Chapter IX
Kehidupan mahasiswa terasa jauh lebih berat dari yang sering ku lihat di film atau drama, aku hampir tidak mendapat waktu istirahat padahal yang aku lakukan hanya sebatas kuliah dan langsung pulang ke rumah, tidak diisi dengan rapat atau kegiatan lain seperti yang sebagian orang lakukan.
Dan kesibukan yang aku jalani membuatku tidak begitu memikirkan soal hubunganku dan Haruto yang merenggang sejak peristiwa hari itu, ia berusaha menghubungiku berulang kali tapi tidak aku hiraukan. Tapi berbeda dengan hari ini, ia berdiri tepat di depan pintu keluar gedung fakultas, dengan tangan terlipat di depan dada pandangannya langsung fokus ke arahku saat melihatku keluar dari lift.
Terburu-buru aku berjalan melewatinya, tapi tiba-tiba tangan kiriku ditarik oleh Haruto. "Aku mau ngomong, dengerin aku dulu."
Aku berdecak sebal dan mau tidak mau kini aku berjalan di belakangnya, menuju taman yang ada di samping gedung perpustakaan lalu duduk di salah satu kursi panjang di bawah pohon. Pembicaraan kami baru ingin dimulai namun mendadak ponsel Haruto berbunyi dengan keras, menandakan satu panggilan masuk di sana.
"Halo? Kenapa Dani?"
Ah, Dani. Itu nama perempuan yang beberapa minggu lalu aku lihat mencium pipi Haruto di seberang gedung fakultas, Haruto sibuk bicara di telfon sedangkan aku mulai bangkit karena apapun yang akan kami bicarakan nanti, pasti tidak akan menemukan titik baik melihat Haruto yang masih terus berhubungan dengan wanita itu.
Dengan langkah cepat aku meninggalkan taman menuju halte depan, Haruto terus memanggil namaku dari kejauhan tapi aku tidak peduli, aku terus berjalan menjauh, sesekali mengusap wajah berusaha menghalau air mata yang keluar karena dadaku terasa sesak. Haruto sialan, Haruto adalah manusia paling menyebalkan yang pernah aku kenal.
Aku menghentikan taksi yang lewat dan langsung masuk ke dalam, tidak memedulikan Haruto yang masih berusaha mengejar. Untungnya supir taksi yang aku tumpangi juga tidak banyak bertanya dan langsung tancap gas menuju rumah. Aku berusaha mengatur napas, dibanding sedih aku justru emosi karena Haruto sama sekali tidak terlihat menyesal karena tindakannya hari itu, ia malah masih terus berhubungan dengan orang yang jelas menjadi penyebab renggangnya hubungan kami.
Setelah taksi yang aku naiki sampai depan gerbang, aku langsung turun dan bergegas masuk ke dalam rumah, tapi ternyata Haruto sudah lebih dulu sampai, ia duduk di atas motornya tepat di depan gerbang rumahku.
"Ck, mau ngapain sih?" Ucapku sebal ke arahnya, Haruto turun dari motor dan berjalan ke arahku.
"Kenapa sih gak mau dengerin dulu?"
"Ya dengerin apa? Emang mau ngomong apa?"
"Ini nih yang gue gak suka dari lo, selalu menghindar tiap gue ajak ngomong, selalu ngelak semua omongan gue. Kita pacaran berdua, Doyoung. Di sini bukan gue doang yang harus usaha buat perbaikin hubungan tapi harusnya lo juga."
Beri tepuk tangan atas sikap Haruto yang berubah drastis saat ini, aku tertawa miris dan berusaha menahan diri untuk tidak mendorong motornya agar masuk ke dalam selokan depan rumah sekarang juga.
"Ya terus mau lo apa?" Balasku sambil menatap wajahnya dengan kesal.
"Lo nyuekin gue hampir sebulan cuma karena cemburu gak berdasar, gue udah usaha supaya hubungan kita tetep baik-baik aja tapi lo malah begini. Sekarang lo pikirin lah gantian, capek gue."
"Dih, udah jelas yang kemarin dicium cewek tuh lo, bukan gue. Kenapa malah gue yang disuruh mikir? Sekarang gue tanya, udah ada bukti kalo cewek kemarin tuh gak ada hubungan apa-apa sama lo? Lo bahkan masih bisa ngobrol sama dia di depan mata gue. Nggak Haruto, ini bukan cemburu gak berdasar kayak yang lo pikirin, ah anjing lah." Umpatku karena terlalu emosi dengan ucapan Haruto barusan.
