Truyen2U.Net quay lại rồi đây! Các bạn truy cập Truyen2U.Com. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter II

Memasuki bulan kedua di tempat kerja yang baru, Junghwan berdecak kesal karena menyadari bahwa dirinya mulai menyukai rekan satu kantornya. Terus menyumpah dalam hati mengapa langit memberi kutukan yang sudah jelas akan mengacak garis takdir itu sendiri.

Junghwan dikutuk untuk terlalu mudah jatuh cinta, dan siapapun makhluk yang ia cintai akan mati karena cinta yang Junghwan beri. Sekuat tenaga dirinya menahan diri untuk tidak jatuh cinta kepada siapapun juga.

Tapi hari ini, perasaan yang terus Junghwan tahan malah justru semakin naik ke permukaan. Padahal ini sudah kali ke dua baginya untuk berpindah tempat kerja dalam enam bulan, dan Junghwan sudah muak karena terus berpura-pura menjadi manusia biasa, menjalani hidup normal agar kutukan yang diberikan kepadanya tidak lagi ditambah oleh yang kuasa.

Dirinya hendak menenangkan diri di lantai tertinggi gedung kantornya, tapi malah bertemu dengan makhluk yang terus mengoceh tanpa henti, membicarakan hal yang bahkan Junghwan sendiri enggan untuk memikirkannya.

Sosok laki-laki berambut cokelat terang, dengan tubuh sedikit lebih pendek darinya. Awalnya Junghwan cukup terkesima melihat penampilan makhluk manis itu Junghwan memang ditakdirkan untuk mudah jatuh cinta sejak hari pertama ia turun ke dunia, tapi begitu mendengar kalimat yang keluar dari mulutnya, rasanya Junghwan hanya ingin lari dari sana.

Walau semuanya terdengar masuk akal, tapi Junghwan enggan berurusan dengan makhluk langit mana pun sekarang, terlebih dengan immortal yang terlihat menikmati saat di mana ia bermain-main dengan kekuatan yang dirinya punya.

Sebelum diberi kutukan, Junghwan jauh lebih kuat dibandingnya, Junghwan jauh lebih berkuasa dibanding separuh penghuni semesta, tapi karena satu kesalahan ia malah dilempar turun ke dunia yang rasanya lebih menyiksa dibanding neraka.

"Tidak, kalau kau berniat mengajakku bekerja sama karena kutukan sialan ini, aku tidak tertarik sama sekali."

Ucap Junghwan sebelum sosok di depannya bicara terlebih dahulu, karena sumpah demi apapun Junghwan sudah muak berurusan dengan makhluk aneh, ia hanya ingin menjalani hidup seperti manusia pada umumnya meski pun ia sendiri juga bukan manusia biasa.

"Kenapa?" Junghwan mengacak rambut frustasi, ia yakin immortal yang ada di depannya ini sudah membaca isi hatinya tapi justru memilih untuk bertanya padahal jelas ia tahu apa jawabannya.

"Karena mencintai makhluk sepertimu adalah tugas paling sulit yang bahkan tidak satu pun dewa mampu untuk melakukannya." Jawab Junghwan pada akhirnya, sedikit menyesal karena kalau dipikir kalimat Junghwan cukup menyakitkan untuk dilontarkan kepada makhluk yang belum satu jam ia temui.

"Benarkah? Atau kau justru takut mencintaiku terlalu dalam dan berharap agar aku tidak mati karena kutukanmu sendiri?"

Jantung Junghwan mulai berdegup cepat, perasaan ini lagi-lagi kembali, Junghwan tidak sebenci itu dengan bagaimana Tuhan membunuh makhluk yang ia cintai, tapi Junghwan benar-benar tidak tahan dengan perasaan yang sangat sulit ia kuasai.

"Kim Doyoung." Ucap makhluk di depannya sambil mengulurkan tangan, senyuman manis ikut terukir di wajah kecilnya.

