Chapter XII
Benar perkiraan gue, keadaan pacar gue yang semula kata dokter lagi dalam tahap pemulihan, sekarang balik kritis kayak hari pertama dia dateng ke rumah sakit. Gue gak bisa nahan air mata yang terus turun, malam itu gue kembali menangisi Doyie dan persentase kemungkinan dia buat bangun yang berkurang hampir setengahnya.
Kadang gue berharap kalo cerita yang ada di dongeng tuh bisa kejadian juga di dunia nyata, siapa tau kan kalo gue cium bibirnya nanti pacar gue bisa bangun dan tiba-tiba sembuh gitu aja? Gak perlu nih habisin puluhan juta di rumah sakit cuma buat bikin jantungnya berdetak.
Sorry ngaco tapi gue pengen banget Doyie buka mata supaya gue dapet kesempatan buat minta maaf atas semua kesalahan yang gue lakuin kemarin-kemarin. Egois banget tapi pernah gak sih kalian ngerasa takut gak bisa minta maaf sama orang yang kalian sayang? Gue beneran gak mau hidup penuh penyesalan in case Doyie (amit-amit) ninggalin gue selamanya.
Kak Junkyu dan kedua orang tua pacar gue akhirnya datang setelah gue kasih kabar kalau keadaan Doyie ngedrop tiba-tiba, sebelumnya emang mereka nitipin bungsunya ke gue hari ini karena hari-hari sebelumnya mereka stay di rumah sakit tanpa berhenti.
Dan kalian tau apa yang dokter bilang ke mereka? Katanya kita semua harus mulai ngerelain kalo emang Doyie udah gak bisa bangun lagi. Enak banget kadang ya mulut berucap, gue di sini berdoa tiap hari supaya pacar gue bangun, ngajak dia ngobrol hampir tiap saat supaya dia tau kalo ada orang yang nunggu dia. Malah disuruh ngerelain, gimana caranya bisa rela kalo faktanya masih banyak banget hal yang belum kita lakuin sama-sama.
Malam itu kamar inap pacar gue ada dalam formasi lengkap, gue, Kak Junkyu, juga kedua orang tuanya. Kita mutusin buat jaga Doyie sama-sama karena takut hal buruk yang dokter bilang bakal kejadian beneran, meskipun dalam hati gue menolak buat percaya.
***
Telingaku berdenging hebat, kepalaku rasanya pusing bukan main. Ucapan Haruto di ujung sambungan mulai terasa masuk akal, tentang bagaimana aku tiba-tiba dapat menghubunginya, atau mimpi yang berulang kali datang tiap aku terpejam, dan perkataan orang-orang di sekitarku yang seakan memintaku untuk bangun.
Aku mulai ingat tentang kejadian hari itu, di mana aku sedang menunggu jemputan kak Junkyu dan mendadak tubuhku ditabrak oleh mobil yang melesat cepat di depan halte kampus. Nyeri di kepala kini semakin terasa, tapi bagaimana bisa? Semua terlalu nyata untuk aku anggap khayalan semata.
Ponsel yang ada di tangan kananku jatuh ke lantai, tapi panggilan masih belum terputus.
"Doyie?"
Samar aku dengar suara Haruto dari sana, aku buru-buru memungut ponselku dan kembali mengarahkannya ke telinga.
"Doyie? Bangun ya?"
Sebentar, aku melupakan satu hal. Di dunia nyata aku sudah tidak lagi berhubungan dengan Haruto, kami putus beberapa hari sebelum kecelakaanku terjadi.
"Gimana caranya, Haru?"
"Setelah ini, aku bakal putus sambungan kita. Tapi nanti pas aku hubungin kamu lagi, jangan diangkat. Tolong jangan diangkat sampe panggilan berhenti sendiri, bisa ya?"
Tapi bagaimana kalau setelah itu aku masih tetap terjebak di sini? Dan hal yang orang lain bilang cuma khayalan justru menjadi kenyataan?
"Aku takut..." Balasku singkat, tidak mengucapkan kekhawatiran yang bersarang di kepala.
"Aku lebih takut kalo kamu terjebak di sini terus, turutin aku ya? Banyak yang nunggu kamu, Doyie. Aku, kak Junkyu yang terus-terusan nangis dan gak peduli sama kuliahnya, juga orang tua kamu yang pengen anak bungsunya bangun."
"Aku bakal tetep bisa sama kamu kan, Haru?"
Haruto terdiam cukup lama, aku tidak dapat mendengar apapun bahkan sempat mengira kalau sambungan sudah terputus.
"Haru?"
"Bisa."
Hanya satu kata yang keluar dari mulutnya, tapi kata itu membuatku yakin bahwa aku memang harus menurutinya agar bisa bangun dari semua khayalan yang aku buat sendiri.
"Doyie?"
"Iya, Haru?"
"Jangan lupain aku ya."
Dan panggilan terputus, bahkan saat aku belum sempat menjawab ucapannya. Layar ponselku kembali gelap tapi belum ada panggilan dari Haruto, aku terus menunggu sambil bersandar pada sisi kasur, lantai yang aku duduki mulai terasa dingin, dan dinginnya aneh. Seolah ada air es yang baru saja disiramkan ke atasnya, aku bergidik lalu bangkit dari sana, memutuskan untuk duduk di atas kasur yang ternyata sama dinginnya.
Semuanya semakin terasa tidak normal, suhu kamarku tidak pernah sedingin ini bahkan saat aku menyalakan pendingin ruangan, aku duduk di pojok kasur, terus menunggu panggilan dari Haruto.
Dan beberapa saat kemudian, ponselku berdering.
