Truyen2U.Net quay lại rồi đây! Các bạn truy cập Truyen2U.Com. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter VII

Maaf karena aku harus pergi sebelum kau bangun, ada pekerjaan mendesak di kantor, hubungi nomor ini jika kau butuh sesuatu. Jangan pulang sebelum aku kembali. - Junghwan

Doyoung meremat kertas yang ada di tangan, padahal tadi malam laki-laki itu berjanji untuk menemaninya hingga pagi, tapi saat Doyoung bangun, ia justru sudah pergi.

Dengan langkah terseok ia berjalan ke arah lemari yang ada di sisi lain ruangan, Doyoung berniat untuk kembali ke rumahnya siang ini tapi karena hukuman sialan yang enggan berhenti membuat dirinya kesulitan untuk berteleportasi.

Setelah berhasil memakai kaus hangat juga sweatpants kebesaran milik Junghwan, ia akhirnya pergi meninggalkan rumah mantan dewa yang entah kenapa begitu terasa menyeramkan.

Rumah Junghwan dipenuhi banyak makhluk jahat, Doyoung tahu karena ia sempat menemukan beberapa saat mencari informasi tentang Junghwan.

Banyak yang ingin menghancurkan Junghwan karena katanya jika mereka berhasil membunuh dewa, mereka akan mendapat kekuatan tidak terbatas. Tapi kabar itu belum terbukti benar karena Junghwan masih hidup sampai sekarang.

"Kim Doyoung?" Doyoung menoleh ke sumber suara, itu hantu yang tempo hari ia mintai informasi tentang Junghwan.

"Park Jeongwoo! ku kira kau sudah pergi ke neraka?"

Siapapun tolong tahan Jeongwoo untuk tidak meninju wajah manis si immortal sekarang juga, sebenarnya Jeongwoo juga enggan berhubungan dengan makhluk arogan seperti Doyoung, tapi sebagai hantu baik hati ia tidak boleh memilih kepada siapa memberi bantuan.

"Jaga mulutmu." Protes Jeongwoo dan diikuti dengan tawa khas Doyoung. "Oh, kau sudah mendapat cinta So Junghwan?" Pertanyaan yang lebih mirip dengan pernyataan itu menggelitik telinga Doyoung.

"Apa maksudmu?"

"Kau perlahan mati, itu karena cinta Junghwan, kan?" Ucap Jeongwoo sambil menunjuk Doyoung yang terlihat kesakitan.

Doyoung memutar mata, tebakan asal yang keluar dari mulut arwah penasaran ini membuatnya jengkel. "Aku dihukum karena membantu Junghwan dari serangan iblis." Jelasnya singkat.

"Tapi ini masih terlalu pagi? Hukuman yang kau dapat kan hanya berlaku di malam hari?"

Kalimat Jeongwoo terasa ada benarnya, Doyoung sendiri pun heran mengapa ia masih merasakan sakit padahal sudah mendapat hukuman dua malam penuh sebelumnya. "Apa gejala dari manusia yang Junghwan sukai juga separah ini?"

Jeongwoo mengangkat bahu. "Entah lah, aku tidak pernah mendengar apapun tentang manusia di sekitarnya."

Doyoung menggeleng, berusaha menghalau pikiran aneh soal hubungannya dengan Junghwan. Karena ini baru hari keempat sejak perjanjian mereka dimulai dan Junghwan tidak akan semudah itu mencintainya, kan?

"Kau mau pulang? Dengan kedua kakimu?" Tanya Jeongwoo heran, padahal Doyoung bisa dengan mudah menggunakan kekuatannya untuk berteleportasi dari sini.

"Aku takut rumahku berdebu jika ditinggal terlalu lama."

"Selain menyukai Junghwan, kau juga tergila-gila dengan kebersihan?"

Kali ini Doyoung tertawa. "Aku tidak menyukai Junghwan." Jelas Doyoung dan langsung mendapat tatapan heran dari lawan bicaranya.

"Tidak mungkin."

"Aku hanya butuh dia yang mencintaiku, aku tidak perlu menyukainya kan?"

Yang lebih tinggi kembali mengangkat bahu. "Aku tidak tahu, kau paham sendiri kan peraturan langit begitu rumit dan sering berubah, makanya aku lebih memilih untuk tinggal di dunia meski harus menjadi arwah penasaran."

