Truyen2U.Net quay lại rồi đây! Các bạn truy cập Truyen2U.Com. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter V

Junghwan memandang Doyoung yang kini sedang berbaring di ranjangnya dengan tatapan khawatir, ia tidak tahu kapan hukuman yang laki-laki itu dapat akan dimulai tapi yang jelas Doyoung pasti akan merasa tersiksa.

Dirinya paham betul bagaimana langit akan menghukum salah satu ciptaannya yang melanggar aturan, sebesar apapun kekuatan yang Doyoung punya, satu kesalahan akan membuat kesakitan yang tidak tertahankan.

"Hukumanmu... sudah dimulai?" Tanya Junghwan dan langsung dijawab dengan anggukan lawan bicaranya.

Ia benar-benar menyesal karena membiarkan Doyoung terlibat dengan pertengkarannya beberapa jam lalu, seharusnya Junghwan bertindak lebih tegas kepada immortal yang kini harus menanggung hukuman karena kesalahan yang tidak sengaja ia buat.

"Aku tidak akan mati sekarang, Junghwan." Ucap Doyoung sambil tertawa, tangannya tidak berhenti menekan perutnya sendiri agar sakit yang ada di sana sedikit berkurang.

"Apa yang biasa kau lakukan saat seperti ini? Pernah mencoba meminum obat?"

Tawa Doyoung makin keras, tapi netranya tidak kehilangan fokus dari dewa yang terlihat sangat mengkhawatirkan kondisinya.

"Aku bahkan pernah dibawa ke rumah sakit oleh salah satu temanku dulu, tapi seperti yang kau bilang, itu malah membuat mereka heran karena tidak dapat menemukan satu pun organ di tubuhku."

Junghwan tidak berhenti menggigiti bibirnya sendiri, sambil terus berpikir bagaimana cara membuat rasa sakit yang Doyoung rasakan sedikit berkurang.

"Aku melanggar peraturan di perjanjian kita, kau tidak akan membatalkannya kan?" Tanya Doyoung, bukannya menjawab Junghwan malah bangkit dari tempatnya, meninggalkan ia sendirian di atas ranjang luas milik Junghwan.

"Dewa So?" Tanya Doyoung lagi, sedikit takut kalau-kalau Junghwan akan membatalkan perjanjian yang susah payah ia buat. Tapi pertanyaannya tidak mendapat jawaban karena sosok Junghwan yang menghilang di balik pintu.

Doyoung berdecak kesal, ia berbalik menatap tembok yang ada di sebelahnya. Ringisan yang sejak tadi ia tahan akhirnya keluar, hukuman yang diberi oleh para petinggi memang tidak main-main sakitnya, ini bahkan lebih parah dibanding saat di mana Doyoung membantu sahabat terdekatnya.

Tubuh bagian dalam Doyoung rasanya seperti dicengkram kuat, tanpa dapat ia hindari air matanya keluar begitu saja, dalam hati Doyoung berharap agar matahari cepat terbit dan membuat kesakitannya segera berhenti.

Dirinya tidak sadar kalau Junghwan kembali memasuki kamar yang ia tempati, laki-laki tinggi itu berjalan ke arahnya dengan cepat karena mendengar tangisan Doyoung yang begitu menyedihkan.

"Kau tidak apa-apa?" Tanya Junghwan panik.

"Pertanyaan bodoh." Umpat Doyoung saat mendengar pertanyaan tidak masuk akal yang keluar dari mulut si mantan dewa.

"Berhenti bersikap menyebalkan, Doyoung."

"Bagaimana kalau kau yang berhenti mengoceh, So Junghwan?"

Junghwan mengacak rambutnya frustasi, ia menyesal karena harus repot membuatkan minuman hangat untuk Doyoung konsumsi, sikap immortal yang ada di depannya benar-benar menyebalkan.

"Apa yang bisa aku lakukan agar kesakitanmu berkurang?" Tanya Junghwan lagi, berusaha keras untuk tidak membiarkan emosinya meledak.

Tubuh Doyoung yang sejak tadi menghadap tembok akhirnya berbalik, lagi-lagi ia tertawa karena melihat raut Junghwan yang begitu mengkhawatirkannya. Dewa itu kini duduk di pinggir ranjang yang Doyoung tiduri.

"Aku tidak tahu." Cicit Doyoung pelan, nada suaranya berubah menjadi lembut seketika.

Junghwan mendesis saat melihat wajah Doyoung yang jauh lebih pucat dibanding biasanya, tangannya bergerak untuk mengusap kening makhluk immortal yang terus menatapnya dengan mata sendu.

Tangan besar Junghwan terasa dingin di kening hangatnya, Doyoung menutup mata karena entah kenapa rasa sakitnya sedikit berkurang ketika Junghwan menyentuh kulitnya.

"Lakukan itu lagi."

"Apa?" Tanya Junghwan heran.

"Sentuh aku."

"Kau gila?"