Di bawah cahaya rembulan, kulit Doyoung terlihat bersinar. Dua kancing teratas kemejanya dibiarkan terbuka, membuat kulit putih bersihnya terpampang jelas. Tanpa sadar Junghwan meneguk ludah, ratusan tahun ia tinggal di dunia tapi ini kali pertama baginya melihat sosok yang begitu menawan, entah apa yang Tuhan pikirkan saat menciptakan makhluk di hadapannya.

Doyoung jelas dibentuk bukan sebagai makhluk penggoda, immortal lain yang Doyoung kenal pun tidak ada yang senakal dirinya, Doyoung hanya mencoba menghibur diri di tengah keheningan yang ia jalani. Ayolah menggoda satu dua makhluk hidup lain yang ada di dunia tidak akan merugikan siapa pun, kan?

"Kau sudah tahu siapa aku." Balas Junghwan acuh, tidak menanggapi uluran tangan Doyoung sama sekali.

"Tapi kau belum mengenalku, aku hanya berusaha sopan kepada mantan dewa di sini." Balas Doyoung, nada bicaranya tidak kalah menyebalkan dibanding Junghwan. "Karena mau bagaimana pun juga, kau tetap dewa, ya meski menerima kutukan dan dilempar secara paksa ke dunia tapi kau tetapㅡ"

"Cukup, sekarang lebih baik kau buka pintunya." Potong Junghwan, Doyoung tertawa karena berhasil memancing amarah laki-laki di depannya.

"Bagaimana kalau aku tidak mau?"

Junghwan mengerang pelan sebelum menarik kerah kemeja Doyoung dan menyudutkan laki-laki itu ke tembok yang ada di belakang. "Aku sangat tidak ingin menyakiti siapapun malam ini, termasuk dirimu."

Kalau Junghwan pikir Doyoung akan gentar, faktanya tidak sama sekali. Doyoung justru tersenyum lalu mengecup pipi kanan Junghwan. "Kalau begitu, cintai aku." Ucapnya sambil mengusap sebelah wajah Junghwan.

Sekuat tenaga Junghwan berusaha untuk tidak tergoda, tapi sialnya kutukan yang Junghwan terima justru berkata sebaliknya. Debaran jantungnya makin kuat namun Junghwan tetap tidak ingin berurusan lebih jauh dengan makhluk gila yang tersenyum lebar di depannya.

Tangan Junghwan yang semula ada di leher Doyoung mulai melonggar, ia mundur lalu berjalan cepat ke arah pintu, hanya butuh dua dorongan sebelum dirinya berhasil mendobrak pintu keras itu, membuat Doyoung kagum karena ternyata tenaga yang dimiliki Junghwan cukup kuat.

Doyoung enggan menyusul dan membiarkan Junghwan pergi, yang penting dia tahu kapan dan di mana harus mengunjungi mantan dewa yang sangat menarik perhatiannya nanti.

***

Junghwan menenggak habis air mineral yang baru ia keluarkan dari dalam kulkas, setelah mandi dan berganti pakaian, Junghwan mendadak kembali teringat kejadian di rooftop beberapa jam yang lalu.

Tanpa sadar tangannya bergerak untuk megusap pipi kanannya, ia tahu bagaimana cara menghindar dari jatuh cinta kepada manusia, tapi ke makhluk immortal yang sikapnya sangat di luar nalar seperti Doyoung, Junghwan tidak kaget kalau nanti makhluk itu akan muncul kembali di hadapannya secara tiba-tiba.

"Tidak dapat berhenti memikirkanku?" Junghwan hampir loncat dari tempatnya saat mendengar suara Doyoung yang kini duduk di atas kursi meja makan dapurnya.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Junghwan, bukannya menjawab Doyoung justru bangkit dari tempatnya dan berjalan lurus ke arah Junghwan. "Berhenti bermain-main dengan ku." Lanjut Junghwan lagi.

"Aku hanya berkunjung, memastikan apakah dewa baik-baik saja saat tinggal di dunia."

Mata Doyoung mengedar ke seluruh ruangan, apartemen yang Junghwan huni cukup besar, ia dapat membayangkan bagaimana jika dirinya ikut tinggal di sini. "Apapun yang kau pikirkan, tolong singkirkan sekarang juga, aku tidak pernah berniat mengajak makhluk lain untuk tinggal bersama."

