Truyen2U.Net quay lại rồi đây! Các bạn truy cập Truyen2U.Com. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter III

Netra Doyoung terus memerhatikan Junghwan yang sibuk berjalan kesana kemari, dengan mulut yang tidak berhenti mengunyah permen karet yang Doyoung sendiri tidak tahu sudah bungkus keberapa yang ia konsumsi sejak pagi.

Sebelum membiasakan diri mengunyah makanan yang tidak akan ada habisnya ini, Doyoung pernah kecanduan merokok bahkan hingga dua bungkus per hari, ia merasa kosong jika tidak memiliki apapun di dalam mulutnya.

"Sudah berapa lama kau tinggal di sini?" Doyoung terlihat berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan Junghwan.

"Seribu tahun lebih, entahlah aku tidak menghitungnya." Jawabnya dan diikuti oleh anggukan kepala yang lebih tinggi.

"Pernah merasa bosan?"

Tangan Doyoung yang semula ada di bawah meja mulai bergerak naik, tanpa sadar ia menggigiti kuku jarinya sendiri. "Awalnya cukup senang karena banyak hal seru yang dapat aku lakukan di sini, tapi makin lama aku makin muak." Jawabnya lagi.

Junghwan mendekat ke tempat Doyoung duduk menyodorkan permen yang ia ambil dari lemari makanan, juga tong sampah kecil tepat ke hadapannya. "Buang permen yang ada di mulutmu, rahangmu bisa lepas jika kau terus mengunyah permen karet selama ribuan tahun."

Doyoung tertawa namun tetap menuruti perintah Junghwan, ia membuka bungkus permen mint yang barusan Junghwan berikan. "Terima kasih." Ucapnya sebelum memasukkan permen itu ke dalam mulutnya.

"Kau kesepian."

"Aku tahu."

"Dan kau butuh teman."

Teman. Andai Junghwan tahu sudah berapa banyak teman yang Doyoung punya sebelumnya.

"Tidak, aku hanya ingin pergi dari sini."

Dapur Junghwan yang hanya disinari oleh cahaya seadanya membuat sosok Doyoung cukup samar di mata Junghwan, tapi dari tempat duduknya, Junghwan dapat melihat mata bulat lawan bicaranya yang menyiratkan kesedihan yang dirinya sendiri sulit untuk mengartikan.

Tapi sedikit banyak Junghwan paham dengan apa yang laki-laki itu rasakan, ini bahkan belum genap dua ratus tahun sejak dirinya dilempar ke dunia. Bagaimana dengan Doyoung yang sudah lebih dari satu abad di sini?

"Maaf, tapi aku benar-benar tidak bisa membantumu."

Ucapan Junghwan berhasil membuat decakan kesal keluar dari mulut Doyoung, yang lebih pendek akhirnya menggebrak meja dengan sebelah tangan, membuat sosoknya menghilang begitu saja dari pandangan Junghwan.

***

"Dewa tapi tidak memiliki kekuatan sama sekali, dua ratus tahun hidup di dunia, tidak dapat menua, bukan immortal karena ia bisa mati..."

Tangan Doyoung sibuk mencoret kertas yang ada di depannya, buku itu berisi beberapa informasi soal Junghwan yang ia dapat dari informan terpercaya.

Hantu yang berada di sekitar rumah Junghwan.

Doyoung tersenyum saat menyadari bahwa Junghwan memang sosok terkenal selain karena dirinya dewa, juga karena ketampanannya yang di luar nalar manusia.

Seharusnya Tuhan menciptakan sedikit goresan di wajah laki-laki itu agar tidak banyak orang yang jatuh cinta padanya.

"Aku harus tahu kelemahannya." Ucap Doyoung pada diri sendiri, setelah merapikan kertas di atas meja ia kemudian melangkah menuju kasur besar yang ada di tengah ruangan.

Walaupun tidak butuh tidur, tapi Doyoung perlu beristirahat jika sedang lelah, meski ia tidak akan sakit jika terlalu banyak beraktivitas, tapi Doyoung merasa perlu melakukan hal yang biasa manusia lain perbuat.

