Truyen2U.Net quay lại rồi đây! Các bạn truy cập Truyen2U.Com. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Bonus Chapter

"Doyie kamu di mana? Kenapa malah ninggalin sih kan aku bilang pulangnya bareng! kunci mobilku juga di kamu kan? Sekarang gimana aku bisa pulang coba masa mobilnya ditinggal di kampus? Terus besok gimana kita berangkat kuliahnya?"

"Berisik, aku di perpus sini kalo mau nyusul."

Haruto hanya menjawab dengan kekehan pelan sebelum akhirnya memutus panggilan, dan netraku kembali fokus ke buku yang berserakan di atas meja, karena sempat absen selama berbulan-bulan, aku memutuskan untuk mengejar semua ketertinggalan dan untungnya pihak kampus berbaik hati untuk memberiku kesempatan.

Lebih baik dibanding mengambil cuti dan bermalas-malasan di rumah selama sisa masa kuliah semester dua yang belum berjalan setengahnya.

"Ayaaang." Suara berat milik Haru masuk menyapa telinga, kekasihku yang baru saja selesai kelas itu kini duduk tepat di sebelahku, tangan besarnya langsung melingkar di pinggangku.

"Geli ih." Protesku dengan suara pelan.

"Kangen banget aku kangeeeeen." Mata Haruto bergerak kesana kemari, setelah situasi dirasa aman ia langsung mencuri kecupan tepat di pipiku.

"Heh!!!" Omelku lagi, dan Haruto malah mengembangkan senyum khasnya yang terlihat sangat menyebalkan di wajah, satu pukulan aku layangkan tepat ke dadanya.

Haru langsung mengusap dadanya, berharap sakit yang aku sebabkan berkurang dengan cepat. "Aw!" Pekik Haru pelan, sedangkan aku justru menjulurkan lidah ke arahnya.

Aku bersyukur karena hubungan kami terus berjalan dengan baik, terlalu baik malah karena Haru menjadi manusia yang jauh lebih manja dibanding awal hubungan kami. Dia terus mengikutiku kesana kemari, membuat siapapun yang melihat pasti dapat menebak kalau kami adalah sepasang kekasih.

"Mau pulang jam berapa?" Tanya Haru, aku melirik tumpukan buku yang sudah selesai aku pelajari.

"Sepuluh menit lagi." Jawabku, Haru mengangguk lalu menyandarkan kepalanya di atas meja, dengan posisi menghadap ke arahku, senyuman lebar tidak pernah luntur dari wajahnya.

Aku ikut tersenyum lalu mencubit pipinya gemas, ah memang keputusan tepat untuk bangun dari tidur panjang yang hampir membunuhku beberapa bulan lalu.

Kami akhirnya keluar dari perpustakaan setelah aku selesai mempelajari beberapa mata kuliah yang dibebankan, punggungku rasanya sakit karena terus-terusan duduk di kursi tanpa bergerak sedikitpun, membuat Haru kini memandangku dengan tatapan khawatir.

"Gapapa? Kakinya sakit lagi?" Tanya Haru, aku menggeleng kemudian menarik tangan kanannya untuk di bawa ke dalam genggaman.

"Mau pulang." Ucapku, dan kami berjalan beriringan menuju tempat parkir yang ada di ujung area kampus.

Tapi tiba-tiba mataku menangkap segerombolan mahasiswa yang baru keluar dari gedung organisasi, dan netraku menemukan wanita yang beberapa bulan lalu mencium pipi Haruto. Kim Dani, perempuan itu berjalan ke tempat yang sama dengan yang kami tuju.

Satu ide langsung melintas di pikiranku. "Ah..." Aku menunduk sambil memegang kaki yang tidak terasa sakit sama sekali, Haruto ikut berjongkok di depanku dan sekumpulan mahasiswa yang tadinya sibuk bercanda juga ikut memandangku yang berteriak tiba-tiba.

"Kenapa, Doyie?" Tanya Haru, wajahnya panik setengah mati.

Sekuat tenaga aku menahan tawa sambil terus memegangi kaki yang kini sudah aku selonjorkan ke depan. "Sakit..." Ucapku pelan.

Netraku menangkap sosok Dani yang memandang kami penuh benci, setelahnya Haru membawa tubuhku untuk naik ke punggungnya, aku melingkarkan kedua tangan di leher Haruto sambil bersandar ke bahu lebarnya.

Dan tepat ketika kami melewati Dani yang masih diam di tempat, aku menjulurkan lidah dan melempar ekspresi yang berhasil membuatnya makin kesal, ia pun berbalik, enggan memandang adegan romantis yang sengaja aku buat lebih jauh.

Dengan hati-hati Haru menurunkan aku di depan mobil, setelah membuka pintu yang ada di samping kemudi, ia menuntunku masuk ke dalam dan tidak lupa memasangkan seatbelt ke tubuhku.

"Masih sakit gak? Kalo sakit banget kita ke rumah sakit ya?"

Aku menggeleng lalu mengecup pipinya singkat. "Mau pulang aja."

