Chapter VII
Hari pertama kuliah akhirnya tiba, untungnya aku diterima di Universitas yang sama dengan Haruto, hanya berbeda jurusan tapi kami masih satu fakultas. Kebiasaan antar jemput juga masih ia lakukan karena kebetulan kami memiliki jadwal yang sengaja diatur bersama.
"Aku udah keluar, kamu dimana?"
"Lantai lima Haruu, lagi nunggu lift nih."
"Yaudah aku tunggu depan taman ya."
"Okeee."
Sepuluh menit setelah sambungan terputus tapi lift yang ada di hadapanku tidak kunjung sepi, aku memutuskan untuk turun lewat tangga yang ada di ujung koridor. Aku menyesal menolak tawaran Haruto untuk sarapan dan berkata kalau lebih baik kita makan setelah kelas selesai saja, ini jam sebelas siang dan perutku terus-terusan berbunyi minta diisi.
Ditambah tangga yang entah kenapa terlihat jauh lebih banyak dibanding biasanya, baru sampai lantai dua dan bajuku sudah basah karena keringat. Aku duduk di salah satu kursi yang ada di depan kelas, memutuskan untuk menghubungi Haruto karena kepalaku mulai terasa berputar.
"Halo Doyie? Kok lama?"
Aku mengatur napas sebelum menjawab pertanyaan Haruto di ujung telfon, "Haru, aku di lantai dua."
"Kok di lantai dua? Kan aku bilang janjian di depan taman."
"Aku gak kuat jalan aduh kayanya bentar lagi aku pingsan deh."
Setelahnya dapat aku dengar suara Haruto yang berlari masuk ke dalam gedung fakultas, masih dengan panggilan yang saling terhubung dan aku yang enggan memutus sambungan.
"Kebiasaan banget kan suka gak mau sarapan, nih minum dulu." Haruto kini duduk di sebelahku, ia lalu menyodorkan air mineral yang ia beli entah dimana.
Aku tertawa sambil mengambil botol dari genggamannya, tangan Haruto bergerak untuk menghapus keringat di pelipisku.
"Udah segeran?" Aku mengangguk dan menyerahkan botol kosong ke arahnya. Dapat aku dengar Haruto menghembuskan napas berat sebelum membuang botol tersebut ke tempat sampah.
"Nanti tunggu depan gerbang aja, gak usah ikut ke parkiran."
Aku kembali mengangguk lalu menepuk-nepuk tangannya yang ia letakkan di atas paha.
"Kamu tuh ya, kalo gak ada aku gimana coba? Masa baru hari pertama kuliah udah pingsan di kampus?"
"Emang mau kemana sih? Kalo kamu pergi, pasti aku ikutin lah biar kita bareng terus."
Haruto berdecak mendengar jawabanku yang tidak serius, tangannya bergerak menarik tanganku untuk digenggam. "Ayo pulang."
Kami berjalan beriringan menuju parkiran, aku akhirnya menolak saran Haruto untuk menunggu di depan gerbang karena masih merasa canggung kalau harus berdiri sendirian di tempat ramai.
Setelahnya kami memutuskan untuk makan di restoran yang lumayan jauh dari kampus, sudah masuk jam makan siang yang artinya tempat makan pasti sudah dipenuhi oleh mahasiswa lain yang kelaparan.
"Kamu ada rencana ikut organisasi?" Tanya Haruto tepat setelah pelayan meninggalkan meja kami untuk menyampaikan pesanan, aku menggeleng.
"Nggak, takut capek."
"Kalo aku ikut, boleh?"
"Boleh lah! Kamu juga mantan ketua osis kan, sayang banget kalo gak dilanjut."
"Tapi aku takut bakal nyuekin kamu nanti."
"Gapapa, aku bisa sendiri."
"Gak mau cari temen?"
"Nanti aku pikirin, buat sekarang belum ada sih yang ngajak temenan, aku cupu gini."
Haruto mengangguk paham, netranya menguar ke seluruh ruangan. "Kenapa sih? Ada yang mau diomongin?"
Ia terlihat menimbang sebentar kemudian menggeleng. "Gak ada, oh iya gimana tadi kuliahnya? Dosennya seru?"
Siang itu kami habiskan dengan bertukar cerita soal suasana kelas di hari pertama, Haruto dan kehidupannya yang menyenangkan karena langsung mendapat banyak teman, dan aku yang terus mendengarkan sambil terus dibuat kagum oleh sikapnya.
***
Lagi-lagi Haruto mengingkari janji yang ia buat, ujian tengah semester bahkan sudah selesai dua minggu lalu tapi ia tidak kunjung menampakan wajahnya di depanku, padahal sudah hampir tiga minggu kami tidak bertemu.
Terakhir kali ia berkata kalau banyak tugas yang harus dikerjakan, juga rapat organisasi yang sulit ditinggalkan. Awalnya aku paham, tapi lama-lama muak juga karena terus diberi harapan palsu. Contohnya hari ini, kelasku selesai sejak pukul satu tadi, dan ini hampir jam empat sore tapi Haruto masih belum muncul. Padahal ia berjanji akan menemuiku.
