Truyen2U.Net quay lại rồi đây! Các bạn truy cập Truyen2U.Com. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter IV

Panggilan masih belum berhenti hingga aku harus berangkat kuliah pukul tujuh pagi, aku bahkan dapat mendengar suara napas Haruto yang tertidur beberapa saat lalu, untungnya ia tidak ada kuliah hari ini, sedangkan aku masih harus berangkat ke kampus karena ada beberapa kelas yang harus dihadiri.

"Tumben?" Tanya Kak Junkyu sambil menunjuk ponselku yang tersambung dengan powerbank di tangan kiri.

"Lupa charger." Kak Junkyu hanya mengangguk lalu melanjutkan sarapannya yang sempat tertunda, aku duduk di kursi yang ada di hadapannya, melahap roti cokelat yang telah disiapkan di atas piring.

"Bareng?" Tanya Kak Junkyu lagi, aku mengangguk lalu membenarkan posisi tas yang tersampir di bahu kiri, bangkit dari kursi lalu berjalan ke arah pintu.

Kedua orang tuaku sudah berangkat kerja sejak pagi tadi, menyisakan aku dan kakakku satu-satunya yang kini bekerja di perusahaan iklan di tengah kota. Biasanya dia hanya mengantarku sampai halte depan, membiarkanku naik bus menuju kampus.

Namun sejak kepergian Haruto, ia memilih untuk mengantarku sampai ke depan gerbang, memastikan aku benar-benar kuliah dan tidak pergi kemana-mana.

"Langsung pulang, kalo udah deket halte chat aja." Aku mengangguk sekali lagi, setelah memastikan bahwa mobilnya tidak lagi terlihat, aku berjalan menuju gedung fakultas.

"Doyie?" Seketika aku merapatkan earphone yang terpasang saat mendengar suara Haruto di telinga.

"Udah di kampus?"

"Udah, baru jam segini kamu tidur lagi aja, Haru."

"Aku ketiduran jam berapa ya?"

Aku sedikit tertawa mendengar suara beratnya yang masih mengantuk. "Jam lima." Jawabku.

"Terus kamu tidur jam berapa?"

"Sebelum berangkat aku makan roti cokelat kesukaan kamu, dulu sering banget ya aku bawain pas kita masih satu kampus?" Bukannya menjawab, aku justru berusaha mengalihkan pembicaraan.

"Gak tidur ya? Aku tau kamu berusaha menghindar karena takut aku omelin, tapi jangan sampe gak tidur dong Doyie."

Suara berat Haruto menemaniku hingga aku duduk di kursi yang berada di dalam kelas, masih sepi karena aku memang biasa datang terlalu pagi. "Kan gak tiap hari." Ucapku berusaha membela diri.

"Yaudah besok-besok gak boleh gitu lagi, nanti aku matiin sambungan telfonnya terus tiap kamu telfon gak akan aku angkat."

"Haru jangan gitu." Balasku sedikit merengek, dapat aku dengar suara tawa Haruto di ujung telfon.

"Iya iya, ini udah di kelas berarti?"

"Udah, kamu hari ini rencananya mau ngapain?" Tanyaku, berusaha membuat obrolan terus berjalan.

"Niatnya mau ke perpustakaan kampus, tapi gak jadi."

"Kenapa gitu?"

"Kan di sana gak boleh berisik, aku mau nemenin kamu sampe pulang nanti."

Tanpa sadar kedua sisi bibirku terangkat, mengukir senyuman yang hampir setahun belakangan jarang hadir di sana. "Haru." Panggilku kemudian.

"Mhm?" Lagi-lagi jantungku berdebar tidak karuan saat mendengar suaranya di telinga.

"I love you." Tiga kata yang kembali aku ucap setelah berbulan-bulan kehilangan tujuan itu berhasil membuat Haruto kembali tergelak.

"I love you too, Doyie. Kamu yang paling tau seberapa besar rasa sayang aku ke kamu."

Dan siang itu sebagian besar Haruto habiskan dengan ikut mendengar ocehan dosen yang berada di depan kelas, sesekali berkomentar lucu yang membuatku mau tidak mau ikut tertawa karena candaan bodohnya. Berkali-kali aku mendapat lirikan pedas dari teman satu kelas, tapi tidak apa, asal ada Haruto yang menemaniku semua akan baik-baik saja.


***

"Kamu inget kan pas dulu belajar naik sepeda? Itu sampe nangis segala padahal jatuh juga nggak." Dapat aku dengar suara gemericik air di setiap kata yang Haruto ucap, ia meminta izin untuk mencuci muka barusan, hari hampir malam dan aku masih berada di bus menuju rumah.

