Chapter I
Aku memandang penjelasan di depan dengan tangan sibuk mengipasi wajah yang aku yakin sudah dipenuhi keringat, bayangkan saja empat kelas kini digabung menjadi satu di tempat sempit yang bahkan tidak memadai. Hari ini akhirnya pendalaman materi kelas dua belas diadakan, tentu tidak langsung dimulai karena kami akan diberi pembekalan terlebih dahulu.
Ruangan ini terbagi menjadi beberapa kubu, kumpulan anak ambisius yang berada di barisan depan, gerombolan cowok pemalas yang seakan mempunyai dunia sendiri di belakang, dan murid biasa sepertiku yang memilih duduk di pojok tengah ruangan.
Di sebelahku ada Haruto, anak kelas sebelah yang entah kenapa justru duduk di sini. Dia menjabat sebagai ketua osis tahun lalu, yang harusnya membuat dirinya duduk di barisan depan bersama mantan anak osis lainnya.
Kepalanya hampir terantuk jendela tapi ia dengan cepat bangun dari tidur sesaatnya, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa, tapi tentu di balik buku yang aku jadikan kipas sementara.
Ia menoleh karena mendengar suaraku, menatapku dengan mata sayu. Entah semalam dia tidur jam berapa tapi aku yakin pasti kurang dari enam jam. Kantung mata yang cukup tebal terlihat jelas di wajahnya.
"Lo punya permen kopi?" Tanyanya tiba-tiba, aku menggeleng.
"Gue cuma ada ini." Jawabku sambil menyodorkan permen karet dari kantong baju, ia mengambil dua bungkus dan mulai mengunyahnya.
"Thanks." Ucapnya lagi, aku hanya mengangguk sebagai jawaban. Kembali menatap penjelasan yang disampaikan oleh guru di depan.
Aku hampir beranjak dari tempat duduk, hendak bergegas menuju kelas karena pembekalan sudah selesai, bel pulang juga sudah berbunyi sejak bermenit-menit lalu. Sampai tiba-tiba salah satu guru datang dan berbicara dengan Haruto yang ada di sebelahku.
"Tolong kembalikan speaker dan alat lain ke gudang, anak osis yang lain udah pulang. Doyoung, tolong bantu Haruto ya?" Aku mengangguk canggung, memang tidak ada anak lain selain aku di sini. Aku sengaja keluar paling akhir karena tidak ingin berdesakan di depan pintu.
"Ayo." Haruto yang jauh lebih tinggi sudah berdiri di sebelahku, aku kembali mengangguk dan bangun dari tempat duduk. Mempersilakan Haruto untuk keluar kemudian mengikutinya dari belakang.
Haruto membereskan speaker dan beberapa kabel dengan cepat, mungkin sudah terlatih karena dua tahun belakangan ia sering melakukan ini. Aku hanya diam dan melakukan hal lain sebisaku, ikut membantu merapikan colokan dan meletakannya di meja guru yang ada di sebelahku.
Aku menggeret speaker sedangkan Haruto membawa kabel di depan, aku membuntutinya dalam diam. Kita memang seangkatan tapi kami hampir tidak pernah bicara sebelum ini, tidak ada kepentingan untuk kami berbincang, dan Haruto juga terlihat sangat jauh di depanku, seakan tidak tergapai karena kami memiliki dunia yang berbeda.
Siapa yang tidak mengenal Haruto di sekolah? Parasnya tampan, tubuhnya tinggi yang membuat ia semakin terlihat mencolok. Meskipun tidak terlalu pintar tapi Haruto juga bukan murid bodoh, membuatnya disayangi banyak guru karena terus membantu kegiatan sekolah.
Sedangkan aku hanya murid biasa, tidak mengikuti organisasi apapun karena mudah lelah, tidak terlalu pintar namun tidak bodoh juga. Peringkatku selalu berada di tengah, membuatku mudah terlupakan oleh siapa saja.
"Kim Doyoung." Suara berat Haruto membuyarkan lamunanku, kita sudah sampai di depan gudang ternyata. Setelah membuka pintu dengan kunci yang diberikan oleh guru, aku menyodorkan speaker yang ada di tangan ke laki-laki tinggi di depanku.
"Makasih udah bantuin." Aku mengangguk sebagai jawaban, sedikit berlari menuju kelas karena hari sudah semakin sore, aku tidak ingin ketinggalan bus pulang, meninggalkan Haruto yang berjalan santai di belakang.
