Truyen2U.Net quay lại rồi đây! Các bạn truy cập Truyen2U.Com. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter X

"Selamat pagi." Ucap Doyoung sambil melangkah ke arah Junghwan yang terlihat sibuk di dapur, Junghwan menoleh dan melempar senyum terbaik yang ia punya.

"Sudah merasa lebih baik?" Pertanyaan Junghwan dibalas dengan anggukan pelan yang lebih kecil, Doyoung berdiri di belakang Junghwan dan langsung melingkarkan kedua tangannya di perut Junghwan.

"Aku merindukanmu." Ucapan Doyoung membuat Junghwan terkekeh, Dewa itu mengecilkan api kompor sebelum berbalik kemudian membalas pelukan Doyoung.

Junghwan mengistirahatkan dagunya di atas kepala Doyoung, sedangkan Doyoung membenamkan wajahnya di dada bidang milik Junghwan, sedikit berharap untuk mendengar detak jantung di dalam sana. Namun yang Doyoung dengar adalah isi hati Junghwan yang padahal sudah sekuat tenaga Junghwan sembunyikan.

Aku juga merindukanmu.

Doyoung tersenyum dan mengeratkan pelukannya, berdoa dalam hati supaya ia mampu menghentikan waktu agar kebahagiaan yang ia rasakan saat ini akan bertahan lama.

"Sebentar, masakan ku akan gosong kalau kita terus berpelukan seperti ini." Doyoung berdecak kesal karena ia enggan melepas pelukan Junghwan. "Kim Doyoung, setelah ini kau puas memelukku seharian." Bujuk Junghwan, dan untungnya berhasil karena Doyoung langsung melepas pegangannya di pinggang yang lebih tinggi.

"Tunggu di meja makan, aku akan masak dengan cepat agar kau tidak menunggu lama." Ucap Junghwan sambil mengusap kepala Doyoung.

Jemari Doyoung bergerak tidak beraturan di atas meja, menimbulkan bunyi berisik yang mengganggu telinga siapapun yang mendengarnya. Tapi tidak bagi Junghwan, Dewa itu paham betul kalau Doyoung hanya berharap agar Junghwan menyelesaikan urusannya dengan cepat.

Junghwan meletakkan beberapa piring berisi makanan yang ia masak sendiri di atas meja, juga peralatan makan lain tepat ke hadapannya juga Doyoung. "Aku sudah memasak sebagian besar bahan makanan yang kita beli kemarin, kau hanya harus memanaskannya. di microwave." Ucap Junghwan di sela kegiatan.

"Kenapa harus aku?"

"Siapa tahu kau ingin makan saat aku tidak ada?"

"Tidak ada? Kau berniat pergi dari sini?"

Junghwan tidak menjawab, ia duduk di hadapan Doyoung setelah selesai menata meja makan. "Makanlah." Ucap Junghwan.

"Mengapa kau tidak menjawab pertanyaanku?"

"Bicara saat makan itu tidak sopan, Doyoung."

"Kalau begitu aku tidak akan makan sebelum kau memberiku jawaban."

Keduanya diam, Junghwan sibuk menghabiskan makanan yang ada di piringnya, sedangkan Doyoung hanya memandang Dewa itu tanpa bersuara. Dengan kedua tangan yang dilipat di depan dada, Doyoung bersandar di kursinya sambil terus menatap Junghwan, berusaha menguping isi hati sang Dewa meskipun berakhir gagal karena telinganya tidak menangkap suara.

"Tidak ingin makan?" Tanya Junghwan dan tidak mendapat tanggapan dari Doyoung, immortal itu bahkan tidak berkedip sama sekali. "Berhenti bertingkah seperti anak kecil, Doyoung." Lanjut Junghwan lagi.

"Apa yang sedang kau rencanakan?" Kali ini giliran Doyoung yang bertanya.

"Apa maksudmu?"

"Kau berencana akan meninggalkanku, kan?"

Doyoung tertawa ketika melihat ekspresi Junghwan yang sedikit panik di depannya. "Buang semua barang yang kau beli kemarin sebelum pergi dari sini." Ucap Doyoung sebelum bangkit dari duduknya, ia berjalan masuk ke dalam kamar, menutup pintu dengan keras meninggalkan Junghwan yang masih duduk di kursi meja makan.

