Truyen2U.Net quay lại rồi đây! Các bạn truy cập Truyen2U.Com. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter VI

"Apa kau dapat merasa kedinginan?"

"Tidak."

"Lalu mengapa kau berpakaian seperti itu?"

Doyoung memandang Junghwan dengan tatapan aneh karena Dewa itu mengenakan coat panjang hitam lengkap dengan scarf tebal berwarna senada yang membalut lehernya.

"Hanya berusaha berbaur dengan manusia."

Keduanya berjalan beriringan di pinggir sungai Han yang cukup ramai, sebenarnya Doyoung enggan berada di sini karena suara hati manusia sungguh sangat mengganggu kepalanya, tapi Junghwan si Dewa yang terobsesi menjadi salah satu dari mereka itu memaksa.

Ia terpaksa menurut karena Junghwan terus mengancam akan membatalkan kencan mereka jika Doyoung menolak.

Sampai sekarang Doyoung belum tahu apa yang membuat Junghwan begitu berusaha membaur dengan manusia, ia bahkan harus repot bekerja padahal faktanya ia tidak butuh makanan atau sesuatu yang berhubungan dengan uang sebagai penunjang kehadirannya di dunia.

Cuaca di bulan November cukup dingin, tidak jarang beberapa orang memandang aneh ke arah Doyoung yang hanya mengenakan kemeja tipis juga celana jeans.

"Mau ramen?" Tanya Junghwan begitu keduanya sampai di depan minimarket.

Doyoung melempar tatapan kesal ke arahnya. "Berhenti memintaku untuk makan, dewa So." Protes Doyoung dan diikuti oleh tawa khas Junghwan.

Kini mereka duduk di salah satu kursi panjang yang menghadap langsung ke arah sungai tenang di depan, Junghwan menarik napas panjang, meski ia sama dengan Doyoung yang tidak dapat membaui apapun, tapi sebisa mungkin Junghwan berusaha untuk menikmati perjalanannya di dunia.

Wajar karena ini baru dua ratus tahun baginya, sedangkan Doyoung yang menjalani hidup lima kali lipat lebih panjang dari Junghwan merasa sudah lebih dari cukup, ia tidak ingin menghabiskan satu dekade lagi di sini.

"Dewa So."

"Ya?"

"Apa kau ingin menjadi manusia?"

Pertanyaan Doyoung membuat Junghwan menoleh ke arahnya, netra bulat Doyoung tidak lepas dari sungai tenang yang ada di hadapan, pertanyaan yang keluar dari mulutnya entah kenapa terdengar aneh dan cukup menyedihkan.

"Entahlah." Jawab Junghwan singkat. "Kau ingin menjadi manusia?" Kali ini giliran Junghwan yang bertanya.

Doyoung menggeleng, ia kemudian menunduk memandangi sepatu putih yang melindungi kakinya. "Aku ingin pergi dari sini. Manusia terlalu jahat Dewa So, aku tidak yakin akan kuat jika hidup berdampingan dengan mereka."

Junghwan diam, seakan mempersilakan Doyoung untuk melanjutkan kalimatnya.

"Meski tidak semua isi pikiran mereka akan terlaksana, tapi skenario jahat yang mereka susun kadang terlalu mengerikan." Lanjut Doyoung lagi.

Tangan kanan Junghwan terulur untuk mengusap bahu Doyoung perlahan. "Kekuatan yang aku punya malah kadang terasa seperti kutukan." Final Doyoung.

Kepala Doyoung mulai bergerak dan kini ia menoleh ke arah Junghwan yang masih menatapnya, pandangan keduanya bertemu. Tawa kecil keluar dari mulut Doyoung kala Junghwan melempar senyum terbaik yang laki-laki itu punya.

"Kenapa?" Tanya Junghwan.

"Tidak menyangka kalau kau akan secepat itu jatuh hati kepada ku."

Ekspresi Junghwan seketika berubah, ia menarik sebelah tangannya yang ada di bahu Doyoung lalu melipat keduanya di depan dada.

"Suasananya terlalu indah untuk bertengkar, Dewa So. Tolong akui saja perasaanmu." Tepat setelah kalimat Doyoung berhenti, angin berhembus kencang di antara mereka. Aneh karena tiba-tiba Doyoung merasakan sensasi dingin di atas kulitnya.

Junghwan yang hendak protes langsung menatap Doyoung dengan khawatir. "Kau tidak apa-apa? Hukumanmu semalam belum selesai?"

Doyoung menggeleng, kini ia memeluk tubuhnya sendiri, berusaha menghalau dingin yang enggan berhenti. "Aku tidak tahu." Jawabnya singkat.