Benar apa kata Junghwan, Doyoung terlalu bergantung kepada manusia. Tapi jangan salahkan dirinya karena Doyoung amat sangat terbantu dengan kehadiran mereka.

Doyoung masih ingat hari pertama ia diciptakan, meski sudah diberi banyak fasilitas tapi Doyoung juga perlu belajar untuk beradaptasi pada lingkungan, dan ia dibantu oleh manusia yang ada di sekitarnya.

Immortal memang tidak perlu pendidikan seperti yang manusia lain terima, karena di kepalanya sudah terprogram bagaimana harus bersikap sesuai dengan perkembangan zaman, tapi tetap saja ada satu atau banyak hal yang tidak ikut serta di sana.

Dan Doyoung membutuhkan bantuan orang lain untuk tahu itu semua.

Tapi sejak ditinggalkan oleh teman terbaiknya beberapa tahun lalu, Doyoung memutuskan untuk berhenti bersosialisasi, Doyoung tidak ingin merasakan pedihnya melihat orang yang sangat ia kasihi pergi tanpa pernah kembali.

Permen yang Junghwan berikan masih meninggalkan jejak dingin di lidahnya, membuat Doyoung tersenyum saat mengingat tingkah manis dewa terkutuk itu.

"Seharusnya ia berhenti bersikap baik jika tidak ingin dicintai." Ucap Doyoung dalam hati sebelum akhirnya terlelap di atas kasurnya sendiri.

***

"Satu kali?" Tanya Doyoung dengan nada tinggi, sedikit tidak percaya dengan apa yang diucap makhluk gaib di depannya.

"Iya, katanya Dewa So hanya pernah membunuh satu manusia."

"Setelah itu ia tidak pernah jatuh cinta?"

"Pernah, tapi tidak sedalam dengan apa yang ia lakukan bersama manusia pertamanya."

"Maksudmu?"

"Tidak sampai membunuh mereka, Dewa So memilih untuk pergi ke tempat lain sebelum perasaannya tumbuh lebih dalam."

"Romantis sekali." Ucap Doyoung sebelum akhirnya pamit meninggalkan makhluk yang untungnya dapat diajak berkomunikasi dengan mudah, tidak lupa mengucap terima kasih karena siapa tahu ia butuh bantuan makhluk itu lagi nanti.

Doyoung melirik arloji yang ada di pergelangan tangan kanan, masih terlalu sore untuk pulang maka laki-laki itu memutuskan untuk kembali ke rumah Junghwan.

Sambil terus berharap dalam hati agar Junghwan mau menerima tawaran dia nanti, karena Doyoung benar-benar ingin mati lalu menghilang dari dunia yang entah kapan akan berhenti.

Dengan satu jentikkan jari, Doyoung berpindah ke kediaman Junghwan yang gelap gulita, lagi-lagi dengan satu gerakan tangan ia berhasil menyalakan lampu tanpa harus repot mencari saklar.

Kediaman Junghwan tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan miliknya, Doyoung pasti tidak akan butuh waktu lama untuk beradaptasi jika Junghwan mengizinkannya tinggal di sini.

Tidak sopan memang tapi Doyoung kini mulai berkeliling ke sekitar rumah, tidak ada banyak barang yang tersedia. Doyoung dapat melihat beberapa kardus di sisi ruangan, Ah ia baru ingat kalau Junghwan memang belum lama pindah ke sini.

"Apa yang kau lakukan di rumahku?" Doyoung terkejut mendengar suara berat Junghwan di depan pintu, sedikit takut karena mau bagaimana pun Junghwan tetaplah Dewa yang seharusnya disegani oleh semua makhluk semesta.

"Hanya melihat-lihat." Jawabnya santai, berusaha menutupi ketakutan yang melanda.

"Sudah makan?" Lagi-lagi Doyoung terkejut dengan pertanyaan yang keluar dari mulut Junghwan. Ia melempar pandangan heran ke arah laki-laki berpakaian rapi di depannya. "Kau bisa makan, kan? Mau ku buatkan makanan?" Tanya Junghwan lagi.

