Truyen2U.Net quay lại rồi đây! Các bạn truy cập Truyen2U.Com. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter I

Mulut Doyoung tidak berhenti mengunyah permen karet yang mulai terasa tidak manis di lidahnya, netranya terfokus pada lampu kota yang terlihat menyilaukan. Kakinya berayun bebas, manusia biasa mungkin akan gemetar jika berada di tempat setinggi ini. Tapi tidak dengan Doyoung, gedung paling tinggi adalah tempat kesukaannya karena dari atas sini, ia tidak dapat mendengar isi hati buruk manusia yang ada di bawah sana.

Jika dilihat sekilas, Doyoung hampir sama dengan manusia pada umumnya. Padahal faktanya ia adalah makhluk yang dibuat untuk kekal di dunia. Bertujuan untuk menyaksikan proses kehancuran secara perlahan yang akan terjadi ribuan tahun kemudian.

Awalnya Doyoung menerima takdir yang melekat pada dirinya, tapi saat memasuki abad kedua, ia mulai muak. Tidak ada satu pun makhluk yang bertahan lama di sisinya, padahal butuh waktu lama untuknya agar dapat berbaur dengan mereka.

Dimulai dari perpisahan pertama yang terasa menyakitkan, Doyoung tidak diciptakan dengan hati selembut malaikat penjaga, tapi ia juga bukan makhluk jahat yang tidak punya perasaan atau air mata. Doyoung menangis keras saat orang kepercayaan pertamanya mati dimakan usia.

Dan hal itu terus berlanjut hingga puluhan kali, Doyoung juga enggan menghitungnya. Setelah memastikan bahwa ia mulai paham dengan konsep duniawi, dirinya memutuskan untuk menjalani hidup kekalnya seorang diri, karena Doyoung tahu tidak ada satu pun makhluk yang akan terbiasa dengan sesuatu yang disebut perpisahan.

Termasuk makhluk seperti dirinya, dia juga tidak mengerti mengapa Tuhan menciptakannya lengkap dengan hati. Meski hati yang ia miliki tidak serapuh makhluk hidup lain, tapi Doyoung tetap kesulitan untuk menghadapi hal menyakitkan sendirian.

Dan saat Doyoung mulai terbiasa dengan keheningan, ia mulai mengharapkan kematian. Walau ia tahu kalau dirinya tidak diciptakan untuk mati, dan mau sekeras apapun usahanya untuk menjemput kematian itu sendiri, Doyoung selalu berandai-andai tentang kematian yang amat sangat ia rindukan.

Mungkin Doyoung akan menikmati proses sekarat, saat nyawanya yang kekal mulai ditarik dari raga, Doyoung yakin dirinya akan tertawa saat melihat sosok malaikat maut di hadapannya.

Ah, mengkhayal memang cocok dilakukan di malam hari.

Tapi khayalan Doyoung terpaksa berhenti saat telinganya menangkap suara dari arah pintu masuk, entah siapa tapi yang jelas ini pertama kali bagi Doyoung bertemu makhluk yang berani naik ke atas sini.

Awalnya Doyoung enggan peduli, tapi teriakan yang keluar dari mulutnya terdengar begitu putus asa. Doyoung akhirnya bangkit, merapikan celana yang terlihat kusut sebelum akhirnya berjalan ke sumber suara.

Laki-laki berambut gelap dengan panjang hampir menutup seluruh bagian matanya, kulit putih bersih walau tidak secerah milik Doyoung, dan dengan tubuh menjulang tinggi, mungkin sekitar lima sampai enam senti di atas tingginya.

Kemeja biru muda yang dikenakan terlihat sangat berantakan, bagian tangan yang digulung hingga lengan, menampakkan tangan kekar yang terlihat kuat. Ini bukan kali pertama bagi Doyoung dalam melihat sosok yang tampan, tapi entah kenapa makhluk yang berjarak kurang dari lima meter darinya itu terlihat sangat menawan.

