Final Chapter
Doyoung bahkan belum sempat berdiri, tapi Junghwan sudah lebih dulu berlari ke tempatnya, Dewa yang telah sepenuhnya menjadi manusia itu dengan cepat membawa tubuh Doyoung masuk ke dalam pelukan.
Hangat. Keduanya menangis karena merasakan kehangatan yang sangat mereka rindukan.
"Aku kira aku kehilanganmu." Ucap Doyoung di sela isakan, tangannya mencengkram kuat bagian belakang kemeja yang Junghwan kenakan.
Sementara Junghwan mendekap erat tubuh laki-laki yang ia rindukan setengah mati, juga mengecup atas kepala Doyoung berulang kali. "Maaf, aku tidak bermaksud meninggalkanmu waktu itu."
Tangisan Doyoung makin keras ketika menyadari bahwa apa yang didengarnya adalah detak jantung beraturan milik Junghwan, Dewa itu benar-benar telah menjadi manusia seutuhnya.
Doyoung lah yang pertama menarik diri, ia menatap wajah Junghwan yang masih belum terlihat nyata di depannya. Sebelah tangannya bergerak untuk mengusap lembut sebelah pipi Junghwan. "Kau... sudah menjadi manusia?" Tanya Doyoung, ia sedikit tidak percaya karena hal mustahil yang ia hadapi saat ini.
Junghwan mengangguk. "Untuk menemanimu di sini." Jawabnya.
Bukannya menanggapi, Doyoung justru mulai memukul dada Junghwan berulang kali. "Bodoh, manusia bodoh. Menemaniku apanya? Kau malah akan mati dalam waktu dekat!" Omelnya.
"Dan bereinkarnasi kembali. Ini kehidupan pertamaku, Doyoung. Masih ada delapan hidup lain yang akan ku habiskan denganmu."
Doyoung memandang Junghwan dengan tatapan tidak percaya. "Kau pikir aku mau melihatmu mati berulang kali di depan mataku sendiri? Lalu menunggu kau lahir dan dewasa, kau pikir aku sanggup menghadapi itu semua? Dan bagaimana kalau di kehidupanmu selanjutnya, kau bereinkarnasi menjadi kodok jelek penghuni rawa? Bodoh, kau selalu bertindak bodoh So Junghwan."
Bukannya marah, Junghwan malah tertawa mendengar omelan panjang lebar yang keluar dari mulut Doyoung. Berbulan-bulan ditinggalkan ternyata immortal itu masih kesulitan untuk mengendalikan amarah.
"Aku mencintaimu." Ucap Junghwan pada akhirnya. "Aku mencintaimu, Doyoung." Lanjutnya lagi. Dan keduanya tersenyum karena Doyoung tidak lagi kesakitan saat Junghwan menyatakan isi hatinya.
Jika Junghwan meminta agar dirinya tetap menjadi Dewa, kutukan yang ada akan terus mengikutinya. Ia tidak ingin membuat Doyoung kembali tersiksa karena cinta yang ia beri.
Menjadi manusia adalah keputusan terbaik yang harus Junghwan ambil, meskipun itu membuat ia kehilangan segalanya, tapi tidak apa, Junghwan hanya ingin bersama Doyoung selama sisa hidup yang ia punya.
"Aku juga mencintaimu, Junghwan." Jawab Doyoung sebelum melingkarkan kedua tangannya di belakang leher Junghwan, menarik tubuh yang lebih tinggi agar mendekat ke arahnya lalu menyatukan kedua bibir mereka ke dalam ciuman lembut.
Tolong biarkan Doyoung mengabaikan apa yang akan terjadi nanti karena saat ini yang ia inginkan adalah mencium Junghwan hingga manusia itu kehabisan napas.
"Bukankah kau harus mandi?"
"Bagaimana kalau mandi bersama?"
Junghwan memutar mata, tubuhnya lelah karena terus menanggapi Doyoung yang terlihat kesulitan mengendalikan hormon yang tertahan. Kalau dirinya masih menjadi Dewa, sudah dipastikan bahwa Doyoung lah yang akan kalah, tapi saat ini ia hanya manusia biasa, hampir pukul dua pagi dan ia pasti akan terlelap sebentar lagi.