Esoknya aku kembali bertemu Haruto di gerbang sekolah, ia baru turun dari mobil yang mengantarnya. Kami saling melempar senyum sebelum akhirnya berjalan beriringan menuju kelas.
"Lo kalo sekolah biasa dianter?" Tanya Haruto, aku sedikit terkejut karena ini pertama kalinya ia mengajakku berbincang walau hanya sekedar basa-basi.
"Iya, lo juga?" Sejujurnya aku canggung jika harus berbincang dengannya, kita tidak pernah dekat selama ini, hanya sekedar tahu nama masing-masing.
"Nggak, motor gue lagi di bengkel."
Aku hanya mengangguk dan diam setelahnya, tidak tahu harus bicara apa karena aku memang tidak biasa mencari topik pembicaraan, apalagi lawan bicaraku Haruto.
"Kalo pulang dijemput juga?" Tanyanya lagi, aku menggeleng.
"Naik bus, lo?"
"Sama, nanti pulang bareng gue ya?" Aku sedikit kaget atas tawarannya yang tiba-tiba, tapi juga tidak bisa menolaknya. Lagi-lagi aku mengangguk, dan Haruto tersenyum setelahnya.
"Gue tunggu di gerbang depan ya." Aku kembali mengangguk sebelum akhirnya berbelok masuk ke dalam kelas.
***
"Rumah kita emang searah?" Aku bertanya saat Haruto ikut masuk bus yang biasa aku naiki, ia membenarkan posisi tas yang tersampir di bahunya kemudian mengangguk.
"Iya, duduk gih." Ucap Haruto sambil menunjuk satu-satunya kursi kosong yang tersedia.
"Lo gimana?"
"Gapapa, lo aja duduk." Aku menurut, Haruto kini berdiri tepat di depanku.
"Kalo pegel bilang ya, biar gantian."
"Gampang."
Kami berdua terdiam setelahnya, suasana bus yang sepi membuat aku enggan bicara lebih banyak karena takut mengganggu yang lain.
Sepuluh menit kemudian bus akhirnya sampai ke halte tujuanku, "Eh mau ngapain? Duduk aja." Tangan besar Haruto menahan kepalaku untuk tetap duduk di tempat.
"Udah sampe..."
"Oh udah, yaudah yuk turun."
Tangan yang semula ada di kepalaku kini berpindah tempat, tangan kananku digenggam erat oleh tangan kiri Haruto, membuat kami berjalan berdampingan untuk turun dari bus.
Bahkan hingga aku berjalan menuju rumah, tangan Haruto masih belum lepas, di tengah bulan November yang seharusnya sudah mulai terasa dingin, tanganku justru digenggam hangat olehnya.
"Rumah lo di mana?" Tanyaku akhirnya, aku tidak pernah melihat Haruto di sekitar sini.
"Gampang." Kata itu kembali keluar dari mulutnya, lagi-lagi aku hanya mengangguk, menanggapi sebisanya.
Kalau ada nominasi untuk orang paling canggung sedunia, aku yakin kalau aku lah pemenangnya. Mungkin ini alasan mengapa aku tidak mempunyai teman dekat.
Kami terus berjalan berdampingan, dengan tangan yang masih bertaut seolah enggan dilepas oleh Haruto, semua terjadi begitu cepat setelah kejadian menolong dia membereskan peralatan sekolah hari itu, aku tidak pernah menyangka kalau perjalanan pulang sekolah dengan Haruto akan terjadi setelahnya.
"Udah sampe." Ucapku ketika sampai di depan rumah, "Mau mampir?" Lanjutku lagi.
Haruto menggeleng, "Next time, ini rumah lo?"
"Iya, rumah lo di mana? deket dari sini kan?"
"Lumayan jauh ternyata, tapi gue bisa naik taksi dari halte tadi."
Aku menatapnya heran, tadi bukannya dia bilang kalau rumah kita searah? Lantas kenapa ia repor-repot ikut naik bus yang sama denganku bahkan hingga menemaniku berjalan sampai depan rumah? Aneh.
"Yaudah masuk gih, next time gue jadi tau harus jemput lo di mana. Bye, jangan lupa sapa gue kalo ketemu di sekolah ya."
Haruto berjalan menjauh sambil melambaikan tangan, sesekali membenarkan posisi tasnya yang turun dari bahu karena sedikit berlari. Sedangkan aku masih diam di tempat dengan netra terus berpusat pada sosoknya yang kini menghilang di tikungan.
...
alurnya maju mundur ya mentemen tapi aku usahain supaya kalian gak bingung hehe.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com