Chapter XIII
Mata gue hampir terpejam saking ngantuknya denger ceramah dosen depan kelas, tapi tiba-tiba ponsel gue bergetar menandakan satu pesan masuk di layar. Dengan tergesa gue membuka kunci ponsel dan langsung membaca chat barusan, itu dari mamanya pacar gue, beliau bilang kalau Doyie udah bangun.
Gue gak semudah itu percaya dan takut kalau pesan itu ternyata menyiratkan kabar duka, tapi setelah gue liat status beliau dan keluarganya yang lain ditambah satu foto yang beneran nunjukkin kalau Doyie beneran udah bangun, gue langsung beranjak dari tempat duduk dan buru-buru minta izin sama dosen buat balik duluan.
Untungnya dosen gue mengizinkan, dengan cepat gue berlari menuju parkiran, menyalakan mesin mobil dan langsung tancap gas menuju rumah sakit yang udah satu bulan rutin gue kunjungi.
Setelah sampai di lobby, jantung gue berdegup lebih cepat dari biasanya, jujur gue takut sama reaksi pacar gue kalau tiba-tiba dia liat gue dateng ke tempatnya. Maksud gue, hubungan kita gak berjalan baik sebelum dia kecelakaan, gue takut kehadiran gue gak diterima di sana.
Tapi saat gue sampai ke depan pintu ruang rawat inapnya dan begitu gue denger suaranya, gue beneran gak bisa nahan diri buat gak lari masuk ke dalam, gue gak percaya kalau ternyata pacar gue beneran udah bangun sekarang.
Gue gak mikir apa-apa dan langsung meluk dia yang masih tiduran di atas ranjang rumah sakit, gue bisa rasain gimana hangatnya suhu tubuh dia sekarang, tanpa sadar gue nangis masih di pelukannya.
"Lo siapa?"
Pas denger dua kata itu rasanya hati gue langsung hancur berantakan, ketakutan gue selama nunggu dia bangun ternyata beneran kejadian. Gue pikir yang beginian cuma ada di sinetron tapi ternyata berlaku juga di kehidupan gue.
Dengan cepat gue menarik diri dari pelukannya, menatap kak Junkyu yang berdiri di sebelah dengan pandangan penuh tanya, tapi dia juga langsung geleng kepala karena gak paham sama kondisinya.
"Ini Haruto, dek. Lupa?" Itu suara kak Junkyu yang berusaha ngejelasin.
Pacar gue memicingkan mata, dia menatap gue dan kakaknya bergantian.
"Haruto? Siapa sih kak aku gak kenal?"
Air mata gue kembali turun dengan deras, gue beneran udah nungguin Doyie bangun selama satu bulan penuh dan ini nih yang gue dapet? Apa ini karma karena gue mutusin dia sebelum dia kecelakaan? Tapi masa gue doang yang dia lupain?
Tanpa peduli sama semua keluarga Doyie yang ada di sini, gue nangis sesenggukan karena sedih banget men. Kalian pasti paham lah gimana sedihnya, bukan bermaksud pamrih karena udah bantu jagain Doyie selama dia koma tapi, masa gue dia lupain gitu aja? Sebegitu bencinya kah dia sama gue?
***
Sekuat tenaga aku menahan tawa melihat reaksi Haruto yang masih menangis dan sedang ditenangkan oleh kak Junkyu, lagipula siapa suruh dia tidak ada saat pertama kali aku membuka mata? Padahal dia adalah orang yang memintaku untuk bangun saat aku terjebak di alam bawah sadarku sendiri sebelumnya.
Aku masih belum puas meledek Haruto, maka dari itu aku terus berpura-pura tidak mengenalnya. Kini dia duduk di kursi yang ada di sebelahku, mulutnya tidak berhenti berusaha mengingatkan tentang kenangan kami yang ia pikir sudah aku lupakan.
Ayolah, Haru. Apa kamu tidak punya cerita lain? Cerita itu sudah berulang kali aku dengar. Aku mendengar ocehannya dengan ekspresi bosan, Haruto terlihat kebingungan sekarang karena aku tidak menanggapi semua kalimatnya.
"Doyie, kamu beneran lupa sama aku?"
Aku memejamkan mata, masih berusaha keras menahan tawa yang aku yakin akan meledak sebentar lagi.
"Doyie?"
Seluruh tubuhku masih kaku tapi perlahan tanganku bergerak untuk menghapus jejak air mata di kedua pipi Haruto, matanya merah dan sembab karena terlalu banyak menangis sore ini, aku jadi tidak tega karena terus membuat Haruto percaya kalau aku melupakannya.
"Kenapa, Haru? Udah jangan nangis, aku gak lupa sama kamu kok."
Bukannya berhenti, tangisan Haruto justru makin keras, Sekarang ia menutup matanya menggunakan tanganku, aku tidak dapat menahan diri untuk tidak tertawa karena tingkah lucunya.
"Doyie... maafin aku." Ucapnya di sela isakan, aku tertawa sambil menganggukkan kepala. Jangankan aku, kedua orang tuaku dan kak Junkyu juga ikut tertawa melihat Haruto yang menangis dengan suara berat di sebelahku.