Sekuat tenaga aku tahan untuk tidak menjawabnya, karena sumpah demi apapun aku penasaran tentang kalimat terakhir yang dia ucapkan, tapi ini satu-satunya kesempatan agar aku terbangun dari dunia yang semakin terasa asing.
Ponselku berdering berkali-kali, aku menendangnya menjauh agar tidak ada dorongan untuk menjawab panggilan, dan tepat saat deringnya berhenti, aku merasakan sakit yang teramat sangat di kepala, seolah rambutku sedang dicabut paksa, dengan tenaga yang tersisa aku berusaha bangkit dan berjalan ke luar ruangan, tapi saat aku membuka pintu, aku langsung ditelan oleh kegelapan yang menunggu di luar sana.
***
Sakit yang aku rasakan belum berkurang, tapi dinginnya ruangan perlahan berubah menjadi hangat. Mataku rasanya berat, seolah ada sesuatu yang menahanku di sana. Tanganku bergerak mencari pertolongan, tapi jemariku juga kaku, tenggorokanku kering bukan main. Samar aku dengar suara beberapa orang yang berbincang di ruangan yang sama, aku kenal suara ini, kak Junkyu dan orang tuaku yang entah sedang membicarakan apa.
Akhirnya aku dapat bersuara, meskipun pelan dan hanya terdengar seperti bisikan. Tapi suaraku berhasil membuat obrolan keluargaku berhenti, aku dapat merasakan mereka mulai mendekat ke tempatku berbaring.
"Dek?" Itu suara Kak Junkyu, jariku bergerak pelan ke arahnya, ia langsung menyambar tanganku dan diletakannya di atas dada, rasanya hangat, aku hampir menangis karena ini adalah hangat yang sangat aku rindukan.
"Adek? Adek bisa denger kakak?" Ingin rasanya aku mengangguk tapi seluruh badanku juga sama kakunya, aku terus mencoba membuka mata dan berhasil, netraku langsung sakit karena berhadapan dengan lampu yang tepat berada di atas, tangan besar kak Junkyu kini berada di depan mataku, berusaha menghalau cahaya yang menusuk.
Pandanganku buram, aku mengerjapkan mata berkali-kali mencoba mencari fokus tapi rasanya sulit. Tangan kak Junkyu yang lain bergerak untuk menekan sesuatu yang ada di belakang ranjang, entah untuk apa.
"Ma, adek bangun ma." Tanganku yang sedang ia genggam ikut bergetar, mataku belum mampu melihat dengan jelas tapi aku yakin kalau kak Junkyu yang berada di sebelahku sedang menangis sekarang.
Tiba-tiba aku mendengar suara pintu dibuka, derap langkah terburu-buru makin jelas di telinga. Kak Junkyu sedikit bergeser karena kini yang berdiri di sekelilingku adalah orang yang dibalut jas putih.
Dokter, aku sedang di rumah sakit?
Aku langsung teringat bahwa aku kecelakaan sebelum akhirnya dibawa ke rumah sakit, aku ingat sampai di mana kak Junkyu menggendong tubuhku masuk ke dalam mobil dan setelah itu aku tertidur cukup lama.
Butuh belasan menit agar netraku menemukan fokusnya, aku tersenyum saat menemukan kak Junkyu yang tidak berhenti mengusap tanganku dengan lembut, juga kedua orang tuaku yang menangis di sisi yang lain.
Ratusan kata maaf keluar dari mulut kak Junkyu, ingin rasanya aku bilang bahwa itu semua bukan salahnya tapi tenggorokanku kering bukan main. Setelah bertanya ke dokter, Mama yang berdiri di dekat nakas langsung menyodorkan gelas berisi air putih tepat ke depan mulutku.
Dengan susah payah aku menelan air itu, rasanya haus sekali seperti tidak minum selama berminggu-minggu, memang berapa lama aku tertidur?
Jawabannya aku dapatkan saat dokter menjelaskan kalau aku yang terbangun sore itu setelah tidur selama satu bulan penuh adalah salah satu keajaiban yang sulit dijelaskan. Kenapa rasanya baru kemarin aku meminta kak Junkyu untuk menjemputku? dan ternyata satu bulan telah berlalu, pantas rasa hausku tidak main-main beratnya.
Dokter akhirnya keluar dari ruangan setelah berkata bahwa aku masih butuh banyak perawatan agar sendi yang sudah lama tidak aku gunakan dapat kembali berfungsi normal, meninggalkanku dan keluargaku yang masih menangis haru karena anak bungsunya bangun dari tidur panjang. Aku tidak tahu apa yang terjadi selama aku tidur, tapi yang jelas aku bahagia karena dapat bangun dan bertemu mereka semua.
Kak Junkyu masih terus bertanya soal ini itu, dan aku masih kesulitan untuk menjawab karena lidahku masih kelu, orang tuaku juga sibuk menghubungi kerabat yang lain dan memberi kabar kalau aku akhirnya dapat membuka mata.
Dan obrolanku dengan kak Junkyu mendadak terpotong karena kehadiran orang asing yang membuka pintu dengan keras, ia bahkan berlari dan langsung menubruk tubuhku, menangis di atas dadaku tersedu-sedu. Laki-laki ini jelas jauh lebih tinggi dariku, ia berpakaian rapi sambil memakai tas yang disampirkan di bahu.
"Doyie, akhirnya kamu bangun juga." Ucapnya di sela tangisan, tanganku bergerak untuk melepas pelukan yang mulai membuat dadaku terasa sesak.
"Lo siapa?"
...
padahal bilang gak bisa update tapi rasanya ganjel kalo gak update 2 hari berturut-turut. btwww masih pengen happy ending kah? wkwkwkw. oh iya dua chapter lagi selesai ya mentemennn.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com