Yang lebih tinggi mulai menanggalkan coat panjang yang ia kenakan dan memakaikannya ke tubuh Doyoung yang makin terlihat kedinginan. "Lebih baik?" Tanya Junghwan dan dijawab dengan anggukan laki-laki di sebelahnya.

Tangan Junghwan bergerak untuk menarik tubuh Doyoung agar lebih dekat. "Seharusnya kau bilang kalau kondisimu masih belum baik." Ucapnya pelan.

"Apa ucapanku kurang jelas? Aku tidak tahu, dan biasanya hukuman yang aku terima akan berhenti begitu matahari terbit." Protes Doyoung, tidak terima atas tuduhan Junghwan.

Junghwan masih berusaha sabar dan justru menarik tubuh Doyoung untuk masuk ke dalam pelukan, menghadapi immortal yang berusia seribu tahun lebih memang membutuhkan banyak kesabaran.

Amarah Doyoung juga mulai reda, ia membalas pelukan Junghwan, mengistirahatkan dagunya di bahu lebar si mantan dewa. "Maaf, aku tidak bermaksud menuduhmu." Bisik Junghwan pelan.

Doyoung tidak dapat menahan diri untuk tidak tersenyum, ia mengangguk lalu mengecup singkat pipi kiri Junghwan. "Setelah pelukan, apa kita akan berciuman?"

Junghwan enggan menjawab tapi ia justru mengeratkan dekapan, mengikis jarak yang menghalangi mereka, dan berhasil membuat senyuman Doyoung kian melebar.

"Tidurlah di rumahku lagi malam ini." Ucap Junghwan yang dibalas dengan anggukan semangat Doyoung.

***

"Dewa So, bisa tolong matikan pendingin ruangan?" Ujar Doyoung pelan, ia berulang kali berusaha menjentikkan jari tapi kekuatannya seolah menguar entah ke mana.

Keduanya memutuskan untuk pulang setelah Doyoung merasa kesakitan yang semalam ia rasakan kembali datang.

"Sebentar." Junghwan berjalan mencari remote control, setelah menemukan benda kecil itu ia langsung mematikan pendingin ruangan yang memang terus menyala sejak tadi.

Setelahnya Junghwan melangkah ke arah kasur tempat Doyoung berbaring, hatinya dipenuhi rasa bersalah karena telah membiarkan Doyoung terus tersiksa hanya karena menolongnya.

"Berhenti merasa bersalah, membantumu semalam itu murni kemauanku." Ucap Doyoung, immortal itu sedikit bersyukur karena ternyata ia masih bisa mendengar isi hati Junghwan.

"Akan ku buatkan sesuatu yang hangat." Junghwan yang hendak berjalan keluar ruangan tiba-tiba berhenti saat merasakan tangan Doyoung menggenggam ujung kaos hangat yang ia gunakan.

"Temani aku saja, makanan yang kau buat tidak akan berpengaruh."

"Tidak ada salahnya untuk kita coba."

"Kita sudah mencobanya semalam dan sentuhanmu berhasil membuat kesakitanku berkurang, Dewa So."

Junghwan akhirnya menurut, ia berbaring di sisi kosong ranjang dan masuk ke dalam selimut yang Doyoung gunakan sejak mereka kembali dari taman sore tadi, Junghwan menarik tubuh yang lebih kecil ke dalam rengkuhan.

"Masih sakit?"

Doyoung mengangguk. "Rasanya seperti dipukuli dari dalam, tapi dengan benda berat dan runcing." Junghwan meringis membayangkan kesakitan yang Doyoung rasakan.

"Jangan tanya kenapa sakitnya belum berhenti karena aku benar-benar tidak tahu, ini pertama kalinya aku dihukum di siang hari." Ucap Doyoung. "Dan jangan minta maaf, aku muak mendengar kata maaf dari mulutmu." Lanjutnya lagi.

Sikap Doyoung yang begitu berapi-api dan amarah membuat Junghwan menyesali keputusannya untuk berbuat perjanjian dengan makhluk itu, seharusnya memang sejak awal mereka tidak bertemu. Junghwan jadi tidak perlu menghadapi perangai Doyoung yang begitu buruk, dan menyaksikan immortal kecil yang terlihat lemah ini mengerang kesakitan karena kesalahan yang Junghwan juga ikut terlibat di dalamnya.

"Dewa So."

"Ya?"

"Apa kau sudah mencintaiku?"

"Aku memang mudah jatuh cinta tapi tidak secepat itu juga."

Tawa pelan akhirnya keluar dari mulut yang lebih kecil, dengan tangan melingkar di pinggang Junghwan, Doyoung yang pada dasarnya memang tidak butuh oksigen itu menarik napas panjang, berusaha menghirup wangi tubuh Junghwan, dan berakhir gagal tentu saja.

