Truyen2U.Net quay lại rồi đây! Các bạn truy cập Truyen2U.Com. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter VIII

"Jangan ikut campur." Ucapan Junghwan membuat langkah Doyoung berhenti tepat di depan pintu, immortal itu akhirnya diam sambil melipat tangan di depan dada, menantikan perkelahian menarik yang akan terjadi di halaman rumahnya.

"Belasan makhluk bau akan membuatmu kewalahan, Dewa So." Balas Doyoung yang tengah bersandar di teras rumah.

Ucapan Doyoung sepenuhnya benar karena ini pertama kalinya Junghwan diserang oleh kelompok iblis, biasanya hanya sendiri dan itu juga mampu menguras hampir seluruh tenaganya.

Doyoung meringis saat Junghwan mendapat pukulan tepat di wajah, Junghwan bukan makhluk dengan kulit yang mudah beregenerasi maka dapat dipastikan kalau wajahnya akan babak belur besok pagi.

Hanya jika ia memenangkan pertarungan malam ini.

Tapi Doyoung juga berdecak kagum saat melihat Junghwan berhasil menumbangkan tiga iblis bau dalam satu gerakan, Dewa itu jelas akan mendapat tawaran akting film aksi jika ada sutradara yang melihat tingkahnya.

Gerakan Junghwan sangat lihai, Doyoung yakin ia menghabiskan banyak waktu untuk berlatih agar bisa melindungi dirinya sendiri. Beruntung karena Tuhan memberi otak yang berguna agar bisa ia pakai untuk berpikir perihal bagaimana cara melindungi diri tanpa kekuatan yang dulu ia punya.

Pertarungan makin seru dan Doyoung makin memerhatikan Junghwan dari jauh, ia sedikit ingin membantu laki-laki itu tapi ucapan pedas Junghwan beberapa waktu lalu langsung hinggap di kepala, membuat Doyoung mengurungkan niat karena tidak ada gunanya jika ia membantu Junghwan.

Keduanya tidak lagi terikat janji, maka Doyoung juga tidak berkewajiban melindungi Dewa lemah seperti dirinya.

Sampai tiba-tiba Doyoung dikagetkan dengan belati berpancarkan warna merah menyala yang ada di tangan salah satu iblis di sana, senjata yang ia yakini akan langsung membunuh Junghwan tanpa ampun.

"Perhatikan belakangmu, Dewa So." Ucap Doyoung, berusaha memberi peringatan.

Junghwan berbalik dan sialnya makhluk yang ada di belakangnya langsung menubruk tubuhnya dengan keras, membuat Dewa itu jatuh dan berhasil diinjak oleh iblis lain. Belati yang jelas bukan berasal dari bumi kini berada tepat di leher Junghwan, satu sayatan dan Doyoung tahu betul bahwa itu akan sangat menyakiti Junghwan.

Doyoung terpaksa turun tangan, dengan satu jentikkan jari ia berhasil membuat iblis yang menginjak tubuh Junghwan menghilang, meninggalkan asap yang pasti berbau busuk jika makhluk di sana memiliki indra penciuman.

Junghwan menggeram ketika menyadari bahwa Doyoung ikut campur dalam pertarungannya, sedangkan si immortal yang merasa sudah terlanjur membantu Junghwan kembali menggunakan kekuatannya untuk menyingkirkan sisa iblis yang ada di halaman rumahnya.

Tubuh Doyoung seketika lemas bersamaan dengan hilangnya makhluk yang mengepung Junghwan.

"Kim Doyoung!" Junghwan berteriak sambil berlari ke arah Doyoung yang hampir jatuh dari tempatnya berdiri, menangkap tubuh yang lebih kecil ke dalam rengkuhan.

"Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak ikut campur dalam urusanku."

Doyoung terkekeh pelan. "Sama-sama, Dewa So." Ucapnya sebelum kehilangan kesadaran.

***

Berulang kali Doyoung merintih dalam tidurnya, membuat Junghwan yang kembali menyiapkan berbagai macam alat masak di dapur langsung mendatangi Doyoung yang tengah berbaring di atas ranjang.

Doyoung belum bangun dan Junghwan tidak mengerti harus berbuat apa.

Setelah puas dengan penampilan dapur Doyoung yang baru, Junghwan membawa segelas air hangat ke dalam kamar, tidak lupa dengan obat yang sempat ia beli menggunakan aplikasi daring. Junghwan jelas paham dengan perkembangan teknologi yang manusia buat karena hampir seratus tahun sejak ia memutuskan untuk berbaur dengan mereka.

Tidak ada yang tahu apakah obat ini akan berhasil membuat kondisi Doyoung membaik atau justru sebaliknya, tapi setidaknya Junghwan sudah mencoba.

Rintihan yang keluar dari mulut Doyoung terdengar sangat menyakitkan, Junghwan tidak berhenti menggigiti kukunya sendiri karena ia khawatir setengah mati.