"Neraka jauh lebih indah dibanding dunia, Jeongwoo."

"Kau pernah ke neraka?"

Doyoung menggeleng. "Hanya sampai ke depan gerbang, aku takut kulitku terbakar jika berada terlalu dekat."

Jeongwoo tertawa, immortal yang katanya menyebalkan ini ternyata cukup lucu. "Ada beberapa makhluk jahat yang baru datang setelah tahu bahwa Junghwan pindah ke sini."

"Aku menemukan satu di gang gelap beberapa hari lalu." Jawab Doyoung, membenarkan kalimat Jeongwoo.

"Junghwan benar-benar akan mati jika makhluk jahat itu bersatu untuk menyerangnya, tolong beritahu dewa untuk menghindari daerah gelap."

Merasa obrolan mereka mulai melebar, Doyoung pamit karena ia benar-benar harus pulang ke rumah sekarang juga. Selain karena takut ada makhluk jahat yang menerobos masuk ke sana, Doyoung juga masih butuh istirahat.

Immortal bersurai cokelat itu berjalan santai menuju rumah yang untungnya tidak terlalu jauh dari kediaman Junghwan, setelah berjalan kaki selama lima belas menit, Doyoung akhirnya sampai.

Untungnya tidak terjadi hal buruk seperti apa yang Doyoung khawatirkan, ia berjalan lurus ke arah kamar tidur dan langsung berbaring di kasur empuk yang sangat ia rindukan.

Tidak butuh waktu lama sampai Doyoung terlelap di atas ranjang, perjalanan dari rumah Junghwan sungguh sangat menguras tenaganya.

***

Doyoung terbangun karena suara berisik yang berasal dari dapur, kondisinya sudah cukup baik setelah beristirahat hampir seharian, setelah mengumpulkan kesadaran Doyoung berjalan ke sumber suara dan ia dapat menemukan sosok Junghwan yang sibuk menghangatkan makanan.

Tunggu, dengan peralatan milik siapa?

"Apa yang kau lakukan di rumahku?" Tanya Doyoung ketus.

Junghwan berbalik, ia baru saja selesai memasang microwave miliknya di atas kitchen counter yang kosong di dapur Doyoung.

"Bagaimana bisa kau tidak memiliki apapun di dapurmu?" Junghwan balik bertanya.

"Jelas karena aku tidak butuh makan, Dewa So. Aku tidak sepathetic dirimu yang terus bertingkah seperti manusia."

Tawa kecil keluar dari mulut Junghwan ketika menyadari bahwa perangai menyebalkan Doyoung telah kembali. "Kau sudah sembuh ternyata."

"Benar, dan aku tidak butuh kehadiranmu di sini."

Dengan kedua tangan terlipat di depan dada, Doyoung terus melempar pandangan kesal ke arah Junghwan. Yang lebih tinggi berjalan mendekat ke arahnya, tapi Doyoung tidak gentar dan tetap diam menunggu Junghwan di tempatnya berdiri.

"Maaf." Ucap Junghwan singkat begitu sampai di hadapan Doyoung.

"Untuk?"

"Karena telah meninggalkanmu tadi pagi, urusanku benar-benar mendesak dan tidak dapat digantikan oleh siapapun, mereka membutuhkanku." Jelas Junghwan.

Doyoung diam, berusaha membaca isi hati Junghwan, dan ia sedikit lega karena tidak menemukan kebohongan di sana.

"Lalu kau pikir aku tidak?"

"Maksudmu?"

"Kau pikir aku tidak membutuhkanmu, Dewa So?"

Bohong kalau Junghwan bilang ia tidak merasa bersalah sekarang, sejak tadi sebenarnya karena sebelum ini ia harus mencari tahu di mana rumah Doyoung dari para hantu yang berkeliaran di rumahnya. Bolak-balik menggunakan mobil yang sudah lama tidak ia kendarai hanya untuk memindahkan beberapa alat masak ke rumah Doyoung.

"Mengapa kau begitu egois? Memberiku banyak larangan sementara kau dengan mudah mengingkari janji yang kau buat?"

Junghwan bergerak maju, hendak menarik tubuh kecil Doyoung masuk ke dalam rengkuhan, tapi immortal itu dengan cepat menghindar. "Jangan bujuk aku dengan cara manusia mu itu." Omel Doyoung lagi.

"Lantas aku harus apa?"