Ada perasaan aneh yang lagi-lagi tidak dapat Doyoung jelaskan saat mengetahui fakta bahwa Junghwan akan pergi meninggalkannya. Padahal bukan ini yang ia rencanakan, ia hanya ingin pergi dari dunia dan itu dibantu dengan kutukan yang Junghwan punya. Rencananya hampir berhasil karena Doyoung tahu Junghwan perlahan mulai menyukainya.

Yang ia inginkan hanyalah kematian, bukan kehadiran Junghwan hingga akhir hidupnya, kan?

Tubuh Doyoung berbalik ketika mendengar suara pintu terbuka, langkah Junghwan makin dekat dan itu membuat Doyoung makin enggan menatap Dewa yang hari ini membuatnya kesal setengah mati.

Tanpa berkata apapun Junghwan ikut berbaring tepat di sebelah Doyoung, netranya menghadap langit-langit kamar Doyoung yang bercat putih bersih tanpa noda sedikit pun.

Rumah Doyoung terlihat nyaman karena tidak ada banyak barang di dalamnya, kamar tidurnya pun hanya berisi ranjang luas, lemari pakaian, juga meja kosong dengan kursi yang sepertinya tidak pernah diduduki.

Beruntung karena dapurnya kini terlihat lebih manusiawi setelah Junghwan memindahkan beberapa peralatan masak miliknya ke sini.

"Kau mau tahu kenapa aku sangat terobsesi menjadi manusia?" Pertanyaan Junghwan tidak mendapat jawaban, tapi Junghwan tahu bahwa Doyoung mendengarkan kalimatnya.

"Aku ingin menjadi bagian dari mereka, Doyoung." Ucap Junghwan, Doyoung mengumpat dalam hati karena bisa-bisanya Dewa seperti Junghwan justru ingin menjadi manusia yang memiliki ribuan kelemahan. "Aku ingin menua, aku ingin menghirup udara segar di pagi hari, aku ingin menikmati makanan enak yang mereka jual dengan harga mahal." Lanjutnya lagi.

"Dan aku ingin menghabiskan waktu bersama makhluk yang bahagia jika mendapat cinta dariku, bukan justru tersiksa karena kutukan yang aku punya." Doyoung mulai terhanyut dalam rentetan kalimat Junghwan, tanpa sadar ia berbalik dan menatap Junghwan yang masih fokus memandang langit-langit kamarnya.

"Kau tahu pribahasa yang mereka percaya? Bisa karena terbiasa, aku membiasakan diri dengan menjalani semua aktivitas manusia dan berharap aku bisa menjadi bagian dari mereka."

Doyoung terkesiap saat melihat air mata turun dari sudut mata Junghwan, tangannya bergerak untuk menghapus air mata di sisi wajah Junghwan. "Cengeng." Umpat Doyoung pelan.

Junghwan menoleh, menatap wajah Doyoung dengan matanya yang basah. "Kau tahu kalimat apa yang paling aku takutkan?" Pertanyaan Junghwan dibalas oleh Doyoung yang menggeleng pelan.

"Aku mencintaimu."

Dua kata yang berhasil membuat tubuh Doyoung nyeri setengah mati, kepalanya seperti dihantam ribuan palu berat, sedangkan tubuhnya yang lain bagaikan dicabik oleh pisau tajam dari dalam. Tanpa sadar Doyoung berteriak, suaranya terdengar pilu di telinga Junghwan yang berusaha keras untuk menenangkan, tidak butuh waktu lama sampai Doyoung kehilangan kesadaran di pelukan Junghwan.

***

Doyoung terbangun dan tidak dapat menemukan Junghwan di mana-mana. Mau sekeras apapun ia meneriakkan nama Junghwan, berulang kali dirinya mencari ke seluruh sudut rumah, tapi sosoknya benar-benar tidak terlihat.

Maka ia memutuskan untuk menunggu, mungkin Junghwan kembali ke rumahnya untuk mengambil sesuatu.

Namun hingga matahari terbenam, Junghwan masih enggan menampakkan diri. Tubuhnya terasa jauh lebih baik, entah berapa lama ia tertidur karena saat bangun, pakaian yang dirinya gunakan sudah berbeda dari yang terakhir kali.

Doyoung berjalan ke dapur dan sedikit kaget saat melihat dapurnya bersih, sisa makanan kemarin sudah tidak meninggalkan jejak sama sekali. Ia membuka kulkas dan lagi-lagi dikagetkan dengan bahan makanan yang Junghwan beli tempo hari sudah tidak lagi ada di sana, menyisakan puluhan kotak es krim yang memenuhi freezer nya.