Keduanya berbaring di ranjang luas milik Doyoung, dengan tubuh yang seolah enggan untuk menjauh karena Doyoung terus memeluk Junghwan dari samping dan untungnya manusia itu juga bertindak sama.
Dengan kepala di atas lengan besar milik Junghwan, Doyoung tidak berhenti memandang laki-laki itu dengan takjub. Sebelah tangannya ia letakkan di atas dada Junghwan, merasakan bagaimana jantung yang ada di dalamnya terus berdetak dengan irama beraturan.
Doyoung tertawa saat melihat mata Junghwan mulai tertutup. "Jangan tidur, aku masih ingin bicara denganmu." Ucapnya.
"Kita masih punya banyak waktu untuk dihabiskan bersama, besok aku harus bekerja, Doyoung." Ucapan Junghwan membuat Doyoung mengeratkan pegangannya di perut Junghwan.
"Tidak, kau tidak ku izinkan untuk pergi kemana-mana." Protesnya. Junghwan tertawa karena tingkah menggemaskan laki-laki di sampingnya, ia pun ikut melingkarkan tangan di pinggang Doyoung, menarik tubuh laki-laki itu untuk didekap hangat.
"Sekarang aku manusia, aku butuh uang untuk makan juga keperluan lain." Bisik Junghwan pelan, telapak tangannya mulai mengusap pelan punggung Doyoung secara berulang.
Doyoung berdecak kesal, ia hendak melepaskan diri dari pelukan tapi sialnya tenaga yang ia miliki masih kalah dengan Junghwan. Dan dirinya tidak mungkin menggunakan kekuatan hanya karena hal seperti ini. "Aku ingin terus bersamamu, aku merindukanmu, Junghwan. Aku tidak ingin kau pergi dari sini." Rajuk Doyoung.
Mata Junghwan kembali tertutup, Doyoung yang melihat langsung mencubit keras pipi laki-laki itu. "Kau belum boleh tidur!" Protesnya lagi.
Junghwan kembali terjaga karena cubitan yang ternyata cukup membuat pipinya nyeri, tapi ia tidak protes dan justru mengecup lembut kening Doyoung. "Kalau begitu tidurlah, jika kau tidur sekarang aku tidak akan pergi besok pagi." Perintah Junghwan setelahnya.
"Benarkah?" Tanya Doyoung dan dibalas dengan anggukan.
Malam itu adalah malam pertama bagi Doyoung untuk tidur tanpa harus kesakitan karena hukuman yang Tuhan beri. Malam pertama bagi mereka berdua untuk dapat merasakan kehangatan yang sangat dirindukan, juga perasaan lega yang tidak bisa dijelaskan karena kini Junghwan tidak lagi menyakiti makhluk yang ia cintai.
***
"Tidak boleh membantu manusia termasuk dirimu sendiri? Apa-apaan ini?" Protes Doyoung ketika melihat surat perjanjian yang Junghwan beri tepat setelah dirinya membuka mata.
"Kau harus menuruti surat itu, jika kau setuju maka aku akan tinggal di sini bersamamu." Ucap Junghwan sambil mengeluarkan makanan dari dalam kulkas.
Untungnya ia membawa itu tadi malam, dirinya benar-benar lapar saat ini, dan di rumah Doyoung tidak ada makanan sama sekali kecuali ratusan permen karet di sudut dapur, yang entah immortal miskin itu dapat dari mana.
Membantu manusia adalah cara Doyoung mengalihkan rasa sakit dari luka karena Junghwan yang mendadak pergi meninggalkannya, dan hari ini Dewa itu telah kembali, tapi sialnya ia malah menjadi manusia yang mau tidak mau harus Doyoung lindungi.
Doyoung jelas tidak ingin kehilangan Junghwan lagi.
"Kau adalah pengecualian." Ucap Doyoung tegas.
Junghwan yang telah selesai menata makanan di atas meja dengan cepat mengambil tempat di kursi sebelah Doyoung, ia meraih kertas yang ada di tangan laki-laki itu lalu menatapnya serius. "Aku juga tidak bisa kehilanganmu, Doyoung. Sakit yang kau rasakan karena terus membantu manusia tidak bisa disembuhkan, sedangkan aku, di luar sana banyak dokter andal yang dapat memberi obat."