Sosok itu masih belum menyadari kehadiran Doyoung, umpatan demi umpatan terus keluar dari mulutnya.

"Ratusan tahun berlalu tapi kutukan sialan ini tidak kunjung berhenti."

Menarik, Doyoung tersenyum miring saat menyadari bahwa makhluk itu ternyata bukan manusia biasa. Dengan tangan yang terlipat di depan dada, ia terus memandang laki-laki itu dengan cermat.

Kedua alis Doyoung bertaut saat menyadari sosok apa yang ada di depannya. So Junghwan, dewa yang dikutuk karena mencintai makhluk yang tidak seharusnya, dari semua tempat yang ada di Korea, dirinya tidak menyangka akan menemui Junghwan di sini.

Desas-desus yang beredar ternyata benar, paras tampan Junghwan ada di atas rata-rata. Tapi sialnya dewa ini justru dikutuk, dan kutukan itu membuat parasnya terasa percuma karena ia tidak dapat memiliki satu pun orang di sisinya.

Setelah membuang permen karet yang ada di mulutnya. Doyoung menjentikan jari, membuat ia berpindah dari tempatnya berdiri tepat ke hadapan Junghwan, mengakibatkan laki-laki itu terkejut karena kehadirannya yang tiba-tiba.

Tapi Junghwan berpura-pura tenang, meski sedikit was-was karena di tempat setinggi ini ia tidak memiliki apapun sebagai senjata jika makhluk yang ada di depannya tiba-tiba menyerang.

"Tidak perlu takut, aku tidak akan menyerangmu." Ucap Doyoung setelah mendengar isi hati Junghwan. Masih dengan tangan yang terlipat di depan dada, Doyoung melangkah mendekat ke arahnya, sementara Junghwan mulai mundur hingga dirinya terpojok ke tembok pembatas di belakang.

"Apa yang kau inginkan?" Tanya Junghwan sambil berusaha menahan suara yang bergetar. Senyuman Doyoung makin lebar, dewa di depannya ternyata tidak memiliki kekuatan apa-apa selain kutukan yang terus mengikuti seumur hidup.

"Memang apa yang biasanya makhluk lain inginkan darimu, dewa So?"

Sial. Sial. Sial.

Doyoung tertawa keras, dewa lemah yang terpojok membuat dirinya cukup terhibur malam ini. Sedangkan Junghwan mulai mencari cara untuk kabur secepatnya dari hadapan Doyoung, netranya memandang pintu yang terbuka di sudut, hanya butuh beberapa langkah untuk pergi ke sana.

Tawa Doyoung berhenti, jarinya bergerak dan bam pintu yang semula terbuka kini terkunci sepenuhnya. "Tidak semudah itu untuk kabur dariku, dewa So." Ucap Doyoung lagi dengan raut sedih yang dibuat-buat.

"Apapun yang kau inginkan, aku tidak memilikinya."

Doyoung melangkah lebih dekat, mengikis jarak antara dirinya dan dewa yang terlihat ketakutan di depannya. Tangannya bergerak menyentuh kerah kemeja yang Junghwan gunakan, matanya menatap wajah Junghwan lamat-lamat, dewa memang dikaruniai paras indah tapi Doyoung tidak menyangka bahwa sosoknya akan setampan ini.

"Tidak perlu menahan napas, aku sendiri tidak memiliki paru-paru untuk menghirup aroma tubuhmu." Ujar Doyoung sambil tersenyum miring, pandangannya tidak lepas dari Junghwan yang wajahnya dipenuhi keringat di sana-sini.

"Aku penasaran, kutukan apa yang kau terima dari langit sehingga kau kehilangan semua kuasa yang kau miliki sebelumnya, dewa So?" Doyoung sedikit berjinjit, menyamakan tinggi tubuhnya dengan Junghwan.

Tangan Junghwan mencengkram lengan Doyoung yang ada di depan dadanya, ia kemudian sedikit mendorong tubuh yang lebih kecil darinya agar menjauh. Doyoung perlahan mundur, membuat Junghwan akhirnya dapat bernapas lega.