Ia mengambil satu kotak es krim juga sendok kayu dari kitchen counter, berjalan ke meja makan lalu duduk di salah satu kursi yang ada di sana. Doyoung mulai membuka kotak es krim tanpa suara, menyendok satu demi satu suapan masuk ke dalam mulutnya.

Doyoung yakin Junghwan tidak akan setega itu untuk meninggalkannya, dirinya akan menunggu hingga Junghwan kembali. Mungkin Dewa itu memiliki beberapa urusan di kantor yang mendesak, atau mengambil pakaian ganti untuk persediaan selama tinggal di sini.

Tanpa sadar Doyoung terisak, kesakitan yang ia terima tempo hari masih terasa nyeri. Ia tahu itu semua karena kutukan yang Junghwan punya, dan Junghwan tidak bodoh untuk menyadarinya juga.

Sungguh, Doyoung berani sumpah ia akan terus menahan semua kesakitan karena mencintai Junghwan, tapi tidak dengan ditinggalkan. Sejak awal kedatangannya ke dunia, ditinggalkan adalah hal yang paling ia benci, hal yang membuat Doyoung menjauhkan diri dari makhluk mortal karena tidak lagi ingin merasakan kesakitan karena ditinggal mati.

Doyoung mengusap wajahnya dengan kasar sebelum bangkit dari tempat duduknya, berjalan ke kamar dan meraih coat kebesaran milik Junghwan yang dirinya tinggalkan di sana. Ia meregangkan jari sambil merapal doa agar kekuatannya masih tersisa karena Doyoung terlalu malas jika harus berjalan kaki ke rumah Junghwan.

Tapi doa nya tidak didengar Tuhan karena berulang kali Doyoung berusaha, berulang kali pula ia gagal menggunakan kekuatannya untuk berteleportasi. Kali ini dirinya menyesal karena tidak memiliki uang hanya untuk sekedar naik taksi.

Setelah memastikan pintu rumahnya terkunci, Doyoung berjalan menyusuri gang kecil menuju rumah Junghwan. Hanya perlu lima belas menit tapi rasanya seperti berjam-jam, kakinya terasa pegal, hawa dingin juga tidak berhenti menyapa kulitnya yang padahal sudah terbalut berlapis-lapis pakaian.

Butuh waktu hampir tiga puluh menit baginya untuk sampai, dua kali lipat dari biasanya karena Doyoung terlalu banyak berhenti. Ia tersenyum saat melihat gerbang rumah Junghwan, ia pun masuk namun dirinya dibuat kecewa karena pintu rumah Junghwan yang terkunci.

Diketuknya pintu kayu itu berkali-kali, tapi Doyoung tidak mendapat jawaban, hampir jam sepuluh malam, Junghwan tidak mungkin belum pulang dari kantornya selarut ini.

Maka Doyoung memutuskan untuk berjalan di sekitar rumah Junghwan, berharap menemukan hantu yang bisa ia mintai informasi tentang Dewa yang mulai Doyoung rindukan.

Nihil, ia tidak dapat menemukan satu pun makhluk halus di sini.

Entah kenapa semua mulai terasa aneh, Doyoung merasa kosong, kekosongan tidak wajar yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Dirinya tidak berhenti menggigit bagian dalam bibirnya, matanya menyusuri jalan gelap tanpa penghuni.

Dan ia hampir berteriak saat melihat Jeongwoo di ujung gang, Doyoung sedikit berlari menuju arwah penasaran yang melempar pandangan aneh ke arahnya. "Kim Doyoung?" Tanya Jeongwoo, seolah tidak percaya dengan apa yang ia lihat.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Jeongwoo setelah Doyoung berdiri di depannya.

"Mencari Dewa So, kau melihatnya?"

"Dewa So?"

Doyoung mengangguk kuat, ia tersenyum karena ternyata pikirannya salah, dirinya sempat mengira bahwa Junghwan memutuskan untuk menghilang dari ingatan semua orang.

"Sudah hampir satu minggu sejak ia pindah dari sini, rumahnya bahkan sudah diisi oleh penyewa yang baru. Kau tidak tahu?"




















...

yah... masalah pun dimulai... siap gak siap harus siap!!!!

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com