"Cup cup, berhenti dong nangisnya." Aku masih berusaha menenangkan Haruto, ia akhirnya menurut, mengusap wajahnya dengan kasar menggunakan dua tangan.
Obrolan kami terhenti karena ada beberapa dokter dan perawat yang kembali masuk ke dalam ruangan, mereka menjelaskan kalau aku butuh beberapa terapi karena aku tertidur cukup lama dan menyebabkan beberapa ototku kini sulit digunakan. Aku mengangguk paham, dokter akhirnya keluar, diikuti dengan kedua orang tuaku yang ingin mengajukan beberapa pertanyaan, meninggalkanku dan kak Junkyu juga Haruto yang masih betah memandangku dari sisi ruangan.
"Udah jangan nangis mulu, kering air mata lo ntar." Ledek kak Junkyu, Haruto merengut sambil memukul lengannya pelan.
"Dah sono samperin adek gue, minta maaf lagi coba, sampe sujud kalo perlu, banyak dosa lo."
"Jangan gitu kak, nanti nangis lagi dia."
Haruto berjalan ke arahku dengan langkah yang sengaja ia sentak, Haruto menggeret kursi untuk mendekat bahkan hampir menempel dengan ranjang yang aku tempati.
"Doyie..." Ucapnya sambil menggenggam tanganku yang bebas.
"Mhm?" Dehemku pelan, ah andai seluruh tubuhku mampu bergerak, aku pasti sudah menarik tubuhnya untuk masuk ke dalam pelukan.
"Balikan ya? Aku gak mau putus sama kamu, yang kemarin tuh khilaf doang beneran, berani sumpah aku."
"Jangan mau." Itu suara kak Junkyu, dia masih belum puas meledek Haruto ternyata.
"Mau please jangan dengerin kakakmu itu, ya sayang ya?"
Aku tertawa kemudian mengangguk mengiyakan pertanyaannya, Haruto kini tersenyum sedangkan kak Junkyu berdecih pelan melihat reaksiku yang tidak sesuai perkiraan.
"Aku boleh peluk gak?"
"GAK BOLEH."
"Ah diem lu kak, rese banget jadi orang."
"Gak boleh ya, adek gue masih sakit itu."
Ternyata keputusanku untuk bangun dari mimpi panjang adalah hal yang tepat, dimana lagi aku dapat melihat pemandangan lucu seperti yang terjadi di hadapanku sekarang? Di tempat aku terjebak kemarin pun Haruto sudah lebih dulu pergi, meninggalkanku dan perasaanku yang dipenuhi penyesalan karena tidak dapat menyaksikan saat-saat terakhirnya.
Kak Junkyu masih terus mengomel sampai tiba-tiba ia dihubungi oleh teman satu kampusnya, ia bergegas ke luar ruangan setelah itu, meninggalkanku dan Haruto yang masih duduk di kursi sebelahku.
"Kak Junkyu udah keluar, aku boleh cium gak sekarang?"
"Perasaan tadi mintanya peluk?"
"Susah, cium aja kan kamu gak perlu bangun."
"Emang mau cium di mana?"
"Bolehnya di mana?"
Aku berpikir sejenak lalu menyentuh bibirku, "Di mana aja asal jangan di sini."
"Kenapa gitu?"
"Gak mau aja? Masih kesel juga sih, kan kemarin kamu dicium orang lain."
"Kenapa masih bahas itu kan aku udah minta maaf..." Haruto menggeser kursinya ke arahku, perlahan ia mendekat, kepalanya bergerak maju dan mendaratkan kecupan tepat ke keningku. Ciumannya tidak lama tapi cukup untuk membuat darahku berdesir karena sensasi aneh dari tubuh kami yang sedekat ini.
"Makasih ya Doyie." Ucapnya tepat setelah menarik diri.
"Makasih kenapa?"
"Makasih udah mau bangun."
Aku kembali tersenyum dan mengangguk pelan. "Makasih juga ya Haru, aku bisa bangun juga berkat kamu."
Belum sempat Haruto menjawab, tiba-tiba pintu kamarku dibuka dengan cukup keras dan kak Junkyu kembali masuk ke dalam ruangan.
"Jangan deket-deket adek gue!" Ucapnya sambil menarik Haruto menjauh, tawaku kini meledak karena kedua orang itu tidak berhenti mengejek satu sama lain sekarang.
Hari itu kami habiskan dengan Haruto yang bersikeras untuk menemaniku dan semua proses terapi yang akan aku lakukan mulai besok, sedangkan kak Junkyu berusaha meyakinkan kedua orang tuaku untuk tidak mempercayakan anaknya ke laki-laki tidak bertanggung jawab seperti Haruto.
"Kamu maunya ditemenin siapa, dek?" Pertanyaan itu akhirnya keluar dari mulut orang tuaku.
"Gantian aja, Haruto pas dia gak ada kelas, kak Junkyu pas lagi libur magang." Dan semua yang ada di dalam ruangan mengangguk setuju.
...
sampai ketemu di chapter terakhir<3
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com