"Yaudah lah mending kita putus aja."
"Yaudah."
Aku berjalan masuk ke dalam rumah setelah menendang tulang keringnya dengan kuat, melewati Haruto yang masih meringis kesakitan di depan gerbang. Lagi pula dia pikir dirinya siapa, apa dia mengira aku akan mengemis dan berkata kalau hubungan kami seharusnya diperbaiki bukan justru diakhiri? Hidupku baik-baik saja sebelum Haruto datang dan pasti akan terus begitu meskipun dia tidak lagi ada di sisiku setelah ini.
***
Kenyataan memang tidak seindah ekspektasi, faktanya hatiku masih nyeri saat berpapasan dengan Haruto di kampus, ia terlihat bahagia bersama teman-temannya, sedangkan aku hanya mahasiswa tanpa teman yang setiap hari sibuk berkutat dengan tugas kuliah.
Kalian boleh bilang kalau aku pathetic, ya memang begitu kenyataannya. Mau sekuat apapun aku menahan tapi sakit yang hadir memang sangat sulit diabaikan. Rasanya seperti, hanya diriku yang kesulitan di sini, Haruto tidak terlihat terganggu atas berakhirnya hubungan kami.
Hari ini hujan kembali turun, untungnya aku membawa payung dari rumah. Tapi angin yang berhembus terlalu kuat untuk dapat aku tahan, tubuhku oleng beberapa kali dan payung yang aku gunakan juga sama lemahnya.
Aku memutuskan untuk berteduh di depan gedung rektorat, di sini sepi tidak seperti gedung fakultas yang diisi dengan banyak mahasiswa lain. Aku merapatkan jaket yang sudah basah di sana-sini, cuaca bulan Februari memang selalu sedingin ini. Kadang aku menyesal karena tidak dapat mengendarai kendaraan sendiri dan selalu mengandalkan transportasi umum kemana-mana.
Andai ada Haruto, ia pasti akan menemaniku sekarang, merelakan jaketnya untuk menutupi tubuhku, atau rela hujan-hujanan ke parkiran hanya untuk menjemputku agar aku tidak kebasahan.
Netraku menemukan orang yang baru saja aku pikirkan, Haruto berlari dari arah parkiran dengan jaket di atas kepalanya menuju gedung PKM yang ada di sebelah. Haruto memang selalu menjadi pemeran utama di setiap hidup yang ia jalani. Bahkan tanpa aku di sampingnya, cahaya terang seolah terus mengelilingi dirinya tanpa henti.
Aku menggigit pipi bagian dalam, menahan air mata yang aku yakini akan keluar sebentar lagi. Bagaimana bisa Haruto terlihat baik-baik saja sedangkan aku masih berusaha bangkit dari kejadian tempo hari.
Ini hari Jumat yang artinya besok aku tidak memilki jadwal kuliah sama sekali, setelah menghubungi kak Junkyu dan memintanya untuk menjemputku, aku berjalan sendirian menuju halte depan. Membiarkan tubuhku basah kuyup karena air hujan yang cukup deras, tidak peduli dengan tas dan buku yang basah di punggungku.
Mahasiswa lain yang berteduh kini menatapku dengan heran, apa mereka tidak pernah melihat orang hujan-hujanan dengan payung di tangan? Andai mereka tahu kalau tanganku bahkan tidak cukup kuat untuk menopang payung yang terus-terusan bergerak terbawa angin.
Lima belas menit kemudian dapat aku lihat mobil kak Junkyu di seberang, ia membunyikan klakson pertanda bahwa aku yang harus menghampirinya ke sana. Aku berdecak kesal lalu bangkit dari tempat duduk, melipat payung di tangan dan hendak berjalan ke arahnya. Sedikit berlari karena jalanan terlihat lengang karena hujan masih turun dengan deras.
Dan ternyata jalanan yang terlihat lengang itu membuat satu mobil dari arah berlawanan melaju dengan cepat, sangat cepat hingga membuat tubuhku terpental beberapa meter dari halte. Rasa sakit langsung menjalar ke seluruh tubuh, aku bahkan dapat mencium bau amis dari darahku sendiri, aku tidak ingat apapun kecuali suara teriakan orang-orang di sekitar sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.
...
hehe jadi sebenernya yang halu siapa guys ;-;
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com