"Oh? Kau bisa membaca pikiranku?"

"Tidak, tapi itu semua terlihat jelas di wajah nakalmu." Ucap Junghwan sambil berlalu, meninggalkan Doyoung yang diam di belakang. "Pergi, aku ingin istirahat." Lanjutnya lagi.

"Tidak sebelum kita membuat perjanjianㅡ"

"Tidak. Tidak ada yang akan membuat perjanjian."

"Kenapa? Beri aku alasan yang masuk akal."

"Masuk akal? Kehadiran makhluk seperti kita di dunia saja sudah tidak masuk di akal sehat manusia, berhenti menggangguku, aku ingin istirahat."

Doyoung berdecak mendengar penolakan Junghwan, dengan tangan terlipat di depan dada ia berjalan mendekati laki-laki yang duduk di sofa melingkar yang ada di tengah ruangan.

"Aku butuh bantuanmu." Ucap Doyoung, sedikit memohon.

"Dan aku berhak untuk menolak memberi bantuan."

"Ayolah dewa So, aku benar-benar ingin mati."

Junghwan mengangkat kepala, menatap Doyoung yang berdiri di hadapannya dengan pandangan tidak percaya. "Kau immortal kan?" Tanya Junghwan dan disambut dengan anggukan semangat Doyoung.

"Kau tidak akan bisa mati." Lanjut Junghwan lagi.

Doyoung menghela napas sebelum akhirnya duduk di sebelah Junghwan. "Tapi tidak ada salahnya untuk mencoba." Ucap Doyoung, Junghwan menarik lengannya menjauh dari Doyoung yang hendak menyentuhnya.

"Aku tidak ingin menambah hukuman yang Tuhan berikan, tapi kalau kau kesepian aku bersedia menjadi temanmu."

Kalimat Junghwan berhasil membuat Doyoung memutar mata. "Aku tidak butuh teman." Balasnya.

Sekuat tenaga Junghwan berusaha untuk meredam emosinya. "Lantas apa yang kau butuhkan?" Tanya Junghwan lagi, ia tahu semuak apa Doyoung karena harus terjebak di dunia selama-lamanya, dirinya saja yang baru ratusan tahun di sini rasanya sudah ingin lari.

"Kematian. Tidak bisa kah kau bunuh aku? Kau kan dewa?"

Mendengar kalimat putus asa yang keluar dari mulut laki-laki di sampingnya membuat Junghwan sedikit berempati, ia menoleh dan menghadap Doyoung yang terus menatapnya dari samping. "Kau tahu alasan mengapa kau diciptakan?" Tanya Junghwan, berusaha memulai obrolan serius di antara keduanya.

Doyoung mengangguk. "Menjadi saksi kehancuran dunia."

Senyuman tipis terlihat di wajah Junghwan. "Lantasㅡ"

"Lantas mengapa aku diciptakan lengkap dengan hati? Seharusnya Tuhan tidak memberiku karunia bodoh bernama perasaan, ya kan Junghwan? Bagaimana bisa aku melihat kehancuran dunia saat aku justru menangis tersedu-sedu di kematian pertama yang aku saksikan?"

Junghwan menghela napas, berurusan dengan immortal ternyata jauh lebih memuakkan dibanding semua masalah yang ada di tempat kerjanya.

"Tuhan tidak pernah menciptakan hati di tubuhmu, kau bisa memeriksanya di rumah sakit dan semua orang pasti terkejut karena kau tidak memiliki satu pun organ di dalam. Itu semua terbentuk karena kau terlalu dekat dengan manusia. Satu kesalahan di hari pertama kau turun di dunia adalah berurusan dengan makhluk menyeramkan seperti mereka."

Doyoung diam, kalimat yang keluar dari mulut Junghwan terdengar sangat menyakitkan bagi makhluk tidak berperasaan seperti dirinya.




















...

ini aku ngejelasinnya udah jelas kan yah maksudnya gak yang bikin bingung gitcu? ya kan? (nanya serius)

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com