Chapter XI
Sesak terus Junghwan rasakan ketika melihat Doyoung yang tidak berhenti merintih di sampingnya. Dengan mata terpejam laki-laki manis itu berulang kali memukul kepalanya sendiri, Junghwan menghentikan gerakan Doyoung karena takut ia justru makin terluka.
Hari pertama terasa sangat lama bagi mereka, bahkan hingga matahari terbenam dan kembali terbit, sakit yang Doyoung rasakan tidak menunjukkan tanda akan berkurang sama sekali.
Junghwan terus mengutuki diri karena terjebak dalam perjanjian yang tidak menguntungkan pihak manapun, cinta Junghwan kepada Doyoung makin dalam setiap hari, dan hal itu membuatnya makin dekat dengan kematian itu sendiri.
Hari kedua dimulai dengan Doyoung yang masih tidak sanggup untuk sekedar membuka mata, dengan terpaksa Junghwan menggantikan baju yang Doyoung kenakan karena tidak ingin ia merasa kurang nyaman sebab pakaian itu sudah dipenuhi keringat.
Junghwan tidak pernah meninggalkan sisi Doyoung sedetikpun, ia terus menemani laki-laki manis itu tanpa berhenti. Padahal Junghwan tidak berencana untuk menyatakan perasaannya karena Junghwan tahu hal itu akan membuat Doyoung tersiksa, tapi malam itu ia terlalu terbawa suasana, dirinya tidak dapat lagi menyangkal bahwa ia benar-benar mencintai Doyoung.
Ia menangis jika Doyoung berlaku serupa, Junghwan ikut tersiksa seiring dengan Doyoung yang tidak berhenti menyiratkan kesakitan yang berasal dari dalam tubuhnya. Dan Junghwan benci karena tidak dapat berbuat apapun untuk mengurangi sakit yang Doyoung rasakan.
Maka di hari ketiga, Junghwan memutuskan untuk menghubungi orang kepercayaannya. Yoon Jaehyuk, manusia yang menemaninya sejak belasan tahun lalu itu membantu Junghwan untuk pindah rumah, Junghwan harus segera pergi sebelum Doyoung benar-benar mati karena cinta yang ia beri.
Untungnya ini bukan pertama kali bagi Jaehyuk untuk menangani kepindahan Junghwan yang begitu mendadak, laki-laki yang tumbuh dengan baik itu dengan mudah mencari hunian juga pekerjaan baru bagi Junghwan, sangat jauh dari kediaman sebelumnya.
Junghwan tidak akan meninggalkan Doyoung yang masih dalam keadaan tersiksa begitu saja, tapi dirinya juga tidak mungkin menunggu hingga Doyoung sadar karena pasti akan memberatkan keduanya, ia yakin Doyoung tidak semudah itu membiarkannya pergi.
Walau kenyataannya, satu minggu berlalu dan keadaan Doyoung masih belum stabil. Meski tangisannya sudah tidak sesering hari pertama, tapi Doyoung masih belum mampu membuka mata. Junghwan tidak tahu apakah Doyoung akan mengingat kejadian menyakitkan ini, tapi Junghwan berharap laki-laki itu bertindak sebaliknya.
Kesakitan yang Doyoung rasakan setara dengan bagaimana nyawa manusia dicabut perlahan dari raga, dan yang membuat Doyoung bertahan selama ini adalah karena dirinya bukan manusia.
Sembilan hari berlalu dan keadaan Doyoung mulai membaik, tangisan yang keluar tidak lagi sesering sebelumnya, membuat Junghwan sedikit bersyukur karena ia yakin tidak butuh waktu lama sampai Doyoung benar-benar sadar dari siksaannya.
Junghwan membawa semua jejak dirinya keluar dari rumah Doyoung, dibantu oleh Jaehyuk yang menunggunya di halaman depan. Hati Junghwan terasa nyeri ketika mengingat bahwa sebentar lagi, ia tidak lagi dapat melihat Doyoung, laki-laki yang sangat ia cintai.
"Belum genap dua minggu tapi barangmu sudah sebanyak ini?" Tanya Jaehyuk, Junghwan terkekeh sambil terus memasukkan beberapa kontainer berisi makanan ke dalam mobil.
"Kondisinya sudah membaik?" Tanya Jaehyuk lagi dan dibalas dengan anggukan Junghwan. "Syukurlah, kau akan pergi sebelum dia sadar, kan?"
"Dia pasti murka saat terbangun nanti, dari obrolan kita tempo hari, aku tahu bahwa perangainya benar-benar buruk, pantas butuh waktu cukup lama bagimu untuk mencintainya."