"Biasanya butuh berapa lama bagimu untuk jatuh cinta?" Tanya Doyoung lagi.

"Aku tidak tahu, aku selalu kabur jika perasaan suka mulai muncul."

"Kau tidak pernah mencintai manusia?"

"Tidak."

"Bohong."

"Jika kau ingin membicarakan manusia pertama yang aku cintai, aku enggan menanggapi."

"Kenapa?"

"Privasi."

Doyoung berdecak pelan, bisa-bisanya ia membicarakan privasi padahal saat ini tubuh mereka menempel dengan sempurna.

"Apa manusia itu lebih indah dibanding aku?"

"Jelas."

Decakan keras keluar dari mulutnya, sungguh ia sangat ingin melepaskan pelukan Junghwan, tapi kemudian ia sadar kalau tubuhnya masih sangat kesakitan sekarang.

"Kau tidak sedang berpura-pura sakit agar dapat aku peluk, kan?"

Emosi yang sekuat tenaga Doyoung tahan akhirnya tumpah, dengan sedikit tenaga yang tersisa ia mendorong tubuh Junghwan agar menjauh. "Apa aku seburuk itu di matamu?" Protesnya tidak terima.

"Aku hanya bertanya." Ucap Junghwan yang masih berusaha untuk tenang.

"Tapi pertanyaanmu sangat menyinggungku."

"Lantas? Apa itu salahku?"

Sebenarnya Junghwan juga enggan bertengkar dengan makhluk keras kepala seperti Doyoung, tapi entah kenapa perasaannya mulai tidak nyaman ketika Doyoung berusaha membicarakan perihal manusia yang sangat ingin Junghwan lupakan.

"Pergi." Perintah Doyoung sambil menggeser tubuhnya ke sisi pojok kasur.

"Ini kamarku."

Doyoung masih ingin marah tapi tiba-tiba rasa sakit yang begitu parah kembali mendatangi tubuhnya, ia berteriak sebelum akhirnya meringkuk, berusaha menekan perutnya yang diserang rasa sakit yang begitu menusuk.

"Kenapa?" Tanya Junghwan dengan panik, jangankan menjawab untuk membuka mata saja Doyoung merasa sangat kesulitan.

"Kim Doyoung?"

Junghwan mengangkat tubuh Doyoung agar sejajar dengannya, dipandangi wajah pucat Doyoung dan tangan besarnya mulai bergerak untuk mengusap wajah Doyoung yang dipenuhi keringat.

"Apa kau benar-benar tidak punya sesuatu untuk membuat kesakitanmu berkurang?" Tanya Junghwan, Doyoung menggeleng lemah.

"Sepertinya para penghuni langit sangat murka karena aku telah membantu dewa mereka." Ucap Doyoung, berusaha membuat candaan karena Junghwan yang panik dan tidak berhenti mengutuk dirinya sendiri di dalam hati.

Tangan Junghwan turun, mencari tangan kecil Doyoung untuk ia bawa masuk ke dalam genggaman. Ada rasa tidak nyaman saat menatap raut kesakitan Doyoung yang jelas terlihat di wajahnya.

Aku tidak dapat membayangkan jika nanti kau benar-benar mati, Doyoung.

"Jangan dibayangkan, kematianku akan membuatmu bertemu dengan manusia yang kau bilang jauh lebih indah dibanding aku itu, Dewa So. Bukankah kau merindukannya?"

Rematan kuat di tangannya dapat Junghwan rasakan saat kesakitan kembali menyerang Doyoung. "Sakit sekali?" Tanya Junghwan, Doyoung menggeleng.

"Sepertinya lebih sakit saat dimana kau kehilangan manusia pertama dan terakhir mu itu."

"Itu bukan hal yang dapat kita bandingkan."

"Kenapa? Manusia berkata bahwa patah hati jauh lebih menyiksa dibanding penyakit apapun, kan?"

"Tapi kita bukan manusia."

Doyoung tertawa, So Junghwan terlalu rumit untuk dapat ia pahami ternyata, padahal sudah jelas laki-laki itu adalah makhluk langit yang sangat terobsesi menjadi manusia.

"Jangan pergi kemana pun saat aku tidur atau pingsan nanti, aku tidak ingin terbangun sendirian di kamarmu yang menyeramkan ini."

Junghwan mengangguk sebelum akhirnya kembali menarik tubuh Doyoung untuk mendekat dengannya, mengusap punggung sempit laki-laki bersurai cokelat berulang kali. Dalam hati terus berdoa agar siapapun yang memberikan immortal itu hukuman agar segera berhenti.





























...

woe drama bgt lu berdua btw konfliknya otw yah mari kita siksa dua makhluk kasat mata ini

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com