"Kan ngeledek, kenapa sih bawa-bawa itu terus." Protesku tidak terima.

"Ya soalnya lucu, anak sekolah masih pake seragam malah nangis di pinggir jalan, mana pake helm kuning pula."

Aku sedikit tertawa karena kembali mengingat masa itu, kali pertama menghabiskan waktu hampir seharian bersama Haruto, berawal dari dia yang menjemputku di depan rumah dengan mobil milik Papanya, dan berakhir mendapat omelan karena terpaksa bolos sekolah.

"Tapi aku masih inget Doyie, gimana rasanya pas kamu peluk pinggang aku dari belakang hari itu. Rasanya kayak kamu paham gak perasaan pas dapet nilai sempurna padahal kamu gak belajar di malam sebelum ujian? Bahagianya persis kayak gitu."

Suara air mulai berhenti, aku dapat mendengar langkah Haruto yang berjalan di dalam asrama kampusnya, ia lalu mengucap terima kasih kepada kurir yang mengantarkan makanan tepat ke depan pintu. Dan aku masih diam, seakan meminta Haruto untuk melanjutkan kalimatnya.

Netraku terfokus ke arah jalanan yang dipenuhi kendaraan, jam-jam sibuk membuatku terjebak dua jam di dalam bus padahal biasanya kalau kelasku berakhir di siang hari, hanya butuh tiga puluh menit untuk sampai rumah. Sebelum kepergian Haruto, ia juga biasa menemaniku bicara lewat panggilan di situasi seperti ini, dan aku tidak percaya kalau hari ini aku kembali merasakannya.

"Doyie?" Panggilan Haruto membuatku tersadar dari lamunan sesaat.

"Iya? Kenapa Haru?"

"Aku kira kamu ketiduran di bus, udah di mana sekarang? Udah deket?"

"Masih jauh, kamu mau makan dulu ya? Makan aja tapi jangan dimatiin telfonnya."

"Aku takut meledak aja nih hp." Komentarnya, diiringi oleh tawa kecil khas yang terkadang membuat aku kesal saat mendengarnya.

Aku juga Haru, aku juga takut karena ponselku terasa semakin panas di tangan. Powerbank yang aku bawa juga kehabisan daya sejak sore tadi, tapi aku lebih takut jika sambungan terputus, aku tidak dapat menghubungi Haruto lagi setelahnya.

"Jangan sedih dulu, gak akan aku matiin sebelum kamu sampe rumah." Ucap Haruto berusaha menenangkan, ia seakan tahu bagaimana perasaanku saat ini.

"Bisa, Doyie. Kita bakal bisa ngobrol lagi meskipun nanti kita matiin sambungan dulu sebentar, kemarin juga gitu kan?"

"Gimana kalo kejadiannya gak sama kayak kemarin?" Perasaan takut membuat suaraku sedikit bergetar, tanpa sadar mataku juga mulai basah karena air yang menggenang di pelupuknya.

"Kamu percaya sama aku kan? Kamu percaya sama semua omongan aku?"

Aku mengangguk, suaraku tertahan di tenggorokan karena sesak yang terasa menyakitkan.

"Doyie?"

"Percaya, aku percaya sama kamu."

Setelah turun dari bus, aku berjalan ke luar halte dan memberhentikan taksi yang lewat. Aku tidak ingin memutus sambungan hanya karena harus menghubungi kakakku untuk memintanya menjemput, lebih baik aku keluarkan uang lebih agar cepat sampai rumah.

Haruto masih terus berbicara di ujung sana, aku juga masih terus menanggapi walau sesekali menggaruk telinga yang aku yakini mulai memerah karena rasa panas efek radiasi. Aku menemukan Kak Junkyu bersantai di ruang tengah sambil menonton acara kartun kesukaannya, aku langsung pamit menuju kamar tanpa banyak bicara, dan untungnya ia juga tidak banyak bertanya.

"Sekarang udah di kamar?"

"Udah."

"Yaudah sekarang kamu beres-beres dulu, jangan lupa makan, nanti malem aku hubungin lagi ya?"

Mau tidak mau aku menurut, selain karena harus mandi, kepalaku juga mulai sakit karena terus memakai earphone tanpa berhenti. Setelah sambungan terputus, aku duduk di pinggir ranjang dengan mata terfokus ke layar ponsel, mengecek riwayat panggilan dan lagi-lagi tidak menemukan kontak Haruto di sana.

Aku masih belum tahu apa yang sebenarnya terjadi, semua masih terasa seperti mimpi. Tapi kalau memang ini tidak nyata, aku mohon siapapun untuk tidak membuatku terjaga.









...

bentar lagi konflik yeorobun

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com