Haru kini menatapku dengan heran, tapi ia tidak bertanya dan justru berjalan ke seat yang ada di sebelah, setelah memastikan bahwa benar aku baik-baik saja, ia mulai menghidupkan mobil dan menginjak gas menuju rumahku.

"Kamu beneran gapapa?" Tanya Haruto lagi, kali ini aku benar-benar tidak bisa menahan tawa.

"Gapapa Haruuuu, tadi tuh aku cuma mau bikin gebetanmu cemburu."

Haru kini menatapku heran. "Gebetanku?"

"Iya, cewek yang nyium kamu waktu itu."

Mobil tiba-tiba berhenti, Haruto kini memandangku dengan penuh rasa bersalah. "Itu bukan gebetan aku, Doyie. Kan aku udah pernah bilang, lagian aku sukanya cuma sama kamu, aku gak pernah suka sama dia, beneran." Ucap Haruto panjang lebar.

"Oh gitu." Balasku singkat, agenda meledek Haruto memang wajib dilakukan setidaknya seminggu sekali karena entah kenapa ekspresi yang ia berikan selalu lucu.

"Doyie, aku sayangnya cuma sama kamu..." Raut memelas yang Haruto lemparkan berhasil membuat tawaku meledak, aku tidak menyangka kalau ia akan sebodoh ini dalam urusan cinta.

"Iya iya Haruuu, yaudah buruan pulang ih aku mau istirahat." Ucapku sambil mendorong tubuhnya menjauh.

"Cium dulu." Balasnya sambil memajukan bibir, aku menghela napas sebelum akhirnya mengecup bibirnya singkat.

Haruto tersenyum lebar dan kembali ke posisinya. "Permintaan pangeran akan segera hamba turuti." Kali ini tawa kami meledak bersamaan.


***

"Mau minum apa? Jangan yang ribet ya soalnya mbak udah pulang."

Haruto yang duduk di sofa ruang tengah terlihat berpikir sejenak. "Java chip frappuccino?"

Dan kalimatnya berhasil membuat bantal sofa melayang tepat ke wajahnya, tawa menyebalkan Haruto menguar ke seluruh ruangan, membuatku kembali duduk ke kursi yang ada di hadapannya.

"Ambil sendiri lah aku males." Ucapku sambil menyilangkan tangan di depan dada. Haru yang sadar dengan aku yang sedang merajuk buru-buru bangkit lalu berjongkok di depanku.

"Jangan marah dong, sayang. Aku mah apa aja diminum asal kamu yang buatin."

Tubuhku bergidik mendengar ucapan menggelikan dari Haruto, aku lalu bangkit dan berjalan ke arah dapur, meninggalkan Haru di ruang tamu yang kini tersenyum puas karena berhasil menahan amarahku.

Mataku mengedar ke seluruh dapur, aku bukan tipikal anak manja tapi aku benar-benar tidak pernah diajarkan untuk menyiapkan minuman kepada tamu karena biasanya hal itu dilakukan oleh pekerja yang orang tuaku bayar, meskipun tidak setiap hari ada di rumah karena buktinya hari ini ia tidak datang dan membuatku bingung harus menyiapkan apa untuk Haruto.

Aku mendadak menyesal karena tidak membeli apapun di perjalanan pulang tadi, dengan cepat aku buka rak yang menggantung, mencari minuman kemasan yang mudah dihidangkan. Tapi posisinya terlalu tinggi untuk bisa aku gapai.

"Haruuuuu." Teriakku, dapat aku dengar suara Haruto yang berlari ke arahku.

"Kenapa?" Tanya nya singkat, aku menunjuk bungkusan yang ada di lemari paling atas.

"Ambilin, aku gak sampe." Ucapku, Haruto tertawa dan setelahnya dapat aku rasakan tubuh Haruto kini berdiri tepat di belakangku, tangannya bergerak naik menggapai barang yang aku maksud.

Seharusnya kejadian tersebut menjadi adegan romantis yang sering aku lihat di drama, tapi ternyata tangan besar Haruto menyenggol toples berisi terigu yang ada tepat di atas kepalaku.

Untungnya toples itu terbuat dari bahan plastik, kalau kaca bisa aku pastikan aku kembali koma karena benda itu terjatuh tepat di atas kepala.

Kesialanku belum berhenti, toples itu terbuka dan membuat kepala juga bajuku kini dipenuhi terigu yang aku yakin pasti akan sulit dibersihkan.

"ASTAGA DOYIE." Teriak Haruto. Aku menutup mata, bahuku naik turun karena emosi yang sekuat tenaga aku tahan.

Tubuhku berbalik, menatap Haruto yang memandangku dengan ekspresi menahan tawa. "Kamu kok jadi mirip anak kecil baru selesai mandi ya?" Ucapnya sambil mengusap wajahku.

Aku kemudian menggeleng kuat, membuat terigu yang ada di kepala kini turun mengotori lantai. "Bersihin gak." Ucapku singkat, dengan cepat Haruto berlari menuju vacuum cleaner yang ada di sudut ruangan.