Pemahaman yang Junghwan beri tetap tidak mengubah pendirian Doyoung sama sekali, tapi mau tidak mau ia berkata iya karena Junghwan pasti akan terus memaksanya.
"Makan lah, aku akan mengajakmu berkencan nanti malam."
"Kau serius?"
Anggukan Junghwan membuat Doyoung tersenyum lebar, ia langsung memakan makanan yang telah disuguhkan. Junghwan ikut tersenyum lalu mengusap kepala Doyoung dengan lembut. "Kau sangat penurut sekarang."
"Entah itu pujian atau bukan tapi terima kasih." Balas Doyoung.
"Kau masih dapat berpindah tempat dengan cepat, kan?" Tanya Junghwan.
"Masih, kenapa?"
"Jam sembilan malam nanti kita bertemu di pinggir sungai Han, tempat pertama kita berkencan, bisa?"
"Tentu saja! Aku akan menunggumu di sana!"
"Tidak, datang tepat jam sembilan, jangan kurang, aku tidak ingin membuatmu menunggu sendirian."
"Sekarang kau terlalu banyak memerintah, kau tahu?"
Bukannya protes Junghwan justru tertawa. "Tentu saja, kau itu immortal paling keras kepala yang pernah aku kenal, butuh ketegasan untuk membuatmu menurut."
Pagi itu sarapan pertama mereka berjalan dengan tidak terlalu indah karena Junghwan yang tidak berhenti memberi nasehat, dan Doyoung yang sama sekali tidak terlihat peduli. Berakhir dengan Junghwan yang harus berangkat ke tempat kerja, meninggalkan Doyoung sendirian di rumahnya yang ia yakin akan terasa lebih hidup setelahnya.
***
"Kau sudah sampai? Bukankah aku bilang untuk datang jam sembilan?"
"Terlalu lama, dan ada sesuatu yang ingin aku sampaikan."
"Apa?"
"Ada seseorang yang datang ke rumah tadi, bukan orang karena aku yakin dia bukan manusia. Sejenis malaikat? Tapi malaikat yang terlihat bodoh."
"Tinggi?"
"Ya, aku yakin lebih tinggi darimu. Ia menitipkan surat dan katanya tidak ada yang boleh membaca selain kau, boleh aku melihatnya?"
"Tidak. Jangan dibuka, aku akan ke sana sekarang."
"Baiklah, hati-hati, aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu."
Doyoung melambaikan tangan ketika melihat Junghwan di sebrang jalan, ia tidak menuruti perintah Junghwan untuk tidak menunggu lama karena sangat tidak sabar dengan agenda kencan sungguhan mereka. Ia bahkan rela jalan kaki dari rumah menuju tempatnya sekarang karena ingin mengulur waktu.
Junghwan tersenyum dan membalas lambaian tangan, memberi tanda agar Doyoung menunggu di tempat karena ia lah yang akan menyebrang.
Lampu tanda penyebrang jalan berganti warna menjadi hijau, jalanan Seoul cukup lengang sebab jam pulang kerja sudah lewat sejak tadi. Junghwan berjalan santai karena berlari saat menyebrang adalah hal yang tidak disarankan.
Namun sialnya ia tidak melihat mobil yang melesat kencang dari belokan, Doyoung yang menyadari bahwa Junghwan mungkin akan tertabrak mobil itu langsung menjentikkan jari, tapi usahanya gagal, berulang kali Doyoung mencoba membuat mobil atau langkah Junghwan berhenti, namun tidak ada yang berhasil sama sekali.
Doyoung berdecak kesal sebelum akhirnya berlari ke arah Junghwan, lebih baik dirinya yang tertabrak karena immortal itu tidak akan bisa mati. Junghwan jelas bingung karena Doyoung yang mendadak berlari menghampiri, tapi kebingungannya tidak bertahan lama sebab Doyoung terlebih dulu mendorong mundur tubuhnya, membuat ia justru terpental cukup jauh karena mobil yang tidak berhasil menghentikan laju.
Semua orang berteriak termasuk Junghwan, dan teriakannya makin keras saat melihat darah yang mengalir dari tubuh laki-laki itu.
"Kim Doyoung, kau bisa mendengarku? Doyoung?"