"Bukan sentuh itu yang aku maksud, begini..." Tangan Doyoung terulur untuk menuntun tangan Junghwan agar kembali mengusap keningnya. Junghwan yang paham langsung menurut, jemarinya bergerak di area wajah Doyoung yang mulai terlihat jauh lebih rileks.

"Ini membuat rasa sakitmu berkurang?"

Doyoung mengangguk, Junghwan tersenyum samar sambil menatap Doyoung yang tidak lagi menangis kesakitan.

"Tidurlah." Perintah Junghwan.

"Saat baik saja aku sulit untuk tidur, dewa So."

Junghwan menarik tangannya dari wajah Doyoung, membuat laki-laki manis itu merengek karena kesakitan kembali menyerang tubuhnya.

"Geser sedikit." Perintah Junghwan, tapi Doyoung malah diam karena ia berani sumpah kalau tubuhnya benar-benar sulit untuk digerakkan.

"Kim Doyoung."

"Apa kau tidak bisa berhenti mengoceh atau memintaku melakukan ini itu? Aku tidak sanggup bergerak!"

Yang lebih tinggi terkesiap karena omelan keras yang keluar dari mulut Doyoung, untungnya Junghwan diciptakan dengan rasa sabar yang cukup tinggi, tidak seperti immortal yang tingkat kesabarannya benar-benar setipis tisu.

Junghwan akhirnya naik ke atas ranjang, setelah meletakkan tangan kiri di belakang leher Doyoung dan yang sebelah lagi di belakang lututnya, ia mengangkat tubuh yang lebih kecil ke sisi pojok kasur.

Setelah memastikan tubuh Doyoung berbaring dengan nyaman, Junghwan ikut merebahkan dirinya di sisi kosong ranjang.

"Baru hari kedua perjanjian kita dimulai tapi kau sudah mengajakku untuk tidur bersama?" Goda Doyoung sambil memandang Junghwan yang kini menatap malas ke arahnya.

"Tutup mulutmu." Omel Junghwan, tangan laki-laki itu lalu bergerak untuk menarik tubuh Doyoung masuk ke dalam dekapannya. "Apa sakitmu berkurang?" Tanyanya kemudian dan dijawab oleh anggukan Doyoung.

"Sedikit, tidak sesakit sebelumnya."

Junghwan tersenyum lega, ia mengusap punggung Doyoung dengan tangan besarnya. "Lain kali jangan pernah menggunakan kekuatanmu untuk membantuku."

"Sama sekali?"

"Sama sekali."

"Bagaimana kalau keadaanmu parah? Aku tidak akan membiarkanmu mati begitu saja."

"Lebih baik daripada kau yang mati."

Doyoung terkejut dengan jawaban yang keluar dari mulut dewa yang sedang mendekapnya, kepalanya yang semula berada di dada Junghwan perlahan mundur, ia memandang wajah Junghwan yang terlihat berbeda dengan tatapan heran.

"Dewa So?"

"Mhm?"

"Kau sadar dengan ucapanmu barusan?"

"Tidurlah, kau terlalu banyak bertanya."

Yang lebih kecil hanya merengut dan kembali merapatkan tubuhnya ke arah Junghwan. "Kau sangat pandai menyembunyikan isi hatimu, dewa So." Ucap Doyoung setelah menyadari bahwa sejak tadi ia tidak dapat mendengar apapun dari dalam diri Junghwan.

"Aku sengaja diam agar telingamu tidak lagi mendengar suara, tidurlah."

"Kau harus tahu bahwa aku sama sekali tidak menyesal karena telah membantumu." Bisik Doyoung dan hanya dijawab oleh anggukan pelan Junghwan.

Butuh waktu cukup lama bagi Doyoung untuk terlelap meskipun Junghwan terus berusaha membuat kesakitannya mereda, Junghwan yang awalnya melarang immortal itu untuk berkunjung justru membiarkan ia tidur satu ranjang dengannya.

Sedangkan Doyoung malah bersyukur karena di hari kedua sejak perjanjian mereka dimulai, ia mendapat kesempatan emas untuk bermalam di kediaman Junghwan, malam itu akhirnya Doyoung tidak lagi merasa kesepian.

***

"Kau baik-baik saja?" Tanya Junghwan tepat saat Doyoung membuka mata, laki-laki bersurai cokelat itu mengangguk lalu bangun dari posisi tidurnya.

"Ini akhir pekan, kita akan berkencan, kan?" Tanya Doyoung dengan nada ceria, Junghwan mengangguk lalu menyodorkan handuk yang ada di tangannya.

"Kau harus mandi."

"Berapa kali aku harus berkata bahwa aku bukan manusia?" Protes Doyoung. "Lihat aku."

Doyoung duduk dengan tegak lalu menjentikkan jarinya, dan pakaian yang ia gunakan semalam berubah seketika. "Apa pakaianku berlebihan?"

Kemeja longgar juga celana jeans hitam yang terlihat pas membalut tubuh indahnya, Doyoung tersenyum puas saat melihat gelengan kepala Junghwan.