"Pergi dari sini, aku tidak ingin melihat wajahmu."

Immortal ini benar-benar merepotkan.

"Aku tidak pernah ingin merepotkanmu, Dewa So. Kau yang memintaku untuk tinggal di rumahmu saat aku mendapat hukuman kemarin, dan berkat siapa hukuman itu aku dapat? Karena aku berurusan dengan dewa lemah sepertimu!" Ucap Doyoung berapi-api, ia tidak terima dibilang merepotkan oleh dewa sialan seperti Junghwan.

"Perlu aku tekankan kalau aku tidak pernah meminta bantuanmu?"

Doyoung berdecih ketika menyadari kalau ucapannya justru menghancurkan dirinya sendiri, tapi ia tetap tidak ingin kalah dari perdebatan ini.

"Lantas apa aku harus diam ketika melihatmu terpojok? Apa aku harus diam saat melihat dewa terkutuk hampir mati karena diserang iblis rendahan malam itu?"

Dengan tangan terkepal kuat, Junghwan berjalan mendekat ke arah Doyoung, mengikis jarak di antara keduanya.

"Mulai malam ini, perjanjian kita batal."

"So Junghwan!"

"Apa? Kau mau protes? Aku yang punya kehendak penuh karena kau yang mengemis ingin dicintai tempo hari, tapi apa kau sadar Kim Doyoung?" Doyoung diam, mempersilakan Junghwan untuk melanjutkan kalimatnya yang menggantung.

"Siapapun tidak akan dapat mencintai makhluk arogan sepertimu, kau pantas untuk tinggal di dunia yang sama jahatnya denganmu. Kau tidak pantas dicintai oleh siapapun termasuk dewa terkutuk sepertiku." Final Junghwan sebelum akhirnya melangkah menjauh, meninggalkan Doyoung yang masih diam di tempat.

"So Junghwan!" Teriak Doyoung, tapi langkah Junghwan masih enggan berhenti. "Bawa peralatan masakmu itu sebelum aku ledakkan sekarang juga, sialan!"

***

"Kau harus pindah rumah." Ucap Doyoung singkat ke arah Junghwan yang masih sibuk membereskan peralatan masaknya.

Junghwan diam, ia masih marah pada Doyoung.

"Kau bisa mati jika terus diserang oleh makhluk jahat." Lanjut Doyoung lagi, dan Junghwan masih enggan menjawab.

Aku mati atau hidup itu bukan urusanmu.

"Memang bukan urusanku, tapi aku pasti sedih jika kau pergi. Dewa terkutuk sepertimu seharusnya menghabiskan puluhan abad di dunia, dua ratus tahun kurang cukup untuk membuatmu jera."

Junghwan sangat ingin melempar microwave yang ada di tangannya ke arah Doyoung sekarang juga, tapi ia menahan diri karena mau bagaimanapun dirinya adalah dewa yang dikaruniai kesabaran tinggi, tidak seperti makhluk menyebalkan yang terus mengoceh di belakangnya.

"Makhluk menyebalkan ini punya kekuatan lebih, tidak sepertimu yang bahkan tidak dapat melawan makhluk rendahan."

"Tutup mulutmu."

"Ini rumahku? Dan perjanjian kita juga sudah batal, maka kau tidak berhak untuk mengaturku So Junghwan."

Doyoung sangat menyukai agenda membuat Junghwan kesal seperti sekarang, reaksi yang dewa itu buat sangat membangkitkan semangatnya. Meski tubuhnya masih sedikit lemas tapi ia tidak berhenti melemparkan kalimat menyakitkan.

Seharusnya Doyoung melakukan ini sejak dua hari lalu, membuat Junghwan kesal layaknya obat bagi hukuman yang ia terima.

"Ingatkan aku untuk tidak lagi berurusan denganmu." Ucap Junghwan, ia kembali melangkah keluar ruangan, meninggalkan Doyoung yang tersenyum puas di belakang.

Tapi belum lama sejak dewa itu keluar dari dapur, Doyoung dikejutkan dengan suara keras yang berasal dari depan pintu rumahnya.

Immortal itu berlari dan menemukan sosok Junghwan yang terkepung oleh belasan makhluk jahat yang entah berasal dari mana.
































...

sebenernya ini bukan draft asli soalnya draft aku ilang hueee wp kampret tapi sama aja sih cuma rada beda dikit kalimatnya huft

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com