mendekati mereka.
'Brak'
Bunyi meja yang telah di gebrak oleh Kino. Nana maupun Via sama-sama terperanjat kaget. Via berdecih pelan karena khayalannya telah buyar sedangkan Nana mengelus dada karena kaget. Mereka menatap Kino dengan tajam karena menggaggu aktivitas mereka.
"apa? ", tanya Via yang terlebih dahulu membuka suara.
Kino hanya tersenyum sampai memperlihatkan giginya.
"bisa minta tolong nggak?". Tanya Kino.
"minta tolong apa? "
"tolong dong ambilin buku di perpustakaan".
"emang kamu mau kemana? Sampai minta tolong ke kami?", tanya Nana setelah detak jantungnya kembali normal.
"emang nggak boleh ya minta tolong di kalian? ", tanyanya sekali lagi.
"nggak boleh" ucap Nana ketus.
"ayolah sekali ini saja, iya kan Via, hanya hari ini saja, ya? " mohon Kino yang beralih ke Via.
"hm", gumam Via lalu berdiri dan melangkah keluar.
Nana yang melihat tersebut langsung berlari mengikuti Via. Sebelum keluar Nana tak lupa untuk melotot ke arah Kino dan menggerutu.
Sesampainya di perpustakaan, Via langsung mengambil buku sejarah.
Via mengambilnya sesuai dengan siswa yang ada di kelasnya. Buku sejarah yang sedikit tebal membuat Via kesusahan, Nana yang mengikuti Via tadi di belakang, sedang ke toilet.
Maka dari itu hanya Via lah yang mengambil bukunya. Ingin menunggu Nana pun percuma, karena Nana tak pernah cepat jika sudah berada di toilet.
Via menatap keseliling ruang perpustakaan, berharap ada seseorang yang ingin membantunya.
Dan, ya. Netra coklatnya menangkap seorang lelaki yang sedang membaca buku di pojokan.
Dengan langkah cepat Via berjalan menuju siswa tersebut untuk meminta bantuan.
"permisi", ucap Via sopan.
Lelaki tersebut langsung menongak ke arah Via.
"ya?", jawabnya.
"boleh minta bantuan?"
Lelaki tersebut mengangguk.
"bisakah kamu menolongku membawa beberapa buku sejarah itu menuju ke kelas ku"
Tanpa bicara lelaki tersebut berdiri lalu berjalan menuju rak buku yang menyimpan buku sejarah.
"berapa?" tanya nya.
"apanya? " tanya Via balik tak mengerti.
"siswa di kelas mu" jawab lelaki tersebut sambil menatap Via dengan sudut matanya.
"oh ya itu, siswanya berjumlah tiga puluh lima" ucap Via gugup.
Untuk pertama kalinya Via di landa gugup seperti tadi, sangat memalukkan.
Lelaki tersebut mengangguk, lalu mengambil buku sejarah sebanyak dua puluh buah.
"sisanya kamu yang ambil" ucapnya lalu pergi ke tempat tanda tangan untuk mengambil buku.
Via lalu mengambil buku sejarah sebanyak lima belas buah. Lalu berjalan menyusul lelaki tersebut di belakang.
Mereka berjalan melewati koridor agar sampai dengan cepat, sebenarnya itu hanya alasan Via saja.
Sebelumnya Via dan lelaki tersebut berjalan melewati ruang guru dan lapangan basket. Tetapi mereka memutar kembali dan berjalan melewati koridor. Via berkata jika jalan ini lah yang paling cepat sampai untuk menuju kelasnya. Lelaki tersebut tak mebantah hanya mengikuti Via yang berjalan di depannya.
Sesampai mereka di kelas Via, rupanya tak ada siswa atau pun siswi yang mengisi ruangan tersebut.
Via memukul keningnya dengan tangan kiri, dia lupa jika dua puluh menit yang lalu bel telah berbunyi untuk istirahat.
Via masuk ke dalam kelasnya lalu menyimpan buku yang ia bawa di atas meja guru. Lelaki tersebut pun melakukan hal sama dengan Via lakukan.
"terimakasih telah membantu ku membawa buku-buku ini, dan kalau boleh tahu siapa nama mu?" tanya Via.
"aku pergi dulu, sepertinya teman-temanku telah menungguku di kantin" ucapnya lalu melenggang pergi tanpa mau menjawab pertanyaan Via.
Via tak peduli, jika lelaki tersebut tak ingin memberitahukan namanya, ya sudahlah tak apa, itu juga bukan hal yang penting bukan?.
Via pergi menuju ke kursinya lalu mengambil earphon di dalam tasnya kemudian menyalakan lagu.
Baru lima menit Via mendengar lagu dengan tenangnya, Nana masuk dengan berteriak sambil menangis.
Via menaiki sebelah alisnya. Tak mengerti mengapa Nana menangis.
Nana lalu pergi menuju Via dan langsung memeluknya. Nana menumpahkan semua kesedihannya di pelukkan hangat Via. Via tak sama sekali bersuara, ia hanya menepuk pelan punggung Nana yang bergetar akibat tangisannya.
Setelah Nana sedikit membaik, Via angkat suara.
"kenapa? "
"tadi saat aku ingin pergi ke perpustakaan menysulmu, aku di hadang oleh geng Amelia. Dia bilang jika mereka melihat Khey berdua dengan si Lina di dalam Club malam, coba kamu bayangkan Via, mereka hanya berdua saja. Apalagi mereka di dalam Club, apa yang mere__" ucapan Nana terhenti di karenakan Via langsung memeluk Nana dengan erat, kode agar Nana diam dari pada melanjutkannya.
Via tahu sifat Nana yang mudah di provokasi atau sifat Nana yang mudah di hasut. Via mengepalkan tangannya dengan erat, jika benar Khey pergi dengan Lami ke Club malam tanpa alasan yang pasti, siap-siap saja Khey juga harus masuk di dalam buku hitamnya. Orang-orang yang telah di tandai oleh Via untuk di singkirkan.
Via tak akan ragu, jika itu untuk Nana.
Holaaaaa, akhirnya aku update gaesss. Jangan lupa untuk vote dan koment, tidak akan rugi kok untuk mengklik bintangnya. Jadi kawan-kawan sekalian tinggalkan jejak kalian di ceritaku yaaaaa (~_^).
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com