"Tapi aku hampir berhasil mengabulkan keinginannya, Hyung."
"Berhenti memanggilku dengan sebutan itu, di pertemuan pertama kita kau sudah jauh lebih tua dariku." Ucap Jaehyuk dibarengi dengan ekspresi jijik yang dibuat-buat.
Junghwan tertawa, setelah memastikan semua barangnya sudah masuk ke dalam mobil, ia kembali masuk ke dalam rumah karena takut kondisi Doyoung kembali memburuk. Dan Junghwan bersyukur karena tebakannya salah, laki-laki manis itu masih tertidur tenang di atas ranjangnya.
"Kau membaik lebih cepat dari perkiraanku, sepertinya kau ingin aku buru-buru pergi dari sini." Ucap Junghwan yang sedang berlutut di samping ranjang sambil menatap wajah pucat Doyoung.
Netra Junghwan menangkap tumpukan baju kotor di pojok ruangan, ia bergegas memasukan beberapa helai pakaian yang ada ke dalam plastik dan membawanya ke halaman depan tempat Jaehyuk menunggu aba-aba dari Junghwan.
"Kita akan pergi sekarang?" Tanya Jaehyuk kemudian, Junghwan menggeleng dan menyodorkan plastik di tangannya.
"Bawa ini ke tempat laundry terdekat, bayar dan sertakan alamat Doyoung di dalamnya." Perintah Junghwan.
Jaehyuk berdecak. "Kau berhutang jutaan won kepadaku, tuan muda So." Candanya dan dibalas dengan kekehan pelan.
"Tolong katakan kepada mereka untuk membawa surat ini saat mengantarkan pakaian bersihnya nanti." Perintah Junghwan seraya memberikan kertas kecil kepada Jaehyuk.
"Surat perpisahan? Kau benar-benar tidak akan lagi menemuinya?"
"Kita memang tidak ditakdirkan untuk bertemu, aku akan menyiksa Doyoung jika terus berada di sisinya. Immortal tidak akan mati dengan mudah, Jaehyuk."
"Ah, rumit sekali. Kabari aku jika kau butuh jemputan." Ujar Jaehyuk yang berjalan masuk ke dalam mobil, kendaraannya mulai bergerak meninggalkan kediaman Doyoung juga Junghwan yang tidak tahu kapan harus pergi.
***
Doyoung berusaha mengingat hal apa yang terjadi pada dirinya tempo hari, tapi ia benar-benar tidak dapat mengingat apapun kecuali pelukan hangat Junghwan saat kesakitan mulai menyerang tubuhnya.
Ia melihat tanggal yang ada di ponsel dan Doyoung terperanjat saat menyadari bahwa sudah sepuluh hari berlalu sejak ia dan Junghwan pergi ke supermarket yang ada di pusat kota.
Tubuh Doyoung masih belum baik untuk dipakai berkeliling mencari ke mana Dewa itu pergi. Doyoung benar-benar hanya menunggu di rumahnya tanpa melakukan apapun sejak ia bertemu Jeongwoo tempo hari.
Puluhan kotak es krim yang Junghwan tinggalkan mulai habis karena Doyoung yang tidak berhenti mengonsumsi makanan dingin itu, hampir tengah malam dan Doyoung dikejutkan dengan suara ketukan di depan pintu.
Doyoung berharap tamu yang datang adalah Junghwan, tapi ia malah menemukan laki-laki paruh baya yang menenteng plastik besar di tangannya.
"Kim Doyoung?"
Doyoung mengangguk canggung, pria itu menjelaskan bahwa dirinya adalah karyawan dari tempat laundry yang ada di depan jalan besar, ia berkata bahwa cucian Doyoung tidak kunjung diambil padahal sudah berhari-hari berlalu sejak tanggal yang seharusnya.
Ia sangat terkejut saat melihat setumpuk pakaiannya sendiri, entah apa yang terjadi pada dirinya saat ia tidak sadarkan diri tapi yang jelas Junghwan belum selama itu pergi dari sini.
Junghwan tidak pergi dan membiarkannya melawan rasa sakit akibat kutukan itu sendirian.
"Seseorang yang mengantar pakaian ini menitipkan sesuatu." Ucap pria di depannya sambil menyodorkan kertas kecil, Doyoung menerimanya dengan senyum tipis yang terukir di wajah.
Setelah karyawan laundry itu pergi, Doyoung duduk di pinggir ranjang sambil terus menatap kertas yang ada di tangan. Kalau boleh jujur, Doyoung tidak siap dengan apa yang Junghwan tulis di atas kertas kecil itu, tapi ia juga penasaran dan ingin tahu apa isinya.