Junghwan tidak mendapat jawaban karena Doyoung mulai kehilangan kesadaran, dan ia terkejut saat menemukan kertas di tangan kirinya.
Hadiah karena aku melupakan sesuatu ketika mengubahmu menjadi manusia, tolong jaga manusia ini baik-baik. - Haruto
Bodoh, Haruto adalah malaikat paling bodoh yang pernah Junghwan kenal.
***
Junghwan melangkah terburu-buru di koridor rumah sakit, dirinya baru saja mendapat kabar dari Dokter bahwa Doyoung sudah sadar setelah tertidur selama hampir tiga hari.
Awalnya ia pikir Doyoung koma atau semacamnya, tapi immortal yang kini sudah menjadi manusia sepenuhnya itu tertidur dalam artian sesungguhnya. Dokter berkata bahwa seluruh organnya normal, hanya lecet dan luka sobek ringan di beberapa bagian, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, hanya kantuk yang terus menyerang membuat Doyoung enggan membuka mata dalam waktu cepat.
Manusia yang baru saja pergi ke kantin rumah sakit itu disambut dengan Doyoung yang duduk di atas kasur, senyum cerahnya membuat hati Junghwan yang seolah dipenuhi oleh beban berat seketika terangkat.
"Junghwan! Aku menjadi manusia!" Tiga kata, hanya butuh tiga kata dan Junghwan langsung berlari ke tempat Doyoung, ia memeluk manusia baru itu dengan erat.
"Aku kira aku kehilanganmu." Ucap Junghwan.
Doyoung membalas pelukan dengan sama eratnya, tapi kemudian ia meringis karena jarum infus yang terasa menusuk.
"Kenapa?" Tanya Junghwan setelah menarik diri.
"Ini... sakit." Keluh Doyoung dengan nada manja.
Junghwan tidak berhasil menyembunyikan tawa, ia menarik tangan Doyoung yang terpasang infus dan langsung mengusapnya pelan. "Padahal kau sering merasakan sakit yang lebih dari ini."
"Rasanya berbeda, sekarang aku merasa seperti manusia." Ucap Doyoung takjub.
"Kau memang manusia." Jawab Junghwan, tolong tahan dia untuk tidak mencubit pipi Doyoung karena laki-laki di depannya terlihat sangat lucu sekarang.
"Kita manusia, kau dan aku sekarang menjadi manusia! Padahal aku benci menjadi bagian dari mereka, tapi tidak apa. Ini lebih baik daripada harus kehilanganmu nanti, ini juga hidup pertamaku, Junghwan! Mari kita habiskan kesembilan hidup kita bersama."
Junghwan tidak menjawab dan justru menangkup kedua pipi Doyoung, mengelusnya lembut dengan ibu jari sebelum bergerak mendekat dan menyatukan kedua bibir mereka. Sedangkan Doyoung hanya tertawa dan ikut membalas ciuman lembut tersebut, ia tidak memiliki satu pun kekuatan saat ini, tapi tidak apa, semua terasa lebih baik karena kini ada Junghwan di sampingnya.
Karena yang Doyoung ingin hanya hidup bahagia bersama Dewa ah bukan, satu-satunya manusia yang sangat ia cintai. So Junghwan, mantan Dewa yang mengajarkan Doyoung tentang bagaimana hidup berbaur dengan makhluk yang kini menjadi bagian dari mereka.
...
it's a wrap yay! makasih yaa buat yang udah baca fate sampai habis huhu, buat yang vote dan komen di tiap chapter juga makasihhh banget, tanpa kalian apa lah aku.
sorry kalau ceritaku masih ada kekurangan di sana sini, I've already tried my best to wrap this story without plot hole or such, tapi kalo ada yang ketinggalan tolong dimaklumi u,u
dan maaf kalau ada yang gak puas sama endingnya, aku bukan tipe orang yang bisa tahan sama sad ending jadi selalu usaha bikin yang terbaik buat semuanya hehe.
buat cerita baru... aku gak bisa janji dalam waktu dekat tapi doain aja yaa semoga bulan ini bisa bikin book lagi, kalo nggak ya paling bikin oneshot twoshot aja di choco candy and cupcakes.
sekali lagi makasih yaa guys udah nemenin aku sampe sekarang, dan selamat tahun baru!^^
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com