"Ah, sedang berusaha menjadi temanku?" Tanya Doyoung setelah berhasil membaca isi pikiran Junghwan, lawan bicaranya mengangguk lalu berjalan ke arah dapur.

"Apa yang ingin kau makan?" Tanya Junghwan sambil menggulung lengan kemeja putihnya, Doyoung duduk di kursi yang sama dengan yang ia tempati semalam, memandang sosok Junghwan yang terlihat tidak nyata di depannya.

"Kau." Jawab Doyoung dengan nada menggoda, Junghwan memutar mata lalu berbalik menghadap kitchen counter, enggan menanggapi pembicaraan main-main makhluk aneh yang terus mengikutinya.

Setelahnya hening, tidak ada lagi percakapan di antara mereka. Junghwan sibuk memotong bahan makanan yang ia ambil dari kulkas, dan Doyoung juga sibuk dengan urusannya sendiri yaitu memandang sosok Junghwan dari belakang.

Belasan menit berlalu dan Doyoung mulai bosan dengan situasi canggung sekarang.

"Dewa So." Panggil Doyoung, berusaha memulai obrolan.

"Mhm?"

"Kau benar-benar tidak ingin membantuku?"

"Jika membantumu adalah dengan mencintaimu, maka jawabannya tidak."

Doyoung berdecak kesal lalu menjatuhkan kepalanya ke atas meja. "Kenapa? Padahal aku sudah berusaha keras untuk berbuat baik di depanmu." Bisiknya pelan.

Setelah memasukkan semua bahan makanan ke dalam air rebusan, Junghwan mencuci kedua tangannya lalu berjalan ke arah Doyoung, menarik kursi yang ada di sebelah makhluk itu lalu duduk di atasnya.

"Bagaimana dengan aku? Jika kau mati, apa kau pikir aku akan senang? Jangan hanya berpikir soal dirimu, tolong pikirkan perasaanku juga." Ucap Junghwan lembut sembari mengusap surai cokelat milik Doyoung.

Yang lebih kecil justru tertawa, tawa yang terdengar sangat menyebalkan di telinga Junghwan. Doyoung mengangkat kepala lalu menatap Junghwan yang duduk di sampingnya.

"Aku tahu kau masih sangat mencintai manusia pertamamu, dewa So. Bagaimana kalau begini, setelah aku mati aku akan meminta Tuhan untuk mengembalikan manusia itu ke pelukanmu? Kau akan langsung mendapat gantinya." Jelas Doyoung panjang lebar, sedikit puas karena rencananya terdengar sangat meyakinkan.

Senyum Doyoung makin lebar saat ia membaca pikiran Junghwan yang ternyata setuju dengan rencananya.

"Kau pun pasti akan kesulitan dalam mencintaiku, dan hanya butuh waktu sebentar untuk melupakan makhluk menyebalkan sepertiku, ya kan?"

"Beri aku waktu."

"Lima menit?"

"Terlalu sebentar. Dua hari."

"Tidak, itu terlalu lama. Saat kita selesai makan nanti, kau harus memberikan aku jawaban. Kalau tidakㅡ"

"Berhenti mengancamku, mau bagaimana pun aku adalah dewa yang ikut andil dalam menciptakanmu. Akan ku beri jawaban besok, tidak ada tawar menawar."

Doyoung terpaksa mengangguk setuju, membuat Junghwan bangkit dari duduknya dan kembali berjalan ke arah kompor yang terus mendesis sejak tadi.

Dengan tangan di bawah dagu, Doyoung terus menatap punggung lebar Junghwan dari belakang. Dirinya sangat berharap agar Junghwan setuju dengan rencana yang ia buat, dan Doyoung tidak sabar bermain-main bersama dewa yang sangat tampan, hantu di dekat rumahnya pasti iri jika Doyoung berjalan di sana sambil menggandeng sosok Junghwan.

Ah, Doyoung benar-benar tidak sabar dengan apapun yang menunggu ia di depan, hidup tidak pernah semenarik ini sebelumnya.






















...
siapa siap dengan konten hwanbby pcrn versi bapak-bapak kantoran🥰☝️

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com