Doyoung mendapat hukuman bertubi-tubi hanya karena menyelamatkannya dari para iblis jahat yang mengincar kekuatan tidak terbatas jika mereka berhasil membunuh Junghwan.

Hidup kekal yang hampir semua makhluk inginkan, kecuali para immortal itu sendiri, Doyoung contohnya.

Banyak makhluk yang iri dengan apa yang Doyoung miliki, sedangkan Doyoung sendiri justru mengidam-idamkan kematian hingga saat ini.

Junghwan duduk di sisi ranjang tempat Doyoung berbaring, tangan besarnya mulai terulur untuk mengusap kening Doyoung yang dipenuhi keringat, bibir Doyoung bergetar seakan ia sedang berada di tempat dingin tanpa mengenakan baju hangat.

Sebelah tangannya Junghwan gunakan untuk membawa tangan kecil Doyoung masuk ke dalam genggaman, berulang kali Doyoung meremat tangan Junghwan saat kesakitan kembali menyerang.

"Dewa So?"

"Ya? Kau sudah bangun?"

Doyoung tertawa pelan. "Aku tidak tidur, hanya kesulitan membuka mata." Jawabnya.

"Kau butuh sesuatu?" Tanya Junghwan lagi.

Sekuat tenaga Doyoung berusaha membuka mata, dan netranya menangkap sosok Junghwan yang terus menatap khawatir ke arahnya. "Kau, aku membutuhkanmu." Ucap Doyoung pelan, sangat pelan hingga terdengar seperti bisikan.

Junghwan mengangguk, tangannya masih belum berhenti membelai lembut sebelah pipi Doyoung. "Aku di sini, aku tidak akan pergi kemana pun."

"Kau baik-baik saja? Wajahmu pasti babak belur karena pertarungan barusan, sialnya aku tidak dapat melihat jelas karena mataku terasa buram sekarang."

"Beberapa luka tidak akan membuat ketampananku berkurang."

Laki-laki bersurai cokelat itu tertawa pelan, membuat Junghwan juga ikut berlaku serupa saat melihat ekspresi Doyoung yang mulai membaik. "Kau mau minum obat? Tidak ada salahnya untuk mencoba, aku benar-benar ingin membantu agar kesakitanmu berkurang."

Doyoung akhirnya mengangguk karena nada bicara Junghwan yang terdengar seperti mengemis itu terasa menggelitik di telinganya. Perlahan Junghwan membantu Doyoung untuk bangun dan duduk bersandar ke kepala kasur.

Yang lebih tinggi meraih air hangat juga obat yang telah ia siapkan di atas nakas, membantu membuka bungkusnya dan menyodorkannya ke arah Doyoung. Dengan senyum tipis Doyoung menerima obat yang Junghwan berikan, sambil mengutuk diri sendiri dalam hati karena kenapa ia harus repot menuruti permintaan Junghwan sekarang, padahal tempo hari ia bersikeras untuk tidak mengonsumsi apapun selain es krim karena merasa percuma.

"Aku harap tubuhmu akan lebih baik."

Doyoung mengangguk, ia masih terus menatap Junghwan yang duduk di sebelahnya. Tanpa sadar tangan Doyoung bergerak, jemarinya mengusap wajah Junghwan yang dipenuhi lebam di sana-sini.

"Bisakah kau mendekat?"

Junghwan menurut, Dewa itu menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan Doyoung.

Kepala Doyoung bergerak maju, mengikis jarak yang ada di antara keduanya. Dan saat wajah keduanya berhadapan, ia meniup pelan wajah Junghwan, membuat luka yang ada di sana membaik dan tidak meninggalkan bekas apapun.

"Aku pikir tidak akan berhasil, aku merasa seperti malaikat jika sedang menggunakan kekuatanku untuk hal baik." Ucap Doyoung canggung, Junghwan masih belum beranjak dari tempatnya, Doyoung berusaha mengedarkan pandangan karena entah kenapa ada sesuatu yang terasa aneh ketika Junghwan menatapnya dalam jarak sedekat itu.

"Kau berutang banyak hal denganku, Dewa So." Canda Doyoung, sedikit berharap agar kecanggungan yang menguasai mereka menguar seketika.

Tapi Junghwan masih enggan beranjak, dari jarak sedekat ini ia baru menyadari bahwa Doyoung mempunyai bulu mata panjang dan lentik, sangat cantik mengitari netra bulatnya. Juga bibir kecil berbentuk hati, biasanya bibir itu berwarna merah muda tapi karena hukuman sial dari yang maha kuasa, bibir Doyoung kini terlihat pucat.

Doyoung merintih saat kesakitan kembali menyerang tubuhnya, dadanya terasa perih dan menusuk. Doyoung memukulnya berulang kali, berusaha menghilangkan sakit yang bersarang di sana.

"Kau seharusnya tidak membantuku, Doyoung." Ucap Junghwan, ia mengutuk diri sendiri karena tidak dapat melakukan apapun untuk mengurangi sakit yang Doyoung rasakan.