Sebenarnya aku ingin pulang setelah satu jam menunggu, tapi hujan tiba-tiba datang dan sialnya aku lupa membawa payung, jarak dari gedung fakultas ke halte yang ada di depan juga cukup jauh, jika aku nekat berjalan sekarang, bisa dipastikan aku akan basah kuyup di dalam bus nanti.
Aku menendang genangan air yang ada di depan dengan ujung sepatu yang sudah basah, ah padahal baru hari rabu tapi sepatuku sudah sekotor ini. Aku sedikit menyesal memakai sepatu putih ke kampus, noda yang ada pasti susah hilang.
Dan tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara berisik rombongan mahasiswa dari gedung seberang, itu gedung berisi ruangan-ruangan organisasi, Haruto pernah mengajakku ke sana tapi aku enggan. Aku selalu merasa asing jika berada di dekat teman-temannya.
Tadinya aku tidak ingin melihat rombongan yang terlihat asik bercanda sambil mendorong tubuh yang lain agar terkena cipratan air hujan itu, tapi netraku menemukan Haruto di ujung sana, tubuhnya bersandar ke tembok dengan mata fokus ke salah satu mahasiswi yang aku yakin adalah teman satu organisasinya.
Tidak, aku tidak mungkin marah jika yang aku lihat hanya sebatas itu. Mahasiswi berambut panjang itu tiba-tiba mencium pipi Haruto, dan tawa yang Haruto lontarkan setelahnya mampu membuat dadaku langsung terasa sesak.
Haruto tidak merasa terganggu atas sikap temannya barusan, aku bergegas mengambil ponsel yang ada di dalam tas, berusaha menghubunginya untuk meminta penjelasan.
Tapi ia tidak menjawab dan justru memutus sambungan.
Dengan langkah cepat aku berjalan ke arah halte, tidak memedulikan hujan yang mengguyur tubuhku. Justru aku berharap air hujan dapat membasuh sesak yang semakin terasa menyakitkan di dada.
"Doyoung!" Dapat aku dengar suara Haruto di telinga, tapi aku tidak menjawab, menoleh pun enggan. Aku terus berjalan dan tiba-tiba tanganku ditarik kasar olehnya.
"Kim Doyoung! Kenapa ujan-ujanan gini sih?" Dengan susah payah Haruto membuka jaket yang menutupi tubuhnya, ia kemudian meletakkan jaket itu tepat di atas kepalaku.
"Ayo neduh dulu." Aku masih menurut saat dia menarikku untuk berteduh di depan gedung rektorat yang sepi.
"Kenapa baru pulang? Katanya kelas kamu selesai dari siang?" Tanya Haruto sambil berusaha mengeringkan rambutnya yang basah, rasanya mulutku sulit terbuka untuk menjawab pertanyaannya.
"Doyoung?"
Kali ini aku tertawa, Doyoung, entah sudah berapa lama aku tidak mendengar nama itu dari mulut Haruto. Terakhir ia memanggilku Doyoung saat kami belum berpacaran dulu.
"Kamu kenapa sih?"
Sekuat tenaga aku menahan, tapi air mataku justru mengalir begitu saja, aku mengusap wajah dengan kasar lalu menatap Haruto yang berdiri di sebelah.
"Hari ini kamu janji mau ketemu aku setelah kelas, aku nunggu di tempat janjian kita tapi kamu gak dateng, bahkan sampe ujan turun."
"Kenapa ditungguin? Kan aku bilang aku usahain, kalo lama nunggu mending pulang, kenapa malah nunggu sampe sore gini?"
Aku tertawa mendengar jawabannya, entah di sini yang bodoh siapa tapi yang jelas aku sudah menyia-nyiakan waktu berjam-jam hanya untuk menunggu manusia menyebalkan sepertinya.
"Oke, aku yang salah karena nunggu kamu. Tapi bisa gak ngasih kabar? Kamu punya hp tuh dipake buat apa?"
"Hpku low, lupa bawa powerbank."
Bohong, sudah jelas tadi aku lihat dia mereject panggilanku di depan mata.
"Oh lupa, kalo adegan cium pipi di depan fakultas tadi, lupa juga?"
Skakmat, Haruto tidak dapat menyembunyikan rasa kagetnya.
"Kalo itu aku bisa jelasin."
"Yaudah jelasin."
"Itu temenku, aku berani sumpah dia cuma temenku Doyoung."
"Bisa kasih bukti?"
"Bukti apa?"
"Bukti kalo gak ada apa-apa di antara kalian."
Kali ini Haruto diam, hujan makin deras begitu pula rasa sakit di dadaku yang semakin kuat saat melihat raut wajahnya.
"Cari dulu buktinya, nanti kita omongin lagi."
Aku melepas jaket milik Haruto dan aku sodorkan ke arahnya, ia masih diam bahkan hingga aku berjalan di bawah hujan menuju halte depan gerbang. Hari itu, hari pertama kami bertengkar hebat dan saling menghindar selama hampir satu bulan tanpa kabar.
...
mari selesaikan sebelum oktober berakhir karena aku mau drop buku baruuu~
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com