Perlahan Doyoung membuka surat pemberian Junghwan.
Kim Doyoung, immortal menyebalkan yang terus mengganggu pikiranku, apa keadaanmu sudah baik-baik saja?
Aku harap begitu karena aku tidak ingin kau kembali tersiksa.
Butuh waktu sepuluh hari hingga keadaanmu membaik, hanya karena aku yang dengan asal menyatakan cinta. Aku tidak tahu apa jadinya kau jika aku benar-benar mengatakan perasaanku yang sesungguhnya, mungkin belasan malaikat maut akan langsung mengepung tubuhmu saat itu juga, berebut siapa yang lebih dulu mencabut nyawamu dari raga.
Itu hanya kiasan karena kita semua tahu kau tidak bernyawa.
Kim Doyoung, kau pasti marah karena tidak dapat menemukanku di manapun saat kau membuka mata, tapi kau harus tahu bahwa ini adalah keputusan terberat yang harus aku ambil.
Karena yang terbaik untukmu adalah menjauh dari makhluk terkutuk seperti ku.
Aku belum paham kenapa kau begitu ingin pergi dari dunia, padahal bumi pasti akan sedih jika makhluk seindah dirimu tidak lagi ada di dalamnya.
Terdengar menyebalkan tapi aku benar-benar suka mendengar semua omelanmu yang tidak berdasar, perangai burukmu membuatku merasa hidup, aku tidak bohong saat berkata bahwa aku ingin mendengarnya lagi.
Omelanmu terdengar jauh lebih baik dibanding rintihan yang keluar dari mulutmu selama sepuluh hari berturut-turut.
Kau tidak tahu betapa dewa lemah ini ingin menghancurkan siapapun yang membuatmu tersiksa, betapa aku ingin melempar protes kepada yang maha kuasa agar tidak lagi memberimu kesakitan yang tidak tertahankan.
Dan kemudian aku sadar bahwa semua kesakitanmu itu terjadi karena diriku sendiri, Doyoung. Tidak seharusnya kita bermain-main dengan takdir yang telah Tuhan tulis, kau akan terus hidup hingga dunia hancur, juga aku yang akan terus tersiksa seorang diri entah sampai kapan.
Kim Doyoung, tolong berhenti mengunyah permen karet, aku meninggalkan kartu kredit di dalam lemari pakaian dengan limit tinggi, kau bisa gunakan itu untuk membeli es krim kesukaanmu juga pakaian hangat karena setelah ini kau mungkin akan mudah merasa dingin. Ingat, tidak ada aku yang lagi bisa memelukmu.
Kim Doyoung, tolong berhenti memikirkanku karena itu akan membuatmu tersiksa, aku tidak ingin kau berjuang menahan sakit sendirian. Sebelum bertemu denganku kau bisa menjalani hari dengan baik, aku harap tidak butuh waktu lama bagimu untuk membiasakan diri tanpa aku di sampingmu.
Kim Doyoung, maaf atas kalimatku di rooftop kantor hari itu, kau pantas dicintai, kau pantas diperlakukan dengan lembut, tapi tidak dengan dewa terkutuk sepertiku.
Kim Doyoung, entah kapan dunia ini akan berakhir, tapi aku harap kau menghabiskan banyak waktu membahagiakan bersama manusia yang dulu sempat kau percaya.
Kim Doyoung, tolong jangan gunakan kekuatanmu untuk hal yang tidak perlu, biar kutulis sekali lagi, aku tidak ingin kau terus tersiksa seorang diri.
Kim Doyoung, kau harus tahu bahwa jika aku diberi kesempatan untuk kembali ke hari di mana aku memutuskan untuk mencoba mencintaimu, aku akan dengan yakin berkata iya, karena dalam belasan hari kebersamaan kita, aku sangat merasa bahagia.
Kim Doyoung, semoga kita tidak pernah bertemu lagi setelah ini.
So Junghwan.
Malam itu adalah malam pertama di mana Doyoung menangis keras di dalam kamar setelah ratusan tahun lamanya, bukan karena hukuman yang ia terima yang menyebabkan ketidakstabilan dunia, juga bukan karena cinta yang Junghwan berikan, tapi karena Doyoung tahu, ia tidak akan dapat menemukan Junghwan di manapun setelah ini.
Dewa itu memutuskan untuk pergi setelah berhasil membuatnya jatuh cinta, membuat Doyoung merasakan hal indah sekaligus menyakitkan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
...
jiakh bentar lagi end
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com