"Aku tidak punya pilihan, kita baru saling mengenal beberapa hari dan aku tidak ingin kehilangan teman, Junghwan."

Junghwan menghela napas, kedua tangannya terulur untuk membawa tubuh kecil Doyoung masuk ke dalam pelukan.

Rasanya hangat, Doyoung tidak pernah merasa sehangat ini selama ribuan tahun ia berada di dunia. Jutaan hari Doyoung habiskan di atas bumi tanpa pernah tahu bagaimana hangatnya matahari selain dari penjelasan teman-temannya dulu juga dari sinar yang matahari itu pancarkan sendiri, tapi sekarang Doyoung paham karena saat berada di pelukan Junghwan, dingin yang ia rasakan di atas kulitnya menghilang, digantikan dengan kehangatan yang membuat kesakitannya sedikit berkurang.

"Maafkan aku, seharusnya sejak awal kau tidak berurusan denganku." Bisik Junghwan pelan.

Kedua tangan Doyoung melingkar sempurna di pinggang Junghwan, dan kepalanya bersandar dengan nyaman di dada bidang si mantan Dewa. Ia terkekeh saat mendengar Junghwan bernapas. "Kau bernapas? Apa di tubuhmu ada paru-paru, Dewa So?"

"Aku berhubungan langsung dengan manusia, akan aneh jika mereka tidak melihatku bernapas."

"Kau sangat terobsesi menjadi bagian dari mereka."

"Hanya berusaha menikmati hukuman, kau juga harusnya bersikap sepertiku karena manusia tidak seburuk itu, Doyoung."

Doyoung menggeleng. "Aku sudah sangat cukup menjalin hubungan dengan mereka, aku tidak ingin ditinggal oleh siapapun lagi, Dewa So."

Tanpa bertanya lebih jauh Junghwan paham dengan apa yang Doyoung rasakan karena ia sendiri masih belum berhenti menangisi manusia pertama yang terbunuh karena kutukannya.

"Bisa kau ceritakan tentang dia?" Tanya Doyoung.

Junghwan yang awalnya tidak mengerti dengan maksud Doyoung langsung menggeleng ketika menyadari bahwa Doyoung baru saja mendengar isi hatinya. "Aku tidak ingin mengingatnya lagi."

Bibir Doyoung merengut maju, tapi ia juga tidak ingin melepas pelukan Junghwan. Rasanya nyaman dan membuat hukumannya tidak lagi terasa sangat menyakitkan.

"Temani aku hingga sembuh. Atau aku akan membunuhmu dengan sisa kekuatan yang aku punya."

Junghwan mengangguk karena dirinya memang tidak berniat kembali meninggalkan Doyoung setelah immortal itu mengorbankan dirinya hanya untuk membuat Junghwan selamat dari serangan makhluk jahat.

Sepanjang malam Junghwan terus mengusap kepala Doyoung yang bersandar di dadanya, berulang kali Doyoung meringis kesakitan, berulang kali juga Junghwan berusaha menenangkan. Obat yang Doyoung minum ternyata tidak berpengaruh sama sekali. Kondisi ini membuat Junghwan seperti dibawa ke masa di mana ia menangisi kekasihnya yang perlahan mati karena cinta yang Junghwan beri.

"Jangan samakan aku dengan kekasih manusiamu itu."

"Berhenti membaca pikiranku."

"Aku tidak membaca pikiranmu, Dewa So. Suara hatimu sangat jelas terdengar di telingaku."

"Tidurlah, tanganku pegal karena terus mengusapmu sepanjang malam."

Tawa pelan keluar dari mulut Doyoung. "Sentuhanmu membuat sakitku berkurang, kau harus terus menyentuhku jika ingin balas budi."

"Aku mulai berpikir kalau sakit ini hanya akal-akalanmu, Doyoung."

Tawa Doyoung makin keras, tapi kedua tangannya malah mencengkram kuat bagian belakang baju yang Junghwan gunakan ketika kesakitan kembali menyerang. "Aku pun berharap begitu."

Junghwan yang sadar langsung menarik tubuh Doyoung agar semakin dekat dengannya. "Maaf, aku akan terus mengusap tubuhmu hingga tanganku lepas."

"Berlebihan sekali, berhenti bergaul dengan manusia, makin hari tingkahmu makin mirip dengan mereka."

Seharian penuh Junghwan terus berada di sisi Doyoung, menepati janji yang tempo hari ia ingkari karena terlalu sibuk berurusan dengan duniawi.

Kali ini Junghwan sadar bahwa Doyoung adalah makhluk yang memang ditakdirkan untuk bertemu dengannya, entah akan berakhir buruk atau justru sebaliknya, tapi saat ini ia masih ingin menikmati kebersamaannya dengan immortal yang berulang kali rela berkorban hanya untuk menyelamatkannya.
















...

sorry kemarin gak update soalnya ketiduran anjay btw kok rada gak tega ya misahin dua makhluk ini hiks

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com