"Kamu mau dibersihin juga?" Tanya nya sambil menyodorkan benda itu ke depan wajah.

"anjing lo ah." Omelku singkat sebelum akhirnya berjalan menuju kamar mandi.

Aku tidak langsung membersihkan diri karena bingung harus melakukan apa, jika aku berjongkok lalu membersihkan kepala sambil menunduk, bisa dipastikan kaki ku akan sakit setelahnya. Tapi aku juga tidak ingin membasahi seluruh badan dengan air dingin, masih terlalu dini bagiku untuk mandi.

"Mau dibantuin gak?" Suara berat Haruto yang berdiri di depan pintu membuatku kembali merengut, seharusnya aku tinggal saja dia di kampus tadi.

"Doyie?" Lanjutnya lagi, aku masih enggan menjawab dan malah mengacak rambut dengan kuat, berharap kotoran yang menempel di sana bersih dengan sendirinya.

Tangan besar Haruto langsung menarik tanganku yang ada di atas kepala. "Jangan digituin nanti kepalanya sakit, maaf ya aku tadi gak sengaja." Ucapnya dengan suara lembut.

"Ayo aku bantuin bersihin, kita main salon-salonan."

Dan di sini lah aku sekarang, duduk di dalam bathtub kering dengan kepala menggantung di pinggir dan Haruto yang membersihkan rambutku dengan air hangat dari shower di tangannya.

"Maaf ya Doyie, aku gak ada maksud bikin kamu ketimpa terigu, beneran deh." Ucapnya sambil terus membersihkan rambutku yang dipenuhi terigu menggumpal karena terkena air.

"Iya." Jawabku singkat, masih kesal karena kelakuan ajaib Haruto.

"Jangan marah terus, nanti aku cium."

"Jangan ngomong aneh-aneh deh mending buruan bersihin, kalo kak Junkyu keburu pulang nanti kita diomelin karena berduaan di kamar mandi." Omelku panjang lebar, Haruto malah dengan sengaja mengarahkan shower yang ada di tangannya ke arah wajahku, membuat tubuhku kini basah sepenuhnya.

Aku bergegas bangun, menatap wajah Haruto yang menyebalkan itu dengan penuh amarah. "HARUTO!!!!" Teriakku, bukannya merasa bersalah ia malah bergerak maju lalu mengecup bibirku singkat.

"Tuh kan, sengaja kan marah biar aku cium?" Ucapnya. Aku merebut shower yang ada di tangannya dan mengarahkannya tepat ke Haruto yang berjongkok di samping bathtub, membuat seluruh tubuhnya basah karena aliran cukup deras yang keluar dari sana.

"Doyie aku gak bawa baju ganti loh?" Protesnya.

"Bodo amat." Ucapku sambil terus menyemprot air ke wajahnya.

Dan sore itu, adegan keramas goes wrong akhirnya berhenti karena kehadiran kak Junkyu yang baru pulang dari tempat magangnya, ia sempat marah dan menuduh kami melakukan hal yang tidak-tidak karena berada di dalam kamar mandi dalam posisi basah berdua, tapi aku berhasil menjelaskan dan toples kosong bekas tepung terigu juga menjadi bukti bahwa kami memang tidak melakukan apa-apa kecuali ciuman dan pelukan, sebentar, tapi kak Junkyu tidak perlu tahu soal ini.

"Kamu gak punya baju normal kah? Yang warnanya gak gonjreng gini, Doyie?" Aku tertawa melihat Haruto yang menggunakan setelan olahraga merah menyala milikku.

Itu satu-satunya pakaian berukuran besar yang aku temukan di lemari.

"Gak usah aku kasih baju aja harusnya ya?" Ucapku asal, Haruto menyeringai lalu berlari ke arahku yang tengah berbaring di atas kasur sambil fokus membaca komik.

"Kamu mau liat aku gak pake baju?" Tanya Haruto dengan nada riang sambil memeluk tubuhku dari samping, aku bergeser karena posisi kami yang terlalu dekat.

"Lo kalo mesum gue aduin kak Junkyu ya." Ancamanku berhasil membuat Haru merengut dan melepas pelukannya, tapi ia masih berbaring di sebelah sambil terus menatapku .

"Doyie..."

"Mhm?"

"Doyie..."

Aku akhirnya menoleh, melepas pandangan dari komik yang ada di tangan. "Apa, Haru?"

Haruto tersenyum lalu mengecup bibirku singkat. "Aku sayang kamu." Ucapnya.

Aku terkekeh dan mengangguk. "Aku juga sayang kamu." Balasku sebelum akhirnya kembali menyatukan bibir kami berdua, dapat aku rasakan Haruto tertawa di sela ciumanku yang sedikit menuntut.

"Kamu mesum banget, aku aduin abangku ya?" Ledeknya tepat setelah aku menarik diri.

Setelah itu tubuh Haruto terjungkal ke bawah karena aku menendang tulang kering kakinya dengan kuat.









...

kejutan

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com