"Tapi apa kau tidak merasa kedinginan?"

"Dewa So, harus berapa kali aku bilang kalau aku bukanㅡ"

"Aku tahu, tapi tubuhmu benar baik-baik saja? Kesakitan yang kau rasakan sudah benar-benar hilang sepenuhnya?"

"Berpelukan semalam penuh bersamamu membuat staminaku kembali dengan cepat."

Junghwan enggan menanggapi pembicaraan tidak jelas yang keluar dari mulut Doyoung, ia lebih memilih untuk melanjutkan aktivitasnya di dapur, meninggalkan Doyoung yang tersenyum puas karena berhasil menggoda Junghwan.

Setelah merapikan pakaiannya, Doyoung bangkit dari kasur lalu berjalan menyusul Junghwan yang masih sibuk dengan masakannya. "Kau masak apa?" Tanya Doyoung, berusaha mencairkan suasana.

"Sup rumput."

"Apa tidak ada makanan yang lebih normal?"

"Kenapa? Kau kan bukan manusia?"

Doyoung berdecak kesal, ia berjalan ke arah Junghwan lalu berdiri di sebelahnya. "Sejak kapan sup rumput dipenuhi wortel?"

"Kau tahu wortel?"

"Apa aku sebodoh itu di matamu?"

Junghwan tertawa, entah kenapa ia mulai terbiasa mendengar omelan Doyoung. "Iya." Jawab Junghwan lagi dan disambut dengan pukulan keras yang ia terima di lengan.

"Berhenti membuatku kesal."

"Bukankah kau memang mudah kesal?"

Doyoung tidak menjawab dan memilih untuk berjalan ke arah kulkas, mengambil satu kotak es krim kemudian duduk di atas kursi meja makan. "Kau harus makan dulu sebelum menghabiskan stok es krim ku." Ucap Junghwan yang ternyata sudah selesai dengan aktivitas memasaknya.

Tapi Doyoung tidak terlihat peduli, ia malah dengan sengaja membuka kotak es krim dengan kuat dan mulai memakan makanan manis itu di depan Junghwan.

Junghwan menarik kotak es krim yang ada di depan Doyoung dan memasukannya kembali ke dalam kulkas. "Kau harus menuruti perintahku, Doyoung."

Doyoung memasang ekspresi kesal karena sikap Junghwan yang benar-benar menyebalkan pagi ini, ia bahkan tidak sanggup untuk sekedar meladeni ocehan tidak jelas dewa tidak tahu diuntung itu.

"Makan." Perintah Junghwan lagi setelah meletakkan beberapa piring berisi makanan di atas meja.

Bukannya menurut, Doyoung malah bersandar ke bagian belakang kursi, dengan kedua tangan terlipat di depan dada ia memandang Junghwan dengan raut kesal. "Tidak mau."

"Setelah menghabiskan makananmu kita akan berkencan, kau tidak mau?"

"Tidak."

"Ya sudah, aku tidak rugi karena kau sendiri yang menolak ajakan kencanku."

Doyoung masih diam, tidak berniat sedikitpun untuk menuruti perintah Junghwan. Yang lebih tinggi paham betul kalau ego Doyoung tidak akan goyah dengan mudah, maka dari itu ia memilih untuk menghabiskan makanan yang ada di piringnya terlebih dahulu sebelum berjalan ke arah Doyoung dan duduk di sebelahnya.

"Makan, atau mau aku suapi?"

Sekuat tenaga Doyoung menahan diri untuk tidak tersenyum. "Setelah makan apa aku akan mendapatkan ciuman yang kau janjikan semalam?"

"Tidak ada yang berjanji untuk menciummu?" Protes Junghwan.

"Ya sudah, aku tidak akan makan."

Junghwan menghela napas, seharusnya sejak awal ia tidak berurusan dengan makhluk licik seperti Doyoung. Tapi ia tidak dapat mundur karena dirinya memang mulai tertarik dengan immortal menyebalkan yang terus melempar tatapan menuntut di sebelahnya.

Sebagai dewa yang sudah menjalani hukuman selama ratusan tahun, Junghwan tahu kalau itu adalah bagian dari kutukan yang harus ia jalani, terlalu mudah jatuh cinta.

Kepala Junghwan bergerak maju, ia mendaratkan kecupan ringan di bibir kecil Doyoung. Kecupan itu berhasil membuat raut Doyoung berubah dengan cepat. "Aku akan membuatmu menciumku lagi nanti." Ucap Doyoung sebelum mendorong piring yang ada di depannya ke hadapan Junghwan. "Sekarang cepat suapi aku, banyak tempat yang menunggu untuk kita kunjungi hari ini."



















...

konfliknya masih mau ditunda soalnya mau bikin nih demit berdua pcrn dulu.

btw kalo kalian bingung ini Junghwan dewa apa ya anggap aja dewa19 soalnya aku gak berani nyebutin nama dewa beneran gt takut salah euy.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com