"Bukan urusanmu." Balas Junghwan singkat.

"Dewa tampan sepertimu sayang sekali jika tidak menjadi urusanku, cepat katakan siapa tahu aku dapat membantumu." Rayu Doyoung lagi, Junghwan berdecih karena merasa dewa sepertinya tidak pantas berurusan dengan makhluk aneh yang ada di depannya.

Belum cukup soal masalah ku dengan manusia biasa, sekarang aku malah berurusan dengan makhluk aneh sepertinya.

"Aku bukan makhluk aneh, meskipun kau sudah kehilangan semua kuasa tapi harusnya kau sadar kalau aku bukan makhluk rendah seperti yang kau kira, dewa So." Protes Doyoung, sedikit tersinggung dengan apa yang Junghwan ucapkan dalam hati.

"Tidak ada yang memintamu untuk membaca pikiranku."

"Seharusnya kau yang menghalangi aku untuk berbuat itu, kau kan dewa?"

Junghwan mengacak rambut frustasi, pembicaraan ini terdengar seperti tidak akan ada habisnya jika ia terus menanggapi apapun yang keluar dari mulut makhluk di hadapannya.

"Terserah." Balas Junghwan singkat dan mulai berjalan menuju pintu keluar, tapi lagi-lagi Doyoung menggunakan kekuatannya untuk menghadang langkah Junghwan.

"Obrolan kita belum selesai." Protes Doyoung, ia berdiri tepat di depan pintu yang terkunci, berusaha menghalangi langkah Junghwan yang mati-matian menahan emosi.

"Minggir, jangan sampai aku gunakan tenaga ku untuk mendorongmu menjauh dari sini." Ucap Junghwan dengan nada rendah, membuat Doyoung sedikit takut saat mendengarnya.

"Tidak." Balas Doyoung singkat.

Kesabaran Junghwan benar-benar habis, dengan satu tangan ia mendorong tubuh Doyoung agar menjauh dari hadapan, tapi tidak semudah itu, Doyoung memanfaatkan kekuatan yang ia miliki dan membuat tubuh Junghwan juga ikut jatuh bersamanya.

"Kau berniat mendorongku atau ingin memandangku lebih dekat?" Ujar Doyoung dengan nada menggoda, ia memandang wajah Junghwan yang saat ini berada di atasnya.

Junghwan bangkit, berdecak kesal karena merasa dipermainkan oleh Doyoung. "Makhluk gila." Ucapnya dan berhasil membuat Doyoung lagi-lagi tertawa keras.

Seharusnya makhluk ini yang aku cintai agar dia ikut mendapat kutukan kematian dari Tuhan.

Doyoung terkesiap, sedikit berteriak dan dengan mata yang terbelalak ia menatap Junghwan dengan pandangan tidak percaya. "Kutukanmu... adalah membunuh siapapun makhluk yang kau cintai?" Ucap Doyoung dengan nada tinggi, bersemangat karena fakta yang barusan ia dengar benar-benar membawa angin segar untuk hidup nya yang sangat membosankan.

"Tidak, kalau kau berniat mengajakku bekerja sama karena kutukan sialan ini, aku tidak tertarik sama sekali."

"Kenapa?"

"Karena mencintai makhluk sepertimu adalah tugas paling sulit yang bahkan tidak satu pun dewa mampu untuk melakukannya."

Hati Doyoung berdenyut begitu mendengar kalimat menyakitkan yang keluar dari mulut Junghwan, tapi perangai Doyoung tidak selemah itu, ia kembali berjalan mendekati dewa yang masih menunjukan raut kesal di wajahnya.

"Benarkah? Atau kau justru takut mencintaiku terlalu dalam dan berharap agar aku tidak mati karena kutukanmu sendiri?"





























...

ini konfliknya lumayan berat dan temanya agak dewasa yah meskipun gak akan ada adegan ratednya sih, tapi fantasi yang beneran fantasi banget gitu loh... mirip mirip sinetron indosiar lah.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com